Friday, November 24, 2017
Text Size

Takhrij Hadits Dilema Bolehnya Mengharap Kematian

 

Dilema Bolehnya Mengharap Kematian

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه وبعد

Barakallahu fikum, berikut ini adalah pembahasan yang berkaitan dengan dilema tentang boleh tidaknya mengharap kematian. Seperti kita ketahui bahwa banyak dari saudara kita sering mengeluh dan berdoa untuk mengharap kematian dikarenakan ujian dan cobaan yang dialaminya. Dari kacamata syar'i tentunya kita bisa memandang lebih jernih permasalahan tersebut dan kita kembalikan dengan "taslim" - ketaatan yang sebenarnya - kepada dalil-dalil yang ilmiyah baik dari Al-Qur-an maupun dari As-Sunnah yang shohih.

Hadist Rasulullah Shallallahu'alahi wassalam yang menjadi inti pembahasan artikel ini adalah:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قال: رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ ، فَإِنْ كَانَ لاَ بُدَّ مُتَمَنّـِياً فَلْيَقُلْ : اللَّهُمَّ أَحْيِنِيْ مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْراً لِي وَتَوَفَّنِيْ إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي

Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, ia berkata, Rasulullah Shollallahu’alaihi wassalam bersabda: “Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian berangan-angan akan kematian dengan sebab suatu bencana yang menimpanya. Kalaulah terpaksa harus melakukan hal itu, maka hendaklah dia mengucapkan: ‘Ya Allah, hidupkanlah aku jika kehidupan ini baik bagiku, dan matikanlah aku jika kematian itu memang lebih baik bagiku.’”   Shohih  (Muttafaqun’alaihi HR.Bukhori no. 5671 (Dalam Fathul Bari X/158, cet. Daarus Salaam th. 1421 H) dan Muslim no. 2680 dan lafazh hadits ini milik Muslim) 

  Sanad Hadits  

Berikut ini adalah rincian sanad dari hadits utama diatas:

حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ ، حَدَّثَناَ إِسْماَعِيْلُ يَعْنِي ابْنَ عُلَيَّةَ عَنْ عَبْدِ العَزِيْزِ عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Imam Muslim berkata: “Telah mengabarkan kepada kami (Imam Muslim)  Zuhair bin Harb , (dia: Zuhair bin Harb berkata) telah mengabarkan kepada kami  Isma’il yaitu Ibnu ‘Ulaiyyah  dari  Abdul ‘Aziz  dari  Anas bin Malik  radhiallahu’anhu, (dia Anas bin Malik) berkata, ‘Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam bersabda:…..(sebagaimana hadits diatas).

  Penjelasan/Tarjamah tentang Perawi Hadits  

Secara ringkas penjelasan tentang perawi hadits berikut disandarkan kepada kitab al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalany yaitu Taqribut Tahdzib cet. Daar al-‘Ashimah th. 1423 H, tahqiq Abu Asybal Shoghir Ahmad Syaghif Al-Bakistani, sebagai penjelasan lebih lanjut dapat dilihat di kitab Silsilah Ash-Shohihah pada penjelasan hadits no. 578, Irwaul Ghalil no. 683.

HaditsMengharapKemation

 1. Zuhair bin Harb  

Nama lengkapnya adalah :

زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ بنِ شَدَادٍ

Zuhair bin Harb bin Syadaad, memiliki nama kunyah yaitu Abu Khoitsamah An-Nasa-i, pernah mukim di kota Baghdad. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Atsqalani dalam kitabnya Taqribut Tahdzib no. 2053 (hal 341) memberikan penilaian terhadap perawi ini dengan  TSIQAH TSABT  (terpercaya lagi kokoh), haditsnya diambil oleh Imam Muslim dalam Kitab Shohihnya sangat banyak sampai lebih dari 1000 hadits. Beliau termasuk tingkatan X dan wafat tahun 234 H dalam usia 74 tahun.

 2. Ismail / Ibnu Ulaiyyah  

Nama lengkapnya adalah :

إِسْمَاعِيْلُ بنُ إِبْرَاهِيْمَ بنِ مِقْسَمٍ الأَسَدِيُّ مَوْلاَهُمْ ، أَبُوْ بَشْرِ البَصَرِي ، مَعْرُوْفٌ بِابْنِ عُلَيَّةَ

Ismail bin Ibrahim bin Miqsam dari Maula Al Asadi, mempunyai nama kunyah Abu Basyr Al-Bashry dan terkenal dengan nama Ibnu ‘Ulaiyah. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalany dalam Taqribut Tahdzib no. 420 hal. 136 memberikan penilaian terhadap perawi tersebut dengan derajat  TSIQAH HAFIZH  (terpercaya lagi hafal). Perawi tersebut termasuk tingkatan VIII, wafat tahun 193 dalam usia 83 tahun.

 3. Abdul ‘Aziz  

Nama lengkapnya adalah :

عَبْدُ العَزِيْزِ بنُ صُهَيْبٍ البُنَانِيُّ البَصْرِيُّ

Abdul Aziz bin Shuhaib al Bunaani al-Bashry. Beliau dinilai oleh Al-Hafizh dalam at-Taqrib no. 4130 hal. 613 sebagai perawi yang  TSIQAH  (terpercaya), termasuk tingkatan IV, wafat 130 H.

 4. Anas bin Malik  

Nama lengkapnya adalah :

أَنَسُ بنُ مَالِكِ بنِ النَّضْرِ بنِ ضَمْضَمٍ الأَنْصَارِيُّ

Anas bin Malik bin An-Nadhr al-Anshory Al-Khozrojy, mempunyai nama kunyah Abu Hamzah al-Ansory. Beliau adalah seorang Shahabat yang masyhur, pembantu Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam selama 10 tahun, mendapatkan laqab/julukan Dzul Udzunain (pemilik dua telinga). Meninggal tahun 93 H. (lihat At-Taqrib no. 570 hal. 154)

  Kandungan Faidah-Faidah Hadits:  

Pertama  Diharamkan mengharapkan kematian. Terdapat larangan-larangan yang secara jelas disebutkan dalam hadits Khobbab bin al-Aratt radhiallahu’anhu, menurut riwayat Al-Bukhari no. 5672, bahwa dia pernah disiksa dengan besi panas sampai tujuh kali dan dia berkata:

لَوْلاَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهاَنَا أَنْ نَدْعُوَ بِالْمَوْتِ لَدَعَوْتُ بِهِ

“Seandainya saja Rasulullah Shollallahu’alaihi wassalam tidak melarang kami berdoa memohon kematian, niscaya aku akan memanjatkannya.”  (Shohih   Shohih Al-Bukhari no. 5672).

Namun jika seorang hamba merasa takut atas dirinya terkena fitnah atau takut akan malapetaka menimpa agamanya, maka dibolehkan baginya memanjatkan doa itu, tetapi harus dilakukan seperti yang diajarkan oleh Rasulullah Shollallahu’alaihi wassalam dalam hadits Anas tersebut.

Kedua Tidak diragukan lagi bahwa kehidupan seorang mukmin adalah lebih baik baginya. Sebab, jika dia meninggal, maka akan terputus semua amalny, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiallahu’anhu, dari Rasulullah Shollallahu’alaihi wassalam, beliau bersabda :

لاَ يَتَمَنَّ أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ وَلاَ يَدْعُ بِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُ إِنَّهُ إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ انْقَطَعَ عَمَلُهُ ، وَ إِنَّهُ لاَ يَزِيْدُ الْمُؤْمِنَ عُمْرُهُ إِلاَّ خَيْراً

“Janganlah salah seorang diantara kalian mengharapkan kematian dan jangan pula berdoa mengharapkannya sebelum tiba waktunya. Sebab, jika salah seorang di antara kalian meninggal dunia, maka akan terputus amalnya. Sesungguhnya tidaklah seorang mukmin bertambah umurnya melainkan berupa kebaikan.” ( Shohih   Shohih Muslim no. 2682)

Dimakruhkannya mengharap kematian itu tidak berarti benci untuk bertemu Allah. Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah radhiallahu’anha, dia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam telah bersabda:

مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ ،وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ كَرِهَ اللهُ لِقاَءَهُ ، فَقُلْتُ : يَا نَبِيَّ اللهِ أَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ؟ فَكُلُّنَا نَكْرَهُ الْمَوْتَ ، فَقَالَ : لَيسَ كَذَلِكَ ، وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا بُشِّرَ بِرَحْمَةِ اللهِ وَ رِضْوَانِهِ وَ جَنَّتِهِ أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ فَأَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ ، وَ إِنَّ الْكَافِرَ إِذَا بُشِّرَ بِعَذَابِ الله ِ وَ سَخَطِهِ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ وَ كَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ

“Barangsiapa yang senang bertemu dengan Allah, maka Allah akan senang pula bertemu dengannya. Dan barangsiapa yang membenci pertemuan dengan Allah, maka Allah pun akan membenci pertemuan dengannya.” Lalu kutanyakan: “Wahai Nabi Allah, apakah itu yang dimaksud dengan karahiyatul maut (benci kematian)? Bukankah setiap dari kita benci kematian?” Beliau menjawab: “Bukan itu yang dimaksud. Namun, seorang mukmin jika disampaikan berita gembira tentang rahmat, keridhoan dan Surga Allah, maka dia akan sangat menyukai pertemuan dengan Allah, sehingga Allah pun senang bertemu dengannya. Dan sesungguhnya seorang kafir jika diberitahu tentang adzab dan kemurkaan Allah, maka dia akan sangat membenci pertemuan dengan Allah dan Allah pun tidak menyukai pertemuan dengannya.” ( Shohih   Shohih Muslim no.2684 dan At-Tirmidzi no. 1067)

Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu’anha memberikan penekanan terhadap makna hadits ini yaitu, ketika ditanya mengenai tafsir hadits ini, beliau berkata,

وَلَيْسَ بالَّذِيْ تَذْهَبُ إِلَيْهِ ، وَلَكِنْ إِذَا شَخَصَ البَصَرُ وَ حَشْرَجَ الْصَدْرُ وَاقْشَعَرَّ الْجِلْدُ وَ تَشَنَجَتِ الأَصَابِعُ فَعِنْدَ ذَلِكَ مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ وَ مَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ كَرِهَ اللهُ لِقاَءَهُ

Bukan seperti yang kamu fahami, akan tetapi yang dimaksud adalah: “Jika mata telah terbelalak, ruh telah sampai di dada, kulit telah merinding dan jari jemari telah menjadi kaku , pada saat itulah , barangsiapa yag benci bertemu Allah, maka Allah pun benci betemu dengannya.” ( Shohih   Shohih Muslim no. 2685)

Imam An-Nawawi dalam Kitab Syarahnya terhadap Shohih Muslim XVII/12 (cet. Daarul Ma’rifah th. 1426 H) mengatakan: “Penghujung hadits ini menafsirkan permulaannya dan menjelaskan hadits-hadits mutlak lainnya tentang makna ‘Orang yang rindu bertemu Allah dan yang benci bertemu dengan Allah.”

Makna hadits ini bahwa kebencian yang terjadi pada saat naza’ yaitu ketika taubat dan amalan lain seseorang sudah tidak diterima lagi. Pada saat itu, setiap orang diberitahu apa yang akan dijalaninya dan apa yang telah dipersiapkan untuknya, serta dibukakan baginya semuanya itu. Jadi,orang-orang yang berbahagia dan menyukai kematian serta pertemuan dengan Allah, berharap mereka dapat pindah kepada apa yang telah dijanjikan kepada mereka, maka Allah juga menyukai pertemuan dengan mereka dan Dia akan memberikan kepada mereka pemberian yang melimpah dan kemuliaan. Sedangkan orang-orang yang sengsara, mereka akan sangat benci pertemuan dengan Allah karena mereka mengetahui kejelekan tempat kembali mereka, maka Allah pun sangat membenci pertemuan dengan mereka dan menjauhkan mereka dari rahmat dan kemuliaan-Nya.

Ketiga  Keharusan bersabar dalam menjalani cobaan dan tidak gelisah, sebab kegelisahan merupakan salah satu bentuk perlawanan (ketidakrelaan) terhadap takdir Allah.

Keempat  Seorang hamba yang mukmin hendaknya menyerahkan semua urusannya kepada Allah. Hal itu merupakan buah dari keimanannya kepada Allah sebagai Rabb Yang Maha Kuasa Lagi Maha Pemberi Rezki.

Kelima  Seorang hamba yang mukmin hendaknya senantiasa berusaha mempersiapkan diri untuk kehidupan akhiratnya dengan memperbanyak amalan sholeh dan tidak melakukan kesyirikan. Hal ini sebagaimana firman Allah:

فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabbnya  (QS. Al-Kahfi: 110)

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Wallaahu a’lam bishshawwaab.

Abu Kayyisa,

Dubai yang mulai panas menyengat, Selasa, 10 Jumadha Akhir 1433 H/1 Mei 2012.

 

 

Add comment


Security code
Refresh


Jazakallahu Khoiran