Thursday, October 19, 2017
Text Size

Siapakah Ibnu Abi Hatim

User Rating: / 9
PoorBest 

Siapakah Ibnu Abi Hatim?

Ibnu Abi Hatim Ar-Razi (lahir tahun 240 H dan wafat tahun 327 H). Beliau bernama Abdurrahman bin Muhammad bin idris bin Al-Mundzir bin Dawud bin Mahran, berkunyahkan (nama kunyahnya) Abu Muhammad Ibnu Abi Hatim at-Tamimi al-Handzoli, seorang imam anak dari seorang Imam (Beliau adalah seorang Imam ( Ahlul Hadits) anak dari Abu Hatim yang juga seorang Imam (Ahlul Hadits)), beliau sering berkelana menemani bapaknya untuk mencari hadits. Beliau mendengar hadits dari Bapaknya yaitu Abu Hatim ar-Razi, juga Abu Zur'ah Ar-Razi shahabat bapaknya, Al-Hasan bin Arafah, Ahmad bin Sinan al-Qaththon, Abu Saíd As-Saji, Yunus bin Abdil A'la dan beberapa orang ulama lainya dari Hijaz, Syiria, Mesir, Irak dan lainnya.

Beliau menulis kitab al-Jarh wat Ta'dil, sebuah kitab besar tentang penilaian terhadap para perawi hadits yang berjumlah 8 jilid. Beliau juga menulis kitab tentang tafsir beberapa jilid dan diantaranya dua jilid masih merupakan manuskrip, juga menulis kitab Ar-Rad Ála al-Jahmiyah (Bantahan terhadap al-Jahmiyah), Ilalul Hadits, Al-Musnad, Al-Kuna, Al-Fawaid al-Kubro dan kitab-kitab lainnya. (Lihat Thobaqat asy-Syafiíyah al-Kubro oleh As-Subki 3/324 no. 207 cet. Hajr liththobat wan Nashr wat Tauzi' tahun 1413 H)

Hikmah terbesar bagi kita dari sosok Alim Hafizh seperti Ibnu Abi Hatim adalah penuturan beliau yang berkaitan dengan pentingnya tarbiyah pendidikan anak. Pendidikan yang harus dimulai dengan sesuatu yang paling penting yaitu menghafal, mempelajar al-Qur-an. Hal ini sebagaimana penuturan beliau:

لَمْ يَدَعْنِى أَبيِ أَشْتَـغِلُ فِي الحَدِيثِ حَتّىَ قَرَأتُ الْقُرْآنَ عَلَى الْفَضْلِ بْنِ شَاذَانِ الرّازِي ثُمّ كَتَبْتُ الحَدِيثَ

Ibnu Abi Hatim berkata, "Aku tidak dibiarkan oleh Bapakku untuk sibuk dalam mempelajari hadits sampai aku selesai mempelajar Qur-an dari Al-Fadl bin Syadzani ar-Razi baru kemudian aku (diperbolehkan) menulis hadits." (Lihat Thobaqat asy-Syafiíyah al-Kubro oleh As-Subki 3/325 )

Ini merupakan contoh tarbiyah/pendidikan dari seorang bapak kepada anaknya, dimana Abu Hatim ar-Razi tidak membolehkan anaknya Ibnu Abi Hatim sibuk dalam mempelajari hadits sampai selesai mempelajari al-Qur-an. Nilai pelajaran/faidah yang bisa kita petik adalah :

Selayaknya bagi orang tua untuk sedini mungkin membimbing anak-anaknya untuk mempelajari al-Qur-an terlebih dahulu sebelum mempelajari ilmu yang lainnya. Alasan utama hal tersebut adalah anak kecil itu masih mempunyai kemampuan menghafal yang lebih baik dan lebih cepat daripada seorang dewasa, sehingga manakala si anak mampu menghafal ketika usia dini maka ia tidak akan lupa hingga usianya lanjut seperti memahat sesuatu di atas batu lebih baik daripada memahat di atas air ataupun bahan yang mudah rusak lainnya.

Demikian pembahasan secara ringkas tentang sosok Alim Hafizh - Ibnu Abi Hatim ar-Razi. Semoga bermanfaat.

Abu Kayyisa,

Abu Dhabi, Desa ar-Rohbah UAE, di sore hari menjelang berbuka 1 Ramadhon 1432 H.

Maraji'

  • Al-A'lam liz Zarkali oleh Az-Zarkali ad-Dimasyky cet. Darul Ilmi Lil Malayin th. 2002
  • Siyar A'lam an-Nubala oleh Imam adz-Dzahabi cet. Muassassah Ar-Risalah th. 1405
  • Thobaqat asy-Syafiíyah al-Kubro oleh As-Subki cet. Hajr liththobat wan Nashr wat Tauzi' tahun 1413 H

Add comment


Security code
Refresh


Jazakallahu Khoiran