Monday, August 21, 2017
Text Size

KLARIFIKASI NUKILAN TENTANG LAMARAN

 

KLARIFIKASI NUKILAN TENTANG LAMARAN !

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه وبعد

Barakallahu fiikum, saudaraku...semoga Keberkahan senantiasa Allah curahkan kepadamu...

 PERTANYAAN:

Bismillah, ana ingin bertanya tentang penjelasan hadist tersebut dibawah : "Jika seorang pria melamar seorang wanita, hendaklah menanyakan kecantikannya lebih dahulu, jika wajahnya cantik baru dia tanyakan tentang agamanya, kalau agamanya baik hendaklah dia menikahinya, kalau tidak baik maka dia menolak karena sebab agamanya. Dan jangan sampai dia menanyakan agamanya terlebih dahulu, kalau baik baru menanyakan kecantikannya, lalu kalau ternyata dia tidak cantik dia tolak, sehingga menolaknya karena si wanita tidak cantik, bukan disebabkan karena agamanya yang kurang baik." (Al-Inshaaf, 12/206) Imam Ahmad bin Hambal)

 JAWAB:

 PERTAMA   ...itu perkataan Imam Ahmad BUKAN hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam

 KEDUA  ...Lengkap nukilan nya adalah sebagai berikut:

الإنصاف في معرفة الراجح من الخلاف 8/19

Dinukil dari kitab Al-Inshoof fi Ma'rifatir Raajih minal Khilaaf 8/19 oleh Al Mardaawi rahimahullah cet. Daar Ihya at-Turaats:

مُقْتَضَى قَوْلِهِ " وَيَجُوزُ لِمَنْ أَرَادَ خِطْبَةَ امْرَأَةٍ " أَنَّ مَحِلَّ النَّظَرِ قَبْلَ الْخِطْبَةِ. وَهُوَ صَحِيحٌ. قَالَ الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّينِ - رَحِمَهُ اللَّهُ -: وَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ النَّظَرُ بَعْدَ الْعَزْمِ عَلَى نِكَاحِهَا وَقَبْلَ الْخِطْبَةِ.

Apa yang menjadi konsekuensi dari ucapannya (penulis kitab al-Inshof yaitu Al-Mardaawi rahimahullah wafat th 885 H) "Bolehnya bagi orang yang ingin melamar seorang perempuan" untuk melakukan "Nadhor" melihat perempuan sebelum proses pelamaran dan itu shohih. Telah berkata Syaikh Taqiyuddin – rahimahullah (Yaitu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah wafat th. 728 H) : Dan selayaknya proses Nadhor itu boleh dilakukan apabila setelah ada niat kuat dari seorang lelaki untuk menikahi seorang wanita dan (dilakukan) sebelum proses pelamaran.

فَائِدَتَانِ

Disini ada DUA FAIDAH:

إحْدَاهُمَا: قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ - رَحِمَهُ اللَّهُ -: إذَا خَطَبَ رَجُلٌ امْرَأَةً سَأَلَ عَنْ جَمَالِهَا أَوَّلًا. فَإِنْ حُمِدَ: سَأَلَ عَنْ دِينِهَا. فَإِنْ حُمِدَ: تَزَوَّجَ، وَإِنْ لَمْ يُحْمَدْ: يَكُونُ رَدُّهُ لِأَجْلِ الدِّينِ. وَلَا يَسْأَلُ أَوَّلًا عَنْ الدِّينِ، فَإِنْ حُمِدَ سَأَلَ عَنْ الْجَمَالِ. فَإِنْ لَمْ يُحْمَدْ رَدَّهَا. فَيَكُونُ رَدُّهُ لِلْجَمَالِ لَا لِلدِّينِ.

Salah satunya adalah – Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah (wafat th 241 H) berkata : Apabila seorang laki-laki melamar perempuan disebabkan karena faktor pertama adalah kecantikannya maka apabila diperkenankan (sesuai dengan yang diharapkan) maka dia bertanya tentang agamanya (agama perempuan tersebut) apabila diperkenankan (sesuai dengan harapannya) maka (lanjut) ke pernikahan namun apabila tidak berkenan (tidak sesuai dengan yang diharapkan dari agamanya) maka (hendaknya) penolakkan dari laki-laki tersebut disebabkan karena faktor agama. Dan janganlah pertama kali bertanya tentang agama maka apabila diperkenankan (sesuai dengan harapannya) bertanyalah tentang kecantikannya namun apabila tidak sesuai dengan harapannya maka penolakkannya itu karena kecantikannya bukan karena sebab agamanya.

Dan makna hadits diatas adalah:

الثَّانِيَةُ: قَالَ ابْنُ الْجَوْزِيِّ: وَمَنْ اُبْتُلِيَ بِالْهَوَى، فَأَرَادَ التَّزَوُّجَ: فَلْيَجْتَهِدْ فِي نِكَاحِ الَّتِي اُبْتُلِيَ بِهَا، إنْ صَحَّ ذَلِكَ وَجَازَ، وَإِلَّا فَلْيَتَخَيَّرْ مَا يَظُنُّهُ مِثْلَهَا.ِ

Kedua: Telah berkata Ibnul Jauzy rahimahullah (wafat th 597 H):

Dan barangsiapa yang ditimpa keinginan untuk menikah karena sebab hawa nafsu (terhadap seorang wanita yang diinginkanya) dan ia ingin menikah maka bersungguh-sungguhlah untuk dapat menikah dengan wanita yang diinginkannya apabila benar yang demikian (sesuai agamanya) maka boleh baginya untuk menikah namun apabila tidak bisa menikahi dengan tipe wanita yang diinginkannya maka pilihlah wanita yang setipe dengan apa yang semisal dengannya menurut zhonnya.

 KETIGA   Hendaknya kita berhati-hati dalam mengambil dan menukil dari MEDSOS ataupun WEBSITE apa saja yang berkaitan dengan agama Islam.

Maksudnya adalah ketika COPY PASTE hendaknya kita me-recheck dan mengkonfirmasikan kepada ulama yang faham tentang nukilan tersebut. Karena menyebarkan nukilan yang tidak benar alias dusta apalagi itu dinisbatkan kepada Nabi Shallallahu'alaihi wasallam maka itu termasuk kepada ancaman hadits berikut:

وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنُ نُمَيْرٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عُبَيْدٍ، حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ رَبِيعَةَ، قَالَ: أَتَيْتُ الْمَسْجِدَ وَالْمُغِيرَةُ أَمِيرُ الْكُوفَةِ، قَالَ: فَقَالَ الْمُغِيرَةُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ، فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ»

"Imam Muslim (wafat 261 H) berkata, telah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Abdullah bin Numair (الهمدانيAl-Hamadani wafat th. 234 H, Tsiqah Hafizh (Terpercaya lagi banyak hafalannya)) telah menceritakan kepada kami Bappakku (Abdullah bin Numair, wafat th. 199 H, Tsiqah/terpecaya, ahli Hadits dari Ahlus Sunnah) telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Ubaid (At-Thoiy, tsiqah (terpercaya)) telah menceritakan kepada kami Ali bin Rabi'ah (Al-Waalibiy الوالبي tsiqah/terpercaya), dia berkata, "Aku mendatangi masjid sedangkan al-Mughiroh (bin Syu'bah ats-Tsaqafi radhiallahu'ahu, wafat 50 H), Gubernur Kufah, ia berkata "Lalu al-Mughirah berkata, 'Saya mendengar Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersabda,

Sesungguhnya berdusta atas namaku tidak lah sama dengan berdusta atas nama seseorang, barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja maka hendaklah dia menempati tempat duduknya dari neraka."
 SHOHIH   (HR. Al-Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 4).

 FAWAID YANG BISA DIAMBIL : 

Allahu A'lam

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Wallaahu a'lam bishshawwaab.

Abu Kayyisa,

Dubai UAE - Menyongsong Sore di ketinggian Temaram Dubai, Ahad, 6 Sya'ban 1436 H/24 Mei 2015.

 

 

 

ARSIP ARTIKELs

Kajian Online UAE   

Add comment


Security code
Refresh


Jazakallahu Khoiran