Wednesday, December 13, 2017
Text Size

Mendulang Faidah dari Kisah Sandal Favoritku

 

Mendulang Faidah dari Kisah Sandal Favoritku.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه وبعد

Barakallahu fikum, semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan kepada antum sekalian,

Tulisan kali ini adalah mengenai berbagai faidah dari kisah sandal favoritku.

Kisah ini dimulai masih fresh from the oven…seperti slogan roti yang menjadi kegemaranku…tepatnya tanggal 9 Ramadhan 1435 H terjadilah faidah yang suangat banyak dari sandal favoritku.

Awal cerita dari sandal favoritku ini diawali dari pertemuan manasik haji di KBRI Abu Dhabi, saat itu ada sedulur yang nyelethuk, "Eh kan nggak boleh pake sandal yang ada talinya ketika haji" kemudian celethukan itupun disambut oleh teman sebut saja Akza menimpali, "Enakan pake kayak sepertiku ini, ringan dan fleksibel." Saat itupun aku langsung berbinar-binar ingin mencoba sandal dari Akza, dan ternyata benar ringan, empuk dan fleksibel. Akupun berceloteh, "Wah enak bener ini yah, nyaman sekali di kaki."

Setelah itu tak dinyana-nyana datanglah saudaraku Akza ke rumah ketika manasik haji yang diadakan di gubugnya Kayyisa, beliau membawa sandal yang tadinya sudah niat untuk ana beli, alhamdulillah ternyata memang limpahan rezki dari Allah datang dari arah tak terduga-duga. Allah memberikan hadiah tersebut lewah saudaraku Akza.

Disinilah awal berbagai faidah yang akan kita bahas dalam kisah sandal favoritku.

Faidah Pertama : Rizki datang dari arah tak disangka-sangka.

Didulang dari ayat yang mulia, Allah berfirman:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. At-Tahrim : 2-3)

Al-Hafizh Ibnu Katsir menjelaskan tafsir ayat tersebut:

{وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ} أَيْ: وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ فِيمَا أَمَرَهُ بِهِ، وتَرَك مَا نَهَاهُ عَنْهُ، يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ مَخْرَجًا، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ، أَيْ: مِنْ جِهَةٍ لَا تَخْطُرُ بِبَالِهِ

"Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya" Maknanya, barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah dengan melakukan apa yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya, niscaya Allah akan memberinya jalan keluar serta rizki dari arah yang tidak disangka-sangka, yakni dari arah yang tidak pernah terlintas dalam benaknya" (Tafsir Al-Qur'an al-Adzhim lil Imam Ibn Katsir 7/300 tahqiq Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin cet. Daar Ibn al-Jauzy 1431 H)

Dan perbuatan akh Akza hafizhahullah (semoga Allah menjaganya) ketika beliau memberikan hadiah adalah salah satu contoh aplikasi dari sabda Nabi Shallallahu'alahi wassalam yang termasuk pada faidah kedua:

Faidah Kedua : Anjuran memberikan hadiah.

Saudaraku yang semoga Allah senantiasa menjagamu…mari kita simak penjelasan detail tentang hadits mulia yang berkaitan dengan hadiah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ: تَهَادَوْا تَحَابُّوا

Dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu, dari Nabi Shallallahu'alaihi wassalam, beliau bersabda:

"Salinglah kalian memberikan hadiah niscaya kalian akan saling mencintai."
   Hadits Hasan   (HR. Al-Bukhori dalam kitab Adabul Mufrod no. 594, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwaul Ghalil no. 1601).

Senang bercampur bingung saat menerima hadiah itu dan alhamdulillah tidak terbersit kegembiraan yang sempat terbayang ketika saat kecil menerima hadiah dari Ibundaku. Saat masa kecilku ketika menerima hadiah, aku suka berjingkrak dan mengucapkan "alhamdulillah hore-hore dapat hadiah." Hal itu sebagaimana yang bisa aku masukkan dalam faidah yang ketiga.

Faidah Ketiga: Jangan terlalu berbangga dengan nikmat yang kita peroleh.

Jangan terlalu berbangga dengan nikmat yang kita peroleh karena itu sama sekali bukan karena usaha dan kerja keras kita. Itu semua adalah takdir yang Allah tetapkan dan rizki yang telah Allah karuniakan.

Ayat yang mulia berikut:

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput darimu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Al-Hadid: 23)

Pada hakekatnya apa saja yang menjadi rizki kita maka pasti itu akan datang dan apa yang tidak menjadi rizki kita maka dengan usaha apapun dan pengorbanan yang bagaimanapun tidak akan datang kepada kita. Simaklah hadits yang mulia berikut:

Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam bersabda:

وَتَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ

Hendaknya engkau mengetahui bahwa sesuatu yang ditakdirkan akan menimpamu, tidak mungkin luput darimu. Dan segala sesuatu yang ditakdirkan luput darimu, pasti tidak akan menimpamu. Hadits Shohih   (HR. Abu Dawud no. 4699, Ibnu Majah no. 77. Lihat At-Ta'liqatul Hisaan Ala Shahih Ibni Hibban no. 725).

Hanya ucapan "jazakumullah khoiran" yang aku haturkan kepada saudaraku Akza semoga Allah memberikan ganjaran kebaikan kepada beliau. Dan ini aku masukkan pada faidah yang keempat.

Faidah Keempat: Ucapan Jazakumullah khoiran.

Berdasarkan hadits yang mulia:

عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ: جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ

Dari Usamah bin Zaid, dia berkata, "Telah bersabda Rasulullah Shallallahu'alahi wassalam "Barangsiapa yang diperlakukan dengan baik (diberi kebaikan) kemudian dia mengucapkan "JAZAAKALLAHU KHOIRAN" (semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepadamu) maka sesungguhnya dia telah memberikan pujian yang terbaik."   Hadits Shohih  (HR. At-Tirmidzi no. 2035. Lihat Shohihul Jami-ush Shoghiir oleh Syaikh Albani no. 6368).

مَنْ أَتَى إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُوهُ، فَادْعُوا لَهُ، حَتَّى تَعْلَمُوا أَنْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ

"Barangsiapa yang datang kepada kalian dengan kebaikan maka balaslah ia, jika kalian tidak mendapatkan sesuatu untuk membalasnya maka doakanlah kebaikan baginya hingga kalian merasa telah membalas kebaikannya."   Hadits Shohih  (HR. Ahmad no. 5365, Abu Dawud no. 5109, An-Nasai no. 2567 Dari Shahabat Ibnu Umar radhiallahu'anhuma, dishohihkan Syaikh Albani dalam Silsilah Ahaadits Ash Shohihah no. 254).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ

Dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam telah bersabda: "Barangsiapa yang tidak bersyukur kepada manusia maka ia tidak bersyukur kepada Allah".   Hadits Shohih  (HR. Abu Dawud no. 4811, At-Tirmidzi no. 1954, Al-Bukhori dalam Adabul Mufrod no. 218, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Shohihah no. 416).

Dan setelah pada pertemuan manasik selanjutnya aku pun sengaja memakai sandal itu agar beliau senang melihatnya dan ini aku masukkan di faidah yang berikutnya:

Faidah Kelima: Mengenakan hadiah agar yang memberinya menjadi senang.

Berdasarkan hadits yang mulia:

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ اللَّهَ يُحِبَّ أَنْ يَرَى أَثَرَ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ»

Dari Amr bin Syu'aib dan bapaknya dari kakeknya, dia berkata, Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam bersabda: "Sesungguhnya Allah menyukai untuk melihat bekas nikmat yang telah diberikanNya kepada hamba-Nya.   Hadits Shohih  (HR. At-Tirmidzi no. 2819, Shohih lihat Ghayatul Maram fi Takhrij Ahaadits al-Halal wal Haram no. 75).

Sandal itu begitu empuk dan menggemaskan maklumlah merek beken sih "SKETCHER", sekali injek bisa serasa ga pake sandal karena saking nyamannya. Alhamdulillah sandal itu sudah menjaga kakinya umminya kayyisa ketika dia "dipaksa" melepas sandal akibat desakan orang-orang ketika melakukan jihad la qitala fih. Sandal itupun setiap kali dipakai ke masjid melewati "rintangan" yang berupa pecahan kaca beling yang dilempar orang iseng dan juga duri-duri tanaman gurun yang lumayan bisa membuat berdarah apabila tergores olehnya. Banyak sekali kenangan manis bersama sandal tersebut.

Alhamdulillah Allah berkehendak mengambil barang yang bukan menjadi milik abadiku. Tepatnya ketika tanggal 9 Ramadhan kemarin, setelah maghrib aku sengaja tidak langsung pulang karena masih dalam rangka paket kejar tayang sehingga aku memutuskan untuk tetap di masjid sampai sholat Isya. Nah entah kenapa saat itu terbersit keinginan untuk mengambil wudhu lagi dan setelah keluar masjid, aku langsung melongok sana-sini eh ternyata sandal kesayangan itu hanya tinggal sebelah saja.

Aku sudah mulai agak geram …hem ini sandal kesayangan dikemanain coba…gerutuku dalam hati. Setelah itu, aku pun memutuskan untuk bertanya kepada penjaga masjid, siapa gerangan yang berani mengambil sandal kesayanganku itu. Menurut penuturan penjaga masjid bahwa yang mengambil sandal itu bisa jadi anak-anak kecil yang sedang bermain-main dan diantara mereka ada yang berantem lempar-lemparan. Tak kurang akal, aku pun segera mencoba mengelilingi masjid yang super luas tersebut. 2 kali putaran tak kunjung ketemu pula, alhamdulillah.

Setelah selesai sholat Taraweh, aku segera mengadakan investigasi menanyakan kepada anak-anak yang main setelah sholat Maghrib. Aku sempat terbersit ingin marah dan kalo perlu menghardik anak yang mengambil satu sandalku. Alhamdulillah ketika melihat mereka, Allah menghindarkanku dari rasa marah dan dongkol (faidah: Sabar), mungkin ini adalah barokahnya dari Ramadhan. Aku menegur mereka dengan perkataan yang halus. "Tahukah engkau siapa yang menghilangkan salah satu sandal, karena aku mendengar dari petugas masjid bahwa ada anak-anak yang bermain dan bertengkar setelah sholat Maghrib." Salah satu dari mereka menjawab, "Ya, memang ada dari kami yang bertengkar, namun kami tidak mengetahui siapa yang mengambil salah satu dari sandalmu." Dan yang lebih kaget lagi adalah salah dari anak-anak tersebut sempat berujar, "Makanya ente beli sandal yang benar dong…jangan sandal yang mirip sandal yang dipakai di toilet." Hemm tambah gusar juga aku setelah mendengar omongan anak tersebut.

Hemmm, akupun bergumam dalam hati sambil seraya berkata, "Innalillah wa Inna ilaihi raji'un, Allahuma' jurni fi mushibati wa aflih li khoiran minha" yaitu doa ketika mendapat musibah.

Faidah Keenam : Doa ketika mendapat musibah

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيْبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْراً مِنْهَا

"Sesungguhnya kita milik Allah, dan kita akan kembali kepada-Nya, ya Allah berilah aku atas musibah yang menimpaku dan gantilah untukku dengan yang lebih baik darinya.

Hal ini berdasarkan hadits berikut:

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ، أَنَّهَا قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: " مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ، فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللهُ: {إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ} [البقرة: 156]، اللهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا أَخْلَفَ اللهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا "، قَالَتْ: فَلَمَّا مَاتَ أَبُو سَلَمَةَ، قُلْتُ: أَيُّ الْمُسْلِمِينَ خَيْرٌ مِنْ أَبِي سَلَمَةَ؟ أَوَّلُ بَيْتٍ هَاجَرَ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ إِنِّي قُلْتُهَا، فَأَخْلَفَ اللهُ لِي رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Ummu Salamah, dia berkata, "Aku mendengar Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam bersabda, 'Tidaklah seorang hamba tertimpa musibah lalu ia mengucapkan apa yang Allah telah perintahkan; Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'un (QS. Al-Baqarah: 156). Ya Allah berilah aku ganjaran dalam menghadapi cobaan ini dan berilah pengganti yang lebih baik bagiku, melainkan Allah akan memberinya ganjaran dan pengganti yang lebih baik' Ummu Salamah berkata, "Ketika Abu Salamah meninggal, aku berkata, Muslim yang mana yang lebih baik dari Abi Salamah? Kerabat Rasulullah yang pertama kali hijrah kepada Rasulullah Shallallahu'alahi wassalam lalu aku tetap mengucapkannya, maka Allah memberiku pengganti yang lebih baik darinya, yaitu Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam."   Hadits Shohih  (HR. Muslim no. 918) .

Lebih detail lagi keterangannya ada di Sunan Ibnu Majah:

عَنْ عُمَرَ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ، أَنَّ أَبَا سَلَمَةَ، حَدَّثَهَا أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ

Dari Umar bin Abi Salamah, dari Ummu Salamah bahwasannya Abu Salamah radhiallahu'anhu telah menceritakan kepadanya bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصَابُ بِمُصِيبَةٍ، فَيَفْزَعُ إِلَى مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ مِنْ قَوْلِهِ

Tidaklah seorang muslim ditimpa suatu musibah, lalu dia melakukan apa yang Allah perintahkan dari firman-Nya:

{إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ} [البقرة: 156] اللَّهُمَّ عِنْدَكَ احْتَسَبْتُ مُصِيبَتِي، فَأْجُرْنِي فِيهَا، وَعَوِّضْنِي مِنْهَا –

"Sesungguhnya kita milik Allah, dan kepada Nya kita kembali. (QS. Al-Baqarah: 156) Ya Allah, kepada Mu aku serahkan musibah yang menimpa ku, berilah aku ganjaran di dalamnya (menghadapi musibah itu), dan gantikanlah dengan yang lebih baik daripadanya"

إِلَّا آجَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهَا، وَعَاضَهُ خَيْرًا مِنْهَا

Melainkan Allah akan memberi ganjaran kepadanya dan menggantikan dengan lebih baik daripadanya.

قَالَتْ: فَلَمَّا تُوُفِّيَ أَبُو سَلَمَةَ ذَكَرْتُ الَّذِي حَدَّثَنِي عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقُلْتُ: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، اللَّهُمَّ عِنْدَكَ احْتَسَبْتُ مُصِيبَتِي هَذِهِ، فَأْجُرْنِي عَلَيْهَا،

Ummu Salamah radhiallahu'anha berkata: Ketika Abu Salamah telah meninggal dunia, aku teringat dengan apa yang telah dia ceritakan kepadaku dari Rasulullah shallallahu'alaihi wassalam, lalu aku mengucapkan: "Sesungguhnya kita milik Allah, dan kepada Nya kita kembali. Ya Allah, kepada Mu aku serahkan musibah yang menimpa ku, berilah aku ganjaran atasnya"

فَإِذَا أَرَدْتُ أَنْ أَقُولَ: وَعِضْنِي خَيْرًا مِنْهَا، قُلْتُ فِي نَفْسِي: أُعَاضُ خَيْرًا مِنْ أَبِي سَلَمَةَ؟ ثُمَّ قُلْتُهَا، فَعَاضَنِي اللَّهُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَآجَرَنِي فِي مُصِيبَتِي

Maka aku ingin mengucapkan: "Gantikan bagi aku yang lebih baik daripadanya", aku berbisik kepada diri ku: Adakah pengganti yang lebih baik daripada Abu Salamah. Lalu aku tetap membacanya. Maka Allah telah memberikan ganti (yaitu) Muhammad shallallahu'alaihi wassalam kepada ku, dan Allah telah memberikan pahala untuk musibah yang menimpa diri ku.   Hadits Shohih  (HR. Ibnu Majah no. 1598) .

Subhanallah,… ketika merenungi hadits diatas, apa yang aku alami hanyalah "sepele" bukanlah sehebat apa yang dialami oleh Ibunda Ummul Mukminin Ummu Salamah. Aku bersyukur bahwa dengan mengikhlaskan apa yang bukan milik abadi kita maka hati ini menjadi tenang dan damai, tidak pula terbersit secercah kebimbangan ataupun kegelisahan. Hal itu karena aku yakin bahwa pasti Allah menggantikannya dengan yang lebih baik.

Faidah Ketujuh : Kelembutan dalam bertutur kata.

Saudaraku… bertutur kata dengan halus dan lembut itu adalah menenangkan dan menyenangkan. Simaklah nasehat mulia dari sabda Rasulullah Shallahu'alaihi wassalam:

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لاَ يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لاَ يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ

"Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan Dia mencintai sikap lemah lembut, dan Allah akan memberikan pada sikap lembah lembut sesuatu (ganjaran kebaikan) yang tidak Dia berikan kepada sikap yang keras, dan juga akan memberikan apa-apa yang tidak diberikan pada sikap yang lainnya."   Hadits Shohih  (HR. Muslim no. 2593 dari Aisyah Radhiallahu'anha) .

Dalam sabda Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam yang lainnya;

إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

"Sesungguhnya kelembutan itu tidak berada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya (dengan kebaikan) dan tidak dihilangkan kelembutan itu darinya kecuali akan membuatnya menjadi buruk."   Hadits Shohih  (HR. Muslim no. 2594 dari Aisyah Radhiallahu'anha) .

Alhamdulillah sebenarnya bisa juga terucap omongan yang pedas lagi sadis dari mulutku karena saking jengkelnya, namun alhamdulillah Allah menjagaku dengan mencegah mulutku untuk berucap dengan ucapan yang kasar, aku teringat hadits Nabi Shallalalhu'alaihi wassalam.

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلاَ اللَّعَّانِ وَلاَ الْفَاحِشِ وَلاَ الْبَذِيءِ

"Seorang mukmin itu bukanlah orang yang suka mengumpat, melaknat dan tidak pula yang berkata keji lagi kotor."   Hadits Shohih  (HR. Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 332, At-Tirmidzi no. 1977 dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 1/12. Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ahaadits Ash-shohihah no. 320). .

Faidah Kedelapan : Kesabaran sebuah ujian kehidupan yang akan terus diasah.

Faidah ini adalah yang paling sangat berasa karena hal itu merupakan tes kesabaran yang ada dalam jiwaku. Aku berkaca dalam hatiku bahwa ternyata sabar itu adalah sangat sulit. Kesabaranku diuji saat aku merasa geram ketika pertama kali melihat salah satu sandalku hilang…dan itu adalah pada saat pertama kali datang ujian…apakah seseorang itu bisa bersabar atau tidak.

Simaklah saudaraku nasehat mulia berikut:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ الْعَبْدِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ يَعْنِي ابْنَ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ ثَابِتٍ، قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى»

Imam Muslim berkata, "Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Basysyaar al-Abdi, telah mengabarkan kepada kami (Muhmmad bin Basysyar) Muhammad yaitu Ibn Ja'far, telah mengabarkan kepada kami Syu'bah dari Tsabit, dia berkata, aku telah mendengar Anas bin Malik berkata, Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam bersabda: "Kesabaran itu pada guncangan yang pertama."   Hadits Shohih  (HR. al-Bukhari no. 1302 dan Muslim no. 926 (14))  (sengaja untuk ditulis hadits secara lengkap inSya Allah pada kesempatan yang lain akan kita bahas detail takhrij hadits dan fawaidnya secara lebih detail.) .

Hadits mulia yang lainnya:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَتَى عَلَى امْرَأَةٍ تَبْكِي عَلَى صَبِيٍّ لَهَا، فَقَالَ لَهَا: «اتَّقِي اللهَ وَاصْبِرِي»، فَقَالَتْ: وَمَا تُبَالِي بِمُصِيبَتِي فَلَمَّا ذَهَبَ، قِيلَ لَهَا: إِنَّهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَخَذَهَا مِثْلُ الْمَوْتِ، فَأَتَتْ بَابَهُ، فَلَمْ تَجِدْ عَلَى بَابِهِ بَوَّابِينَ، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ لَمْ أَعْرِفْكَ، فَقَالَ: «إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ أَوَّلِ صَدْمَةٍ»، أَوْ قَالَ: «عِنْدَ أَوَّلِ الصَّدْمَةِ».

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata "Nabi Shallallahu 'alayhi wa Salam berjalan melewati seorang wanita yang menangis di depan sebuah kuburan. Maka beliau berkata kepada wanita itu, "Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah!" Wanita itu menjawab, "Menjauhlah dariku, engkau tidak mengalami musibah yang menimpaku dan engkau tak tahu musibah apa yang menimpaku!" Maka diceritakan kepada wanita tersebut bahwa orang yang menasehatinya adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam. Wanita itu terkejut dan buru-buru mendatangi rumah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam. Ia tidak menemukan penjaga pintu sehingga ia bisa langsung menemui beliau. Wanita itu berkata, "Maafkan saya, wahai Rasulullah, saya tadi belum mengenal Anda." Maka beliau bersabda, "Sesungguhnya kesabaran itu adalah pada saat pertama kali musibah menimpa kita."   Hadits Shohih  (HR. Al-Bukhari no. 1283, 7154 dan Muslim no. 926 (15) lafazh diatas adalah milik Muslim).

Hadits mulia yang lainnya:

عَنْ صُهَيْبٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ»

Dari Shuhaib (Abu Yahya Suhaib bin Sinan), dia berkata, Rasulullah Shallallahu'alahi wassalam bersabda: "Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin ini, bahwa urusannya itu semuanya ada kebaikannya, dan yang demikian itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali oleh orang mukmin, yaitu jika ia mendapatkan kegembiraan ia bersyukur dan itu suatu kebaikan baginya. Dan jika ia mendapat musibah, ia sabar dan itupun suatu kebaikan baginya."   Hadits Shohih  (HR. Muslim no. 2999, Ahmad VI/15-16, ad-Darimi no. 2777).

Hadits tersebut memberikan kepada kita beberapa pelajaran sebagaimana yang tercantum di kitab Bahjatun Nadhirin Syarah Riyadhus Shalihin I/82-83 yaitu :

  • Orang mukmin yang sempurna keimanan dan keyakinannya akan senantiasa bersyukur kepada Allah pada saat merasakan kesenangan dan bersabar atas kesusahan yang menimpanya. Dan dia senantiasa berada pada posisi keridhaan. Oleh karena itu, kesengsaraan yang dialaminya akan menjadi nikmat dan ujian baginya merupakan anugerah, sebab di dalamnya mengandung banyak pahala dan tempat kembali yang baik.
  • Orang kafir senantiasa gelisah dan marah dalam menghadapi musibah, sehingga di dalam dirinya menyatu dua dosa, yaitu ketidakridhaan terhadap ketetapan Rabbnya dan tidak bersabar menjalani takdirnya.
  • Bagaimanapun keadaannya, pahala tidak akan diberikan kepada orang yang tidak beriman.

Setelah sholat traweh sepanjang jalan menuju rumah terbersit dalam hati..."Subhanallah…Allah Maha Penguasa. Apa saja yang ada didunia ini pada hakekatnya adalah kepemilikan yang sementara dan tidak absolut, kenapa engkau harus sedih…gundah…marah-marah…sedangkan yang engkau pakai adalah hanya milikmu sementara…"

Faidah Kesembilan : Kepemilikan yang absolut hanya dimiliki oleh Allah Azza wa Jalla.

Ketahuilah wahai saudaraku, manusia hanya mempunyai hak pakai sementara terhadap apa yang ditanggannya, sedangkan kepemilikan yang sempurna adalah untuk Allah Dzat Yang Maha Kuasa.

Allah berfirman:

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ

" Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. "   (QS. Al-Baqarah : 284, An-Nisaa: 131 & 132)

Ayat yang lainnya:

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا فِيهِنَّ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

" Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu."  (QS. Al-Maidah: 120)

Ayat yang lainnya:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

"Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb Semesta Alam. tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)." (QS. Al-An'aam : 162-163)

Ketika seorang manusia ingat siapa dirinya sesungguhnya dan apa yang ia pakai hanyalah sementara tentunya ia tidak akan merasa gusar atau berat hati apabila apa yang ada ditangannya diambil lagi oleh Dzat Yang Maha Pecipta.

Faidah Kesepuluh: 5 Hal tentang kehidupan dunia

Kehidupan dunia itu hanya permainan, sendau gurau, perhiasan, bermegah-megah dan berbangga-bangga dalam harta dan anak.

Dunia telah memperdaya sebagian penghuninya dengan gemerlap dan kemanisan yang fana. Mata dan otak manusia dibutakan dengan berbagai kemegahannya, termasuk gaya hidup yang "perlente" "necis" "funky". Ada sebagian teman-teman localku di Abu Dhabi …kalau tidak beli sandal merek "MBT" "TAWASH" "NAURAS" maka itu tidak disebut memakai sandal yang betul. Sepasang sandal merek "NAURAS" dan "TAWASH" harga paling murahnya bisa mencapai 1000 Dhs, dengan uang sebesar itu hanya untuk diinjak-injak dan pamer kaki saja….Allahu Musta'an.

Saudaraku yang semoga Allah memberkahimu…simaklah ayat yang mulia berikut:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (QS. Al-Hadiid: 20)

Fenomena dari ayat diatas dialami pula oleh orang-orang "BORJU" (orang kuayaaa sekali) dimana mereka lebih hafal merek barang terkenal daripada nomer surat dalam Al-Quran ataupun ayat-ayat sucinya. Maksudnya disini adalah dikaitkan dengan gaya hidup dan kebiasaan memenuhi hasrat dunia dibandingkan dengan akhiratnya.

Makanya ketika orang "membiasakan diri atau terbiasa" mempunyai barang dengan merek-merek beken, itu akan membuat mereka terpaku dan terjerat untuk senantiasa memburu merek-merek beken itu. Merek beken itu sudah menghiasi otaknya untuk berpola hidup dengannya. Tanpa merek beken itu serasa hidup kurang pas.

Faidah Kesebelas: Hadits tentang Surga dan Neraka dekat dari tali sandal.

Terdapat hadits mulia yang berkaitan dengan sandal yaitu di dalam shohih al-Bukhari sebagai berikut:

حَدَّثَنِي مُوسَى بْنُ مَسْعُودٍ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ مَنْصُورٍ، وَالأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي وَائِلٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ، وَالنَّارُ مِثْلُ ذَلِكَ»

Imam al-Bukhori telah berkata, "Telah mengabarkan kepadaku Musa bin Mas'ud (yaitu Abu Hudzaifah an-Nahdzy), telah mengabarkan kepada kami (Musa bin Mas'ud) Sufyan (ats-Tsaury) dari Mansyur, dan al-A'masy dari Abu Wail dari Abdullah (bin Mas'ud) radhiallahu'anhu, dia berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam, 'Surga itu lebih dekat kepada salah seorang diantara kalian daripada tali sandalnya, dan neraka juga demikian.'"   Hadits Shohih  (HR. al-Bukhari no. 6488).

Al-Hafizh mencantumkan penjelasannya terhadap hadits di atas dalam kitabnya Fathul Bari Syarah Shohih al-Bukhori 14/640 cet. Dar Thoyyibah).

قَالَ بْنُ بَطَّالٍ فِيهِ أَنَّ الطَّاعَةَ مُوصِلَةٌ إِلَى الْجَنَّةِ وَأَنَّ الْمَعْصِيَةَ مُقَرِّبَةٌ إِلَى النَّارِ وَأَنَّ الطَّاعَةَ وَالْمَعْصِيَةَ قَدْ تَكُونُ فِي أَيْسَرِ الْأَشْيَاءِ

Ibnu Baththal rahimahullah berkata, "Di dalamnya (terdapat keterangan), ketaatan mengantarkan kepada surga dan maksiat mendekatkan kepada neraka. Sesungguhnya ketaatan dan kemaksiatan terkadang berupa perkara yang sangat mudah/sepele.

وَتَقَدَّمَ فِي هَذَا الْمَعْنَى قَرِيبًا حَدِيثُ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ الْحَدِيثَ فَيَنْبَغِي لِلْمَرْءِ أَنْ لَا يَزْهَدَ فِي قَلِيلٍ مِنَ الْخَيْرِ أَنْ يَأْتِيَهُ وَلَا فِي قَلِيلٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَجْتَنِبَهُ فَإِنَّهُ لَا يَعْلَمُ الْحَسَنَةَ الَّتِي يَرْحَمُهُ اللَّهُ بِهَا وَلَا السَّيِّئَةَ الَّتِي يَسْخَطُ عَلَيْهِ بِهَا

Dan telah berlalu kandungan makna yang sama dengan hadits tersebut (yaitu hadits al-Bukhori no. 6478) maka selayaknya bagi seseorang untuk tidak meremehkan kebaikan sekecil apapun itu untuk ia kerjakan. Dan tidak boleh juga ia menganggap enteng keburukan sekecil apapun itu untuk ia jauhi. Sebabnya, karena ia tidak tahu kebaikan mana yang benar-benar dirahmati oleh Allah, juga keburukan mana yang benar-benar membuat Allah murka kepadanya.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُنِيرٍ، سَمِعَ أَبَا النَّضْرِ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ يَعْني ابْنَ دِينَارٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ، لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ، لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ»

Imam al-Bukhori berkata: "Telah mengabarkan kepadaku Abdullah bin Munir, dia telah mendengar Abu Nadhr, telah mengabarkan kepada kami Abdrurahman bin Abdillah yaitu Ibnu Dinar dari bapaknya dari Abu Sholih dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu, dari Nabi Shallalllahu'alahi wassalam, ' "Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak terlalu dia pikirkan lalu Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu. Dan ada juga seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka dan tidak pernah dipikirkan bahayanya lalu dia dilemparkan ke dalam jahannam."   Hadits Shohih  (HR. Bukhari no. 6478).

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لاَ يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِى بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِى النَّارِ

"Sesungguhnya seseorang berbicara dengan suatu kalimat yang dia anggap itu tidaklah mengapa (tidak berdosa), padahal karena ucapan itu dia dilemparkan di neraka sejauh 70 tahun perjalanan."   Hadits Shohih  (HR. Ahmad no. 7215 dan at-Tirmidzi no. 2314. Lihat Silsilah Ahaadits Ash-Shohihah no. 540 dan Shohih at-Targhib wat Tarhiib no. 2875).

Oleh karenanya, seseorang tidak boleh meremehkan kebaikan sekecil apapun itu untuk ia kerjakan. Dan juga tak boleh ia meremehkan keburukan sekecil apapun itu untuk ia jauhi. Sebabnya, karena ia tidak tahu kebaikan mana yang benar-benar dirahmati oleh Allah, juga keburukan mana yang benar-benar membuat Allah murka kepadanya.

وَقَالَ بن الْجَوْزِيِّ مَعْنَى الْحَدِيثِ أَنَّ تَحْصِيلَ الْجَنَّةِ سَهْلٌ بِتَصْحِيحِ الْقَصْدِ وَفِعْلِ الطَّاعَةِ وَالنَّارُ كَذَلِكَ بِمُوَافَقَةِ الْهَوَى وَفِعْلِ الْمَعْصِيَةِ

Ibnul Jauzi berkata, "Makna hadits tersebut adalah bahwa mendapatkan surga itu adalah mudah dengan cara pembenaran niat dan perbuatan ketaatan, demikian pula bagi neraka (mudah untuk didapatkan) asal sesuai dengan hawa nafsu dan perbuatan kemaksiyatan." (Selesai nukilan Fathul Bari dengan tambahan hadits lengkapnya).

Syaikh Salim bin Ied al-Hilaly menyebutkan beberapa faidah dari hadits tentang sandal diatas di dalam kitabnya Bahjatun Nadzirin Syarah Riyadhus Shalihin 1/186,

فقه الحديث:

1. الطاعة موصلة إلى الجنة ، و المعصية مقربة إلى النار

2. الطاعة و المعصية قد تكون في أيسر الأشياء ، فينبغي على المرء أن لا يزهد في قليل من الخير أن يأتيه و لا في قليل من الشر أن يجتنبه

3. تحصيل الجنة سهل إذا صح القصد و عملت الصالحات

Fiqih Kandungan Hadits:

  1. Ketaatan dapat mengantar seseorang sampai ke Surga, sedangkan kemaksiyatan dapat mendekatkannya ke Neraka.
  2. Ketaatan dan kemaksiyatan terkadang bisa berada dalam posisi yang paling mudah untuk dikerjakan. Oleh karena itu, seseorang berkewajiban untuk tidak segan-segan mengerjakan kebaikan meski sedikit sekali jumlahnya, dan tidak pula segan untuk menghindari keburukan meski pun keburukan itu kecil.
  3. Mencapai Surga itu mudah jika tujuannya telah benar dan disertai dengan berbagia amalan kebaikan.

Ibnul Jauzi berkata, "Makna hadits tersebut adalah bahwa

mendapatkan surga itu adalah mudah dengan cara pembenaran niat dan perbuatan ketaatan, demikian pula bagi neraka (mudah untuk didapatkan) asal sesuai dengan hawa nafsu dan perbuatan kemaksiyatan."
(Lihat Fathul Bari 11/321) Selesai nukilan Fathul Bari).

Faidah Keduabelas : Pentingnya Bersyukur

Saudaraku, bersyukurlah terhadap apa yang telah Allah berikan kepada kita. Sifat syukur itulah yang akan membunuh angan-angan yang tiada bertepi, Allah berfirman:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (QS. Ibrahim:7)

Seperti seorang yang telah dilimpahkan berbagai nikmat namun dia tidak kunjung puas dan tidak pula bersyukur, sudah mendapat gaji 100 juta masih pengin lagi 200 juta dan setelah mendapatkan 200 juta pun dia masih berpikir untuk bagaimana bisa mendapatkan 1 milyar…

Saudaraku yang semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan kepadamu…camkanlah nasehat agung dari hadits mulia berikut:

حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، عَنْ عَطَاءٍ، قَالَ: سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، يَقُولُ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا، وَلاَ يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ»

"Telah mengabarkan kepada kami (Imam al-Bukhari dan Muslim) Abu 'Ashim, dari Ibnu Juraij dari Atha', dia berkata, aku (Atho') telah mendengar dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma berkata: Saya mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sekiranya anak Adam memiliki harta sebanyak dua bukit, niscaya ia akan mengharapkan untuk mendapatkan bukit yang ketiga, dan tidaklah perut anak Adam itu dipenuhi melainkan dengan tanah, dan Allah menerima taubat siapa saja yang bertaubat."   Hadits Shohih  (HR. Al-Bukhari no. 6436 dan Muslim no. 1737).

Faidah Ketigabelas : Pentingnya Berqana'ah

Berqana'ah adalah merasa cukup dan ridho dengan apa yang telah Allah karuniakan. (lihat Mausu'ah Al-Akhlaq al-Islamiyyah 1/478)

Hal ini sebagaimana sabda Nabi Shallallahu'alahi wassalam:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمُقْرِئُ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي أَيُّوبَ، حَدَّثَنِي شُرَحْبِيلُ وَهُوَ ابْنُ شَرِيكٍ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ»

" Imam Muslim berkata, Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah telah mengabarkan kepada kami Abu Abdirrahman al-Muqri dari Sa'id bin Abi Ayyub, telah mengabarkan kepadaku (Sa'id bin Abi Ayyub) Syurahbiil dan dia adalah Ibnu Syarik dari Abi Abdirrahman al-Hubuli dari Abdillah bin 'Amr bin al-Ash bahwasanya Rasulullah Shallallahu'alahi wassalam, bersabda, "Sungguh beruntung orang yang telah masuk Islam, dan diberi rezki yang cukup, serta Allah qana'ahkan (menjadikannya merasa cukup) dengan apa yang telah Dia berikan padanya."   Hadits Shohih  (HR. Muslim dalam Kitab Zakat no. 1054 (125)).

Nasehat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Hakim bin Hizam radhiallahu'anhu,

يَا حَكِيمُ إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ، فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ كَالَّذِى يَأْكُلُ وَلاَ يَشْبَعُ، الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى

"Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu hijau lagi manis. Barangsiapa yang mencarinya untuk kedermawanan dirinya (tidak tamak dan tidak mengemis), maka harta itu akan memberkahinya. Namun barangsiapa yang mencarinya untuk keserakahan, maka harta itu tidak akan memberkahinya, seperti orang yang makan namun tidak kenyang. Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah."   Hadits Shohih  (HR. Bukhari no. 1472 dan Muslim no. 1035).

Tidak perlu setiap keinginan kita penuhi, apalagi kalo nggak pake sandal merek nike, adidas, atau merek-merek top lainnya maka seakan-akan hidup kurang pas…ada sesuatu yang masih kurang…astaghfirullah…Allahu Musta'an. Ini pun berlaku tidak hanya pada sandal, namun berlaku disetiap lini kehidupan kita, bisa berupa kendaraan, pakaian, benda electronik dan lain-lainnya.

Ketika orang dibutakan dengan hawa nafsu yang mengharuskan terpenuhinya setiap keinginan maka pastilah pemborosan itu akan terjadi, sebagaimana perilaku sebagian orang yang hobbinya "THAWAF di MALL". Kalaupun tidak berbelanja maka mereka telah menyia-nyiakan waktunya untuk melihat hal-hal yang kurang bermanfaat bahkan ada maksiyatnya ("Cuci Mata ala Syaitan"). Hal itu adalah gaya hidupnya yang telah "mendarah daging" ketika ada waktu dan uang serta merta dia langsung bergegas ke MALL dengan celetukan "Kan bosen dirumah terus...NgeMALL yuk..." Allahu Musta'an.

Fenomena tentang qana'ah juga terjadi di daerahku Al-Rahba. Salah satunya yaitu ucapan tetanggaku di al-rahba yang ketika itu ia hanya membeli mobil kia cerato yang baru, ada yang berceletuk kepadanya, "Kenapa nggak sekalian beli toyota atau mercy yang lebih perlente, nanggung amat beli KIA." Dijawab oleh teman tadi, "Yup, aku cukup beli KIA saja karena disamping sudah full option juga harganya lebih irit dan bagiku sudah cukup." Orang yang berceletuk tadi pun diam seribu bahasa tidak dapat berucap apa-apa lagi. Perlu diketahui kalau orang lokal UAE membeli mobil itu harus yang bermerek top seperti Lexus, Land Cruiser, dan yang lainnya hanya minoritas dari mereka yang mau membeli mobil made in korea.

Faidah Keempat belas : Perbanyak Doa.

Faidah ini mengandung keharusan untuk memperbanyak doa sebagaimana berikut:

اللَّهُمَّ جَنِّبْنِيْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ ، وَ الأَهْوَاءِ ، وَ الأَعْمَالِ ، وَ الأَدْوَاءِ

"Ya Allah, jauhkanlah aku dari berbagai kemunkaran akhlaq, hawa nafsu, amal perbuatan dan segala macam penyakit."  Hadits Shohih  (HR. At-Tirmidzi no. 3591, Hakim I/532 dan disepakati oleh Imam adz-Dzahaby, Ibnu Hibban no. 2422 (Mawarid) Lihat Shahih Mawariduz Zham-aan no. 2055 oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany).

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي وَجَهْلِي، وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي هَزْلِي وَجِدِّي وَخَطَايَايَ وَعَمْدِي، وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي

"Ya Allah, berikanlah ampunan kepadaku atas kesalahanku, kebodohanku, juga sikap berlebihanku dalam urusanku, dan segala sesuatu yang Engkau lebih mengetahuinya dariku. Ya Allah, berikanlah ampunan kepadaku atas canda dan keseriusanku, kesalahanku dan kesengajaanku dan semuanya itu ada pada diriku."   Hadits Shohih  (HR. Al-Bukhori no. 6399)

Demikian faidah-faidah yang bisa aku petik dari kisah sandal favoritku…versi yang aku pakai adalah sandal, bisa jadi ada dari saudaraku pembaca mempunyai versi yang lainnya….versi mobil, baju, dan yang lainnya. Pada intinya adalah sekecil apapun yang terjadi pada kehidupan dunia yang fana ini bisa kita ambil pelajaran dan faidah yang sangat banyak lagi luas.

Demikian yang semoga bermanfaat sebagai pengingat dan motivasi bagi penulis dan pembaca sekalian.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Wallaahu a'lam bishshawwaab.

Ar-Rahba, pinggiran Abu Dhabi UAE, di Ramadhan yang akan segera beranjak pergi, dini hari Ahad, 29 Ramadhan 1435 H/27 July 2014.


Abu Kayyisa,

Yang mendamba Ampunan dari Rabb Sang Pencipta Jagad Raya.

 

 

ARSIP ARTIKELs

Kajian Online UAE   

Comments  

 
0 # Hamba Allah 2017-02-17 15:03
جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا

dari hilangnya sepasang sandal yang sejatinya tiada arti, jadi berarti bagi para pencari ridhoNya :)
Reply | Reply with quote | Quote
 

Add comment


Security code
Refresh


Jazakallahu Khoiran