Monday, August 21, 2017
Text Size

NASEHAT MULIA DARI SEORANG PEMBESAR AHLI BAIT

 

NASEHAT MULIA DARI SEORANG PEMBESAR AHLI BAIT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه وبعد

Barakallahu fikum, berikut ini adalah nasehat mulia dari seorang pembesar Ahli Bait yaitu Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib, buyut dari Nabi Shallallahu'alaihi wasallam tentang menimba ilmu syar'I dan akhlaq serta adab menimba ilmu syar'i. Beliau lahir tahun 38 hijriyah dari seorang ibu yang mulia yang bernama Salamah Sufaafah bintu Malik al-Fursi Yazdajirda sebagaimana dijelaskan oleh Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Siyar a'lam An-Nubala 4/386 (Cet. Muassasah ar-Risalah th. 1435 H/2014).

Berikut ini adalah detail dari Nasehat yang mulia dari Buyut Nabi Shallallahu'alaihi wasallam:

البُخَارِيُّ: كَانَ عَلِيُّ بنُ الحُسَيْنِ يَجْلِسُ إِلَى زَيْدِ بنِ أَسْلَمَ، فَكُلِّمَ فِي ذَلِكَ، فَقَالَ: إِنَّمَا يَجْلِسُ الرَّجُلُ إِلَى مَنْ يَنْفَعُه فِي دِيْنِه

Imam adz-Dzahabi dalam kitabnya Siyar Alam an-Nubala (5/316) ketika membahas biografi Zaid bin Aslam menukilkan perkataan Imam al-Bukhori, beliau menuturkan, "Ali bin al-Husain (Buyut dari Nabi Shallallahu'alaihi wasallam, tsiqah tsabat, wafat tahun 93 H) sering duduk di majelisnya Zaid bin Aslam (tqiqah - wafat tahun 136 H, mengajar di Masjid an-Nabawi, berkulit hitam dan budak/berloyal kepada Umar bin al-Khoththob), maka tindakan beliau diperbincangkan orang (karena seorang bangsawan mengunjungi rakyat jelata tanpa ada protocol yang berlaku dikebanyakan orang), Maka Ali bin Husain berkata,

Sesungguhnya seseorang itu akan senantiasa duduk bersama orang yang bisa memberikan kemanfaatan dalam agamanya.

Dan begitu juga dalam kitab yang sama 4/388, Imam ad-Dzahabi menukilkan kisah dan nasehat dari Ali bin al-Husain rahimahullah:

وَعَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بنِ أَرْدَكَ - يُقَالُ: هُوَ أَخُو عَلِيِّ بنِ الحُسَيْنِ لأُمِّهِ - قَالَ: كَانَ عَلِيُّ بنُ الحُسَيْنِ يَدْخُلُ المَسْجِدَ، فَيَشُقُّ النَّاسَ حَتَّى يَجْلِسَ فِي حَلْقَةِ زَيْدِ بنِ أَسْلَمَ. فَقَالَ لَهُ نَافِعُ بنُ جُبَيْرٍ: غَفَرَ اللهُ لَكَ، أَنْتَ سَيِّدُ النَّاسِ، تَأْتِي تَتَخَطَّى حَتَّى تَجْلِسَ مَعَ هَذَا العَبْدِ! فَقَالَ عَلِيُّ بنُ الحُسَيْنِ: العِلْمُ يُبْتَغَى وَيُؤْتَى وَيُطْلَبُ مِنْ حَيْثُ كَانَ

Dari Abdurrahman bin Ardak – dikatakan beliau adalah saudara se-Ibu dengan Ali bin al-Husain, dia berkata, "Ali bin al-Husain masuk mendatangi masjid, beliau membelah kerumunan orang sampai duduk di majelis halaqah ilmu yang diajar oleh Zaid bin Aslam, maka berkatalah Nafi' bin Jubair kepadanya, "Semoga Allah mengampunimu, engkau adalah pemuka manusia, engkau sudi datang berjalan kaki sampai engkau duduk bersama hamba ini (Zaid bin Aslam – budak/orang yang loyal kepada Umar bin al-Khaththab dimana Aslam bapaknya meninggal tahun 90 H merupakan pembantu dari Umar bin al-Khotthob) Maka berkatalah Ali bin al-Husain,

"Ilmu itu dicari, dan didatangi serta diminta dari mana saja (dari orang alim mana saja)"

Dalam penjelasan yang lainnya terdapat nasehat yang senada dengan kisah diatas:

قَالَ نَافِعُ بنُ جُبَيْرٍ لِعَلِيِّ بنِ الحُسَيْنِ: إِنَّكَ تُجَالِسُ أَقْوَاماً دُوْناً! قَالَ: آتِي مَنْ أَنْتَفِعُ بِمُجَالَسَتِهِ فِي دِيْنِي.

Dan berkatalah Nafi' bin Jubair bin Mut'im kepada Ali bin Al-Husain, "Sesungguhnya engkau menghadiri kajian ilmu dari orang-orang rakyat jelata dibawah kedudukanmu, Ali bin Al-Husain berkata, Aku datang kepada orang yang aku dapat mengambil manfaat darinya bagi agamaku. (Siyar Alam an-Nubala 4/388)

 PERTANYAAN YANG TERSIRAT  

Wahai orang-orang yang mengaku mencintai Ahli Bait Nabi Shallallahu'alaihi wasallam :

Dimanakah engkau dengan Nasehat Ali bin Al-Husain?

Apakah engkau hanya mencukupkan dengan omongan-omongan orang yang tidak mempunyai dalil?

Wahai orang-orang yang merasa sebagai pembesar umat :

Masihkah ada dalam dirimu semangat menimba ilmu syar'I ?

Sudikah engkau bergaul dan belajar dari rakyat jelatamu yang alim ?

Wahai orang-orang yang mengaku telah merdeka :

Dimana kah engkau dengan kemudahan dan limpahan rezki dalam menimba ilmu syar'i ?

Semuanya ada dihadapanmu namun engkau masih bimbang melangkahkan kakimu untuk mendatangi majelis ilmu?

  Fawaid dari Nasehat diatas adalah:  

1. Hendaknya orang yang diberikan kelebihan oleh Allah berupa nasab, harta dan kedudukan dunia tetap harus bersemangat menuntut ilmu.

2. Hendaknya orang yang ingin mendapatkan ilmu syar'i mendatangi majelis ilmu bukan sebaliknya "Ilmu yang disuruh datang kepadanya" maksudnya bukan "Sang Ustadz/Pengajar yang diminta untuk datang tapi orang yang ingin mendapatkan ilmu harus mendatangi majelis ilmu dan tidak ada kata "INSTANT" dalam menuntut ilmu sya'ri - harus dengan perjuangan dan kesabaran.

3. Hendaknya orang yang ingin mendapatkan ilmu memilih untuk duduk dan belajar dari orang alim yang dapat memberikan dia ilmu yang bermanfaat dan bukan hanya sendau gurau serta berucap tanpa dalil dan bukan pula belajar dari orang yang hanya bisa bersilat lidah dengan bahasa yang aduhai menghanyutkan hati namun tidak satupun dari ucapannya disertai dalil yang shohih lagi jelas keilmiyahannya.

4. Hendaknya orang yang ingin mendapatkan ilmu syar'i mencurahkan semua apa yang dia punyai dalam rangka memudahkannya dalam mendapatkan ilmu syar'I sebagaimana yang dilakukan oleh Ali bin al-Husain rahimahullah ketika beliau bersusah payah mendatangi majelisnya Zaid bin Aslam.

5. Hendaknya orang yang ingin mendapatkan ilmu tidak mempedulikan rasa malu dan sombong yang terkadang terbersit sebagai was-was dari Syaitan yang ingin senantiasa menghalanginya dari menuntut ilmu syar'i.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Wallaahu a'lam bishshawwaab.

Abu Kayyisa,

Dubai yang mulai dingin menusuk, Kamis, 3 Rabiul Awal 1436 H/25 Desember 2014.

 

 

Add comment


Security code
Refresh


Jazakallahu Khoiran