Wednesday, August 20, 2014
Text Size

Takhrij Hadits Mata Yang Tidak Tersentuh Api Neraka

User Rating: / 0
PoorBest 

 

Takhrij Hadits Mata Yang Tidak Tersentuh Api Neraka

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه وبعد

Barakallahu fikum, semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan kepada antum sekalian, berikut ini adalah pembahasan takhrij hadits tentang hadits Mata yang tidak tersentuh api neraka.

Pertanyaan besar yang telah sering kita sadari yaitu kenapa mata kita tidak kita manfaatkan dengan maksimal semata-mata untuk ketakwaan kepada Allah? Tengoklah kenyataan sehari-hari pada diri kita dan saudara-saudara kita ketika menghabiskan malam dengan begadang tanpa ada tujuan yang jelas ataupun tidak digunakan dalam rangka ketaatan kepada Allah, seperti menonton pertandingan bola, tennis, main game, menonton acara TV entertainment, ngobrol yang kurang bermanfaat dan lain sebagainya. Ada yang menyesal sambil berujar, 'Iya tadinya sih mau sholat tahajud, tapi pas lihat TV kok ternyata ada pertandingan bola …final lagi…wah jadi nonton dulu deh' ataupun 'Ntar deh sholatnya…ngegame dulu sebentar…biar sekalian sholat shubuh…ternyata ketiduran karena kecapekan ngegame.' Was-was syaitan telah menjadi makanan keseharian dari diri yang lalai lagi malas dari ketaatan kepada Allah.

Saudaraku yang semoga Allah senantiasa memberikan limpahan barokah kepadamu…Kemanakah nikmat kedua matamu itu digunakan? Digunakan untuk ketaatan kepada Rab Sang Khalik Penguasa Alam Semesta atau senantiasa disia-siakan untuk mengikuti bujuk rayu si musuh sejati manusia – syaitan yang terlaknat lagi terkutuk…wahai saudaraku apakah engkau menginginkan kedua matamu tersentuh oleh api neraka yang panasnya tidak terkira dahsyatnya?? Renungkanlah ayat Allah berikut:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

"Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai."  (QS. Al-A'raaf : 179)

Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya 'Tafsir al-Quran al-Azhim' IV/124 (cet. Dar Ibnul Jauzy th. 1431 H) menjelaskan tentang lafazh :

لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا

"...mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai." 

لَيْسَ يَنْتَفِعُونَ بِشَيْءٍ مِنْ هَذِهِ الْجَوَارِحِ الَّتِي جَعَلَهَا اللَّهُ [سَبَبًا لِلْهِدَايَةِ] كَمَا قَالَ تَعَالَى: {وَجَعَلْنَا لَهُمْ سَمْعًا وَأَبْصَارًا وَأَفْئِدَةً فَمَا أَغْنَى عَنْهُمْ سَمْعُهُمْ وَلا أَبْصَارُهُمْ وَلا أَفْئِدَتُهُمْ مِنْ شَيْءٍ إِذْ كَانُوا يَجْحَدُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ [وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ] } [الْأَحْقَافِ:26] وَقَالَ تَعَالَى: {صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ} [الْبَقَرَةِ:18] هَذَا فِي حَقِّ الْمُنَافِقِينَ،

Mereka tidak memanfaatkan sesuatu pun dari indera-indera ini yang telah dijadikan oleh Allah sebagai sebab untuk mendapatkan hidayah, seperti pengertian yang terkandung dalam ayat lain:

وَجَعَلْنَا لَهُمْ سَمْعًا وَأَبْصَارًا وَأَفْئِدَةً فَمَا أَغْنَى عَنْهُمْ سَمْعُهُمْ وَلاَ أَبْصَارُهُمْ وَلاَ أَفْئِدَتُهُمْ مِنْ شَيْءٍ إِذْ كَانُوا يَجْحَدُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

"Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya."  (QS. Al-Ahqaaf: 26)

Allah berfirman:

صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ

"Mereka tuli, bisu dan buta, Maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar)."  (QS. Al-Baqarah: 18)

Dan hal tersebut adalah sifat orang-orang munafik.

وَقَالَ فِي حَقِّ الْكَافِرِينَ: {صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَ} [الْبَقَرَةِ:171] وَلَمْ يَكُونُوا صُمًّا بُكْمًا عُمْيًا إِلَّا عَنِ الْهُدَى، كَمَا قَالَ تَعَالَى: {وَلَوْ عَلِمَ اللَّهُ فِيهِمْ خَيْرًا لأسْمَعَهُمْ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ} [الأنفال:23] ، وَقَالَ: {فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الأبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ} [الْحَجِّ:46] ، وَقَالَ {وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ * وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ} [الزُّخْرُفِ:36، 37] .

Sedangkan mengenai sifat-sifat orang kafir, Allah berfirman:

صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

"Mereka tuli, bisu dan buta, Maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti."   (QS. Al-Baqarah: 171)

Pada hakikatnya mereka tidak tuli, tidak bisu dan tidak buta, melainkan mereka tuli, bisu dan buta terhadap hidayah, sebagaimana firman-Nya:

وَلَوْ عَلِمَ اللَّهُ فِيهِمْ خَيْرًا لأسْمَعَهُمْ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ

"Kalau sekiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. dan Jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu)."   (QS. Al-Anfaal: 23)

Allah berfirman:

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ * وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ

"Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Rabb yang Maha Pemurah (Al Quran), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) Maka syaitan Itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan Sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk."   (QS. Az-Zukhruuf: 36-37)

Saudaraku…aku mengingatkan kepada diriku sendiri dan kepadamu tentang nikmat kedua mata yang semoga Allah senantiasa menjaga kedua mata kita untuk selalu dipergunakan dalam ketaatan kepada-Nya. Kita akan membahas takhrij dan hikmah yang terkandung dari hadits tentang mata yang tidak tersentuh api neraka. Dan takhrij hadits tersebut dibatasi hanya pada sanad yang ada di kitab Sunan an-Nasa-i no. 3177 sedangkan hadits-hadits penguatnya akan disebutkan secara ringkas beserta keterangan penshohihannya .

Haditsnya  yaitu:

أَخْبَرَنَا عِصْمَةُ بْنُ الْفَضْلِ، قَالَ: حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ حُبَابٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ شُرَيْحٍ، قَالَ: سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ شُمَيْرٍ الرُّعَيْنِيَّ، يَقُولُ: سَمِعْتُ أَبَا عَلِيٍّ التُّجِيبِيَّ، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا رَيْحَانَةَ، يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «حُرِّمَتْ عَيْنٌ عَلَى النَّارِ سَهِرَتْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ»

Telah mengabarkan kepada kami 'Ishmah bin Al Fadl, ia berkata: 'Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Hubab dari Abdurrahman bin Syuraih, ia berkata: 'Aku pernah mendengar Muhammad bin Syumair ar-Ru'aini berkata: 'Aku pernah mendengar Abu Ali At Tujibi bahwa ia pernah mendengar Abu Raihanah berkata, 'Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam bersabda: "Mata yang begadang semalam suntuk di jalan Allah diharamkan bagi neraka.'"  Hadits Shahih   (HR. an-Nasa-i no. 3177 dalam kitab Sunannya dan as-Sunan al-Kubro no. 4310)

Berdasarkan hadits diatas, mari kita uraikan para perawi hadits berdasarkan sanad hadits berikut:

Sanad-HaditsMataYangTidakTerkenaApiNeraka

Berikut sanad hadits tersebut secara detail:

عِصْمَةُ بْن الفَضْلِ

1. 'Ishmah bin Al Fadl 

Namanya adalah 'Ishmah bin Al-Fadl an-Numairy, Abu Fadhl an-Naisabury   عِصْمَةُ بْن الفَضْلِ النُّمَيْرِيِّ، أَبُوْ الفَضْلِ النَّيْسَابُوْرِيُّ   kunyahnya , Abu Fadhl an-Naisabury, pernah tinggal di Baghdad, diriwayatkan haditsnya oleh Ibnu Majah dan An-Nasai. Beliau termasuk Thobaqat 11 dan wafat tahun 250 H.. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani memberikan penilaian kepada Abu Fadhl sebagai perawi yang   ثِقَةٌ   "Tsiqah (terpercaya)"   Lihat Tahdzibul Kamal Fi Asmair Rijal no. 3929 dan Taqribut Tahdzib no. 4619 Tahqiq Abul Asybal Shoghir Ahmad Syaghif al-Bakistani, Daar Al-Ashimah.

زَيْدُ بنُ الحُبَابِ

2. Zaid bin Hubab  

Namanya adalah Zaid bin Hubab bin Ar-Rayyan, Abu Husain al-'Ukli Al-Khurasan Al-Kuufi, زَيْدُ بنُ الحُبَابِ بنِ الرَّيَّان أَبُو الْحُسَيْن العُكْلِي الْكُوفِيّ  kunyahnya , Abu Husain, beliau asli dari Khurasan dan tinggal di Kuffah. Beliau pernah mengembara untuk menuntut ilmu syar'i di Irak, Mesir, Hijaz, Khurasan dan tempat-tempat lainnya. Beliau termasuk Thobaqat 9 dan wafat tahun 230 H. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani memberikan penilaian kepada Zaid bin Hubab sebagai perawi yang   صَدُوْقٌ يُخْطِىء فِى حَدِيثِ الثَّوْرِي   " Shoduq yukhti fi hadits ats- Tsaury, (shoduq/benar dalam periwayatan haditsnya, namun terkadang melakukan kesalahan dalam hadits yang diambil dari Sufyan at-Tsaury)"   Abu Hatim ar-Razi menilainya sebagai perawi yang Shoduq (benar dalam periwayatan haditsnya) Sholih, secara keseluruhan riwayat-riwayat haditsnya dapat dipercaya. Imam Ahli Hadits yang meriwayatkan hadits dari beliau adalah Imam al-Bukhori dalam Juz al-Qiraah Khalfa al-Imam, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa-I dan Ibnu Majah. Lihat Tahdzibul Kamal fi Asmair Rijaal no. 2095, Taqribut Tahdzib no. 2136 Tahqiq Abul Asybal.

عَبْدُ الرَّحْمَنِ بنُ شُرَيْحٍ

3. Abdurrahman bin Syuraih  

Namanya adalah Abdurrahman bin Syuraih bin Ubaidilah bin Mahmud al-Ma'afiri,  عَبْدُ الرَّحْمَنِ بنُ شُرَيْحٍ بْنُ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ مَحْمُود المَعَافِرِيّ أَبُو شُرَيْحٍ الإِسْكَنْدَرَانِيُّ  kunyahnya Abu Syuraih al-Iskandarani, beliau Wafat 167 H di kota Iskandariyah Mesir, diambil 4 riwayat haditsnya oleh Imam an-Nasai dalam kitab Sunannya di nomer hadits 3177, 3162, 3163, 3167. Beliau termasuk Thobaqat 7. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani memberikan penilaian kepada Abdurrahman bin Syuraih sebagai perawi yang   ثقة فاضل   "Terpercaya lagi mempunyai keutamaan"   dan tidaklah benar pendoifan Ibnu Saad kepada beliau. Lihat Tahdzibul Kamal fi Asmair Rijaal no. 3845, Taqribut Tahdzib no. 3917 Tahqiq Abul Asybal.

مُحَمَّدُ بْنُ شُمَيْرٍ الرُّعَيْنِيِّ

4. Muhammad bin Syumair ar-Ru'aini 

Namanya adalah Muhammad bin Syumair ar-Ru'aini al-Mishry Abu Shobbah,  مُحَمَّدِ بْنِ شُمَيْرٍ الرُّعَيْنِيِّ المِصْرِي أَبُو الصَّبَّاحِ  kunyahnya Abu Shobbah, beliau berasal dari Mesir. Beliau termasuk Thobaqat 6. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani memberikan penilaian kepada Muhammad bin Syumair ar-Ru'aini sebagai perawi yang   مقبول  "yang diterima periwayatan haditsnya apabila ada penguatnya"   sedangkan Imam Abu al-Hasan bin al-Qaththan al-Fasi menilai sebagai perawi yang majhul (tidak dikenal) sebagaimana dinilai juga oleh Syaikh Syuaib al-Arnauth dan Syaikh Basyar Awad Ma'ruf sebagai perawi yang majhul. Imam an-Nasa-i hanya meriwayatkan satu hadits darinya. Lihat Tahdzibul Kamal fi Asmair Rijaal no. 5291, Taqribut Tahdzib no. 5997 Tahqiq Abul Asybal.

أَبُوْ عَلِيٍّ التُّجِيبِيَّ

5. Abu Ali At-Tujibi  

Namanya adalah Amru bin Malik al-Hamadani Al-Muradi al-Mishri,  عَمْرُو بْنُ مَالِكٍ الهَمَدَانِي المُرَادِي المِصْرِي  kunyahnya Abu Ali Al-Janbi at-Tujibi, beliau tinggal Mesir. Beliau termasuk Thobaqat 3 dan meninggal tahun 102 H. Abu Ali al-Janbi At-Tujibi, al-Janbi nisbat kepada nama qabilahnya yaitu al-Janbi suatu qabilah dari daerah Kandah kemudian beliau atau dari kakek buyutnya pindah ke daerah Tujib di Mesir, sehingga al-Janbi adalah nasab nenek moyangnya dan al-Tujibi adalah nisbat kepada daerah tempat tinggalnya (Syarah Sunan An-Nasa-i al-Musamma Dzakhiratul 'Uqba fi Syarh al-Mujtaba oleh Syaikh Ali bin Adam bin Musa al-Ethiyubi 26/148 cet. Daar Ibnul Jauzy th. 1432 H).Yahya bin Mu'in menghukuminya sebagai perawi yang tsiqah, begitu juga Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani memberikan penilaian kepada Abu Ali at-Tujibi sebagai perawi yang   ثِقَةٌ   "Tsiqah (terpercaya)"   Haditsnya diambil oleh Imam al-Bukhori dalam kitab al-Adab al-Mufrod, Imam Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Lihat Tahdzibul Kamal fi Asmair Rijaal no. 4440, Taqribut Tahdzib no. 5140 Tahqiq Abul Asybal.

أَبُوْ رَيْحَانَةَ

6. Abu Raihanah 

Namanya adalah Syam'una bin Zaid bin Khunaafah al-Azdi,  شَمْعُوْنَ بْنُ زَيْدٍ بنِ خُنَافَةَ أَبُو رَيْحَانَة الأَزْدِي  ada yang berpendapat bahwa beliau termasuk budak dari Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam kunyahnya Abu Raihanah, beliau tinggal Mesir. Semua Shahabat Nabi shallallahu'alaihi wassalam adalah   ثِقَةٌ   "Tsiqah (terpercaya)"   Beliau menyaksikan fathu Dimasyq (pembukaan Damaskus oleh pasukan Muslimin) dan termasuk pembesar orang-orang yang berzuhud dari kalangan para shahabat. Beliau pernah tinggal di Mesir kemudian di Syam/Damaskus. Para Imam Ahli Hadits yang mengambil hadits beliau adalah Abu Dawud, an-Nasa-i dan Ibnu Majah. Syaikh Ali bin Adam bin Musa al-Ethiyubi dalam kitabnya Syarah Sunan An-Nasa-I 26/149 membawakan cerita tentang Abu Raihanah yaitu, 'Telah berkata Dhomroh bin Rabiah dari Farwah al-A'ma budak dari Sa'ad bin Umayyah, bahwa Abu Raihanah pernah berlayar di laut, dan beliau menjahit di atas kapal dengan jarum jahitnya, lalu jarum tersebut jatuh ke dalam laut kemudian beliau berdoa, 'Ya Allah aku bersumpah kepada-Mu agar Engkau mengembalikan jarumku padaku, maka nampaklah jarumnya dan beliau pun mengambilnya. Farwah berkata: "Pada suatu ketika air laut pasang dan berombak besar kemudian berkatalah Abu Raihanah: 'Tenanglah wahai laut, sesungguhnya engkau itu adalah hamba sama sepertiku.' Farwah berkata, 'Dan tenanglah laut hingga sama dengan tenangnya minyak.' Di Sunan an-Nasa-i, terdapat lima hadits darinya yaitu no. 3118, 5091, 5110, 5111, dan 5112. Lihat Tahdzibul Kamal fi Asmair Rijaal no. 2774, Taqribut Tahdzib no. 2838 Tahqiq Abul Asybal.

 

Kesimpulan dari Sanad diatas adalah: 

  1. Seluruh perawi hadits diatas adalah tsiqah kecuali Muhammad bin Syumair karena beliau termasuk perawi "Makbul" (diterima periwayatan haditsnya apabila ada penguatnya).
  2. Rantai sanadnya diatas terdapat di Mesir kecuali Syaikhnya Imam An-Nasa-i yaitu Ishmah bin al-Fadl yang ada di Naisabury kemudian Baghdad dan juga Zaid bin Hubab dari Khurasan lalu tinggal juga di Kuufah. (Lihat Syarah Sunan an-Nasa-i Syaikh Ali bin Adam bin Musa al-Ethiyubi 26/149.
  3. Hadits diatas Shohih dengan adanya beberapa penguat yang akan disebutkan diakhir pembahasan. Lihat pula Shohih wa Dhoif Sunan An Nasa-i no. 3117 oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah.

Syarah Hadits :

Syarah hadits diatas disarikan dari kitab Syarah Sunan An-Nasa-i al-Musamma Dzakhiratul 'Uqba fi Syarh al-Mujtaba oleh Syaikh Ali bin Adam bin Musa al-Ethiyubi 26/149-150 :

Telah mengabarkan kepada kami 'Ishmah bin Al Fadl, ia berkata: 'Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Hubab dari Abdurrahman bin Syuraih (Al-Mafiri al-Iskandarani), ia berkata: 'Aku pernah mendengar Muhammad bin Syumair ar-Ru'aini (Abu As-Shobbah al-Mishri) berkata: 'Aku pernah mendengar Abu Ali At Tujibi (Amru bin Malik) bahwa ia pernah mendengar Abu Raihanah (Syam'una bin Zaid) berkata, 'Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam bersabda: "Mata yang begadang semalam suntuk di jalan Allah diharamkan bagi neraka"

maksud dari   حُرِّمَتْ   adalah aku telah mengharamkan sesuatu bagi seseorang sehingga sesuatu itu menjadi haram baginya. سَهِرَ  sahira (pola rumusnya diambil) dari bab  فَرِحَ  fariha. Makna sahira adalah tidak tidur malam/begadang semalam suntuk. Sedangkan makna  فِي سَبِيلِ اللَّهِ  Fi Sabilillah adalah untuk meninggikan kalimat Allah baik berupa begadang semalam suntuk untuk berjaga-jaga untuk berperang atau berjaga-jaga di daerah perbatasan dengan musuh ketika peperangan atau begadang untuk berjalan menuju medan laga peperangan atau yang semisalnya.

Hadits yang disebutkan oleh Imam an-Nasa-i dalam kitab Sunannya adalah ditulis secara ringkas sedangkan hadits yang lengkap lagi panjang redaksinya ada di Musnad Imam Ahmad no. 17213.

حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ شُرَيْحٍ قَالَ سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ سُمَيْرٍ الرُّعَيْنِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ أَبَا عَامِرٍ التُّجِيبِيَّ قَالَ أَبِي وَقَالَ غَيْرُهُ الْجَنْبِيَّ يَعْنِي غَيْرَ زَيْدٍ أَبُو عَلِيٍّ الْجَنْبِيُّ يَقُولُ سَمِعْتُ أَبَا رَيْحَانَةَ يَقُولُ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزْوَةٍ فَأَتَيْنَا ذَاتَ لَيْلَةٍ إِلَى شَرَفٍ فَبِتْنَا عَلَيْهِ فَأَصَابَنَا بَرْدٌ شَدِيدٌ حَتَّى رَأَيْتُ مَنْ يَحْفِرُ فِي الْأَرْضِ حُفْرَةً يَدْخُلُ فِيهَا يُلْقِي عَلَيْهِ الْحَجَفَةَ يَعْنِي التُّرْسَ فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ النَّاسِ نَادَى مَنْ يَحْرُسُنَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَأَدْعُو لَهُ بِدُعَاءٍ يَكُونُ فِيهِ فَضْلٌ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ ادْنُهْ فَدَنَا فَقَالَ مَنْ أَنْتَ فَتَسَمَّى لَهُ الْأَنْصَارِيُّ فَفَتَحَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالدُّعَاءِ فَأَكْثَرَ مِنْهُ قَالَ أَبُو رَيْحَانَةَ فَلَمَّا سَمِعْتُ مَا دَعَا بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ أَنَا رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ ادْنُهْ فَدَنَوْتُ فَقَالَ مَنْ أَنْتَ قَالَ فَقُلْتُ أَنَا أَبُو رَيْحَانَةَ فَدَعَا بِدُعَاءٍ هُوَ دُونَ مَا دَعَا لِلْأَنْصَارِيِّ ثُمَّ قَالَ حُرِّمَتْ النَّارُ عَلَى عَيْنٍ دَمَعَتْ أَوْ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَحُرِّمَتْ النَّارُ عَلَى عَيْنٍ سَهِرَتْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ قَالَ حُرِّمَتْ النَّارُ عَلَى عَيْنٍ أُخْرَى ثَالِثَةٍ لَمْ يَسْمَعْهَا مُحَمَّدُ بْنُ سُمَيْرٍ وَقَالَ غَيْرُهُ يَعْنِي غَيْرَ زَيْدٍ أَبُو عَلِيٍّ الْجَنْبِيُّ

Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Al Hubhab berkata; telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Syuraikh berkata; saya telah mendengar Muhammad bin Sumair Ar-Ru'aini berkata; saya telah mendengar Abu 'Amir At-Tujibi berkata bapakku dan yang lainnya berkata; Al Janbi yaitu selain Zaid - Abu Ali Al Janbi berkata; saya telah mendengar Abu Raihanah berkata; "Kami bersama Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam dalam suatu peperangan, pada suatu malam kami mendatangi ke suatu tempat yang agak tinggi, lalu kami bermalam disitu. Kami merasakan kedinginan yang sangat, sampai saya melihat ada orang yang menggali lobang di dalam tanah lalu dia jadikan untuk berdiam diri, dan dia letakkan hajfah yaitu tamengnya diatas lubang itu." Tatkala Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam melihat hal itu, beliau memanggil, "Siapa yang hendak menjaga kami pada malam itu, dan saya akan mendoakannya dengan doa yang berisikan keutamaan!, lalu ada seorang laki-laki anshar berkata; "Saya Wahai Rasulullah." lalu beliau bersabda: "Siapakah kamu", lalu orang Anshar itu menyebutkan namanya, Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam membuka dengan do'a, dengan banyak doa. Abu Raihanah berkata; "Tatkala saya mendengar doa yang dipanjatkan Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam, saya berkata; 'Saya akan ikut." Beliau bersabda: "Mendekatlan, " Saya pun mendekat, beliau bertanya, "Siapakah kamu?". Dia berkata; "Saya Abu Raihanah, " lalu beliau berdoa dengan doa yang lain dengan doa kepada orang Anshar. Beliau bersabda: "Diharamkan neraka atas mata yang menetes atau menangis karena takut kepada takut Allah dan diharamkan neraka atas mata yang berjaga di jalan Allah, " atau berkata; "Atau diharamkan pada neraka atas mata lain (yang disebut Nabi Shallallahu'alaihi wassalam pada jenis mata yang ketiga) yang Muhammad bin Sumair tidak mendengarnya dan dia berkata yang lainnya yaitu selain Zaid - Abu Ali Al Janbi.

Syaikh Ali Adam hafizhahullah membawakan pertanyaan dalam kitabnya Syarah Sunan an-Nasai, bagaimana mungkin hadits dari Imam An-Nasai diatas shohih sedangkan dalam sanadnya terdapat perawi Muhammad bin Syumair yang tidak meriwayatkan hadits darinya kecuali Abdurrahman bin Syuraih dimana Abdurrahman bin Syuraih adalah perawi yang majhul 'ain. Kemudian dijawab oleh Syaikh Ali Adam, 'Hadits tersebut memiliki penguat dari hadits Ibnu Abbas yang dikeluarkan oleh Imam at-Tirmidzi dalam kitabnya Sunan at-Tirmidzi yaitu : (hadits dari at-Tirmidzi no. 1639. -belajarhadits.com) - selesai nukilan dari syarah an-Nasa-i. .

حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الجَهْضَمِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ عُمَرَ قَالَ: حَدَّثَنَا شُعَيْبُ بْنُ رُزَيْقٍ أَبُو شَيْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا عَطَاءٌ الخُرَاسَانِيُّ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ، عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " عَيْنَانِ لَا تَمَسُّهُمَا النَّارُ: عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ، وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ": وَفِي البَاب عَنْ عُثْمَانَ، وَأَبِي رَيْحَانَةَ. وَحَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ شُعَيْبِ بْنِ رُزَيْقٍ

Telah menceritakan kepada kami (At-Tirmidzi) Nashr bin Ali Al Jahdzami berkata, (dia Nashr bin Ali berkata) telah menceritakan kepada kami (Nashr bin Ali) Bisyr bin Umar (dia Bisyr) berkata, telah menceritakan kepada kami (Bisyr) Syu'aib bin Ruzaiq Abu Syaibah berkata, telah menceritakan kepada kami (Syu'aib) Atha Al Khurasani dari Atha bin Abu Rabaah dari Ibnu Abbas, ia (Ibnu Abbas) berkata; "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda; "Dua mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka; mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang bergadang semalam suntuk untuk berjaga di jalan Allah." Abu Isa berkata, "Dalam bab ini juga ada hadits dari Utsman dan Abu Raihanah. Hadits Ibnu Abbas derajatnya hasan gharib, dan kami tidak mengetahui hadits ini kecuali dari hadits Syu'aib bin Ruzaiq."  Hadits Shohih   (HR. at-Tirmidzi no. 1639, Lihat Silsilah Ahaadits as-Shohihah 6/376 dan Hidayatur Ruwaath Ila Takhrij Ahaadits al-Mashoobih wal Misykat 4/14 no. 3752 cet. Daar Ibn 'Afaan th. 1422 H)

Kemudian kita akan melihat syarah hadits at-Tirmidzi diatas yaitu sebagaimana tercantum dalam kitab Tuhfatul Ahwadzy Syarah at-Tirmidzi (5/221 cet. Daarul Kutub al-Ilmiyyah):

قَوْلُهُ (عَيْنَانِ لَا تَمَسُّهُمَا النَّارُ) أَيْ لَا تَمَسُّ صَاحِبَهُمَا فَعَبَّرَ بِالْجُزْءِ عَنِ الْجُمْلَةِ وَعَبَّرَ بِالْمَسِّ إِشَارَةً إِلَى امْتِنَاعِ مَا فَوْقَهُ بِالْأَوْلَى وَفِي رِوَايَةٍ أَبَدًا وَفِي رِوَايَةٍ لَا تَرَيَانِ النَّارَ

Sabdanya kedua mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka, maksudnya yaitu tidak disentuh pemilik kedua mata tersebut dan ini diibaratkan dengan sebagian mewakili keseluruhan (mata mewakili keseluruhan tubuh), dan diibaratkan dengan memakai kata "sentuhan" sebagai bentuk isyarat kepada dihindarkan api neraka dari apa-apa yang lebih dari sekedar sentuhan (sentuhan saja dihindarkan apalagi yang lebih dari sentuhan (misal cabikan atau yang lainnya) tentunya tidak akan terjadi - pent). Dalam riwayat yang lainnya "tidak disentuh selamanya" dan juga ada riwayat lainnya "Kedua mata itu tidak melihat api neraka".

(عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ) وَهِيَ مَرْتَبَةُ الْمُجَاهِدِينَ مَعَ النَّفْسِ التَّائِبِينَ عَنِ الْمَعْصِيَةِ سَوَاءٌ كَانَ عَالِمًا أَوْ غَيْرَ عَالِمٍ

(Mata yang menangis karena takut kepada Allah) maksudnya mata yang menangis karena semata-mata takut kepada Allah. itu merupakan kedudukan para pejuang yang berjuang mengendalikan dirinya setelah bertobat dari kemaksiyatan baik dia itu seorang yang alim (berilmu) ataupun tidak mempunyai ilmu.

(وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ) وَفِي رِوَايَةٍ تَكْلَأُ

Dan mata yang begadang untuk berjaga dalam riwayat yang lainnya melindungi.

(فِي سَبِيلِ اللَّهِ) وَهِيَ مَرْتَبَةُ الْمُجَاهِدِينَ فِي الْعِبَادَةِ وَهِيَ شَامِلَةٌ لِأَنْ تَكُونَ فِي الْحَجِّ أَوْ طلب العلم أو الجهاد أو العبادة وَالْأَظْهَرُ أَنَّ الْمُرَادَ بِهِ الْحَارِسُ لِلْمُجَاهِدَيْنِ لِحِفْظِهِمْ عَنِ الْكُفَّارِ

Fi Sabilillah maksudnya adalah kedudukan para mujahid (para pejuang) dalam ibadah dan itu mencakup ibadah secara umum termasuk pula dalam haji, atau tholabil ilmi (menuntut ilmu syar'i) atau jihad ataupun ibadah yang lainnya (namun) makna yang lebih jelas adalah ditujukkan bagi para pejuang (dalam peperangan) yang begadang untuk menjaga pejuang yang lainnya dari serangan kaum kafir.

قَالَ الطِّيبِيُّ قَوْلُهُ عَيْنٌ بَكَتْ هَذَا كِنَايَةٌ عَنِ الْعَالِمِ الْعَابِدِ الْمُجَاهِدِ مَعَ نَفْسِهِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عباده العلماء حَيْثُ حَصَرَ الْخَشْيَةَ فِيهِمْ غَيْرَ مُتَجَاوِزٍ عَنْهُمْ فَحَصَلَتِ النِّسْبَةُ بَيْنَ الْعَيْنَيْنِ عَيْنِ مُجَاهِدٍ مَعَ النَّفْسِ وَالشَّيْطَانِ وَعَيْنِ مُجَاهِدٍ مَعَ الْكُفَّارِ

Telah berkata Imam At-Tibiy, maksud dari mata yang menangis itu adalah kiasan yang diperuntukkan kepada orang yang alim (berilmu) lagi ahli ibadah yang berjuang mengendalikan dirinya sebagaimana Firman Allah:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (QS. Al-Fathir : 28) dimana Allah membatasi ketakutan itu hanya berlaku bagi para ulama bukan selainnya. Maka hal diatas bisa diibaratkan penjelasan tentang kedua mata tersebut yaitu mata seorang pejuang yang berjuang mengendalikan dirinya dan syaitan dan mata yang berjuang memerangi kaum kafirin.

Hadits-hadits lainnya yang berkaitan dengan hadits diatas adalah:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «عَيْنَانِ لَا يَرَيَانِ النَّارَ: عَيْنٌ بَكَتْ وَجِلًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ، وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَكْلَأُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Dari Anas bin Malik, dia berkata, Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam bersabda, "Dua mata yang tidak akan melihat api neraka, mata yang menangis semata-mata karena taku kepada Allah, dan mata yang begadang semalam suntuk berjaga-jaga di jalan Allah."  Hadits Shohih   (HR. At-Thobroni dalam Al-Mu'jamul Awsath no. 5779,lihat Shohih Al-Jami'ush Shoghir no. 4111)

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " عَيْنَانِ لَا تَمَسُّهُمَا النَّارُ أَبَدًا: عَيْنٌ بَاتَتْ تَكْلُأُ الْمُسْلِمِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَعَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ

Dari Anas bin Malik, Rasululah Shallallahu'alaihi wassalam bersabda: "Dua mata yang tidak akan tersentuh oleh api neraka selama-lamanya: mata yang begadang malam untuk menjaga kaum muslimin di jalan Allah dan mata yang menangis karena takut kepada Allah."  Hadits Shohih   (HR. Abi Ya'la al-Mausili dalam Musnad no. 4346 dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shohih Jami'ush Shoghir no. 4113 dan Shohih At-Targhib wat Tarhiib no. 1230)

عَنْ بَهْزِ بْنِ حَكِيمٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " ثَلَاثَةٌ لَا تَرَى أَعْيُنُهُمُ النَّارَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ، وَعَيْنٌ حَرَسَتْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَعَيْنٌ غَضَّتْ عَنْ مَحَارِمِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Dari Bahz bin Hakim dari Bapaknya dari Kakeknya, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam bersabda: 'Tiga mata yang tidak akan melihat api neraka pada hari Kiamat, Mata yang menangis karena takut kepada Allah, dan mata yang begadang semalam suntuk berjaga-jaga di jalan Allah dan mata yang berpaling dari melihat apa-apa yang diharamkan oleh Allah."  Hadits Shohih   (HR. at-Thabrani dalam kitabnya al-Mu'jamul Kabir no. 1003, sebagaimana dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah Ahaadits ash-Shohihah no. 2673.)

Fawaid Hadits:

Pertama   Mata kita akan terhindar dari api neraka apabila kita menggunakannya dalam rangka ketaatan kepada Allah, termasuk didalamnya jihad fi sabilillah dan ibadah-ibadah yang lainnya.

Kedua   Nikmat kedua mata adalah nikmat yang harus kita gunakan dalam rangka ketaatan kepada Allah, dan salah satu cara untuk mensyukuri nikmat mata itu adalah mata dipergunakan untuk membaca qura-an, membaca hadits-hadits, membaca tulisan-tulisan yang bermanfaat. Sebaliknya apabila kita melakukan hal-hal sia-sia dengan mata kita maka tentunya kita telah melalaikan nikmat mata tersebut.

Ketiga   Wahai saudaraku…semoga Allah senantiasa memberikan kepadamu keberkahan…simaklah ayat yang mulia berikut ini:

وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا

"Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu'." (QS. Al-Isra' : 109)

Syaikh Shidiq Hasan Khan dalam kitab Fathul Bayan fi Maqaasidil Quran 7/468 menjelaskan :

(ويخرون للأذقان يبكون) كرر ذلك الخرور للأذقان لاختلاف السبب فإن الأول لتعظيم الله سبحانه وتنزيهه وللسجود والثاني للبكاء بتأثير مواعظ القرآن في قلوبهم ومزيد خشوعهم ولهذا قال (ويزيدهم) أي سماع القرآن أو القرآن بسماعهم له أو البكاء أو السجود أو المتلو لدلالة قوله إذا يتلى (خشوعاً) أي لين قلب ورطوبة عين فالبكاء مستحب عند قراءة القرآن.

"Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis, diulang yang demikian yaitu menyungkur atas muka mempunyai sebab yang berbeda-beda, yang pertama sebagai bentuk pengagungan Allah Yang Mahasuci dan mensucikanNya serta untuk sujud kepada-Nya. Yang kedua sebagai tangisan yang disebabkan oleh nasehat Alquran yang sampai kepada hatinya sehingga kekhusyukan mereka bertambah. Oleh karena itu Allah berfirman (dan bertambahlah mereka) yaitu Quran yang didengar oleh mereka, atau tangisan atau sujud atau penjelasan firman Allah yang dibacakan kepada mereka. Sedangkan maksud dari Khusyuk adalah kelembutan hati dan berlinangnya airmata. Maka menangis itu adalah sesuatu yang dianjurkan ketika membaca quran.

Keempat   Berlindunglah dari siksa Api Neraka, sebagaimana Allah berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah Subhanahu wata'ala sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa Neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barang siapa yang Engkau masukkan ke dalam Neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang lalim seorang penolongpun."   (QS. Ali Imron: 190-192)

Kelima   Dikabulkannya doa dari orang yang bersafar kemudian bertawakal kepada Allah serta dalam safarnya ia senantiasa menjaga batasan-batasan Allah sebagaimana doanya Abu Raihanah radhiallahu'anhu dimana kisahnya beliau dalam syarah hadits diatas termasuk keutamaan beliau radhiallahu'anhu.

Demikian yang bisa kita petik dari pembahasan tentang hadits mata yang tidak tersentuh oleh api neraka.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Wallaahu a'lam bishshawwaab.

Dubai yang mulai dingin, Rabu, 7 Muharram 1434 H/21 November 2012.


Abu Kayyisa,

Yang mendamba Ampunan dari Rabb Sang Pencipta Jagad Raya.

 

 

Add comment


Security code
Refresh


Jazakallahu Khoiran