Thursday, October 19, 2017
Text Size

Adab-adab Masjid Part 2

User Rating: / 10
PoorBest 

 

Adab-Adab Masjid Part 2

Barakallahu fikum, semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan kepada antum sekalian, berikut ini adalah Adab-Adab Masjid yang masih berkaitan dengan pembahasan Nailul Author hal 230 tentang Takdzimul Masaajid (Memaksimalkan fungsi masjid).

Barakallahu fikum, semoga Allah senantiasa memberikan kepada antum sekalian barokah serta kemudahan dalam menuntut ilmu syar'i bekal kita menuju alam yang kekal.

Berikut ini kita akan membahas tentang adab-adab Masjid lengkap dengan dalil-dalil shohih dari Suri Teladan kita Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam. Pembahasan ini diambil dari berbagai rujukan terutama ana nukil dari kitab Ats Tsamru al-Mushthathob karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dan kitab-kitab yang lainnya.

Masjid merupakan tempat suci lagi mulia yang dijaga dan dipelihara dari berbagai hal yang mencemarinya, baik secara maknawi ataupun lahiriah Masjid merupakan tempat pengagungan nama-nama Allah, syari'at Allah dikumandangkan dan ditegakkan, tempat berhubungan langsung dengan Sang Pencipta, tempat seorang mus- lim berniaga dengan Penciptanya, tempat yang harus dijaga dari kotoran dan najis.

Allah berfirman,

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَاْلآصَالِ (36) رِجَالٌ لاَ تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلاَ بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ (37)

Di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waku pagi dan waktu petang laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan membayar zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (QS. An-Nur: 36-37).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam Kitab Tafsirnya (Tafsir Ibnu Katsir cetakan Dar Ibnul Jauzi Jilid V/545, tahqiq Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin th. 1431 H)

لَمَّا ضَرَبَ اللهُ تَعَالَى مَثَلَ قَلْبِ الْمُؤْمِنِ وَمَا فِيهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ بِالْمِصْبَاحِ فِي الزُّجَاجَةِ الصَّافِيَةِ الْمُتَوَقِّدِ مِنْ زَيْتٍ طَيِّبٍ وَذَلِكَ كَالْقِنْدِيلِ، ذَكَرَ مَحِلَّهَا وَهِيَ الْمَسَاجِدُ الَّتِي هِيَ أَحَبُّ الْبِقَاعِ إِلَى اللهِ تَعَالَى مِنَ الْأَرْضِ وَهِيَ بُيُوتُهُ التي يعبد فيها ويوحد فقال تَعَالَى: فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللهُ أَنْ تُرْفَعَ أي أمر الله تعالى بتعاهدها وتطهيرها من الدنس واللغو والأقوال والأفعال

"Ketika Allah memberikan permisalan tentang hati seorang muslim dengan apa yang ada di dalamnya berupa petunjuk dan ilmu dengan pelita-pelita di dalam kaca bening dan dinyalakan dengan minyak yang baik, maka hal itu ibarat pelita yang terang, menyebutkan tempatnya yakni di masjid-masjid yang merupakan tempat di bumi yang paling Allah cintai, yang merupakan rumahNya. Tempat Dia diibadahi dan di-Esakan di dalamnya. Maka Allah berfirman, "Di rumah-rumah (masjid-masjid) yang Allah telah perintahkan untuk dimuliakan" (QS. An-Nur: 36). Yakni, Allah memerintahkan dengan mengikatkan diri dengan-Nya dan menyucikannya dari najis, permainan yang melalaikan dan ucapan serta perbuatan yang tidak pantas.  

قَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَلْحَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي هَذِهِ الْآيَةِ الْكَرِيمَةِ فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ قَالَ نَهَى اللَّهُ سُبْحَانَهُ عَنِ اللَّغْوِ فِيهَا، وَكَذَا قَالَ عِكْرِمَةُ وَأَبُو صَالِحٍ وَالضَّحَّاكُ وَنَافِعُ بْنُ جُبَيْرٍ وَأَبُو بَكْرِ بْنُ سُلَيْمَانَ بْنِ أَبِي حَثْمَةَ وَسُفْيَانُ بْنُ حُسَيْنٍ وغيرهم من العلماء الْمُفَسِّرِينَ. وَقَالَ قَتَادَةُ: هِيَ هَذِهِ الْمَسَاجِدُ أَمَرَ الله سبحانه وتعالى ببنائها وأخر بِعِمَارَتِهَا وَتَطْهِيرِهَا.

Sebagaimana dikatakan oleh Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas radhiallahu'anhum tentang ayat yang mulia diatas, "(Sesungguhnya) Allah melarang perbuatan yang melalaikan di dalamnya." Demikian pula dikatakan oleh Ikrimah, Abu Shalih, Adh-Dhahak, Nafi' bin Jubair, Abu Bakar bin Abi Hatsmah dan Sufyan bin Husein serta para ulama' tafsir lainnya. Dan Qatadah berkata (tentang maksud ayat diatas), "Yakni masjid-masjid yang Allah telah perintahkan untuk membangunnya, memakmurkannya dan menyucikannya.

Dari penjelasan di kitab Tafsir Ibnu Katsir tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa Allah telah menjelaskan secara khusus bahwa masjid adalah tempat yang paling dicintai Allah dibandingkan tempat-tempat lainya di muka bumi. Hal ini sebagaimana hadits shohih berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ( أَحَبُّ الْبِلاَدِ إِلَى اللهِِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلاَدِ إِلَى اللهِِ أَسْوَاقُهَا )

Dari Sahabat Abu Hurairah radhiallahu'anhu, bahwa Rasulullah Shollallahu'alahi wassalam bersabda: "Tempat berkumpulnya manusia yang paling Allah cintai adalah masjid-masjidnya dan tempat berkumpulnya manusia yang paling Allah benci adalah pasar-pasarnya" HR. Muslim no. 671 (288).

Oleh karena itu, selayaknya bagi seorang mukmin yang mencintai Allah dan Rasul-Nya untuk belajar tentang adab-adab dan hal-hal berkaitan dengan masjid, hingga kemudian mengamalkannya.

Nantikan Part 3 di edisi yang mendatang.

Add comment


Security code
Refresh


Jazakallahu Khoiran