Tuesday, November 21, 2017
Text Size

MENDULANG HIKMAH MULIA DIBALIK PHK

 

MENDULANG HIKMAH MULIA DIBALIK PHK – I GOT FIRED FROM MY JOB -

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه وبعد

Barakallahu fikum, semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan bagi antum sekalian. Saudaraku...Tahun 2008 silam alhamdulillah saya pernah mengalami PHK, dan ternyata banyak hikmah yang bisa didulang dari kejadian dibalik PHK tersebut. Berikut ini adalah beberapa hikmah dibalik PHK terlebih yang SEDANG MARAK di negeri arab, akibat harga minyak bumi turun.

 1. SADARILAH BAHWA ALLAH ADALAH DZAT YANG MAHA PEMBERI REZKI: 

Sesungguhnya Allah adalah satu-satunya Dzat Yang Maha Pemberi Rezeki, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam hal itu. Dan itu adalah sebagai salah satu bentuk tauhid yang harus kita Imani. Tidak ada yang berserikat dengan Allah dalam memberi rezeki. Oleh karena itu, tidak pantas Allah disekutukan dalam ibadah, tidak pantas Allah disembah dan diduakan dengan selain-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ

“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah Pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi ? Tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah; maka mengapakah engkau bisa berpaling (dari perintah beribadah kepada Allah semata)?” (QS. Fathir: 3)

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ

"Katakanlah: "Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?" Katakanlah: "Allah." (QS. Saba': 24)

Selain Allah sama sekali TIDAK DAPAT MEMBERI REZEKI. Allah Ta'ala berfirman,

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَمْلِكُ لَهُمْ رِزْقًا مِنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ شَيْئًا وَلَا يَسْتَطِيعُونَ

"Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberikan rezki kepada mereka sedikitpun dari langit dan bumi, dan tidak berkuasa (sedikit juapun)." (QS. An Nahl: 73)

Seandainya Allah menahan rezeki manusia, maka tidak ada selain-Nya yang dapat membuka pintu rezeki tersebut. Allah Ta'ala berfirman,

مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمَُ

"Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Fathir: 2).

Semoga semua ayat-ayat diatas meyakinkan kita tentang siapakah yang memberikan rezeki kepada kita selama ini. Tentu saja, perusahaan tempat kita bekerja adalah wasilah saja alias sarana untuk mendapatkan rezeki dari Allah tersebut. Ironisnya sering kita terpukau dengan "Sarana" dan melupakan "Dzat Maha Pemberi Rezeki" .

 2. SADARILAH REZEKI ITU SUDAH DIATUR DAN PASTI ADIL  

Allah Ta'ala berfirman,

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ

"Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat." (QS. Asy Syuraa: 27)

Ibnu Katsir rahimahullah (wafat tahun 774 H) menjelaskan lafazh ayat,

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ

Tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat

أَيْ: وَلَكِنْ يَرْزُقُهُمْ مِنَ الرِّزْقِ مَا يَخْتَارُهُ مِمَّا فِيهِ صَلَاحُهُمْ، وَهُوَ أَعْلَمُ بِذَلِكَ فَيُغْنِي مَنْ يَسْتَحِقُّ الْغِنَى، وَيُفْقِرُ مَنْ يَسْتَحِقُّ الْفَقْرَ

Yaitu "Allah memberi rezeki pada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah selalu melihat manakah yang maslahat untuk mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya." (Tafsir Al Qur'an Al 'Azhim, 7/206 cet. Daar Thoyyibah th. 1420 H)

Rezeki kita sudah diatur dan sudah ditentukan, namun kita diwajibkan untuk berikhtiar dan berusaha. Tak perlu khawatir akan rezeki sehingga ketika rezeki datang maka imanpun bertambah tapi ketika rezeki tak kunjung datang maka imanpun ngedrop drastis. Maka selayaknya bagi kita untuk menggantungkan semua harapan hanya kepada Allah Dzat Yang Maha Pemberi Rezeki.

 3. SADARILAH KETETAPAN REZEKI ITU SUDAH ADA SEJAK SEBELUM LAHIR  

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

"Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi."  SHOHIH   (HR. Muslim no. 2653, dari 'Abdullah bin 'Amr bin Al 'Ash)

Dalam hadits lainnya disebutkan,

إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ اكْتُبْ. فَقَالَ مَا أَكْتُبُ قَالَ اكْتُبِ الْقَدَرَ مَا كَانَ وَمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى الأَبَدِ

"Sesungguhnya awal yang Allah ciptakan (setelah 'arsy, air dan angin) adalah qalam (pena), kemudian Allah berfirman, "Tulislah". Pena berkata, "Apa yang harus aku tulis". Allah berfirman, "Tulislah takdir berbagai kejadian dan yang terjadi selamanya."  SHOHIH   (HR. At-Tirmidzi no. 2155, Abu Dawud at-Thoyalisy dalam Musnadnya no. 578, juga Abu Dawud no. 4700, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih, lihat Silsilah Ahaadits as-Shohih no. 133)

Saudaraku, janganlah sedih dan galau…rezeki Allah itu begitu luas dan melimpah…dan itu bukanlah milik absolut "perusahaan tempat kita bekerja" tapi itu adalah sebagai sarana saja untuk mendapatkan rezeki dari Allah Azza wa Jalla.

Yakinlah satu ladang rezeki ditutup masih banyak ladang rezeki lain yang bisa digarap InSya Allah.

 4. SADARILAH TEMPAT MEMINTA DAN BERGANTUNG HANYA KEPADA ALLAH  

Saudaraku…kecewa, gundah dan galau itu wajar namun kalau berlarut larut maka itu menjadi tidak wajar. Terlebih ketika kecewa dan gundah setelah mendapatkan PHK dari perusahaan.,

Tidakkah kita hafal ayat 2 dari surat Al-Ikhlas:

اللَّهُ الصَّمَدُ

"Allah adalah Rabb yang bergantung kepada-Nya segala urusan."

Mengenai penjelasan dari ayat tersebut Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsirnya 8/528 menukilkan pendapat Ibnu Abbas radhillahu'anhuma,

يَعْنِي الَّذِي يَصْمُدُ الْخَلَائِقُ إِلَيْهِ فِي حَوَائِجِهِمْ وَمَسَائِلِهِمْ

"Yakni Rabb yag bergantung kepada-Nya semua makhluk dalam memenuhi segala kebutuhan dan permintaan mereka." (end nukilan)

Dengan demikian, tidak pantas bagi seorang Muslim berharap kepada selain Allah. Karena jika itu terjadi, maka sungguh ia telah melupakan ayat Allah dan lebih jauh dari itu, ia telah membawa hidupnya sendiri pada kehinaan dan kesengsaraan.

Hal itu karena Allah adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلاَّ مَاكَتَبَ اللهُ لَنَا هُوَ مَوْلاَنَا وَعَلَى اللهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

"Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal." (QS. At Taubah:51)

Masih ingatkah dulu ketika masih di perusahaan lama…terkadang energy untuk mencari rezeki begitu overload, bahkan begadang malam hanya untuk mendapatkan apresiasi penghargaan dari “Sang Bos ataupun Manager” tapi melalaikan hak dari Al-Khaliq Dzat Yang Maha Pemberi Rezeki. Sholat pun sering bolong tidak tepat waktu gara-gara meeting dengan “Sang Bos”.

Itulah ketika kita berharap kepada “Sang Bos Manusia nan lemah” seringkali kita bersemangat sekali dengan “GAJI DI DEPAN MATA” namun tidak bersemangat alias malas dengan “GAJI YANG KASAT MATA” (baca: pahala di akhirat kelak) . Sama juga ketika kita diminta untuk membaca Al-Quran, menghadiri kajian Ilmu, melakukan sholat malam itu semua sering kita “SKIP” alias “Lewat” karena kesibukan mengharap apresiasi dari “Sang Bos Manusia nan Lemah”

Minta kepada manusia maka apa yang dia punyai akan berkurang, ketika sering meminta kepada manusia maka manusia akan bosan dan tidak menggubris permintaannya. Sebaliknya meminta kepada Allah adalah dianjurkan sekali.

Seandainya semua makhluk meminta pada Allah, Dia akan memberikan pada mereka dan itu sama sekali tidak akan mengurangi kerajaan-Nya sedikit pun juga. Dalam hadits qudsi disebutkan, Allah Ta'ala berfirman,

يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِى صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِى فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِى إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ

"Wahai hamba-Ku, seandainya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang belakangan serta semua jin dan manusia berdiri di atas bukit untuk memohon kepada-Ku, kemudian masing-masing Aku penuh permintaannya, maka hal itu tidak akan mengurangi kekuasaan yang ada di sisi-Ku, melainkan hanya seperti benang yang menyerap air ketika dimasukkan ke dalam lautan."  SHOHIH   (HR. Muslim no. 2577 (55), dari Abu Dzar Al Ghifari radhiallahu'anhu)

Dalam hadits yang shohih, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ قَالَ لِي: أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ " وَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «يَمِينُ اللهِ مَلْأَى لَا يَغِيضُهَا سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ، أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُذْ خَلَقَ السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِي يَمِينِهِ»

"Allah Ta'ala berfirman padaku, 'Berinfaklah kamu, niscaya Aku akan berinfak (memberikan ganti) kepadamu.' Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Pemberian Allah selalu cukup, dan tidak pernah berkurang walaupun mengalir siang dan malam. Adakah terpikir olehmu, sudah berapa banyakkah yang diberikan Allah sejak terciptanya langit dan bumi? Sesungguhnya apa yang ada di Tangan Allah, tidak pernah berkurang karenanya."  SHOHIH   (HR. Al-Bukhari no. 4684 dan Muslim no. 993 (37) dan lafazhnya milik Muslim)

 5. SADARILAH REZEKI DAN BAROKAH BISA HILANG KARENA DOSA & MAKSIYAT  

Ketahuilah saudaraku yang semoga Allah senantiasa melimpahkan rezeki-Nya kepadaku dan kepadamu, rezeki itu bisa berkurang dan hilang barokahnya karena dosa dan maksiyat. Mungkin saja hartanya banyak, namun hilang barokah atau kebaikannya. Karena rezeki dari Allah tentu saja diperoleh dengan ketaatan. Allah Ta'ala berfirman,

ظَهَرَ الفَسَادُ فِي البَرِّ وَالبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar Rum: 41).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan makna lafazh:

ظَهَرَ الفَسَادُ فِي البَرِّ وَالبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia,

أَيْ: بَانَ النَّقْصُ فِي الثِّمَارِ وَالزُّرُوعِ بِسَبَبِ الْمَعَاصِي

Yaitu: berkurangnya buah-buahan dan pertanian disebabkan kemaksiyatan. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 6/320)

Bisa jadi PHK itu adalah nasehat indah agar kita menjauhkan diri dari kemaksiyatan dan bersemangat untuk melakukan ketaatan kepada Allah.

Dan janganlah mengira bahwa ada orang yang banyak kemaksiyatan tapi tidak kena PHK maka hal tersebut adalah bentuk “Istidroj” penguluran – penangguhan yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya yang berbuat kemaksiyatan dengan cara setiap dia melakukan kemaksiyatan masih saja diberikan kepadanya berbagai nikmat dan diapun tidak memohon ampun sehingga kelak akan mendapatkan adzab yang sangat pedih. (Lihat Faidhul Qadhiir Syarh al-Jaami’ as-Shoghiir 1/354)

Allah Azza wa Jalla berfirman:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An’aam: 44)

Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah (wafat tahun 1376 H). menjelaskan ayat tersebut:

{فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ} مِنَ الدُّنْياَ وَلِذَاتِهَا وَغَفْلاَتِهَا. {حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ} أَيْ: آيِسُوْنَ مِنْ كُلِّ خَيْرٍ، وَهَذَا أَشَدُّ مَا يَكُوْنُ مِنَ العَذَابِ، أَنْ يُؤْخَذُوا عَلَى غِرَّةٍ، وَغَفْلَةٍ وَطُمَأْنِينَةٍ، لِيَكُونَ أَشَدَّ لِعُقُوبَتِهِمْ، وأَعْظَمَ لِمُصِيْبَتِهِمْ.

{“Ketika mereka melupakan peringatan Allah yang diberikan pada mereka, maka dibukakanlah semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka} dari pintu kesenangan dunia dan kelezatannya, mereka pun lalai. {sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa} yaitu Mereka pun berputus asa dari berbagai kebaikan. Seperti itu lebih berat siksanya. Mereka terbuai, lalai, dan merasa tenang dengan keadaan dunia mereka. Namun itu sebenarnya lebih berat hukumannya dan jadi musibah yang sangat besar.” (Lihat Taisir al-Kariim ar-Rahman fi Tafsir Kalaam al-Manaan, hal. 256, cet. Muassassah ar-Risalah 1420 H).

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:,

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ

“Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (penangguhan yang hakekatnya adalah berupa nikmat yang disegerakan walau bergelimang kemaksiyatan lalu diadzab dengan adzab yang sangat pedih) dari Allah.”  SHOHIH   (HR. Ahmad no. 17311, at-Thobroni dalam Al-Mu’jam al-Kabiir no. 913. Shohih, Lihat Silsilah Ahaadits as-Shohihah no. 413).

 6. BISA JADI PHK ITU ADALAH NASEHAT MULIA AGAR KITA LEBIH BERBAKTI KEPADA ORANG TUA.  

Lama tinggal di negeri orang ataupun di tempat yang jauh dari orang tua, terkadang kita "MALAS" bahkan "ENGGAN" untuk menjenguk orang tua yang sudah mulai renta dan yang selalu merindu kapan sang anak kesayangannya bisa pulang menjenguknya, mendekapnya, menciumnya, mengobati kerinduan yang menghujam perih dalam kesendirian.

Bahkan ketika kita dalam keadaan "Sukses" dunia (baca: serba kecukupan bahkan lebih) jarang dan bakhil untuk menelpon orang tua bahkan berkirim pesan sms/whatsapp pun tidak.

Bisa jadi guratan kerinduan kedua orang tua yang menagih "jengukkan" sang anak kesayangannya diijabahi Allah, sehingga dengan di PHK itu sang anak menjadi sadar bahwa tempat balik yang diimpikan oleh kedua orang tuanya adalah dalam pangkuannya dan pelukannya.

Bisa jadi PHK itu membuat kita sadar bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah kunci penting setiap limpahan rezeki yang dimudahkan oleh Allah kepada kita:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : ( مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ )

Dari Anas bin Malik radhiallahu'anhu, dia berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa yang suka diluaskan rezeki dan dipanjangkan umur maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi"  SHOHIH   [HR. Al-Bukhari no. 2067 dan Muslim no. 2557 ]

Dalam silaturahmi, yang harus didahulukan silaturahmi kepada kedua orang tua sebelum kepada yang lain. Banyak diantara saudara-saudara kita yang sering ziarah berkunjung kepada teman-temannya tetapi kepada orang tua sendiri jarang bahkan tidak pernah. Padahal ketika masih kecil dia selalu bersama ibu dan bapaknya. Tapi setelah tumbuh dewasa, seakan-akan dia tidak pernah berkumpul bahkan tidak kenal dengan kedua orang tuanya. Sesulit apapun harus tetap diusahakan untuk bersilaturahmi kepada kedua orang tua bahkan hanya dengan telpon, email, sms/wa.

Simak lagi penjelasan hadits lainnya yang lebih detail dan menjabarkan hadits diatas: Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُمَدَّ لَهُ فِي عُمْرِهِ وَأَنْ يُزَادَ لَهُ فِي رِزْقِهِ فَلْيَبَرَّ وَالِدَيْهِ وَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

"Siapa yang suka untuk dipanjangkan umur dan ditambahkan rezeki, maka berbaktilah pada orang tua dan sambunglah tali silaturahmi (dengan kerabat)."  SHOHIH   (HR. Ahmad no. 13401, Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 2488 mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirihi)

 7. BISA JADI DENGAN PHK – KITA BISA MELURUSKAN NIAT IKHLAS BEKERJA KARENA ALLAH BUKAN KARENA INGIN MENUMPUK GUNUNG EMAS.  

Dulu sebelum pindah ke perusahaan "Bonafit" di Timur Tengah, sering ada komen dari teman-teman yang dimudahkan untuk bekerja di perusahaan tersebut, "Saya kerja disini ga lama kok mas, paling maksimal 5 tahun terus pensiun dini…setelah usaha saya di Indonesia mapan." Ada juga yang berkomen, "Saya hitung-hitung dengan gaji saya sekarang, 4 tahun kerja bisa beli apartement di Jakarta." Angan-angan dan impian itu bisa jadi yang menjadi "Bumerang" kepada orang-orang tersebut yang kelihatannya "mapan, perlente, dan matang ekonominya" namun kenapa jarang ada yang berkomen sejak sebelum pergi ke Timur Tengah, "InSya Allah kalo saya keterima kerja disana, saya mau belajar Bahasa arab, pergi haji dan umroh, serta bangun masjid di Indonesia." Dan perbedaan itu jelas sekali …mari simak hadits berikut, Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersabda:.

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ، فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ، جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ

"Barangiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya/cita-citanya maka Allah akan mencerai beraikan urusannya, dan menjadikan kefakiran di pelupuk matanya, dan dunia tidak akan datang kepadanya melainkan apa yang telah ditakdirkan baginya. Dan barangsiapa yang akhirat menjadi tujuannya/cita-citanya maka Allah akan menggabungkan urusannya, dan menjadikan berkecukupan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan tunduk."  SHOHIH   (HR. Ibnu Majah, no. 4105 dan dishahihkan oleh Imam Al-Albani dalam Silsilah Ahadits as-Shohiihah, no. 950)

Ada pula yang menyesalinya dengan komen seperti:

Dikala "Kaya lagi Sukses penuh keemasan dulu" waktuku hanya dipake untuk "Jadwal Reguler Harian" yaitu dari Kasur – tempat kerja – meja makan – nonton tv – Kasur lagi, bahkan aku punya "Jadwal Reguler Tiap Pekan" yaitu – ketika hari libur, Tawaf di MALL – restoran – olah raga – piknik di taman – atau main di Pantai bahkan di Gurun nyate bareng teman. Tak pernah dibenakku untuk belajar Bahasa arab bahkan memperbaiki bacaan al-Quran karena bagiku itu semua adalah kegiatan orang-orang alim saja sedangkan aku adalah seorang muslim yang "Moderat lagi Moderen".

Saudaraku yang semoga Allah senantiasa melimpahkan rezki-Nya yang begitu luas kepadaku dan kepadamu.

Dari hadits di atas banyak yang bisa kita ambil hikmahnya yaitu salah satunya adalah ketika kita berniat untuk bekerja keluar negeri atau ke suatu tempat maka niatkan lah agar kita dengan pekerjaan tersebut dapat lebih bertaqwa kepada Allah, lebih baik lagi ibadah kita. Jangan sampai "hanya NGOYO" mengejar dunia dan dunia yang fana lagi menipu.

Berapa banyak orang yang diberikan kemudahan rezekinya karena niatnya untuk akhirat bukan untuk dunianya. Dan berapa banyak orang yang di"SULITKAN" rezekinya karena niatnya hanya untuk dunia.

Dari Ibnu 'Abbas, ia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا ، وَلاَ يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

"Seandainya manusia diberi dua lembah berisi harta, tentu ia masih menginginkan lembah yang ketiga. Yang bisa memenuhi dalam perut manusia hanyalah tanah. Allah tentu akan menerima taubat bagi siapa saja yang ingin bertaubat."  SHOHIH   (HR. Al-Bukhari no. 6436, Ahmad no. 21111)

Saudaraku…ingatlah

SESUNGGUHNYA KEKAYAAN YANG HAKIKI ITU ADALAH KEKAYAAN HATI
: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

"Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup."  SHOHIH   (HR. Al-Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051).

Imam Al-Bukhari rahimahullah (wafat tahun 256 H) membawakan hadits ini dalam kitab Shohihnya:

بَابُ الغِنَى غِنَى النَّفْسِ

"Bab Kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan hati (hati yang selalu merasa cukup)."

Dan penamaan judul bab di Shohih al-Bukhori adalah mencerminkan pemahaman fiqih yang dipegang oleh Imam Al-Bukhori rahimahullah.

 8. BISA JADI DENGAN DI PHK, IMAN KITA MENJADI LEBIH BAIK LAGI DAN BERTAMBAH SYUKUR KITA KEPADA ALLAH AZZA WA JALLA  

Terkadang kita susah untuk merasakan adanya limpahan nikmat bahkan terkadang kufur mengingkari berbagai limpahan nikmat Allah. Nikmat itu baru terasa manakala nikmat itu dicabut dari genggaman kita.

Dari Shuhaib radhiallahu'anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

"Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya."  SHOHIH   (HR. Muslim, no. 2999 (64) dan Ibnu Hibban no. 2896)

Imam Al-Munawi rahimahullah (wafat tahun 1031 H) berkata dalam Faidhul Qadir Syarh al-Jami' as-Shoghiir 4/302 ,

إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ (وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ) وَلَيْسَ ذَلِكَ لِلْكَافِرِينَ وَلاَ لِلْمُنَافِقِينَ ثُمَّ بَيَّن وَجْهَه العَجَب بِقَوْلِهِ (إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ) كَصِحَّةٍ وَسَلاَمَةٍ وَمَالٍ وجَاه (شَكَرَ) اللهَ عَلَى مَا أعْطَاهُ (وكَانَ خَيْرًا لَهُ) فإنه يُكْتَبُ فِي دِيْواَنِ الشَاكِرِين (وإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ) كَمُصِيبَةٍ (صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ) فَإِنَّهُ يُصِيرُ مِنْ أَحْزاَبِ الصَابِرِين الَّذِين أَثْنىَ اللهُ عَلَيْهِم فِي كِتَابِهِ الـمُبِين

"Keadaan seorang mukmin semuanya itu baik. Hanya didapati hal ini pada seorang mukmin. Seperti itu tidak ditemukan pada orang kafir maupun munafik. Kemudian dijelaskan keajaibannya dengan sabdanya ketika ia diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta dan kedudukan, maka ia bersyukur pada Allah atas karunia tersebut. Maka Ia akan dicatat termasuk orang yang bersyukur. Ketika ia ditimpa kesulitan seperti musibah, ia bersabar. Ia akan dicatat termasuk orang yang bersabar yang Allah memuji mereka di Kitab-Nya al-Mubiin. (end nukilan)

Oleh karenanya, selama seseorang itu dibebani syari'at, maka jalan kebaikan selalu terbuka untuknya. Sehingga seorang hamba yang beriman itu berada di antara mendapatkan nikmat yang ia diperintahkan untuk mensyukurinya dan musibah yang ia diperintahkan untuk bersabar.

Dan itupun merupakan tolok ukur, ketika seorang mendapatkan nikmat lalu dia "Gembira sekali" (baca: seneng bangeet) dan ketika dia mendapatkan cobaan berupa musibah lalu dia merasa "Sedih banget" maka itu adalah bukti bahwa imannya belum "Kokoh" alias masih mudah diombang-ambingkan. Ketika sedih dia bersabar dan ketika dia senang dia bersyukur serta kedua penampakan itu tidak berbeda jauh maka saat itulah iman itu telah menghujam "kokoh" dalam dirinya.

 9. BISA JADI DI PHK KARENA ALLAH AKAN MENGGANTIKANNYA DENGAN YANG LEBIH BAIK 

Sekiranya telah berusaha ikhlas bekerja karena Allah dan niatnya bukan karena dunia semata, senantiasa melakukan kewajibannya sebagai hamba Allah namun ternyata Allah mentaqdirkan kena PHK maka sekurang-kurangnya bisa diambil dua kondisi,

Hal itu terkandung dalam hadits shohih berikut, Rasulullah Shallallahu'alahi wasallam bersabda:

Dari Shuhaib radhiallahu'anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

" إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا لِلَّهِ إِلَّا بَدَّلَكَ اللهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

"Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah azza wa jalla kecuali Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya"  SHOHIH   (HR. Ahmad no. 23074, shohih sebagaimana dishohihkan oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ahaadits Ash-Shohihah 2/732 dan disebutkan juga di Adh Dho'ifah sebagai keterangan ketika membahas hadits no. 5 jilid 1 hal 62)

Oleh karena itu Oleh karena itu DIANJURKAN BERDOA KETIKA MENDAPAT MUSIBAH sebagaimana keterangan berikut:

sebagaimana keterangan berikut:

Dari Ummu Salamah Radhiyallahu 'Anha, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ، فَيَقُولُ: {إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ} [البقرة: 156]، اللهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا أَجَرَهُ اللهُ فِي مُصِيبَتِهِ، وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا "، قَالَتْ: فَلَمَّا تُوُفِّيَ أَبُو سَلَمَةَ، قُلْتُ: كَمَا أَمَرَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَخْلَفَ اللهُ لِي خَيْرًا مِنْهُ، رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

"Tidak ada seorang muslim pun yang ditimpa musibah, lalu ia mengucapkan seperti apa yang telah Allah perintahkan:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتيِ وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا

INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI’UN, ALLAHUMMA’JURNIY FII MUSHIBATI WA AKHLIF LIY KHOIRON MINHA

"Sesungguhnya kita milik Allah dan akan kembali kepadaNya, ya Allah berikan aku pahala dalam musibahku ini dan gantikan dengan yang lebih baik darinya." Kecuali Allah akan menggantikan dengan yang lebih baik darinya. Berkata Ummu Salamah: Ketika meninggal suamiku Abu Salamah, maka aku berkata, tidak mungkin ada seorang muslim yang lebih baik dari Abu Salamah, keluarga pertama yang berhijrah kepada Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam?! Kemudian aku membaca doa tersebut, maka Allah menggantikan untukku Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam.  SHOHIH   (HR. Ahmad no. 26635 dan Muslim no. 918 (13))

 10. DENGAN DI PHK, ALLAH MENJADIKAN SESEORANG MENJADI LAPANG DADA DENGAN TAKDIR ALLAH DAN MAMPU MENGUCAPKAN ALHAMDULILLAH. 

Saudaraku, terkadang dikala senang kita lupa untuk bersyukur kepada Allah, bahkan ketika ditimpa ujian musibah pun kita tidak bersyukur kepada Allah dan lebih memilih untuk berkeluh kesah lagi berburuk sangka kepada Allah. Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam mencontohkan untuk senantiasa bersyukur mengucapkan Alhamdulillah ketika kita dalam keadaan senang maupun sedih.

Berikut keterangan dari hadits:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى مَا يُحِبُّ قَالَ: «الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ» وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

Dari Aisyah, beliau (radhiallahu'anha) berkata, "Kebiasaan Rasulullah jika menyaksikan hal-hal yang beliau sukai adalah mengucapkan"Alhamdulillah alladzi bi ni'matihi tatimmus shalihat" ("Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya semua kebaikan menjadi sempurna."). Sedangkan jika beliau menyaksikan hal-hal yang tidak menyenangkan beliau mengucapkan "Alhamdulillah 'ala kulli hal." (Segala puji bagi Allah atas setiap keadaan.")  SHOHIH   (HR Ibnu Majah no 3803, Al-Hakim no. 1840 dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah Ahaadits as-Shohihah no. 265)

Sekali lagi saudaraku...

Janganlah sedih dan galau bahkan stress berat…rezeki Allah itu begitu luas dan melimpah…dan itu bukanlah milik absolut "perusahaan tempat kita bekerja" tapi rezeki itu dari Allah Azza wa Jalla. Maka mintalah dengan mentaati-Nya dan jadilah hamba-Nya yang ambisi tertingginya adalah Akhirat bukan dunia yang fana ini.

Yakinlah satu ladang rezeki ditutup masih banyak ladang rezeki lain yang bisa digarap InSya Allah.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Wallaahu a'lam bishshawwaab.

Abu Kayyisa,

Dubai UAE - Siang menderap Pencakar Langit Dubai, Selasa, 02 Sya'ban 1437 H/10 Mei 2016.

 

 

 

ARSIP ARTIKELs

Kajian Online UAE   

Add comment


Security code
Refresh


Jazakallahu Khoiran