Saturday, August 23, 2014
Text Size
User Rating: / 17
PoorBest 

 

Adab-adab dan Sunnah yang Ditinggalkan Seputar Sholat Tarawih

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه وبعد

Barakallahu fikum, semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan kepada antum sekalian, berikut ini adalah pembahasan tentang adab-adabnya dan sunnah yang ditinggalkan oleh kaum muslimin seputar Shalat Tarawih. Pembahasan ini diterjemahkan dari pesan singkat oleh Syaikh Ahmad bin Abdullah al-Hana-i Al-Emiraty yang dikirim lewat whatsapp kemudian diterjemahkan sekaligus ditambahkan takhrij hadits serta penjelasannya oleh Abu Kayyisa - belajarhadits.com

آدَابُ قِيَامِ رَمَضَانَ أَوِ التَّرَاوِيْحِ

Adab- Adab Qiyamur Ramadhan atau Sholat Tarawih 

Oleh Syaikh Ahmad bin Abdullah al-Hanai Al-Emiraty hafidzahullah

١.مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. متفق عليه.

Barangsiapa yang mendirikan sholat Tarawih pada bulan Romadhon maka diampuni baginya dosa (kecil)nya yg telah lalu.  Shohih  (HR. Al-Bukhori no. 37 dan Muslim no. 759 (173). Dari Shahabat Abu Hurairah)

٢.وَهِيَ سُنَّةٌ والأَفْضَلُ صَلاَتهَا جَمَاعَةً والانْصِرَافُ مَعَ الإِمَامِ بِالوِتْرِ لِحَدِيْث: إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ. رَوَاهُ أَصْحَابُ السُّنَنِ.

Sholat Tarawih sunnah hukumnya dan yang lebih utama adalah sholat Tarawih secara berjamaah dan selesai bersama imam dengan disertai sholat witir sebagaimana hadits:

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

Barangsiapa yang sholat Tarawih bersama imam sampai selesai maka dicatat baginya sholat malam penuh.   diriwayatkan oleh Ashabus Sunan.
 Hadits Shahih   (HR. Ahmad 5/159, Ibnu Majah no. 1327, at-Tirmidzi no. 806, an-Nasaa-I no. 1605, Abu Dawud no. 1375, Lihat Irwaul Ghalil no. 447)

٣ .وَالسَّنَةُ أَنْ يُصَلِّيَ ١١ ركْعَةً مَعَ الْوِتْرِ كَمَا فَعَلَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ السَّلَام والصَّحَابَةُ. وَ مِنْهُمْ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ وَأُبَيْ بنُ كَعْبٍ وَتَمِيْمُ الدَّارِي وغَيْرُهُمْ.

Disunnahkan sholat Tarawih 11 rokaat yang disertai witir sebagaimana apa yang Rasulullah shallallahu alaihi wassalam telah lakukan dan para shahabatnya diantaranya Umar bin Khoththob, Ubay bin Kaab, Tamim ad-Dary dan yang lainnya.

(Tambahan penjelasan) Hal ini berdasarkan hadits:

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، أَنَّهُ أَخْبَرَهُ: أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ؟ فَقَالَتْ: «مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

Dari Abu Salamah bin 'Abdirrahman, dia mengabarkan bahwa dia pernah bertanya pada 'Aisyah radhiyallahu 'anha, "Bagaimana shalat malam Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada bulan Ramadhan?". 'Aisyah mengatakan, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah raka'at dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya lebih dari 11 raka'at."  Hadits Shahih   (HR. Al-Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738 (125))

٤. وَلَهُ أَنْ يُنْقِصَ مِنْ ال 11 وَأَقَلُّهَا ركْعَةَ الْوِتْرِ.

Boleh bagi orang yang sholat Tarawih (sholat malam di bulan ramadhan) untuk sholat kurang dari 11 rokaat dan rokaat yg paling sedikit dari qiyamul lailnya adalah satu rakaat witir.

(Tambahan penjelasan) Hal ini berdasarkan hadits:

عَنْ عَائِشَةَ، «أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ يُصَلِّي بِاللَّيْلِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُوتِرُ مِنْهَا بِوَاحِدَةٍ

Dari 'Aisyah, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat malam sebelas raka'at termasuk witir satu raka'at.  Hadits Shahih   (HR. Muslim no. 736 (121))

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى، فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى

Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Jika salah seorang dari kalian khawatir akan masuk waktu shubuh, hendaklah dia shalat satu rakaat sebagai witir (penutup) bagi shalat yang telah dilaksanakan sebelumnya.  Hadits Shahih   (HR. Al-Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749 (145) dari Shahabat Ibnu Umar radhiallahu'anhuma.)

٥. وَ وَقْتُ القِيَامِ مِنْ بَعْدَ العِشَاءِ إِلَى الْفَجْرِ.

Waktu pelaksanaan sholat Tarawih dari setelah sholat Isya sampai Shubuh

(Tambahan penjelasan) Hal ini berdasarkan Sabda Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ زَادَكُمْ صَلَاةً فَصَلُّوهَا فِيمَا بَيْنَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ إِلَى صَلَاةِ الصُّبْحِ الْوَتْرُ الْوَتْرُ

Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla telah menambah kepada kalian shalat. Maka lakukanlah sholat tambahan itu antara shalat 'Isya hingga shalat Shubuh. (Yaitu) shalat witir, shalat witir.  Hadits Shahih   (HR. Ahmad no. 27229; Lihat Irwaul Ghalil 2/158 dan juga Silsilah Ahaadits Ash-Shohihah no. 108)

٦. وَكَانَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ يَفْتَتِحُ صَلاَتَهُ بِركْعَتَيْنِ خَفِيْفَتَيْنِ.

Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam membuka sholat malamnya dengan dua rokaat yang ringan (pendek bacaanya)

(Tambahan penjelasan) Hal ini berdasarkan hadits:

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: «كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ لِيُصَلِّيَ، افْتَتَحَ صَلَاتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ»

Dari Aisyah radhiallahu'anha, dia berkata, Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam apabila bangun malam untuk mendirikan sholat tahajud, beliau memulai sholatnya dengan dua rokaat yang ringan (ringan bacaannya).  Hadits Shahih   (HR. Muslim no. 767 - (197))

٧. وَالأَفْضَلُ أَنْ يُسَلِّمَ مِنْ كُلِّ ركْعَتَيْنِ. وَإِذَا صَلَّى الوِتْرَ ٣ رَكَعَات مُتَّصِلَةً فَلاَ يَجْلِس فِيْهَا إِلَّا جُلُوْساً وَاحِداً لِلتَّشَهُّدِ.

Yang lebih utama hendaknya salam setiap dua rokaat. Jika hendak melakukan witir sebanyak 3 rokaat maka tidak ada tasyahud kecuali pada rokaat terakhir saja .

(Tambahan penjelasan) Hal ini berdasarkan hadits:

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى، فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى

Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Jika salah seorang dari kalian khawatir akan masuk waktu shubuh, hendaklah dia shalat satu rakaat sebagai witir (penutup) bagi shalat yang telah dilaksanakan sebelumnya.  Hadits Shahih   (HR. Al-Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749 (145) dari Shahabat Ibnu Umar radhiallahu'anhuma.)

Tidak ada 2 tasyahud bagi yang melakukan sholat witir 3 rokaat sekaligus berdasarkan dalil:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تُوتِرُوا بِثَلَاثٍ تَشَبَّهُوا بِصَلَاةِ الْمَغْرِبِ، وَلَكِنْ أَوْتِرُوا بِخَمْسٍ، أَوْ بِسَبْعٍ، أَوْ بِتِسْعٍ، أَوْ بِإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

Dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam bersabda: 'Janganlah berwitir dengan tiga rakaat menyerupai shalat Maghrib, namun berwitirlah dengan lima raka'at, tujuh, sembilan atau sebelas raka'at.'  Hadits Shahih   (HR. Al-Hakim 1/314 no. 1137, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Sholat Tarawih hal. 85)

Dalil yang lainnya adalah:

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْوِتْرِ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى، وَفِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ بِقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَفِي الثَّالِثَةِ بِقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَلَا يُسَلِّمُ إِلَّا فِي آخِرِهِنَّ

Dari Ubay bin Kaab, dia berkata: Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam pernah membaca di shalat witirnya surat al-A'la dan pada raka'at kedua membaca surat al-Kaafiruun, dan rakaat ketiga membaca Qul Huwallahu Ahad. Beliau tidak salam, kecuali di akhirnya.  Hadits Shahih   (HR an-Nasa-i no. 1701, dan dishahihkan Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan an-Nasa-i, 1/372)

٨. وَيَقْنُتُ فِي الوِتْرِ قَبْلَ الرُّكُوْعِ دُوْنَ رَفْعِ اليَدَيْنِ عَلَى الأَصَحِّ مِنَ الأَقْوَالِ. وَيَدْعُو بِالدُّعَاءِ الْـمَعْرُوفِ: اَللَّهُمَّ اهْدِنِيْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ... وَلَا يُطِيْلُ كَثِيْراً وَلَا يَلْحَنُ الدُّعَاءَ. وَلَمْ يَثْبُتْ فِي السُّنَّةِ مَا يَقُوْلُهُ النَّاسُ فِي الدُّعَاءِ: نَشْهَدْ، حَقًّا،،،، اِلخ مَعَ الإِمَامِ. بَلْ يَسْكُتُ أَوْ يُؤَمِّنُ فَقَطْ.

Melakukan doa qunut pada sholat witir sebelum rukuk tanpa mengangkat tangan, Hal tersebut yang paling shohih menurut pendapat ulama*. Dan berdoa dengan doa yang sudah dikenal allahummahdini fiman hadait...dst. Dan tidak berkepanjangan dalam doa dan tidak mendendangkan permohonan doanya. Dan tidak ada dalil dari hadits apa-apa yg sering diucapkan oleh kebanyakan orang "nash-had (kami bersaksi), haqqan (benar) dan seterusnya bersama imam. Namun yang benar, diam atau mengaminkannya.

(Tambahan penjelasan) Qunut witir dilakukan sebelum rukuk hal ini berdasarkan dalil:

Dari Ubay bin Ka'ab radhiallahu anhu dia berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُوتِرُ بِثَلَاثِ رَكَعَاتٍ كَانَ يَقْرَأُ فِي الْأُولَى بِسَبِّحْ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَفِي الثَّانِيَةِ بِقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَفِي الثَّالِثَةِ بِقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَيَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوعِ فَإِذَا فَرَغَ قَالَ عِنْدَ فَرَاغِهِ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ يُطِيلُ فِي آخِرِهِنَّ

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah shalat witir tiga rakaat, pada rakaat pertama beliau membaca: " Sabbihisma rabbikal a'laa (surat Al A'la)." Pada rakaat kedua membaca: "Qul ya ayyuhal kafirun (surat Al Kaafiruun)," dan pada rakaat ketiga beliau membaca "Qul huwallahu ahad (surat Al Ikhlas)." Lalu beliau qunut sebelum ruku'. Setelah selesai sholat, beliau membaca: "SUBHANAL MALIKIL QUDDUS" sebanyak tiga kali. Beliau memanjangkan pada yang terakhir kalinya  Hadits Shahih   (HR. An-Nasa-i: 3/235 dan sanadnya dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasa-i: 1/371-372)

* (Lihat Qunut sebelum rukuk di Shohih Abi Dawud al-Um – 5/166, sedangkan qunut setelah rukuk adalah dilakukan untuk qunut nazilah yang dilakukan pada sholat fardhu bukan sholat shubuh saja sebagaimana dilakukan oleh Abu Hurairah pada sholat Shubuh , Dhuhur dan Isya– lihat Irwaul Ghalil no. 424.)

Doa Qunut:

اَللَّهُمَّ اهْدِنِيْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِيْ فِيْمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِيْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِيْ فِيْمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِيْ شَرَّ مَا قَضَيْتَ، فَإِنَّكَ تَقْضِيْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ، إِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ.

"Ya Allah! Berilah aku petunjuk sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk, berilah aku perlindungan (dari penyakit dan apa yang tidak disukai) sebagaimana orang yang telah Engkau lindungi, sayangilah aku sebagaimana orang yang telah Engkau sayangi. Berilah berkah apa yang Engkau berikan kepadaku, jauhkan aku dari kejelekan apa yang Engkau takdirkan, sesungguhnya Engkau yang menjatuhkan qadha, dan tidak ada orang yang memberikan hukuman kepadaMu. Sesungguhnya orang yang Engkau bela tidak akan terhina, dan orang yang Engkau musuhi tidak akan mulia. Maha Suci Engkau, wahai Rabb kami dan Maha Tinggi Engkau."  Hadits Shahih   (HR. Abu Dawud no. 1425, At-Tirmidzi no. 464, An-Nasa-I no. 1745, dan yang lainnya, Lihat Irwaul Ghalil 2/172 no. 429, Shohih)

Ataupun dengan doa:

اَللَّهُمَّ إيـَّاكَ نَعْبُدُ، وَلَكَ نُصَلِّيْ وَنَسْجُدُ، وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ، نَرْجُوْ رَحْمَتَكَ، وَنَخْشَى عَذَابَكَ، إِنَّ عَذَابَكَ بِالْكَافِرِيْنَ مُلْحَقٌ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ، وَنُثْنِيْ عَلَيْكَ الْخَيْرَ، وَلاَ نَكْفُرُكَ، وَنُؤْمِنُ بِكَ، وَنَخْضَعُ لَكَ، وَنَخْلَعُ مَنْ يَكْفُرُكَ.

Ya Allah! Kepada-Mu kami menyembah. Untuk-Mu kami melakukan shalat dan sujud. Kepada-Mu kami berusaha dan melayani. Kami mengharapkan rahmat-Mu, kami takut pada siksaan-Mu. Sesungguhnya siksaan-Mu akan menimpa pada orang- orang kafir. Ya, Allah! Kami minta pertolongan dan minta ampun kepada-Mu, kami memuji kebaikan-Mu, kami tidak ingkar kepada-Mu, kami beriman kepada-Mu, kami tunduk pada-Mu dan berpisah pada orang yang kufur kepada-Mu.  Hadits Shahih   (HR. Al-Baihaqi dalam As-Sunanul Kubra 2/211. Syaikh Al-Albani dalam Irwa'ul Ghalil 2/170 berkata: "Sanadnya shahih dan mauquf pada Umar radhiallahu'anhu")

٩. وَصَحَّ عَنِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ السَّلاَمُ أَنَّهُ قَرَأَ مَرَّةً فِي رَكعَةِ الْوِتْرِ بِمِئَةِ آيَةٍ مِنَ النِّسَاءِ.

Dan shohih dari Nabi shollallahu'alaihi wassalam bahwa beliau pada satu rakaat witir pernah membaca 100 ayat dari surat An-Nisaa

(Tambahan penjelasan) Hal ini berdasarkan hadits:

عَنْ أَبِي مِجْلَزٍ، أَنَّ أَبَا مُوسَى كَانَ بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ، «فَصَلَّى الْعِشَاءَ رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى رَكْعَةً أَوْتَرَ بِهَا، فَقَرَأَ فِيهَا بِمِائَةِ آيَةٍ مِنَ النِّسَاءِ»، ثُمَّ قَالَ: مَا أَلَوْتُ أَنْ أَضَعَ قَدَمَيَّ حَيْثُ وَضَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدَمَيْهِ وَأَنَا أَقْرَأُ بِمَا قَرَأَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Abu Mijlaz bahwasannya Abu Musa pernah berada di antara Makkah dan Madinah, dia sholat Isya dua rakaat, kemudian berdiri, lalu shalat satu rakaat sebagai witir dengan membaca seratus ayat dari surat an-Nisaa. Kemudian beliau (Abu Musa) berkata: "Aku tidak menyia-nyiakan untuk menapakkan telapak kakiku ditempat manapun Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam menapakkan telapak kakinya, dan aku membaca sebagaimana Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam membacanya."  Hadits Shahih   (HR. An-Nasaa-i no. 1728, lihat Ashlu Shifat Sholat Nabi oleh Syaikh Albani 2/543)

١٠. وَيَقُوْلُ فِي آخِرِ الْوِتْرِ قَبْلَ السَّلَامِ أَوْ بَعْدَهُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَأَعُوذُ بِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ، لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

Dan membaca di akhir sholat witir sebelum salam atau sesudah salam.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَأَعُوذُ بِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ، لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

Allahumma Inni audzubiridhoka 'an sakhotik wa bi muafatika min uquubatik wa audzubika minka la uhsyi tsana-an alaika anta kama atsnaita ala nafsika ..Ya Allah aku berlindung dengan keridoaan-Mu dari kemurkaan-Mu, Aku berlindung dengan maaf-Mu dari siksa-Mu dan aku berlindung dengan-Mu dari-Mu, aku tidak bisa menghitung pujian kepada-Mu sebagaimana Engkau telah memuji diri-Mu sendiri.  Hadits Shahih   (HR. An-Nasaai no. 1747, Ibnu Majah no. 1179, Abu Dawud no. 1427, Lihat Irwaul Ghalil no. 430)

(Tambahan penjelasan) Lihat Qiyamur Ramadhan Fadhluhu wa Kaifiyatu Adaaihi wa Masyru'iyah al-Jama'ah wa ma'ahu Bahtsul Qayyim 'anil I'tikaf oleh Syaikh al-Albani no. 17

Doa diatas diucapkan sebelum salam berdasarkan dalil:

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ: فِي آخِرِ الْوِتْرِ «اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَأَعُوذُ بِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ، لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ»

Dari Ali bin Abi Thaalib : Bahwasannya Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam senantiasa mengucapkan doa pada shalat witirnya : "Allahumma Inni audzubiridhoka 'an sakhotik wa bi muafatika min uquubatik wa audzubika minka la uhsyi tsana-an alaika anta kama atsnaita ala nafsika ..Ya Allah aku berlindung kepada Mu dengan keridoaan-Mu dari kemurkaan-Mu dan aku berlindung dengan maaf-Mu dari siksa-Mu dan aku berlindung dengan-Mu dari-Mu, aku tidak bisa menghitung pujian kepada-Mu sebagaimana Engkau telah memuji diri-Mu sendiri  Hadits Shahih   (HR. At-Tirmidzi no. 3566, Abu Dawud 1427, an-Nasa-I no. 1747 dan Ibnu Majah no. 1179 – lafazh tersebut milik Ibnu Majah dan An-Nasa-i, Lihat Irwaul Ghalil no. 430).

Sedangkan lafazh milik At-Tirmidzi no. 3566 adalah:

يَقُولُ فِي وِتْرِهِ

Beliau shallallahu'alaihi wassalam mengucapkan(nya - doa tersebut) pada sholat witirnya.

Syaikh Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul dalam kitabnya Bughyatul Mutathowwi' fi Sholatit Tathowwu' hal. 74 menukilkan perkataan Imam As-Sindi dalam kitabnya Hasyiyah as-Sindiy Ala an-Nasa-I 3/249,

كَانَ يَقُوْلُ فِي آخِرِ وِتْرِهِ يَحْتَمِلُ أَنَّهُ كَانَ يَقُوْلُ فِي آخِرِ الْقِيَامِ فَصَارَ هُوَ مِنَ الْقُنُوْتِ كَمَا هُوَ مُقْتَضَى كَلَامِ المُصَنِّفِ وَيحْتَمِلُ أَنَّهُ كَانَ يَقُوْل فِي قُعُوْدِ التَّشَهُّدِ وَهُوَ ظَاهِرُ اللَّفْظِ

Dalam lafazh hadits Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam biasa mengucapkannya di akhir sholat witirnya, kemungkinan pembacaannya bisa terjadi ketika beliau membacanya di akhir berdirinya maka bacaan doa itu termasuk dari bacaan qunut (hal ini) sesuai dengan apa yang dikehendaki dari perkataannya Imam an-Nasa-i dan dimungkinkan pula maknanya bahwa Nabi Shallallahu'alaihi wassalam membacanya ketika (diakhir) duduk tasyahud dan ini adalah makna secara lahiriyah dari lafazh hadits tersebut.

Doa tersebut diucapkan sesudah salam berdasarkan dalil hadits:

عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِّيِّ , عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ ، قَالَ: بِتُّ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ذَاتَ لَيْلَةٍ ، فَكُنْتُ أَسْمَعُهُ ، إِذَا فَرَغَ مِنْ صَلاَتِهِ ، وَتَبَوَّأَ مَضْجَعَهُ ، يَقُولُ : اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ ، وَأَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ ، اللَّهُمَّ لاَ أَسْتَطِيعُ ثَنَاءً عَلَيْكَ ، وَلَوْ حَرَصْتُ ، وَلَكِنْ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

Dari Ibrahim bin Abdillah bin Abdin al-Qarri, dari Ali bin Abi Tholib, dia berkata, "Aku pernah bermalam di tempat Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam pada suatu malam, kemudian aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam apabila beliau telah selesai dari shalatnya dan berbaring di tempat tidurnya berdoa, "Ya Allah Aku berlindung dengan maaf-Mu dari siksa-Mu, dan aku berlindung dengan keridoaan-Mu dari kemurkaan-Mu dan aku berlindung dengan-Mu dari-Mu, aku tidak bisa menghitung pujian kepada-Mu walaupun aku telah berusaha, namun pujian-Mu adalah sebagaimana Engkau telah memuji diri-Mu sendiri.

(HR. An-Nasa-i dalam Amalul Yaum wal Lailah no. 891, dan Ibnu Sunni dalam Amalul Yaum wal Lailah no. 766 hadits diatas munqathi' terputus karena Ibrahim bin Abdillah bin Abdin al-Qari tidak bertemu dengan Ali bin Abi Tholib dimana dia termasuk thobaqot ke-4, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Mizzi dalam Tahdzibul Kamal no. 193. Namun Imam An-Nasa-i membawakan hadits yang serupa dengan isnad yang shohih di kitabnya Amaul Yaum wal Lailah oleh Imam an-Nasa-i no. 892. Lihat Bughyatul Mutathowwi' fi Sholatit Tathowwu hal. 75 - cet. Daar Imam Ahmad)

Syaikh Al-Adzim AAbadi dalam Aunul Ma'bud Syarah Shohih Abi Dawud 4/213 memberikan penjelasan bahwa doa tersebut dibaca setelah salam. Hal ini juga sebagaimana Imam al-Baihaqy mencantumkan doa tersebut pada kitabnya As-Sunan al-Kubro bab Ma Yaquulu Ba'dal Witri : Bab Apa yang diucapkan setelah Sholat Witir. Begitu pula Imam an-Nasa-i mencantumkan doa tersebut di dalam Bab Ma Yaquulu Idza Faragho min sholatihi wa tabawwa'u madhzja'ahu : Bab Apa yang diucapkan (oleh Rasulullah shallallahu'alaihi wassalam) apabila telah selesai dari shalatnya dan berbaring di tempat tidurnya.

١١. وَ إِذَا سَلَّمَ مِنَ الْوِتْرِ قَالَ: «سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ» ٣ مَرات ويَزِيْدُ فِي الثَّالَثَةِ رَبِّ المَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ وَيَرْفَعُ صَوْتَهُ فِي الثَّالِثَةِ.

Apabila telah salam dari sholat witir maka beliau berucap   "Subhanaa Al Maikil Quddus 3x  dan ditambah pada yg ketiga   "Rabbil Malaikati War Ruuh"   dengan mengeraskan sedikit suaranya.

(Tambahan penjelasan) Hal ini berdasarkan hadits:

عَنْ ابْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُوتِرُ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى، وَقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَكَانَ يَقُولُ إِذَا سَلَّمَ: «سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ» ثَلَاثًا، وَيَرْفَعُ صَوْتَهُ بِالثَّالِثَةِ

Dari Ibn Abdirrahman bin Abza dari Bapaknya, bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam sholat witir dengan membaca Surat al-A'laa, surat al-Kaafiruun, dan surat al-Ikhlas. Jika beliau telah mengucapkan salam, maka beliau membaca doa,  Subhaanal Malikil Qudduus  tiga kali dan mengeraskan suaranya pada yang ketiga kalinya.  Hadits Shahih   (HR. An-Nasa-i no. 1732, lihat pula Abu Dawud no. 1430. Lihat Shohih Abi Dawud oleh Syaikh Albani no. 1284, dan Shohih An-Nasa-i no. 1732)

Dan tambahan Rabbil Malaikati War Ruuh adalah berdasarkan hadits:

فِي الْأَخِيرَةِ يَقُولُ: «رَبِّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِ»

Di akhirnya (setelah membaca subhanal malikil quddus tiga kali) Nabi Shallallahu'alaihi wassalam berdoa: "Rabbil Malaikati war Ruuh – Rabb Malaikat dan Ar-Ruuh (Malaikat Jibril).  Hadits Shahih   . (HR. Ad Daruquthni no. 1660, lihat Zadul Ma'ad yang ditahqiq oleh Syu'aib Al-Arnauth dan Abdul Qadir Al-Arnauth 1/337.))

١٢. وَلَهُ أَنْ يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْوِتْرِ أَحْيَاناً ، يَقْرَأُ فِيْهَا بِالزَلْزَلَةِ وَالكَافِرُوْنَ

Terkadang Rasulullah shallallahua alaihi wassalam sholat dua rokaat setelah witir dengan membaca didalamnya al-Quran Surat al-Zalzalah dan al-Kaafiruun

(Tambahan penjelasan) Hal ini berdasarkan hadits: dari Abu Umamah radhiallahu 'anhu, beliau mengatakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوتِرُ بِتِسْعٍ حَتَّى إِذَا بَدَّنَ وَكَثُرَ لَحْمُهُ أَوْتَرَ بِسَبْعٍ وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ فَقَرَأَ بِ (إِذَا زُلْزِلَتِ) وَ (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ )

Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam witir dengan 9 rakaat. Ketika beliau sudah mulai gemuk, beliau witir 7 rakaat, kemudian shalat 2 rakaat sambil duduk, dan beliau membaca surat Az-Zalzalah dan surat Al-Kaafiruun.  Hadits Hasan   (HR. Ahmad 5/269 no. 22313, lihat Ashlu Shifat Sholat an-Nabiy Shallallahu'alaihi wassalam oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah 2/544).

١٣. وَلَيْلَةُ الْقَدَرِ تَكُوْنُ فِي إِحْدَى اللَيَالِي الفَرْدِية مِنَ العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ عَلىَ الأَرْجَح. فَلْيَحْرِص عَلَى العِبَادَةِ وَتِلَاوَةِ القُرْآنِ فِيْهَا. وَيَسْتَحِبُّ أَنْ يَدْعُوَ فِيْهَا: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي. رَوَاهُ التِّرْمِذِي.

Malam lailatul qadar itu terjadi di salah satu dari malam malam ganjil setelah hari ke20 ramadhan sebagaimana pendapat yg paling kuat. Maka bersungguh sungguhlah untuk melakukan ibadah dan membaca quran pada saat itu dan dianjurkan untuk membaca Allahumma innaka afuwwun tuhibbul afwa fa'fuanni . Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha pengampun lagi Maha mulia yang suka memberi ampunan maka ampunilah kami. Hadits Riwayat at-Tirmidzi.

(Tambahan penjelasan) Doa tersebut berdasarkan dalil :

Nabi Shallallahu'alaihi wassalam pernah mengajarkan kepada Aisyah radhiallahu'anha agar mengucapkan di malam lailatul qadar doa:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

ALLAAHUMMA INNAKA 'AFUWWUN TUHIBBUL 'AFWA FA'FU 'ANNII   (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi Ampunan, Engkau senang memberikan ampunan, maka ampunilah aku)."  Hadits Shohih   (HR. At-Tirmidzi no. 3513 dan Ibnu Majah no. 3850, Shohih Lihat Shohih At-Targhib wat Tarhiib no. 3391).

١٤. ويُسْتَحَبُّ الاِعْتِكَاف فِي أَحَدِ الـمَسَاجِد الثَّلاَثَةِ :المَسْجِدِ الحَرَام وَالـمَسْجِدِ الأَقْصَى وَمَسْجِدِ النَّبِيّ عَلَيْهِ السَّلَامِ

Dianjurkan untuk i'tikaf di salah satu dari tiga masjid : Masjidil Haram, Masjidil Aqsho dan Masjidin Nabi Shollallahu'alaihi wassalam

(Tambahan penjelasan) Hal tersebut berdasarkan dalil :

لَا اعْتِكَافَ إلَّا فِي الْمَسَاجِدِ الثَّلَاثَةِ

Tidak ada I'tikaf kecuali pada masjid yang tiga (yaitu masjidil Haram, Masjidil Aqsho, dan masjid Nabawi)  Hadits Shohih   (HR. Al-Baihaqy no. 8574, shohih. Lihat Silsilah Ahaadits Ash-Shohihah no. 2786)

١٥. وَلَا يَجُوْزُ لَهُ الخُرُوْجَ حَالَ الاِعْتِكَافِ إِلاَّ لِقَضَاءِ الْحَاجَةِ. وَيُبْطِلُ الاِعْتِكَافَ إِذَا جَامَعُ أَهْلَهُ.

Tidak boleh bagi orang yg beri'tikaf keluar dari keadaan i'tikafnya kecuali untuk memenuhi kebutuhan hajatnya mck. Dan batal i'tikafnya apabila menggauli istrinya.

(Tambahan penjelasan) Tentang batalnya I'tikaf karena keluar dari masjid :

Tidak keluar dari masjid kecuali karena hajat manusia yang sifatnya darurat, seperti mandi apabila junub karena mimpi, buang hajat, dan lainnya.

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: «كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا اعْتَكَفَ، يُدْنِي إِلَيَّ رَأْسَهُ فَأُرَجِّلُهُ، وَكَانَ لَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلَّا لِحَاجَةِ الْإِنْسَانِ»

Dari 'Aisyah radhiallaahu 'anhaa ia berkata : "Adalah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam apabila beliau beri'tikaf, beliau mencondongkan kepalanya kepadaku dan aku menyisir rambutnya. Tidaklah beliau masuk rumah kecuali karena hajat manusia."  Hadits Shohih   (HR. Muslim no. 297 (6), Abu Dawud no. 2467).

Dalam Mausu'ah Fiqhiyyah Ad Durar As-Saniyah 2/13 terdapat nukilan Ibnu Hazm :

واتَّفَقُوا عَلَى أَنَّ مَنْ خَرَجَ مِنْ مُعْتَكفه فِي الـْمَسْجِدِ لِغَيْرِ حَاجَةٍ وَلَا ضَرُوْرَةٍ وَلاَ بِرٍ أَمر بِهِ أَوْ نَدَبٍ إِلَيْهِ، فَإِنَّ اعْتِكَافَهُ قَدْ بَطَلَ

"Para ulama telah bersepakat bahwa sesungguhnya seseorang yang keluar dari tempat i'tikafnya di masjid tanpa ada satu keperluan, tanpa dlarurat, atau tidak karena kebaikan yang diperintahkan atau disunnahkan; maka i'tikafnya batal" (Maratibul-Ijma' hal. 41).

Tentang batalnya I'tikaf dikarenakan jima' (hubungan badan)

وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

"Dan janganlah kalian bercampur (berjima') dengan istri-istri kalian sedangkan kalian dalam keadaan i'tikaf di dalam masjid" (QS. Al-Baqarah : 187).

Dalam Mausu'ah Fiqhiyyah Ad Durar As-Saniyah 2/15 terdapat nukilan pendapat para ulama bahwa berjimak itu membatalkan I'tikaf antara lain:

Al-Mundziri berkata dalam kitabnya al-Ijma hal. 50 no. 133-134:

وأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ الْمُعْتَكِفَ مَمْنُوعٌ مِنَ الْمُبَاشَرَةِ. وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ مَنْ جَامَعَ اِمْرَأَتَهُ وَهُوَ مُعْتَكِفٌ عَامِدًا لِذَلِكَ فِي فَرْجِهَا أَنَّهُ مُفْسدٌ لِاعْتِكَافِهِ

"Para ulama telah bersepakat bahwasannya seseorang yang beri'tikaf terlarang untuk bercumbu. Dan para ulama pun telah bersepakat bahwa siapa saja yang menjima'i istrinya dengan sengaja di kemaluannya dalam keadaan orang tersebut sedang ber-i'tikaf, maka i'tikafnya tersebut telah batal."

Imam Ibnu Abdil Bar dalam kitabnya al-Istidzkar 10/317:

وَلاَ أَعْلَمُ خِلاَفاً فِي الـمُعْتَكِفِ يَطَأُ أَهْلَهُ عَامِداً أَنَّهُ قَدْ أَفْسَدَ اِعْتِكَافِهِ

"Aku tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat tentang orang yang I'tikaf menyetubuhi istrinya secara sengaja maka itu telah membatalkan I'tikafnya. "

كتبه: أحمد بن عبدالله الهنائي/ أبوظبي. رمضان. 1433

Ditulis oleh Syaikh Ahmad bin Abdullah al-Hana-i. Abu Dhabi. Ramadhan 1433 H .

Diterjemahkan dan diberikan tambahan penjelasan oleh Abu Kayyisa Zaki Rakhmawan

Syaikh Ahmad bin Abdullah al-Hana-i hafizhahullah adalah warga UAE murid senior dari Syaikh Abdul Bary Fathullah al-Hindi hafizhahullah, yang pernah menjadi pengajar kutubus sittah di UAE selama lebih dari 21 tahun dan sekarang mengajar di Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud Riyadh.

Allahu A'lam

Semoga bermanfaat. Barakallahu fikum

Abu Kayyisa,

Menjelang Sholat Dhuhur - Terik Panas, Dubai, 20 Ramadhan 1433 H.

 

Add comment


Security code
Refresh


Jazakallahu Khoiran

Artikel Pembahasan - Pembahasan