Friday, November 24, 2017
Text Size

Takhrij Hadits Luangkan Waktu untuk Beribadah kepada Allah

 

Takhrij Hadits Luangkan Waktu untuk Beribadah kepada Allah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه وبعد

Barakallahu fikum, semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan kepada antum sekalian, fenomena klasik yang senantiasa menjadi isu santer dalam kehidupan kita sehari-hari yaitu "Berapa banyak orang yang ingin melangkah untuk melakukan ibadah namun "ada saja rintangan" yang menghalanginya – jawabannya hanya pada kandungan hadits pada pembahasan kali ini -

Kalau kita tidak gunakan waktu untuk beribadah kepada-Nya pastilah Allah memberikan kesibukan-kesibukan lain yang menyebabkan kita terhalang dari beribadah kepada-Nya. Sekali berhalangan, dua kali berhalangan, akhirnya syaitan musuh nyata manusia makin dahsyat meniupkan berbagai was-was dan "alasan" untuk tidak melakukan ibadah kepadaNya.

berikut ini adalah pembahasan takhrij hadits Luangkan Waktu untuk Beribadah kepada Allah.

Wahai saudaraku yang mulia...renungkanlah ayat Allah berikut:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku."  (QS. Adz-Dzariyaat : 56)

Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya 'Tafsir al-Quran al-Azhim' VII/38 (cet. Dar Ibnul Jauzy th. 1431 H) menjelaskan tentang lafazh :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

"Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku."  

أَيْ إِنَّمَا خَلَقْتُهُمْ لِآمُرَهُمْ بِعِبَادَتِي لَا لِاحْتِيَاجِي إِلَيْهِمْ. وَقَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَلْحَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ أَيْ إِلَّا لِيُقِرُّوا بِعِبَادَتِي طَوْعًا أَوْ كَرْهًا. وَهَذَا اخْتِيَارُ ابْنِ جَرِيرٍ

"Maksudnya, Aku ciptakan mereka itu dengan tujuan untuk menyuruh mereka beribadah hanya kepada-Ku, bukan karena Aku membutuhkan mereka. Mengenai firman Allah Illa liya'buduun "Melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, Artinya melainkan supaya mereka mau tunduk beribadah kepada-Ku, baik secara sukarela maupun terpaksa. Ini adalah yang menjadi pilihan Ibnu Jarir."  

Selanjutnya Imam Ibnu Katsir juga menukilkan perkataan Ar-Rabi' bin Anas, beliau adalah seorang Tabiin yang meninggal tahun 140 H, ditulis haditsnya oleh Imam Abu Dawud, Ibnu Majah, an-Nasai dan at-Tirmidzi, beliau berkata tentang tafsir lafazh :

إِلَّا لِيَعْبُدُونِ أَيْ : إِلاَّ لِلْعِباَدَةِ

"Maksudnya tidak lain kecuali semata-mata untuk beribadah"

Dan dilanjutkan dengan ayat selanjutnya yaitu:

مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَما أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ ، إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

"Aku tidak menghendaki rizki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah, Dia-lah Maha Pemberi rizki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh."  (QS. Adz-Dzariyaat : 57-58)

Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya 'Tafsir al-Quran al-Azhim' VII/39-40 menjelaskan tentang ayat tersebut :

وَمَعْنَى الْآيَةِ أَنَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى خَلَقَ الْعِبَادَ لِيَعْبُدُوهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ فَمَنْ أَطَاعَهُ جَازَاهُ أَتَمَّ الْجَزَاءِ، وَمَنْ عَصَاهُ عَذَّبَهُ أَشَدَّ الْعَذَابِ. وَأَخْبَرَ أَنَّهُ غَيْرُ مُحْتَاجٍ إِلَيْهِمْ بَلْ هُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَيْهِ فِي جَمِيعِ أَحْوَالِهِمْ. فَهُوَ خَالِقُهُمْ وَرَازِقُهُمْ

Makna ayat tersebut, bahwa Allah Tabaaraka wa Ta'ala telah menciptakan hamba-hamba-Nya dengan tujuan agar mereka beribadah hanya kepada-Nya semata, Rabb yang tiada sekutu bagi-Nya. Barangsiapa mentaati-Nya, maka Allah akan memberikan baginya balasan yang sempurna dan barangsiapa yang durhaka kepada-Nya, maka Allah akan mengadzabnya dengan adzab yang sangat pedih. Dan Allah Ta'ala juga memberitahukan bahwa Dia tidak membutuhkan mereka sama sekali, tetapi merekalah yang sangat membutuhkan Allah dalam segala keadaan. Dengan demikian, Allah adalah Pencipta dan Pemberi rizki bagi hamba-hamba-Nya.

Sebelum membahas takhrij hadits inti pembahasan kali ini, selayaknya bagi kita untuk mengetahui terlebih dahulu apa itu pengertian ibadah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mencantumkan pengertian ibadah dalam dua kitabnya yaitu Majmu'ah Al-Fatawa 10/149-150 (Cet. Maktabah al-Ubaikan 5/257 th. 1419 H) dan Al-Ubudiyah (Lihat Syarah Al-Ubudiyah Li Syaikhil Islam Ibni Taimiyah oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Ar-Rajihi hal. 6, cet. Daar Ibni Hazm th. 1420 H)

الْعِبَادَةُ " هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَيَرْضَاهُ : مِنْ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ ،

Ibadah adalah segala sesuatu yang mencakup semua hal yang dicintai dan diridhai Allah Ta'ala, baik berupa ucapan dan amalan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

فَالصَّلَاةُ وَالزَّكَاةُ وَالصِّيَامُ وَالْحَجُّ وَصِدْقُ الْحَدِيثِ وَأَدَاءُ الْأَمَانَةِ وَبِرُّ الْوَالِدَيْنِ وَصِلَةُ الْأَرْحَامِ وَالْوَفَاءُ بِالْعُهُودِ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ . وَالْجِهَادُ لِلْكُفَّارِ وَالْمُنَافِقِينَ وَالْإِحْسَانُ إلَى الْجَارِ وَالْيَتِيمِ وَالْمِسْكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَالْمَمْلُوكِ مِنْ الْآدَمِيِّينَ وَالْبَهَائِمِ وَالدُّعَاءِ وَالذِّكْرِ وَالْقِرَاءَةِ وَأَمْثَالِ ذَلِكَ مِنَ الْعِبَادَةِ . وَكَذَلِكَ حُبُّ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَخَشْيَةُ اللَّهِ وَالْإِنَابَةُ إِلَيْهِ . وَإِخْلَاصُ الدِّينِ لَهُ وَالصَّبْرُ لِحُكْمِهِ وَالشُّكْرُ لِنِعَمِهِ وَالرِّضَا بِقَضَائِهِ ، وَالتَّوَكُّلُ عَلَيْهِ وَالرَّجَاءُ لِرَحْمَتِهِ وَالْخَوْفُ لِعَذَابِهِ وَأَمْثَالُ ذَلِكَ هِيَ مِنَ الْعِبَادَةِ لِلَّهِ

Maka shalat, zakat, puasa, haji, perkataan yang benar, menyampaikan amanat, berbakti kepada kedua orang tua, silaturrahim, menepati janji, amar ma'ruf nahi mungkar, jihad menghadapi orang-orang kafir dan munafiq, berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, ibnu sabil, budak sahaya, hewan piaran, berdoa, berzikir, membaca al-Quran, dan yang semisalnya termasuk ibadah. Demikian juga mencintai Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan Rasul-Nya Shallallahu Alaihi Wasallam, takut dan inabah kepada-Nya, ikhlas hanya kepada-Nya, bersabar atas hukum-Nya, bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya, ridha dengan qadha-Nya, bertawakkal kepada-Nya, mengharap rahmat-Nya, takut kepada azab-Nya, dan yang semisalnya termasuk dalam ibadah.

Allah berfirman :

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

"Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb Semesta Alam. tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)."  (QS. Al-An-aam : 162-163)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga menambahkan dalam pembahasan yang berkaitan dengan ibadah yaitu :

وَدِينُ الْإِسْلَامِ مَبْنِيٌّ عَلَى أَصْلَيْنِ عَلَى أَلَّا نَعْبُدَ إلَّا اللَّهَ وَأَنْ نَعْبُدَهُ بِمَا شَرَعَ لَا نَعْبُدُهُ بِالْبِدَعِ. قَالَ تَعَالَى: {فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا}

Inti agama ada dua pokok pilarnya yaitu kita tidak beribadah kecuali kepada Allah , dan kita tidak beribadah kecuali dengan apa yang Dia syari'atkan, tidak dengan bid'ah. Sebagaimana Allah berfirman, "Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaknya ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabbnya." (QS. Al-Kahfi: 110). Lihat Majmu'ah al-Fatawa (25/317 atau 13/169-170 cet. Maktabah al-Ubaikan)

Jadi dapat kita simpulkan bahwa ibadah itu cakupannya adalah sangat luas, dari sholat, puasa, haji, zakat, menuntut ilmu syar'i, bekerja untuk mencari nafkah keluarga, membaca al-Quran, dan yang lainnya. Dimana cakupan dari ibadah itu harus memenuhi dua syarat yaitu ikhlas dan mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu'alaihi wassalam. (insya Allah penjelasan lebih lanjut akan dibahas dalam pembahasan niat.)

Saudaraku yang semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan kepadamu... Mari kita perhatikan   hadits    yang mulia dari Baginda Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam:

حَدَّثَنَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ صَالِحِ بْنِ هَانِئٍ ، ثَنَا يَحْيَى بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى ، ثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ الْحَوْضِيُّ ، ثَنَا سَلامُ بْنُ أَبِي مُطِيعٍ ، ثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ قُرَّةَ ، عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآَلِهِ وَسَلَّمَ : " يَقُولُ رَبُّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : يَا ابْنَ آدَمَ ، تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي ، أَمْلأْ قَلْبَكَ غِنًى ، وَأَمْلأْ يَدَيْكَ رِزْقًا ، يَا ابْنَ آدَمَ ، لا تَبَاعَدْ مِنِّي ، فَأَمْلأْ قَلْبَكَ فَقْرًا ، وَأَمْلأْ يَدَيْكَ شُغْلا "

(Imam al-Hakim telah berkata) Telah berkata kepada kami  Muhammad bin Shalih bin Hani , (Muhammad berkata) telah mengabarkan kepada kami  Yahya bin Muhammad bin Yahya , (Yahya berkata) telah mengabarkan kepada kami Hafsh bin Umar al-Haudiy , (Hafs berkata) telah mengabarkan kepada kami  Salaam bin Abi Muthi' , (Salam berkata) telah mengabarkan keepada kami  Muawiyah bin Qurrah  dari  Ma'qil bin Yasaar  radhiallahu'anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam bersabda: "Rab kalian Tabaaraka wa Ta'ala, telah berfirman: 'Wahai anak Adam, gunakanlah waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan memenuhi hatimu dengan rasa kecukupan dan memenuhi kedua tanganmu dengan rizki. Wahai anak Adam, janganlah engkau menjauh dari-Ku (karena apabila engkau melakukannya), niscaya Aku akan menjadikan hatimu penuh dengan kefakiran dan menjadikan kedua tanganmu penuh dengan kesibukan.  Hadits Shahih   (HR. al-Hakim, beliau menshohihkannya dan disepakati oleh adz-Dzahabi IV/326 no. 7926 dishohihkan Syaikh Albani dalam Silsilah Ahaadits as-Shohihah III/347)

Berdasarkan hadits diatas, mari kita uraikan para perawi hadits berdasarkan sanad hadits berikut:

Sanad-Hakim-TafaraghLiibadati

Berikut sanad hadits tersebut secara detail:

مُحَمَّدُ بْنُ صَالِحِ بْنِ هَانِئٍ

1. Muhammad bin Sholih bin Hani 

Namanya adalah Muhammad bin Sholih bin Hani Abu Ja'far al-Waraqi an-Naisaabuury   مُحَمَّدُ بْنُ صَالِحِ بْنِ هَانِئٍ أَبُو جَعْفَر الْوَرَاقِ النَّيْسَابُوْرِي  kunyahnya , Abu Ja'far an-Naisabury, wafat bulan Rabiul Awal tahun 340 H, termasuk thabaqat 14. Beliau pernah tinggal di Naisabur. Imam as-Subky dalam kitabnya Thobaqat as-Syafi'iyah al-Kubro no. 141 bahwa beliau termasuk orang yang sangat sabar terhadap kemiskinan yang dialaminya, bahkan terkadang beliau tidak makan kecuali dari hasil jerih payah tangannya sendiri. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani memberikan penilaian kepada Abu Fadhl sebagai perawi yang   ثِقَةٌ ثَبْتٌ  "Tsiqah (terpercaya) lagi kuat hafalannya"   Hal tersebut sebagaimana penilaian dari Abu Abdillah Al-Hakim an-Naisabur. (Lihat Thobaqat as-Syafi'iyah al-Kubro lis Subky cet. Maktabah ats-Tsaqafah ad-Diniyyah th. 1413 H)

يَحْيَى بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى

2. Yahya bin Muhammad bin Yahya  

Namanya adalah Yahya bin Muhammad bin Yahya bin Abdillah bin Khalid bin Faris al-Duhliy, 

يَحْيَى بنُ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى بْنِ عَبْدِ اللهِ بْن خَالِد بْن فَارِس الذُّهْلِيُّ   wafat tahun 267 H. Thabaqat 11, nama kunyahnya Abu Zakaria, dan mempunyai nama julukan Haikan, beliau pernah tinggal di Naisabur.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani memberikan penilaian kepada Yahya bin Muhammad bin Yahya sebagai perawi yang   ثِقَةٌ حَافِظٌ   "Yang Tsiqah (terpercaya) Hafizh (Hafalannya kuat dan banyak)"   Riwayat haditsnya ditulis oleh Imam Ibnu Majah. Lihat Taqribut Tahdzib no. 7691. Tahqiq Abul Asybal.

حَفْصُ بْنُ عُمَرَ الْحَوْضِيُّ

3. Hafs bin Umar al-Haudhiy 

Namanya adalah Hafs bin Umar bin al-Harits bin Sakhbarah al-Haudhiy,  حَفْصُ بنُ عُمَرَ بنِ الحَارِثِ بنِ سَخْبَرَةَ الحَوْضِيُّ  Pernah tinggal di Bashrah, beliau termasuk Thabaqat 10, meninggal tahun 225 H. Nama kunyahnya Abu Umar. Ditulis haditsnya oleh Imam al-Bukhori, An-Nasa-i, Ibnu Majah dan al-Hakim. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani memberikan penilaian kepada Abdurrahman bin Syuraih sebagai perawi yang   ثِقَةٌ ثَبْتٌ عَيْبٌ بأَخْذِ الأُجْرَةِ عَلَى الحَدِيْثِ  " Tsiqah Tsabat namun mempunyai aib karena mengambil upah dari pengajaran hadits"   Lihat Siyar A'lam an-Nubala no. 89 dan Tahdzibul Kamal Fi Asmair Rijal no. 1397.

سَلاَمُ بْنُ أَبِي مُطِيْعٍ

4. Salam bin Abi Muthi' 

Namanya adalah Salam bin Abi Muthi' al-Khuzai,  سَلاَّمُ بنُ أَبِي مُطِيْعٍ الخُزَاعِيُّ  kunyahnya Abu Sa'id, Beliau pernah tinggal di Basrah dan meninggal di Makkah. Beliau termasuk thabaqat ke 7. Riwayat haditsnya ditulis oleh Imam Al-Bukhori, Muslim, at-Tirmidzi, Abu Dawud dalam kitab al-Masail, Ibnu Majah, al-Hakim dan an-Nasa-i. Al Hafizh menilai beliau sebagai perawi yang   ثِقَةٌ صَاحِبُ سُنَّةٍ، وَفِي رِوَايَتِهِ عَنْ قَتَادَةَ ضَعْفٌ   "Tsiqah (Terpercaya) Shohibus Sunnah, (namun) dalam periwayatannya dari Qatadah dinilai dhoif. "   Imam Ahmad menilainya sebagai perawi yang tsiqah shohib sunnah (Alim terhadap Sunnah Nabi Shallallahu'alaihi wassalam), Beliau meninggal tahun 164 H. Lihat Taqribut Tahdzib no. 2726 tahqiq Abul Asybal, Tahdzibul Kamal fi Asmair Rijal no. 2663 dan Siyar A'lam an-Nubala no. 160.

مُعَاوِيَةُ بْنُ قُرَّةَ

5. Mu'awiyah bin Qurrah  

Namanya adalah Mu'awiyah bin Qurrah bin Iyaas bin Hilal al-Muzani,   مُعَاوِيَةُ بنُ قُرَّةَ بنِ إِيَاسِ بنِ هِلاَلٍ المُزَنِيُّ beliau lahir tahun 36 H, termasuk thabaqat 3, pernah tinggal di Bashrah dan wafat tahun 113 H. Beliau diambil haditsnya oleh Imam al-Bukhori, Muslim, Dawud, at-Tirmidzi, An-Nasa-i, Ibnu Majah dan al-Hakim. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalany menilainya sebagai   ثِقَةٌ   "Tsiqah (terpercaya)"   dan Imam Ad-Dzahabi menilainya sebagai Alim 'Amil (Orang Alim yang mengamalkan ilmunya). Beliau meriwayatkan hadits dari bapaknya Al-Qadhi Iyas, Ibnu Umar, Abdullah bin Mughaffal, Ma'qil bin Yasar, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Anas bin Malik radhiallahu'anhum. Salah satu ucapan beliau yang terkenal adalah:

وَرَوَى: عَلِيُّ بنُ المُبَارَكِ، عَنْ مُعَاوِيَةَ بنِ قُرَّةَ، قَالَ: لاَ تُجَالِسْ بِعِلْمِكَ السُّفَهَاءَ، وَلاَ تُجَالِسْ بِسَفَهِكَ العُلَمَاءَ.

Ali bin al-Mubarak meriwayatkan dari Muawiyah bin Qurrah, beliau berkata, "Janganlah engkau duduk-duduk untuk menimba ilmu dari majelisnya orang-orang bodoh yang tidak diketahui keilmuannya, dan janganlah engkau duduk-duduk di majelisnya para ulama seakan-akan engkau di majelis sendau gurau namun hendaknya agungkan majelisnya para ulama dengan adab yang baik." (Lihat Siyar A'lam an-Nubala no 55 dan juga Tahdzibul Kamal Fi Asmair Rijal no. 6065)

مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ

6. Ma'qil bin Yasaar 

Namanya adalah Ma'qil bin Yasaar bin Abdillah bin Mi'yar al-Muzani al-Bashri,  مَعْقِلُ بْنُ يَسَارِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مِعْيَرٍ المُزَنِيُّ البَصْرِيُّ  nama kunyahnya adalah Abu Ali atau ada yang berpendapat Abu Yasaar atau Abu Abdillah. Beliau termasuk yang dibaiat Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam dibawah pohon – Baiatur Ridwan (lihat Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Fath: 18, VI/679 cet. Daar Ibnul Jauzy, "Allah memberitahukan tentang keridhaan-Nya kepada orang-orang mukmin yang berbaiat kepada Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam di bawah pohon. Yang jumlah mereka yaitu 1400 orang. Pohon yang dimaksud adalah pohon Samurah yang terletak di wilayah Hudaibiyyah"). Diriwayatkan haditsnya oleh Imam al-Bukhori, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, an-Nasa-I, Ibnu Majah dan al-Hakim. Beliau meninggal di Bashrah pada akhir kekhilafahan Mu'awiyah tahun 60 H. Semua Shahabat Nabi shallallahu'alaihi wassalam adalah   ثِقَةٌ   "Tsiqah (terpercaya)"  . (Lihat Siyar A'lam an-Nubala no. 124, Tahdzibul Kamal Fi Asmair Rijal no. 6095 dan Taqribut Tahdzib no. 6848)

 

Kesimpulan dari sanad hadits diatas adalah: 

  1. Seluruh perawi hadits diatas adalah tsiqah. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Imam al-Hakim bahwa sanad hadits diatas adalah shohih dan tidak dikeluarkan hadits tersebut oleh Imam al-Bukhori dan Muslim dalam kitab shohihnya.
  2. Rantai sanadnya 4 dari 6 perawinya terdapat di Bashrah (kota kedua terbesar di Irak kala itu) kecuali Muhammad bin Sholih bin Hani dan Yahya bin Muhammad bin Yahya mereka berdua pernah tinggal di Naisaabuur sebuah kota di timur laut Iran.
  3. Hadits diatas Shohih. dishohihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah dalam Silsilah Ahaadits as-Shohihah III/347 .

 

Hadits lainnya yang berkaitan dengan hadits diatas adalah:

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ خَشْرَمٍ قَالَ: أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ، عَنْ عِمْرَانَ بْنِ زَائِدَةَ بْنِ نَشِيطٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي خَالِدٍ الوَالِبِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: " إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ: يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ، وَإِلَّا تَفْعَلْ مَلَأْتُ يَدَيْكَ شُغْلًا وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ

"Telah mengkabarkan kepada kami (At-Tirmidzi) Ali bin Khasyram, telah mengabarkan kepada kami (Ali) Isa bin Yunus, dari Imran bin Zaidah bin Nasyith dari Bapaknya dari Abi Kholid al-Walibiy, dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu'alaihi wassalam, beliau bersabda: 'Sesungguhnya Allah berfirman, 'Wahai anak Adam, gunakan waktumu hanya untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku menjadikan dadamu penuh dengan rasa kecukupan dan Aku akan menutup kefakiranmu. Jika engkau tidak melakukannya, maka Aku akan memenuhi kedua tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak akan menutup kefakiranmu.'"  Hadits Shohih   (HR. at-Tirmidzi no. 2466, Ibnu Majah no. 4108, Ahmad II/358, dan Al-Hakim II/443, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhiib wat Tarhiib no. 3166 dan Silsilah Ahaadits as-Shohihah III/346.)

Syarah Hadits :

Syarah hadits diatas disarikan dari kitab Mirqatul Mafaatih Syarah Misykatul Mashoobih oleh Syaikh Ali Mula al-Qari 8/3238 cet. Daar al-Fikr th. 1422 H :

maksud dari   تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي  bersungguh-sungguhlah dalam meluangkan waktu semata-mata untuk beribadah kepada Rabb-mu.

Imam Nuruddin As-Sindi (Ulama kelahiran Pakistan yang kemudian menetap di Madinah, wafat tahun 1138 H) mengatakan dalam kitabnya "Hasyiyah Ala Sunan Ibni Majah" 2/525 Cet. Dar al-Jiil :

(تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي) أَيْ: كُنْ فَارِغًا عَنْ كُلُّ شَيْءٍ لِأَجَلِ الْعِبَادَةِ وَاصْرِفْ وَقْتَكَ كُلَّهُ فِيهَا 

Luangkanlah waktu untuk beribadah kepada-Ku, maksudnya adalah luangkanlah dirimu dari segala sesuatu (yang menyibukkan) hanya untuk beribadah kepada-Ku dan maksimalkanlah waktumu untuk beribadah (hanya kepada Allah).

Sedangkan Syaikh Abdurrahman Al-Mubarakfury (wafat tahun 1353 H) menulis maksud lafazh diatas dalam kitabnya Tuhfatul Ahwadzi bi Syarah Jami' at-Tirmidzi 6/340 cet. Daarul Hadits th. 1421 H :

أَيْ تَفَرَّغْ عَنْ مُهِمَّاتِكَ لِطَاعَتِي 

Yaitu, luangkan dirimu dari berbagai pekerjaanmu demi ketaatan kepada-Ku.

Sedangkan makna  غِنًى  (Kekayaan) yaitu  وَالْغِنَى إِنَّمَا هُوَ غِنَى الْقَلْبِ    Kekayaan yang dimaksud adalah kekayaan hati.

Makna:  وَأَسُدَّ فَقْرَكَ  Dan Aku akan tutupi kefakiranmu adalah:

 أَيْ تَفَرَّغْ عَنْ مُهِمَاتِكَ لِعِبَادَتِي أَقْضِ مُهِمَّاتِكَ وَأُغْنِيْكَ عَنْ خَلْقِي وَإِنْ لَا تَفْعَلْ مَلَأْتُ يَدَيْكَ شُغْلًا وَتُسَكَّنُ لِلتَّخْفِيفِ  

Luangkan dirimu dari berbagai kesibukanmu untuk beribadah kepadaku maka Aku akan selesaikan berbagai pekerjaanmu dan Aku akan memberikan kecukupan bagimu untuk tidak meminta-minta kepada makhluk-Ku, apabila engkau tidak melakukannya maka Aku akan penuhi tanganmu dengan kesibukan dan (dibaca dengan) penyukunan/pemberian harakat sukun (pada kalimat  شُغْلاً   dibaca   شُغُلْ  sebagai pengurangan bacaan (bacaan dari  شُغْلاً  menjadi  شُغُلْ  (tidak merubah makna))

Sedangkan makna:

 وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ أَيْ وَإنْ لَمْ تَتَفَرَّغْ لِذَلِكَ وَاشْتَغَلْتَ بِغَيْرِي لَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ لِأَنَّ الْخَلْقَ فُقَرَاءُ عَلَى الْإِطْلَاقِ فَتَزِيدُ فَقْرًا عَلَى فَقْرِكَ 

Aku tidak akan tutupi kefakiranmu, yaitu apabila engkau tidak meluangkan waktu untuk beribadah kepada-Ku dan engkau sibuk dengan selain-Ku maka aku tidak akan menutupi kefakiranmu karena sesungguhnya makhluk itu faqir secara mutlak dan engkau akan bertambah fakir dari kefakiranmu yang semula.

Saudaraku yang semoga Allah senantiasa memberikanmu keberkahan…lihatlah penjabaran dari makna kaya yang diutarakan oleh Syaikh Abdurrahman Mubarakfury diatas …maksud kekayaan adalah kaya hati. Inipun sesuai dengan hadits shohih:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَيْسَ الغِنَى عَنْ كَثْرَةِ العَرَضِ، وَلَكِنَّ الغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Kaya bukanlah karena banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (yang sesungguhnya) adalah hati yang senantiasa merasa cukup."  Hadits Shohih   (HR. Al-Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051(120))

Dalam hadits yang lainnya juga disebutkan lebih detail tentang makna kaya :

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "يَا أَبَا ذَرٍّ أَتَرَى كَثْرَةَ الْمَالِ هُوَ الْغِنَى" قُلْتُ نَعَمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: "فَتَرَى قِلَّةَ الْمَالِ هُوَ الْفَقْرُ" قُلْتُ نَعَمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: "إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْبِ وَالْفَقْرُ فَقْرُ الْقَلْبِ"

Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata (kepadaku), "Wahai Abu Dzar, apakah engkau menilai bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya?" Aku jawab, "Betul, wahai Rasulullah (shallallahu'alaihi wassalam)". Beliau bertanya lagi, "Apakah engkau menilai bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?" "Betul," Aku (Abu Dzar) jawab, "Betul, wahai Rasulullah (shallallahu'alaihi wassalam). Beliau pun bersabda, "Sesungguhnya pengertian kaya adalah kayanya hati (hati yang senantiasa merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang senantiasa merasa tidak puas)."  Hadits Shohih   (HR. Ibnu Hibban no. 685 dalam kitab Shohih Ibni Hibban, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shohih at-Targhib wat Tarhiib no. 827)

Dapat diambil hikmah dari hadits-hadist diatas, bahwa meluangkan waktu untuk beribadah maksudnya bukan semata-mata tidak bekerja atau hanya di masjid mengerjakan ibadah sholat saja atau ibadah yang lainnya, namun luangkan dari berbagai kesibukan itu waktu untuk beribadah kepada Allah Rabb Alam Semesta. Kesibukan-kesibukan dunia tidak boleh menghalangi seorang mukmin yang menyadari bahwa Allah-lah yang harus ditaati dan diibadahi, dia haruslah mendudukkan ketaatan kepada Allah sebagai prioritas dibandingkan ketaatannya kepada sesamanya. Dan waktu semuanya harus dimaksimalkan semata-mata untuk beribadah kepada Allah.

Kisah-Kisah :

Hikmah dari beberapa kisah yang "ada kaitannya" dengan hadits diatas banyak sekali dijumpai dalam kehidupan kita sehari-hari, antara lain:

Pertama   Ada seorang pekerja keras lagi bersemangat dalam menapaki dunia kerja di timur tengah dan dia adalah saudaraku yang semoga Allah senantiasa menjaganya. Beliau telah berkonsekuensi kepada dirinya sembari berujar "kalau ke Timur Tengah saya akan belajar ilmu agama lebih giat lagi." Namun niatnya tersebut kurang berjalan dengan mulus. Suatu saat beliau mengutarakan unek-uneknya, "Kenapa susah sekali untuk belajar ilmu syar'i, setiap kali ada keinginan belajar kok ternyata ada saja kesibukan yang menghadang." Bahkan pada suatu saat beliau menginginkan untuk menghadiri kajian bahasa arab yang diadakan rutin. Ketika ditanya apakah beliau akan hadir atau tidak, dijawab; "Insya Allah saya akan hadir cuma belum tahu kalau nanti ada kerjaan tambahan dari kantor kayaknya ga jadi belajarnya." Subhanallah jawaban yang kurang pasti ini ternyata terjawab sudah dengan adanya "kesibukan yang lainnya" yaitu ketika beliau pulang dari Sholat Jum'at ternyata baterei mobilnya ngadat akhirnya sibuklah beliau dengan urusan mobilnya yang tadinya rencana akan belajarpun terhalang karena ada kesibukan tersebut. Allahu Musta'aan. Saudaraku yang mulia semoga Allah senantiasa memudahkan setiap urusanmu dalam menapaki jalan untuk beribadah kepada Allah Azza wa Jalla.

Kedua   Ada juga saudaraku yang mulia lainnya, dimana beliau adalah seorang yang senantiasa memegang amanah dengan sangat disiplin dan "ringan" dalam menolong orang lain yang ditimpa kesusahan. Beliau (yang semoga Allah senantiasa menjaganya) diberikan pekerjaan yang menuntut keuletan dan kesungguhan. Suatu saat ada waktu libur dimana ada informasi bahwa hari itu ada training bahasa arab dengan seorang native speaker. Informasi tentang adanya training bahasa arab itu telah beliau dengar jauh-jauh hari sebelum acara diadakan. Ternyata ketika hari "H" nya beliau berhalangan datang. Dan ternyata karena ada alasan pribadi yaitu membersihkan rumahnya karena kotor. Sebelumnya beliau pernah ditanya tentang kesediaannya untuk menghadiri training tersebut, beliau menjawab dengan "Nggak ngerti nanti kalau tidak ada kerjaan, insya Allah aku datang"? Subhanallah Maha Besar Allah atas nikmat-nikmat-Nya yang Agung yang dilimpahkan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Sekiranya beliau menjawab, "Insya Allah saya akan datang " tanpa ada tambahan "Nggak ngerti nanti kalau tidak ada kerjaan" karena bisa jadi ada rasa berat di hati yang ada dapat dimanfaatkan oleh syaitan untuk menghembuskan was-was yang melemahkan semangatnya orang yang ingin beribadah kepada Allah.

Ketiga   Ada juga beberapa saudaraku yang mulia lainnya yang berada di kompleks kerja terasing lagi terpencil dan berjarak ratusan kilometer untuk menuju ke tempat belajar agama. Anehnya pada tahun-tahun pertama mereka bersemangat sekali menghadiri kajian dan pembelajaran agama tanpa ada keluhan sama sekali. Allah memudahkan mereka untuk menghadiri kajian meskipun transportasi terasa berat dan susah untuk mendapatkannya. Mereka rela untuk menyisihkan sebagian dari uangnya dihabiskan untuk biaya transportasi menuju tempat belajar ilmu syar'i. Lambat laun ada beberapa dari saudara-saudaraku yang mulia tersebut yang merasa berat karena pekerjaan yang menjadi amanahnya semakin bertumpuk dan harus diselesaikan dengan cara lembur ketika waktu liburan. Dan setelah itu ternyata ada alasan yang lainnya untuk tidak dapat menghadiri kajian ilmu syar'i, tidak lain mereka mengeluh tentang masalah transportasi yang sulit. Dan telah datang kepada mereka kemudahan untuk mendapatkan transportasi, namun merekapun berkilah dengan kesibukan yang lainnya. Sekali beralasan dengan alasan yang dapat diterima syar'i kemudian alasan yang kedua dan seterusnya menjadi suatu hal yang biasa "jurus berkilah" dimana was-was syaitan semakin kuat berbisik mengajarkan "jurus berkilah" yang semakin canggih. Padahal dulunya mereka rela dan ikhlas untuk "bermalam di tempat yang kurang memadai" hanya agar dapat mendapatkan kesempatan mengikuti kajian ilmu syar'i. Bisa jadi Allah memberikan berbagai kesibukkan kepada mereka dengan adanya pekerjaan-pekerjaan yang seharusnya bisa dilakukan diluar waktu belajar mereka. Wahai saudaraku...renungkanlah ucapan Abu Al-Hasan al-Karkhi (seorang ulama Madzhab Hanafi dari Irak, wafat 143 H)

  كُنْتُ أَحْضُرُ مَجْلِسَ أَبِي حاَزِمٍ يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِالْغَدَاةِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَكُونَ يَوْمَ دَرْسٍ ، لِئَلاَّ أَنْقُضَ عَادَتِي مِنَ الْحُضُورِ. 

“Aku selalu menghadiri majelisnya Abu Hazim pada hari Jum'at pagi padahal hari itu tidak ada pelajaran. Aku lakukan hal itu agar kebiasaanku menghadiri majelis ilmu tidak hilang." (al-Hatstsu 'ala Tholabil Ilmi wal Ijtihadi fi jam'ihi oleh Abu Hilal al-Hasan bin Abdillah al-Asykari hal. 78 cet. Al-Maktabul Islami th.1406 H).

Wahai saudaraku sekalian semoga Allah menjauhkan kita dari tipu daya syaitan sehingga kita dapat memaksimalkan ibadah kita termasuk di dalamnya yaitu tholabul ilmi syar'i. Dimanapun dan kapanpun kita harus bersemangat untuk menuntut ilmu syar'i sebagai bekal kita dalam memaksimalkan ibadah kepada Allah menurut dasar yang shohih sebagaimana telah dilakukan oleh generasi Salafus Sholih radhiallahu'anhum ajma'in.

Keempat   Kejadian ini dapat kita lihat hampir diseluruh penjuru dunia. Orang-orang yang sibuk di kantoran terbiasa untuk melakukan rapat dan diskusi penting yang berkaitan dengan pekerjaannya. Ironisnya mereka sering mengadakan rapat ketika waktu sholat dhuhur, yang menjadi atasan dia berpendapat ini harus segera diselesaikan dan yang menjadi bawahan menjadi terpaksa untuk menghadiri rapat tersebut dan meninggalkan kewajiban sholat tepat waktunya dengan alasan "Nanti setelah rapat insya Allah masih ada waktu untuk sholat"…lambat laun apa yang terjadi, "Rapatnya molor nih, nanti insya Allah aku sholatnya dijamak saja."…dan setelah beberapa waktu akhirnya "Sholatnya di kantor saja cukup nggelar sajadah biar waktunya manfaat." Padahal masjid dekat sekali jaraknya dari kantornya. Walhasil terbiasalah orang-orang mengakhirkan waktu sholat dan akhirnyapun Allah memberikan berbagai macam kesibukan yang menghalangi mereka untuk sholat fardhu tepat pada waktunya.

Kelima   Kejadian dari seorang kepala rumah tangga yang sangat bertanggung jawab terhadap keluarganya. Ketika waktu libur yang ada dalam benak dari anak-anaknya adalah "Ayah, liburan pergi ke Mall A yuk." Kemudian hari berikutnya istrinya berkomentar, "Ayah, belanja ke Mall B yuk." Hal itu berlangsung seperti siklus yang tak kunjung berhenti Akhir Pekan demi Akhi Pekan tidak ada kegiatan utama kecuali "Melancong" dari Mall A ke Mall B, dari Mall B ke Mall C. Padahal waktu-waktu libur itu adalah waktu yang sangat berharga untuk menanamkan akhlaq teladan kepada anak-anak dengan membiasakan mereka untuk menghafal quran, menghafal surat-surat pendek, ataupun menghadiri kajian agama yang dilakukan pada salah satu dari hari libur tersebut. Sedangkan acara melancong sebenarnya bisa sebagai selingan semata bukan sebagai jadwal utama. Artinya bukan sehari semalam itu hilang waktunya untuk "melancong" ke Mall-mall namun seperlunya saja. Waktu libur adalah waktu untuk keluarga, namun waktu itu hendaknya dimanfaatkan untuk mendidik keluarga dengan pendidikan yang shohih. Pendidikan yang shohih tidak akan bisa datang sekonyong-konyong seperti "wangsit turun dari langit". Itu hanya akan didapat dengan belajar, mendatangi kajian ilmu dan berinteraksi dengan orang-orang sholeh yang senantiasa berusaha memperbaiki diri dengan ilmu syar'i yang ada padanya.

Ketika orang hendak meluangkan waktu dalam liburannya untuk beribadah kepada Allah pastilah Allah memberikan rezki, berbagai kemudahan dan kecukupan kepadanya, namun apabila dia enggan untuk beribadah kepada Allah maka pastilah hal-hal yang sepele seperti belanja dan membeli kebutuhan keluarga akan menyibukkannya. Telinganya tidak akan tahan ketika anak dan istrinya merengek untuk pergi "melancong" ke Mall, padahal ketika dia mau berusaha untuk meluangkan waktu untuk beribadah kepada Allah pastilah urusan-urusan keluarganya akan dimudahkan, dan itu akan Nampak ketika si-Anak akan berusaha memaklumi "Oo..kalau liburan Ayah harus belajar ya?Ntar adek juga pengin ikut Ayah belajar ya." begitupun juga si-Istri akan berusaha memaklumi pula "Baiklah, kalau Ayah belajar, Ibu harus belajar juga kan." Ada juga yang mendengar adzan shalat ataupun telah mengetahui bahwa sebentar lagi waktu sholat, sang anak berkomentar "Ayah, ayo anterin beli ini beli itu...tidak berpikir panjang langsung sang Ayah menggeber kendaraannya menuju ke Mall, hingga akhirnya waktu shalat telah usai..."Astaghfirullah, kok kita belum shalat ini..." tinggallah penyesalan yang berkepanjangan, padahal ketika si-Anak itu kita didik dengan penuh kelembutan kita ajarkan kepada mereka pentingnya menegakkan sholat tepat waktu tentunya kejadiannya akan lain...bisa jadi si-Anak yang mengingatkan sang Ayah seperti "Ayah, sekarangkan sudah waktu sholat, adek mo sholat sama Ayah... yuk ke masjid." Dan pemakluman tersebut hanya dapat terjadi dengan kehendak Allah.

Wahai saudaraku yang mulia…Allah senantiasa memudahkan bagi hamba-hamba yang ingin bertaqarub kepada-Nya dengan cara yang tidak kita sangka-sangka. Banyaknya fasilitas dan sarana untuk melakukan ibadah terkadang menjadi ujian bagi kita apakah kita sanggup beristiqamah atau malah tenggelam dengan keasyikan menikmati gemerlap dunia dan pernik-perniknya.

Kisah-kisah diatas adalah sebagai penyeru, pengingat, sarana instropeksi dan penyadar bagi penulis dan bagi saudara-saudaraku sekalian, bahwa ibadah kepada Allah adalah kewajiban kita yang paling tertinggi yang harus kita prioritaskan dibandingkan "pernik-pernik dunia" yang fana ini. Tidak ada maksud untuk menghukumi atau memvonis bahwa kalau tidak beribadah pasti akan diberi hukuman oleh Allah dengan adanya kesibukan-kesibukan yang lain seperti yang disebutkan dalam kisah-kisah tersebut. Allah lebih mengetahui apa yang dilakukan hamba-hamba-Nya karena Allah lah Dzat Yang Maha Mengetahui. Marilah kita senantiasa meminta kepada Allah ats-tsabat (keteguhan) dalam mengabdi kepada-Nya dengan berdoa:

يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنكَ

"Ya Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu."  Hadits Shohih   (HR. Ahmad VI/302, Hakim I/525, Tirmidzi no. 3522. Shahih, lihat Shahih at-Tirmidzi III/171 no. 2792.)

اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ القُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

"Ya Allah, yang mengarahkan hati, arahkanlah hati-hati kami pada ketaatan kepada-Mu."  Hadits Shohih   (HR. Muslim no. 2654 dari Abdullah bin 'Amr al Ash radhiallahu'anhu)

Wahai saudaraku semoga Allah senantiasa memberikanmu perlindungan-Nya…renungkanlah hadits berikut ini:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ عُمَرَ بْنِ سُلَيْمَانَ، قَالَ: سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ أَبَانَ بْنِ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ، يُحَدِّثُ عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: خَرَجَ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ مِنْ عِنْدِ مَرْوَانَ بِنِصْفِ النَّهَارِ، قُلْتُ: مَا بَعَثَ إِلَيْهِ هَذِهِ السَّاعَةَ إِلَّا لِشَيْءٍ يَسْأَلُ عَنْهُ، فَسَأَلْتُهُ، فَقَالَ: سَأَلَنَا عَنْ أَشْيَاءَ سَمِعْنَاهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ، فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ، جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ»

(Telah berkata Ibnu Majah) "Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Basysyaar, dia berkata, 'Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ja'far', Dia (Muhammad bin Ja'far) berkata, 'Telah mengabarkan kepada kami Syu'bah dari Umar bin Sulaiman', Dia (Umar bin Sulaiman) berkata, 'Aku telah mendengar Abdurrahman bin Abaan bin Utsman bin Affaan', beliau mengabarkan dari Bapaknya (Usman bin Affan), dia berkata, 'Zaid bin Tsabit keluar dari tempat Marwan pada tengah siang hari'. Aku berkata, 'Tidaklah Marwan mengutus Zaid datang kepadanya pada saat seperti ini, melainkan untuk satu hal yang ingin dia tanyakan'. Lalu aku pun bertanya kepada Zaid tentang hal tersebut. Zaid menjawab, 'Ia bertanya kepada kami tentang apa-apa yang kami dengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Barangiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya/cita-citanya maka Allah akan mencerai beraikan urusannya, dan menjadikan kefakiran di pelupuk matanya, dan dunia tidak akan datang kepadanya melainkan apa yang telah ditakdirkan baginya. Dan barangsiapa yang akhirat menjadi tujuannya/cita-citanya maka Allah akan menggabungkan urusannya, dan menjadikan berkecukupan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan tunduk.'"  Hadits Shohih   (HR. Ibnu Majah, no. 4105 dan dishahihkan oleh Imam Al-Albani dalam Silsilah Ahadits as-Shohiihah, no. 950) (Insya Allah akan dibahas pada kesempatan selanjutnya takhrij hadits ini.)

Fawaid Hadits:

  • Meluangkan waktu semata-mata untuk beribadah kepada Allah adalah suatu keharusan bagi setiap orang muslim.
  • Pasti ada kemudahan bagi orang yang berusaha keras untuk beribadah kepada Allah, dan pasti pula ada kesulitan berupa kesibukan-kesibukan bagi orang yang tidak ingin/menjauhi/malas untuk beribadah kepada Allah.
  • Kalau kita tidak memaksa diri untuk belajar ilmu syar'i sebagai bagian dari ibadah kita kepada Sang Kholik, tentunya pasti akan ada saja "kesibukan" yang merintangi dan menjauhkan kita dari majelis ilmu syar'i.
  • Berlindunglah kepada Allah dari was-was syaitan yang senantiasa berusaha melemahkan manusia yang ingin beribadah kepada Allah.
  • Pintu-pintu rezki itu akan dimudahkan manakala kita menjadikan waktu kita secara maksimal untuk beribadah hanya kepada Allah dan sesuai dengan petunjuk Nabi Shallallahu'alaihi wassalam.

Demikian yang bisa kita petik dari pembahasan tentang hadits "Luangkan waktu untuk beribadah kepada Allah".

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Wallaahu a'lam bishshawwaab.

Ar-Rahba Abu Dhabi, dini hari yang diliputi dingin 19 Derajat Celcius, Rabu, 13 Safar 1434 H/26 Desember 2012.


Abu Kayyisa,

Yang mendamba Ampunan dari Rabb Sang Pencipta Jagad Raya.

 

 

Add comment


Security code
Refresh


Jazakallahu Khoiran