Tuesday, November 21, 2017
Text Size

General

Istriku…kuhadiahkan kepadamu "Toyota Camry Akhirat

 

Istriku…kuhadiahkan kepadamu "Toyota Camry Akhirat"

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه وبعد

Barakallahu fikum, Tulisan ini akan mengupas tuntas tentang "uneg-uneg" yang terbersit dari beberapa suami kepada istrinya yang telah "berjuang keras" dalam rangka mendampingi istrinya untuk menunaikan haji tahun 2014/1435 H. Namun "uneg-uneg" tersebut berlaku bagi semua orang yang berstatus suami. Jadi tidak dikhususkan bagi yang hendak menunaikan haji tahun ini saja. Uneg-uneg tersebut adalah harapan dari semua suami kepada istrinya. Dan juga faidah bahwa menunaikan Haji itu adalah 'Ala Faury' yaitu hendaknya bersegera tidak menunggu-nunggu ataupun menunda-nunda.

Download Panduan Haji dan Umroh 2014

 

Download Panduan Haji dan Umroh 2014

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه وبعد

Barakallahu fikum, berikut ini adalah link untuk membaca online dan mendownload Panduan Haji 2014

Mendulang Faidah dari Kisah Sandal Favoritku

 

Mendulang Faidah dari Kisah Sandal Favoritku.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه وبعد

Barakallahu fikum, semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan kepada antum sekalian,

Tulisan kali ini adalah mengenai berbagai faidah dari kisah sandal favoritku.

Kisah ini dimulai masih fresh from the oven…seperti slogan roti yang menjadi kegemaranku…tepatnya tanggal 9 Ramadhan 1435 H terjadilah faidah yang suangat banyak dari sandal favoritku.

Awal cerita dari sandal favoritku ini diawali dari pertemuan manasik haji di KBRI Abu Dhabi, saat itu ada sedulur yang nyelethuk, "Eh kan nggak boleh pake sandal yang ada talinya ketika haji" kemudian celethukan itupun disambut oleh teman sebut saja Akza menimpali, "Enakan pake kayak sepertiku ini, ringan dan fleksibel." Saat itupun aku langsung berbinar-binar ingin mencoba sandal dari Akza, dan ternyata benar ringan, empuk dan fleksibel. Akupun berceloteh, "Wah enak bener ini yah, nyaman sekali di kaki."

Setelah itu tak dinyana-nyana datanglah saudaraku Akza ke rumah ketika manasik haji yang diadakan di gubugnya Kayyisa, beliau membawa sandal yang tadinya sudah niat untuk ana beli, alhamdulillah ternyata memang limpahan rezki dari Allah datang dari arah tak terduga-duga. Allah memberikan hadiah tersebut lewah saudaraku Akza.

Disinilah awal berbagai faidah yang akan kita bahas dalam kisah sandal favoritku.

Faidah Pertama : Rizki datang dari arah tak disangka-sangka.

Didulang dari ayat yang mulia, Allah berfirman:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. At-Tahrim : 2-3)

Al-Hafizh Ibnu Katsir menjelaskan tafsir ayat tersebut:

{وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ} أَيْ: وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ فِيمَا أَمَرَهُ بِهِ، وتَرَك مَا نَهَاهُ عَنْهُ، يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ مَخْرَجًا، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ، أَيْ: مِنْ جِهَةٍ لَا تَخْطُرُ بِبَالِهِ

"Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya" Maknanya, barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah dengan melakukan apa yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya, niscaya Allah akan memberinya jalan keluar serta rizki dari arah yang tidak disangka-sangka, yakni dari arah yang tidak pernah terlintas dalam benaknya" (Tafsir Al-Qur'an al-Adzhim lil Imam Ibn Katsir 7/300 tahqiq Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin cet. Daar Ibn al-Jauzy 1431 H)

Dan perbuatan akh Akza hafizhahullah (semoga Allah menjaganya) ketika beliau memberikan hadiah adalah salah satu contoh aplikasi dari sabda Nabi Shallallahu'alahi wassalam yang termasuk pada faidah kedua:

Faidah Kedua : Anjuran memberikan hadiah.

Saudaraku yang semoga Allah senantiasa menjagamu…mari kita simak penjelasan detail tentang hadits mulia yang berkaitan dengan hadiah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ: تَهَادَوْا تَحَابُّوا

Dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu, dari Nabi Shallallahu'alaihi wassalam, beliau bersabda:

"Salinglah kalian memberikan hadiah niscaya kalian akan saling mencintai."
   Hadits Hasan   (HR. Al-Bukhori dalam kitab Adabul Mufrod no. 594, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwaul Ghalil no. 1601).

Senang bercampur bingung saat menerima hadiah itu dan alhamdulillah tidak terbersit kegembiraan yang sempat terbayang ketika saat kecil menerima hadiah dari Ibundaku. Saat masa kecilku ketika menerima hadiah, aku suka berjingkrak dan mengucapkan "alhamdulillah hore-hore dapat hadiah." Hal itu sebagaimana yang bisa aku masukkan dalam faidah yang ketiga.

Faidah Ketiga: Jangan terlalu berbangga dengan nikmat yang kita peroleh.

Jangan terlalu berbangga dengan nikmat yang kita peroleh karena itu sama sekali bukan karena usaha dan kerja keras kita. Itu semua adalah takdir yang Allah tetapkan dan rizki yang telah Allah karuniakan.

Ayat yang mulia berikut:

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput darimu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Al-Hadid: 23)

Pada hakekatnya apa saja yang menjadi rizki kita maka pasti itu akan datang dan apa yang tidak menjadi rizki kita maka dengan usaha apapun dan pengorbanan yang bagaimanapun tidak akan datang kepada kita. Simaklah hadits yang mulia berikut:

Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam bersabda:

وَتَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ

Hendaknya engkau mengetahui bahwa sesuatu yang ditakdirkan akan menimpamu, tidak mungkin luput darimu. Dan segala sesuatu yang ditakdirkan luput darimu, pasti tidak akan menimpamu. Hadits Shohih   (HR. Abu Dawud no. 4699, Ibnu Majah no. 77. Lihat At-Ta'liqatul Hisaan Ala Shahih Ibni Hibban no. 725).

Hanya ucapan "jazakumullah khoiran" yang aku haturkan kepada saudaraku Akza semoga Allah memberikan ganjaran kebaikan kepada beliau. Dan ini aku masukkan pada faidah yang keempat.

Faidah Keempat: Ucapan Jazakumullah khoiran.

Berdasarkan hadits yang mulia:

عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ: جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ

Dari Usamah bin Zaid, dia berkata, "Telah bersabda Rasulullah Shallallahu'alahi wassalam "Barangsiapa yang diperlakukan dengan baik (diberi kebaikan) kemudian dia mengucapkan "JAZAAKALLAHU KHOIRAN" (semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepadamu) maka sesungguhnya dia telah memberikan pujian yang terbaik."   Hadits Shohih  (HR. At-Tirmidzi no. 2035. Lihat Shohihul Jami-ush Shoghiir oleh Syaikh Albani no. 6368).

مَنْ أَتَى إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُوهُ، فَادْعُوا لَهُ، حَتَّى تَعْلَمُوا أَنْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ

"Barangsiapa yang datang kepada kalian dengan kebaikan maka balaslah ia, jika kalian tidak mendapatkan sesuatu untuk membalasnya maka doakanlah kebaikan baginya hingga kalian merasa telah membalas kebaikannya."   Hadits Shohih  (HR. Ahmad no. 5365, Abu Dawud no. 5109, An-Nasai no. 2567 Dari Shahabat Ibnu Umar radhiallahu'anhuma, dishohihkan Syaikh Albani dalam Silsilah Ahaadits Ash Shohihah no. 254).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ

Dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam telah bersabda: "Barangsiapa yang tidak bersyukur kepada manusia maka ia tidak bersyukur kepada Allah".   Hadits Shohih  (HR. Abu Dawud no. 4811, At-Tirmidzi no. 1954, Al-Bukhori dalam Adabul Mufrod no. 218, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Shohihah no. 416).

Dan setelah pada pertemuan manasik selanjutnya aku pun sengaja memakai sandal itu agar beliau senang melihatnya dan ini aku masukkan di faidah yang berikutnya:

Faidah Kelima: Mengenakan hadiah agar yang memberinya menjadi senang.

Berdasarkan hadits yang mulia:

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ اللَّهَ يُحِبَّ أَنْ يَرَى أَثَرَ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ»

Dari Amr bin Syu'aib dan bapaknya dari kakeknya, dia berkata, Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam bersabda: "Sesungguhnya Allah menyukai untuk melihat bekas nikmat yang telah diberikanNya kepada hamba-Nya.   Hadits Shohih  (HR. At-Tirmidzi no. 2819, Shohih lihat Ghayatul Maram fi Takhrij Ahaadits al-Halal wal Haram no. 75).

Sandal itu begitu empuk dan menggemaskan maklumlah merek beken sih "SKETCHER", sekali injek bisa serasa ga pake sandal karena saking nyamannya. Alhamdulillah sandal itu sudah menjaga kakinya umminya kayyisa ketika dia "dipaksa" melepas sandal akibat desakan orang-orang ketika melakukan jihad la qitala fih. Sandal itupun setiap kali dipakai ke masjid melewati "rintangan" yang berupa pecahan kaca beling yang dilempar orang iseng dan juga duri-duri tanaman gurun yang lumayan bisa membuat berdarah apabila tergores olehnya. Banyak sekali kenangan manis bersama sandal tersebut.

Alhamdulillah Allah berkehendak mengambil barang yang bukan menjadi milik abadiku. Tepatnya ketika tanggal 9 Ramadhan kemarin, setelah maghrib aku sengaja tidak langsung pulang karena masih dalam rangka paket kejar tayang sehingga aku memutuskan untuk tetap di masjid sampai sholat Isya. Nah entah kenapa saat itu terbersit keinginan untuk mengambil wudhu lagi dan setelah keluar masjid, aku langsung melongok sana-sini eh ternyata sandal kesayangan itu hanya tinggal sebelah saja.

Aku sudah mulai agak geram …hem ini sandal kesayangan dikemanain coba…gerutuku dalam hati. Setelah itu, aku pun memutuskan untuk bertanya kepada penjaga masjid, siapa gerangan yang berani mengambil sandal kesayanganku itu. Menurut penuturan penjaga masjid bahwa yang mengambil sandal itu bisa jadi anak-anak kecil yang sedang bermain-main dan diantara mereka ada yang berantem lempar-lemparan. Tak kurang akal, aku pun segera mencoba mengelilingi masjid yang super luas tersebut. 2 kali putaran tak kunjung ketemu pula, alhamdulillah.

Setelah selesai sholat Taraweh, aku segera mengadakan investigasi menanyakan kepada anak-anak yang main setelah sholat Maghrib. Aku sempat terbersit ingin marah dan kalo perlu menghardik anak yang mengambil satu sandalku. Alhamdulillah ketika melihat mereka, Allah menghindarkanku dari rasa marah dan dongkol (faidah: Sabar), mungkin ini adalah barokahnya dari Ramadhan. Aku menegur mereka dengan perkataan yang halus. "Tahukah engkau siapa yang menghilangkan salah satu sandal, karena aku mendengar dari petugas masjid bahwa ada anak-anak yang bermain dan bertengkar setelah sholat Maghrib." Salah satu dari mereka menjawab, "Ya, memang ada dari kami yang bertengkar, namun kami tidak mengetahui siapa yang mengambil salah satu dari sandalmu." Dan yang lebih kaget lagi adalah salah dari anak-anak tersebut sempat berujar, "Makanya ente beli sandal yang benar dong…jangan sandal yang mirip sandal yang dipakai di toilet." Hemm tambah gusar juga aku setelah mendengar omongan anak tersebut.

Hemmm, akupun bergumam dalam hati sambil seraya berkata, "Innalillah wa Inna ilaihi raji'un, Allahuma' jurni fi mushibati wa aflih li khoiran minha" yaitu doa ketika mendapat musibah.

Faidah Keenam : Doa ketika mendapat musibah

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيْبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْراً مِنْهَا

"Sesungguhnya kita milik Allah, dan kita akan kembali kepada-Nya, ya Allah berilah aku atas musibah yang menimpaku dan gantilah untukku dengan yang lebih baik darinya.

Hal ini berdasarkan hadits berikut:

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ، أَنَّهَا قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: " مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ، فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللهُ: {إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ} [البقرة: 156]، اللهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا أَخْلَفَ اللهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا "، قَالَتْ: فَلَمَّا مَاتَ أَبُو سَلَمَةَ، قُلْتُ: أَيُّ الْمُسْلِمِينَ خَيْرٌ مِنْ أَبِي سَلَمَةَ؟ أَوَّلُ بَيْتٍ هَاجَرَ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ إِنِّي قُلْتُهَا، فَأَخْلَفَ اللهُ لِي رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Ummu Salamah, dia berkata, "Aku mendengar Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam bersabda, 'Tidaklah seorang hamba tertimpa musibah lalu ia mengucapkan apa yang Allah telah perintahkan; Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'un (QS. Al-Baqarah: 156). Ya Allah berilah aku ganjaran dalam menghadapi cobaan ini dan berilah pengganti yang lebih baik bagiku, melainkan Allah akan memberinya ganjaran dan pengganti yang lebih baik' Ummu Salamah berkata, "Ketika Abu Salamah meninggal, aku berkata, Muslim yang mana yang lebih baik dari Abi Salamah? Kerabat Rasulullah yang pertama kali hijrah kepada Rasulullah Shallallahu'alahi wassalam lalu aku tetap mengucapkannya, maka Allah memberiku pengganti yang lebih baik darinya, yaitu Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam."   Hadits Shohih  (HR. Muslim no. 918) .

Lebih detail lagi keterangannya ada di Sunan Ibnu Majah:

عَنْ عُمَرَ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ، أَنَّ أَبَا سَلَمَةَ، حَدَّثَهَا أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ

Dari Umar bin Abi Salamah, dari Ummu Salamah bahwasannya Abu Salamah radhiallahu'anhu telah menceritakan kepadanya bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصَابُ بِمُصِيبَةٍ، فَيَفْزَعُ إِلَى مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ مِنْ قَوْلِهِ

Tidaklah seorang muslim ditimpa suatu musibah, lalu dia melakukan apa yang Allah perintahkan dari firman-Nya:

{إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ} [البقرة: 156] اللَّهُمَّ عِنْدَكَ احْتَسَبْتُ مُصِيبَتِي، فَأْجُرْنِي فِيهَا، وَعَوِّضْنِي مِنْهَا –

"Sesungguhnya kita milik Allah, dan kepada Nya kita kembali. (QS. Al-Baqarah: 156) Ya Allah, kepada Mu aku serahkan musibah yang menimpa ku, berilah aku ganjaran di dalamnya (menghadapi musibah itu), dan gantikanlah dengan yang lebih baik daripadanya"

إِلَّا آجَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهَا، وَعَاضَهُ خَيْرًا مِنْهَا

Melainkan Allah akan memberi ganjaran kepadanya dan menggantikan dengan lebih baik daripadanya.

قَالَتْ: فَلَمَّا تُوُفِّيَ أَبُو سَلَمَةَ ذَكَرْتُ الَّذِي حَدَّثَنِي عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقُلْتُ: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، اللَّهُمَّ عِنْدَكَ احْتَسَبْتُ مُصِيبَتِي هَذِهِ، فَأْجُرْنِي عَلَيْهَا،

Ummu Salamah radhiallahu'anha berkata: Ketika Abu Salamah telah meninggal dunia, aku teringat dengan apa yang telah dia ceritakan kepadaku dari Rasulullah shallallahu'alaihi wassalam, lalu aku mengucapkan: "Sesungguhnya kita milik Allah, dan kepada Nya kita kembali. Ya Allah, kepada Mu aku serahkan musibah yang menimpa ku, berilah aku ganjaran atasnya"

فَإِذَا أَرَدْتُ أَنْ أَقُولَ: وَعِضْنِي خَيْرًا مِنْهَا، قُلْتُ فِي نَفْسِي: أُعَاضُ خَيْرًا مِنْ أَبِي سَلَمَةَ؟ ثُمَّ قُلْتُهَا، فَعَاضَنِي اللَّهُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَآجَرَنِي فِي مُصِيبَتِي

Maka aku ingin mengucapkan: "Gantikan bagi aku yang lebih baik daripadanya", aku berbisik kepada diri ku: Adakah pengganti yang lebih baik daripada Abu Salamah. Lalu aku tetap membacanya. Maka Allah telah memberikan ganti (yaitu) Muhammad shallallahu'alaihi wassalam kepada ku, dan Allah telah memberikan pahala untuk musibah yang menimpa diri ku.   Hadits Shohih  (HR. Ibnu Majah no. 1598) .

Subhanallah,… ketika merenungi hadits diatas, apa yang aku alami hanyalah "sepele" bukanlah sehebat apa yang dialami oleh Ibunda Ummul Mukminin Ummu Salamah. Aku bersyukur bahwa dengan mengikhlaskan apa yang bukan milik abadi kita maka hati ini menjadi tenang dan damai, tidak pula terbersit secercah kebimbangan ataupun kegelisahan. Hal itu karena aku yakin bahwa pasti Allah menggantikannya dengan yang lebih baik.

Faidah Ketujuh : Kelembutan dalam bertutur kata.

Saudaraku… bertutur kata dengan halus dan lembut itu adalah menenangkan dan menyenangkan. Simaklah nasehat mulia dari sabda Rasulullah Shallahu'alaihi wassalam:

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لاَ يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لاَ يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ

"Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan Dia mencintai sikap lemah lembut, dan Allah akan memberikan pada sikap lembah lembut sesuatu (ganjaran kebaikan) yang tidak Dia berikan kepada sikap yang keras, dan juga akan memberikan apa-apa yang tidak diberikan pada sikap yang lainnya."   Hadits Shohih  (HR. Muslim no. 2593 dari Aisyah Radhiallahu'anha) .

Dalam sabda Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam yang lainnya;

إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

"Sesungguhnya kelembutan itu tidak berada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya (dengan kebaikan) dan tidak dihilangkan kelembutan itu darinya kecuali akan membuatnya menjadi buruk."   Hadits Shohih  (HR. Muslim no. 2594 dari Aisyah Radhiallahu'anha) .

Alhamdulillah sebenarnya bisa juga terucap omongan yang pedas lagi sadis dari mulutku karena saking jengkelnya, namun alhamdulillah Allah menjagaku dengan mencegah mulutku untuk berucap dengan ucapan yang kasar, aku teringat hadits Nabi Shallalalhu'alaihi wassalam.

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلاَ اللَّعَّانِ وَلاَ الْفَاحِشِ وَلاَ الْبَذِيءِ

"Seorang mukmin itu bukanlah orang yang suka mengumpat, melaknat dan tidak pula yang berkata keji lagi kotor."   Hadits Shohih  (HR. Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 332, At-Tirmidzi no. 1977 dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 1/12. Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ahaadits Ash-shohihah no. 320). .

Faidah Kedelapan : Kesabaran sebuah ujian kehidupan yang akan terus diasah.

Faidah ini adalah yang paling sangat berasa karena hal itu merupakan tes kesabaran yang ada dalam jiwaku. Aku berkaca dalam hatiku bahwa ternyata sabar itu adalah sangat sulit. Kesabaranku diuji saat aku merasa geram ketika pertama kali melihat salah satu sandalku hilang…dan itu adalah pada saat pertama kali datang ujian…apakah seseorang itu bisa bersabar atau tidak.

Simaklah saudaraku nasehat mulia berikut:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ الْعَبْدِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ يَعْنِي ابْنَ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ ثَابِتٍ، قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى»

Imam Muslim berkata, "Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Basysyaar al-Abdi, telah mengabarkan kepada kami (Muhmmad bin Basysyar) Muhammad yaitu Ibn Ja'far, telah mengabarkan kepada kami Syu'bah dari Tsabit, dia berkata, aku telah mendengar Anas bin Malik berkata, Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam bersabda: "Kesabaran itu pada guncangan yang pertama."   Hadits Shohih  (HR. al-Bukhari no. 1302 dan Muslim no. 926 (14))  (sengaja untuk ditulis hadits secara lengkap inSya Allah pada kesempatan yang lain akan kita bahas detail takhrij hadits dan fawaidnya secara lebih detail.) .

Hadits mulia yang lainnya:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَتَى عَلَى امْرَأَةٍ تَبْكِي عَلَى صَبِيٍّ لَهَا، فَقَالَ لَهَا: «اتَّقِي اللهَ وَاصْبِرِي»، فَقَالَتْ: وَمَا تُبَالِي بِمُصِيبَتِي فَلَمَّا ذَهَبَ، قِيلَ لَهَا: إِنَّهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَخَذَهَا مِثْلُ الْمَوْتِ، فَأَتَتْ بَابَهُ، فَلَمْ تَجِدْ عَلَى بَابِهِ بَوَّابِينَ، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ لَمْ أَعْرِفْكَ، فَقَالَ: «إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ أَوَّلِ صَدْمَةٍ»، أَوْ قَالَ: «عِنْدَ أَوَّلِ الصَّدْمَةِ».

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata "Nabi Shallallahu 'alayhi wa Salam berjalan melewati seorang wanita yang menangis di depan sebuah kuburan. Maka beliau berkata kepada wanita itu, "Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah!" Wanita itu menjawab, "Menjauhlah dariku, engkau tidak mengalami musibah yang menimpaku dan engkau tak tahu musibah apa yang menimpaku!" Maka diceritakan kepada wanita tersebut bahwa orang yang menasehatinya adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam. Wanita itu terkejut dan buru-buru mendatangi rumah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam. Ia tidak menemukan penjaga pintu sehingga ia bisa langsung menemui beliau. Wanita itu berkata, "Maafkan saya, wahai Rasulullah, saya tadi belum mengenal Anda." Maka beliau bersabda, "Sesungguhnya kesabaran itu adalah pada saat pertama kali musibah menimpa kita."   Hadits Shohih  (HR. Al-Bukhari no. 1283, 7154 dan Muslim no. 926 (15) lafazh diatas adalah milik Muslim).

Hadits mulia yang lainnya:

عَنْ صُهَيْبٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ»

Dari Shuhaib (Abu Yahya Suhaib bin Sinan), dia berkata, Rasulullah Shallallahu'alahi wassalam bersabda: "Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin ini, bahwa urusannya itu semuanya ada kebaikannya, dan yang demikian itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali oleh orang mukmin, yaitu jika ia mendapatkan kegembiraan ia bersyukur dan itu suatu kebaikan baginya. Dan jika ia mendapat musibah, ia sabar dan itupun suatu kebaikan baginya."   Hadits Shohih  (HR. Muslim no. 2999, Ahmad VI/15-16, ad-Darimi no. 2777).

Hadits tersebut memberikan kepada kita beberapa pelajaran sebagaimana yang tercantum di kitab Bahjatun Nadhirin Syarah Riyadhus Shalihin I/82-83 yaitu :

  • Orang mukmin yang sempurna keimanan dan keyakinannya akan senantiasa bersyukur kepada Allah pada saat merasakan kesenangan dan bersabar atas kesusahan yang menimpanya. Dan dia senantiasa berada pada posisi keridhaan. Oleh karena itu, kesengsaraan yang dialaminya akan menjadi nikmat dan ujian baginya merupakan anugerah, sebab di dalamnya mengandung banyak pahala dan tempat kembali yang baik.
  • Orang kafir senantiasa gelisah dan marah dalam menghadapi musibah, sehingga di dalam dirinya menyatu dua dosa, yaitu ketidakridhaan terhadap ketetapan Rabbnya dan tidak bersabar menjalani takdirnya.
  • Bagaimanapun keadaannya, pahala tidak akan diberikan kepada orang yang tidak beriman.

Setelah sholat traweh sepanjang jalan menuju rumah terbersit dalam hati..."Subhanallah…Allah Maha Penguasa. Apa saja yang ada didunia ini pada hakekatnya adalah kepemilikan yang sementara dan tidak absolut, kenapa engkau harus sedih…gundah…marah-marah…sedangkan yang engkau pakai adalah hanya milikmu sementara…"

Faidah Kesembilan : Kepemilikan yang absolut hanya dimiliki oleh Allah Azza wa Jalla.

Ketahuilah wahai saudaraku, manusia hanya mempunyai hak pakai sementara terhadap apa yang ditanggannya, sedangkan kepemilikan yang sempurna adalah untuk Allah Dzat Yang Maha Kuasa.

Allah berfirman:

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ

" Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. "   (QS. Al-Baqarah : 284, An-Nisaa: 131 & 132)

Ayat yang lainnya:

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا فِيهِنَّ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

" Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu."  (QS. Al-Maidah: 120)

Ayat yang lainnya:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

"Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb Semesta Alam. tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)." (QS. Al-An'aam : 162-163)

Ketika seorang manusia ingat siapa dirinya sesungguhnya dan apa yang ia pakai hanyalah sementara tentunya ia tidak akan merasa gusar atau berat hati apabila apa yang ada ditangannya diambil lagi oleh Dzat Yang Maha Pecipta.

Faidah Kesepuluh: 5 Hal tentang kehidupan dunia

Kehidupan dunia itu hanya permainan, sendau gurau, perhiasan, bermegah-megah dan berbangga-bangga dalam harta dan anak.

Dunia telah memperdaya sebagian penghuninya dengan gemerlap dan kemanisan yang fana. Mata dan otak manusia dibutakan dengan berbagai kemegahannya, termasuk gaya hidup yang "perlente" "necis" "funky". Ada sebagian teman-teman localku di Abu Dhabi …kalau tidak beli sandal merek "MBT" "TAWASH" "NAURAS" maka itu tidak disebut memakai sandal yang betul. Sepasang sandal merek "NAURAS" dan "TAWASH" harga paling murahnya bisa mencapai 1000 Dhs, dengan uang sebesar itu hanya untuk diinjak-injak dan pamer kaki saja….Allahu Musta'an.

Saudaraku yang semoga Allah memberkahimu…simaklah ayat yang mulia berikut:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (QS. Al-Hadiid: 20)

Fenomena dari ayat diatas dialami pula oleh orang-orang "BORJU" (orang kuayaaa sekali) dimana mereka lebih hafal merek barang terkenal daripada nomer surat dalam Al-Quran ataupun ayat-ayat sucinya. Maksudnya disini adalah dikaitkan dengan gaya hidup dan kebiasaan memenuhi hasrat dunia dibandingkan dengan akhiratnya.

Makanya ketika orang "membiasakan diri atau terbiasa" mempunyai barang dengan merek-merek beken, itu akan membuat mereka terpaku dan terjerat untuk senantiasa memburu merek-merek beken itu. Merek beken itu sudah menghiasi otaknya untuk berpola hidup dengannya. Tanpa merek beken itu serasa hidup kurang pas.

Faidah Kesebelas: Hadits tentang Surga dan Neraka dekat dari tali sandal.

Terdapat hadits mulia yang berkaitan dengan sandal yaitu di dalam shohih al-Bukhari sebagai berikut:

حَدَّثَنِي مُوسَى بْنُ مَسْعُودٍ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ مَنْصُورٍ، وَالأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي وَائِلٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ، وَالنَّارُ مِثْلُ ذَلِكَ»

Imam al-Bukhori telah berkata, "Telah mengabarkan kepadaku Musa bin Mas'ud (yaitu Abu Hudzaifah an-Nahdzy), telah mengabarkan kepada kami (Musa bin Mas'ud) Sufyan (ats-Tsaury) dari Mansyur, dan al-A'masy dari Abu Wail dari Abdullah (bin Mas'ud) radhiallahu'anhu, dia berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam, 'Surga itu lebih dekat kepada salah seorang diantara kalian daripada tali sandalnya, dan neraka juga demikian.'"   Hadits Shohih  (HR. al-Bukhari no. 6488).

Al-Hafizh mencantumkan penjelasannya terhadap hadits di atas dalam kitabnya Fathul Bari Syarah Shohih al-Bukhori 14/640 cet. Dar Thoyyibah).

قَالَ بْنُ بَطَّالٍ فِيهِ أَنَّ الطَّاعَةَ مُوصِلَةٌ إِلَى الْجَنَّةِ وَأَنَّ الْمَعْصِيَةَ مُقَرِّبَةٌ إِلَى النَّارِ وَأَنَّ الطَّاعَةَ وَالْمَعْصِيَةَ قَدْ تَكُونُ فِي أَيْسَرِ الْأَشْيَاءِ

Ibnu Baththal rahimahullah berkata, "Di dalamnya (terdapat keterangan), ketaatan mengantarkan kepada surga dan maksiat mendekatkan kepada neraka. Sesungguhnya ketaatan dan kemaksiatan terkadang berupa perkara yang sangat mudah/sepele.

وَتَقَدَّمَ فِي هَذَا الْمَعْنَى قَرِيبًا حَدِيثُ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ الْحَدِيثَ فَيَنْبَغِي لِلْمَرْءِ أَنْ لَا يَزْهَدَ فِي قَلِيلٍ مِنَ الْخَيْرِ أَنْ يَأْتِيَهُ وَلَا فِي قَلِيلٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَجْتَنِبَهُ فَإِنَّهُ لَا يَعْلَمُ الْحَسَنَةَ الَّتِي يَرْحَمُهُ اللَّهُ بِهَا وَلَا السَّيِّئَةَ الَّتِي يَسْخَطُ عَلَيْهِ بِهَا

Dan telah berlalu kandungan makna yang sama dengan hadits tersebut (yaitu hadits al-Bukhori no. 6478) maka selayaknya bagi seseorang untuk tidak meremehkan kebaikan sekecil apapun itu untuk ia kerjakan. Dan tidak boleh juga ia menganggap enteng keburukan sekecil apapun itu untuk ia jauhi. Sebabnya, karena ia tidak tahu kebaikan mana yang benar-benar dirahmati oleh Allah, juga keburukan mana yang benar-benar membuat Allah murka kepadanya.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُنِيرٍ، سَمِعَ أَبَا النَّضْرِ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ يَعْني ابْنَ دِينَارٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ، لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ، لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ»

Imam al-Bukhori berkata: "Telah mengabarkan kepadaku Abdullah bin Munir, dia telah mendengar Abu Nadhr, telah mengabarkan kepada kami Abdrurahman bin Abdillah yaitu Ibnu Dinar dari bapaknya dari Abu Sholih dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu, dari Nabi Shallalllahu'alahi wassalam, ' "Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak terlalu dia pikirkan lalu Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu. Dan ada juga seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka dan tidak pernah dipikirkan bahayanya lalu dia dilemparkan ke dalam jahannam."   Hadits Shohih  (HR. Bukhari no. 6478).

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لاَ يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِى بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِى النَّارِ

"Sesungguhnya seseorang berbicara dengan suatu kalimat yang dia anggap itu tidaklah mengapa (tidak berdosa), padahal karena ucapan itu dia dilemparkan di neraka sejauh 70 tahun perjalanan."   Hadits Shohih  (HR. Ahmad no. 7215 dan at-Tirmidzi no. 2314. Lihat Silsilah Ahaadits Ash-Shohihah no. 540 dan Shohih at-Targhib wat Tarhiib no. 2875).

Oleh karenanya, seseorang tidak boleh meremehkan kebaikan sekecil apapun itu untuk ia kerjakan. Dan juga tak boleh ia meremehkan keburukan sekecil apapun itu untuk ia jauhi. Sebabnya, karena ia tidak tahu kebaikan mana yang benar-benar dirahmati oleh Allah, juga keburukan mana yang benar-benar membuat Allah murka kepadanya.

وَقَالَ بن الْجَوْزِيِّ مَعْنَى الْحَدِيثِ أَنَّ تَحْصِيلَ الْجَنَّةِ سَهْلٌ بِتَصْحِيحِ الْقَصْدِ وَفِعْلِ الطَّاعَةِ وَالنَّارُ كَذَلِكَ بِمُوَافَقَةِ الْهَوَى وَفِعْلِ الْمَعْصِيَةِ

Ibnul Jauzi berkata, "Makna hadits tersebut adalah bahwa mendapatkan surga itu adalah mudah dengan cara pembenaran niat dan perbuatan ketaatan, demikian pula bagi neraka (mudah untuk didapatkan) asal sesuai dengan hawa nafsu dan perbuatan kemaksiyatan." (Selesai nukilan Fathul Bari dengan tambahan hadits lengkapnya).

Syaikh Salim bin Ied al-Hilaly menyebutkan beberapa faidah dari hadits tentang sandal diatas di dalam kitabnya Bahjatun Nadzirin Syarah Riyadhus Shalihin 1/186,

فقه الحديث:

1. الطاعة موصلة إلى الجنة ، و المعصية مقربة إلى النار

2. الطاعة و المعصية قد تكون في أيسر الأشياء ، فينبغي على المرء أن لا يزهد في قليل من الخير أن يأتيه و لا في قليل من الشر أن يجتنبه

3. تحصيل الجنة سهل إذا صح القصد و عملت الصالحات

Fiqih Kandungan Hadits:

  1. Ketaatan dapat mengantar seseorang sampai ke Surga, sedangkan kemaksiyatan dapat mendekatkannya ke Neraka.
  2. Ketaatan dan kemaksiyatan terkadang bisa berada dalam posisi yang paling mudah untuk dikerjakan. Oleh karena itu, seseorang berkewajiban untuk tidak segan-segan mengerjakan kebaikan meski sedikit sekali jumlahnya, dan tidak pula segan untuk menghindari keburukan meski pun keburukan itu kecil.
  3. Mencapai Surga itu mudah jika tujuannya telah benar dan disertai dengan berbagia amalan kebaikan.

Ibnul Jauzi berkata, "Makna hadits tersebut adalah bahwa

mendapatkan surga itu adalah mudah dengan cara pembenaran niat dan perbuatan ketaatan, demikian pula bagi neraka (mudah untuk didapatkan) asal sesuai dengan hawa nafsu dan perbuatan kemaksiyatan."
(Lihat Fathul Bari 11/321) Selesai nukilan Fathul Bari).

Faidah Keduabelas : Pentingnya Bersyukur

Saudaraku, bersyukurlah terhadap apa yang telah Allah berikan kepada kita. Sifat syukur itulah yang akan membunuh angan-angan yang tiada bertepi, Allah berfirman:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (QS. Ibrahim:7)

Seperti seorang yang telah dilimpahkan berbagai nikmat namun dia tidak kunjung puas dan tidak pula bersyukur, sudah mendapat gaji 100 juta masih pengin lagi 200 juta dan setelah mendapatkan 200 juta pun dia masih berpikir untuk bagaimana bisa mendapatkan 1 milyar…

Saudaraku yang semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan kepadamu…camkanlah nasehat agung dari hadits mulia berikut:

حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، عَنْ عَطَاءٍ، قَالَ: سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، يَقُولُ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا، وَلاَ يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ»

"Telah mengabarkan kepada kami (Imam al-Bukhari dan Muslim) Abu 'Ashim, dari Ibnu Juraij dari Atha', dia berkata, aku (Atho') telah mendengar dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma berkata: Saya mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sekiranya anak Adam memiliki harta sebanyak dua bukit, niscaya ia akan mengharapkan untuk mendapatkan bukit yang ketiga, dan tidaklah perut anak Adam itu dipenuhi melainkan dengan tanah, dan Allah menerima taubat siapa saja yang bertaubat."   Hadits Shohih  (HR. Al-Bukhari no. 6436 dan Muslim no. 1737).

Faidah Ketigabelas : Pentingnya Berqana'ah

Berqana'ah adalah merasa cukup dan ridho dengan apa yang telah Allah karuniakan. (lihat Mausu'ah Al-Akhlaq al-Islamiyyah 1/478)

Hal ini sebagaimana sabda Nabi Shallallahu'alahi wassalam:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمُقْرِئُ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي أَيُّوبَ، حَدَّثَنِي شُرَحْبِيلُ وَهُوَ ابْنُ شَرِيكٍ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ»

" Imam Muslim berkata, Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah telah mengabarkan kepada kami Abu Abdirrahman al-Muqri dari Sa'id bin Abi Ayyub, telah mengabarkan kepadaku (Sa'id bin Abi Ayyub) Syurahbiil dan dia adalah Ibnu Syarik dari Abi Abdirrahman al-Hubuli dari Abdillah bin 'Amr bin al-Ash bahwasanya Rasulullah Shallallahu'alahi wassalam, bersabda, "Sungguh beruntung orang yang telah masuk Islam, dan diberi rezki yang cukup, serta Allah qana'ahkan (menjadikannya merasa cukup) dengan apa yang telah Dia berikan padanya."   Hadits Shohih  (HR. Muslim dalam Kitab Zakat no. 1054 (125)).

Nasehat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Hakim bin Hizam radhiallahu'anhu,

يَا حَكِيمُ إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ، فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ كَالَّذِى يَأْكُلُ وَلاَ يَشْبَعُ، الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى

"Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu hijau lagi manis. Barangsiapa yang mencarinya untuk kedermawanan dirinya (tidak tamak dan tidak mengemis), maka harta itu akan memberkahinya. Namun barangsiapa yang mencarinya untuk keserakahan, maka harta itu tidak akan memberkahinya, seperti orang yang makan namun tidak kenyang. Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah."   Hadits Shohih  (HR. Bukhari no. 1472 dan Muslim no. 1035).

Tidak perlu setiap keinginan kita penuhi, apalagi kalo nggak pake sandal merek nike, adidas, atau merek-merek top lainnya maka seakan-akan hidup kurang pas…ada sesuatu yang masih kurang…astaghfirullah…Allahu Musta'an. Ini pun berlaku tidak hanya pada sandal, namun berlaku disetiap lini kehidupan kita, bisa berupa kendaraan, pakaian, benda electronik dan lain-lainnya.

Ketika orang dibutakan dengan hawa nafsu yang mengharuskan terpenuhinya setiap keinginan maka pastilah pemborosan itu akan terjadi, sebagaimana perilaku sebagian orang yang hobbinya "THAWAF di MALL". Kalaupun tidak berbelanja maka mereka telah menyia-nyiakan waktunya untuk melihat hal-hal yang kurang bermanfaat bahkan ada maksiyatnya ("Cuci Mata ala Syaitan"). Hal itu adalah gaya hidupnya yang telah "mendarah daging" ketika ada waktu dan uang serta merta dia langsung bergegas ke MALL dengan celetukan "Kan bosen dirumah terus...NgeMALL yuk..." Allahu Musta'an.

Fenomena tentang qana'ah juga terjadi di daerahku Al-Rahba. Salah satunya yaitu ucapan tetanggaku di al-rahba yang ketika itu ia hanya membeli mobil kia cerato yang baru, ada yang berceletuk kepadanya, "Kenapa nggak sekalian beli toyota atau mercy yang lebih perlente, nanggung amat beli KIA." Dijawab oleh teman tadi, "Yup, aku cukup beli KIA saja karena disamping sudah full option juga harganya lebih irit dan bagiku sudah cukup." Orang yang berceletuk tadi pun diam seribu bahasa tidak dapat berucap apa-apa lagi. Perlu diketahui kalau orang lokal UAE membeli mobil itu harus yang bermerek top seperti Lexus, Land Cruiser, dan yang lainnya hanya minoritas dari mereka yang mau membeli mobil made in korea.

Faidah Keempat belas : Perbanyak Doa.

Faidah ini mengandung keharusan untuk memperbanyak doa sebagaimana berikut:

اللَّهُمَّ جَنِّبْنِيْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ ، وَ الأَهْوَاءِ ، وَ الأَعْمَالِ ، وَ الأَدْوَاءِ

"Ya Allah, jauhkanlah aku dari berbagai kemunkaran akhlaq, hawa nafsu, amal perbuatan dan segala macam penyakit."  Hadits Shohih  (HR. At-Tirmidzi no. 3591, Hakim I/532 dan disepakati oleh Imam adz-Dzahaby, Ibnu Hibban no. 2422 (Mawarid) Lihat Shahih Mawariduz Zham-aan no. 2055 oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany).

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي وَجَهْلِي، وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي هَزْلِي وَجِدِّي وَخَطَايَايَ وَعَمْدِي، وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي

"Ya Allah, berikanlah ampunan kepadaku atas kesalahanku, kebodohanku, juga sikap berlebihanku dalam urusanku, dan segala sesuatu yang Engkau lebih mengetahuinya dariku. Ya Allah, berikanlah ampunan kepadaku atas canda dan keseriusanku, kesalahanku dan kesengajaanku dan semuanya itu ada pada diriku."   Hadits Shohih  (HR. Al-Bukhori no. 6399)

Demikian faidah-faidah yang bisa aku petik dari kisah sandal favoritku…versi yang aku pakai adalah sandal, bisa jadi ada dari saudaraku pembaca mempunyai versi yang lainnya….versi mobil, baju, dan yang lainnya. Pada intinya adalah sekecil apapun yang terjadi pada kehidupan dunia yang fana ini bisa kita ambil pelajaran dan faidah yang sangat banyak lagi luas.

Demikian yang semoga bermanfaat sebagai pengingat dan motivasi bagi penulis dan pembaca sekalian.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Wallaahu a'lam bishshawwaab.

Ar-Rahba, pinggiran Abu Dhabi UAE, di Ramadhan yang akan segera beranjak pergi, dini hari Ahad, 29 Ramadhan 1435 H/27 July 2014.


Abu Kayyisa,

Yang mendamba Ampunan dari Rabb Sang Pencipta Jagad Raya.

 

 

ARSIP ARTIKELs

Kajian Online UAE   

Sunnah Seharga 5 Dirhams

 

Sunnah Seharga 5 Dirham.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه وبعد

Barakallahu fikum, semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan kepada antum sekalian,

Tulisan kali ini adalah mengenai sebuah pelajaran penting tentang sunnah yang ditinggalkan oleh kebanyakan orang - Yaitu tentang ISBAL.

Diawali dari kisah nyata yang terjadi di masjid al-Muhajirin Ar-Rahba di pinggiran Abu Dhabi, UAE, tepatnya ketika menjelang sholat Maghrib. Ketika itu ada seorang teman lokal yang akrab sebut saja namanya Hamad, tergopoh-gopoh menuju shaf, setelah melihat-lihat ternyata ada celah kecil disampingku dan aku mempersilahkan beliau berdiri disampingku. Setelah sholat selesai, beliau hendak bergegas keluar masjid namun dengan suara lirih aku menyapanya, "Kaifal Hal ya Akhi al-Aziz ?" (Apa kabar wahai Saudaraku yang mulia?) kemudian dia menjawab, "Alhamdulillah bikhoir" terus aku bertanya kepada beliau, "Barakallahu fik, hal turidu hadiyyatan bikhoms dirham faqoth?" (Semoga Allah memberikan keberkahan kepadamu, apakah engkau ingin hadiah sebesar 5 dirham saja?"). Lantas dia pun bingung, terheran-heran sambil berujar, "Madza turidu ya akhi, na'am ana uridu hadiyyatan walakin laisa bi khoms dirham, lesh khomsa dirham?" (Apa yang kamu inginkan wahai saudaraku, betul aku ingin hadiah namun bukan 5 dirham, kenapa 5 dirham?). Dengan wajah penuh harap tentang penjelasan kenapa disebutkan hadiah 5 dirham (5 dirham setara dengan 16 ribu rupiah), mungkin bisa jadi itu sangat lucu atau aneh kenapa hadiah sebesar 5 dirham saja, sedangkan 5 dirham bagi orang lokal UAE itu bisa dianggap pelecehan karena saking murahnya.

Setelah itu aku jelaskan, "Khomsah dirham lidzihab ila khoyyath liqatho' tsaubak hatta fauqa ka'baini" (5 dirham itu untuk pergi ke penjahit dalam rangka memotong bajumu agar dapat diatas mata kaki). Beliaupun tersenyum, sambil berkata, "Ya akhi, kullu malabisi qad qatho'tu fauqa ka'baini illa hadza faqath, lianni musta'jil lidzihab ila masjid wa ma nabbahtu anna tsaubi tahta ka'baini, wa jazakallahu khoiran 'ala husni nasihatik" ("Wahai saudaraku, semua bajuku sudah aku potong diatas mata kaki kecuali yang satu ini, karena aku tergesa-gesa untuk pergi ke masjid sehingga aku tidak memperhatikan bahwa bajuku dibawah mata kaki, jazakallah khoiran atas kebaikan nasehatmu."). Keumuman yang berlaku di Abu Dhabi dan daerah sekitarnya ketika hendak memotong baju oleh penjahit setempat biaya standarnya adalah seharga 5 dirham. Akhirnya kamipun bersalaman dan dia masih cengar cengir senyum, merasa aneh dengan penyebutan 5 dirham.

Subhanallah…fenomena asing lagi aneh, begitulah keindahan Islam di akhir zaman menjadi asing...begitu banyak pengikut Nabi Shallallahu'alaihi wassalam sudah jauh dari apa yang diikutinya…dan ketika diberitahukan tentang petunjuk yang benar dari Beliau shallallahu'alaihi wassalam maka terkadang hati itu tidak mudah untuk menerimanya karena memang itu sudah asing. Betul-lah apa yang diucapkan suri tauladan kita Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ، وَابْنُ أَبِي عُمَرَ، جَمِيعًا عَنْ مَرْوَانَ الْفَزَارِيِّ، قَالَ ابْنُ عَبَّادٍ: حَدَّثَنَا مَرْوَانُ، عَنْ يَزِيدَ يَعْنِي ابْنَ كَيْسَانَ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ»

"Berkata Imam Muslim: "Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin 'Abbad dan Ibnu Abi 'Umar yang keduanya (mendengar) dari Marwan al-Fazaari, berkata Ibnu 'Abbad: "Telah mengabarkan kepada kami Marwan, dari Yazid yaitu Ibnu Kaisan, dari Abi Hazim, dari Abi Hurairah, beliau (Abu Hurairah radhiallahu'anhu) berkata: Rasulullah salallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Islam awalnya asing, dan kelak akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka beruntunglah bagi al-Ghuraba' (orang-orang asing)."
  Hadits Shohih   (HR. Muslim (no. 145))

Tentang mengenakan baju, celana, sarung diatas mata kaki itu merupakan hal yang asing dan aneh, inipun terjadi bukan hanya di Indonesia, namun disemua penjuru dunia termasuk di Abu Dhabi, berapa banyak orang yang merasa aneh dengan menjulurkan kain diatas mata kaki, berapa banyak dari mereka yang tidak mengenal ataupun jauh dari penjelasan tentang sunnah al-mahjurah (sunnah yang ditinggalkan) termasuk didalamnya menjulurkan kain di atas mata kaki.

Saudaraku yang semoga Allah senantiasa menjagamu…mari kita simak penjelasan detail tentang apa itu Isbal dan dalil-dalilnya:

Pengertian Isbal:

Isbal secara bahasa adalah masdar (kata kerja yang dibendakan) dari "asbala" (telah menjulurkan), "yusbilu" (sedang menjulurkan) (masdarnya - kata kerja yang dibendakan) dari isbaalan (penjuluruan) dan orang yang melakukan pekerjaan isbal adalah disebut sebagai "Musbil" (pelaku penjuluruan)",

أَسْبَلَ يُسْبِلُ ، إِسْبَالاً ، فَهُوَ مُسْبِلٌ

Secara umum arti secara bahasa adalah menurunkan, menjulurkan atau memanjangkan. (lihat Mu'jam al-Lughoh al-Arabiyah al-Mu'ashiroh no. 2431 oleh Dr. Ahmad Mukhtar Abdul Hamid Umar cet. Alam al-Kutub 1429 H).

Sedangkan menurut istilah, diungkapkan dalam kamus Lisanul Arob sebagaimana yang dinukil dari Ibnul 'Arabi:

المُسْبِلُ الَّذِي يُطَوِّل ثَوْبَهُ ويُرْسِلُهُ إِلىَ الأَرْضِ إِذَا مَشَى وإِنَّمَا يَفْعَلُ ذَلِكَ كِبْراً واخْتِيَالًا

Musbil adalah orang yang memanjangkan dan menjulurkan pakaiannya hingga menyentuh tanah, baik karena sombong ataupun tidak. (Lihat Lisanul 'Arob, Ibnul Munzhir 11/321 cet Dar Shoodir)

Saudaraku yang semoga Allah membukakan pintu hidayah-Nya bagiku dan bagimu…serta melapangkan dada kita untuk menerima dalil-dalil yang shohih dan dimudahkan untuk mengamalkannya...simaklah dalil-dalil berikut:

Hadits Pertama:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُقَاتِلٍ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ، أَخْبَرَنَا مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ، عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ، لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ القِيَامَةِ» فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ ثَوْبِي يَسْتَرْخِي، إِلَّا أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّكَ لَسْتَ تَصْنَعُ ذَلِكَ خُيَلاَءَ» قَالَ مُوسَى: فَقُلْتُ لِسَالِمٍ أَذَكَرَ عَبْدُ اللَّهِ " مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ؟ قَالَ: لَمْ أَسْمَعْهُ ذَكَرَ إِلَّا ثَوْبَهُ "

(Imam al-Bukhori berkata) Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Muqathil, (Muhammad berkata) telah mengabarkan kepada kami Abdullah (bin Al-Mubarak), (Abdullah bin al-Mubarak) berkata, 'Telah mengabarkan kepada kami Musa bin Uqbah dari Salim bin Abdullah (bin Umar) dari Abdullah bin Umar radhiallahu'anhuma, dia berkata, 'Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam bersabda:

"Barangsiapa menjulurkan pakaiannya karena sombong, tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat. Abu Bakar lalu berkata: 'Salah satu sisi pakaianku akan melorot kecuali aku ikat dengan benar'. Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: 'Engkau tidak melakukan itu karena sombong'.
 Musa bertanya kepada Salim, apakah Abdullah bin Umar menyebutkan lafadz 'barangsiapa menjulurkan kainnya'? Salim menjawab, yang saya dengar dari beliau (Abdullah bin Umar) hanya 'barangsiapa menjulurkan pakaiannya'. "  Hadits Shohih   (HR. Al-Bukhari 3665, diriwayatkan pula oleh Muslim 2085, Abu Dawud no. 4085 dan yang lainnya.)

Hadits Kedua:

حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنِ الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: سَأَلْتُ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ عَنِ الإِزَارِ، فَقَال: عَلَى الْخَبِيرِ سَقَطْتَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِزْرَةُ الْمُسْلِمِ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ، وَلَا حَرَجَ - أَوْ لَا جُنَاحَ - فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْكَعْبَيْنِ، مَا كَانَ أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ فَهُوَ فِي النَّارِ، مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ»

Telah menceritakan kepada kami (Abu Dawud) Hafsh bin Umar berkata, telah menceritakan kepada kami (Hafsh) Syu'bah dari Al 'Ala bin 'Abdurrahman dari Bapaknya ia berkata, "Aku bertanya kepada Abu Sa'id Al Khudri tentang kain sarung, lalu ia berkata, "Engkau bertanya kepada orang yang tepat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Kain sarung seorang muslim sebatas setengah betis, dan tidak berdosa antara batas setengah betis hingga dua mata kaki. Adapun apa yang ada di bawah kedua mata kaki adalah di neraka. Dan barangsiapa menjulurkan kain sarungnya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat."
  Hadits Shohih   (HR. Abu Dawud no. 4093 (sanad diatas milik Abu Dawud), Ahmad no. 11397, Shohih – Lihat Shohih Jami'ush Shoghir no. 921)

Hadits Ketiga:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ، حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ، حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ، عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ القِيَامَةِ» قَالَ أَبُو بَكْرٍ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ إِزَارِي يَسْتَرْخِي، إِلَّا أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَسْتَ مِمَّنْ يَصْنَعُهُ خُيَلاَءَ»

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami Zuhair telah menceritakan kepada kami Musa bin 'Uqbah dari Salim bin Abdullah dari Ayahnya radliallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda:

"Siapa yang menjulurkan pakaiannya (hingga ke bawah mata kaki) dengan sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari Kiamat kelak." Lalu Abu Bakar berkata; "Wahai Rasulullah, sesungguhnya salah satu dari sarungku terkadang turun sendiri, kecuali jika aku selalu menjaganya?" lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Engkau bukan termasuk orang yang melakukan hal itu karena sombong."
  Hadits Shohih   (HR. Al-Bukhari 3665, diriwayatkan pula oleh Muslim 2085, Abu Dawud no. 4085 dan yang lainnya.)

Hadits shohih diatas banyak dipahami keliru oleh kebanyakan orang yang menganggap enteng perkara isbal dan mereka membolehkan isbal dengan dalil keadaan yang dialami oleh Abu Bakar, namun simaklah penjelasan Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari Syarah Shohih al-Bukhori 10/255, tentang alasan kenapa Shahabat Abu Bakar radhiallahu'aanhu melakukan itu bukan karena sombong, :

وَكَانَ سَبَبُ اسْتِرْخَائِهِ نَحَافَةَ جِسْمِ أَبِي بَكْرٍ

Sebab turunnya (kain Abu Bakar) adalah karena kurusnya badan Abu Bakar.

Saudaraku silahkan antum simak tanya jawab dari transkrip kaset no 33 dari Silsilah al-Huda wan Nuur diawali dari menit ke 26:51 oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah:

- قوله عليه الصلاة والسلام لأبي بكر في الإسبال (..انك لست ممن يفعل ذلك خيلاء..) هل هي واقعة عين؟ أم تحمل على جواز الإسبال لغير الخيلاء .؟ ( 00:26:51 )

"Sabda Nabi Shallallahu'alaihi wassalam kepada Abu Bakar tentang Isbal (Sesungguhnya engkau bukan termasuk orang yang melakukan isbal karena sombong) apakah sebab itu berlaku khusus karena keutamaan dari Shahabat Abu Bakar atau berlaku juga bolehnya Isbal tanpa ada sombong ?"

أبو اسحق : طيب بالنسبة لتقصير القميص ، وواقعة أبى بكر مع النبى صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّم ، لما (قال له صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّم : لست ممن يصنعه خيلاء) هل هذه واقعة عين؟ أم يجوز للرجل ان يطيل ثوبه ليس من باب الكبر أو نحو ذلك ؟ الشيخ : لا يجوز للمسلم أن يتعمد إطالة ثوبه بدعوى أنه لايفعل ذلك خيلاء ، وذلك لسببين اثنين

Abu Ishaq (Al-Huwaini), baik, berkaitan dengan memendekkan gamish, terjadi pada Abu Bakar dimana Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam ketika itu beliau bersabda : "Engkau bukan termasuk orang yang melakukannya karena sombong, apakah sebab itu berlaku khusus karena keutamaan dari Shahabat Abu Bakar atau berlaku juga bolehnya Isbal tanpa ada sombong ? atau apakah boleh seseorang untuk memanjangkan bajunya tanpa ada niat sombong atau yang semacamnya? Syaikh Al-Albani menjawab: Tidak boleh bagi seorang muslim untuk sengaja memanjangkan bajunya dengan anggapan bahwa ia melakukannya karena tidak ada maksud sombong, hal itu karena ada dua sebab:

السبب الأول- وهو الذى يتعلق بقول الرسول عَلَيْهِ الصلاة والَسَلَاّم لأبى بكر ما ذكرته أنفا (إنك لا تفعل ذلك خيلاء): ان أبا بكر لم يتخذ ثوبا طويلا فقال له عَلَيْهِ الصلاة والَسَلَاّم (إنك لا تفعل ذلك خيلاء) ، وإنما كان قوله جوابا لقوله بأنه كان يسقط الثوب عنه ، فيصبح كما لو أطال ذيله ، فأجابه الرسول بأن هذا أمر لا تؤأخذ عليه لأنك لا تفعله قصدا ، فلذلك لا يجوز أن نلحق بأبي بكر ناسا يتعمدون إطالة الذيول ثم يقولون نحن لا نفعل ذلك خيلاء ، فحادثة أبى بكر لا تشهد لهؤلاء مطلقا ،

Sebab yang pertama: Sebab ini berkaitan dengan sabda Nabi Shallallahu'alaihi wassalam kepada Abu Bakar sebagaimana yang telah aku sebutkan barusan, (Sesungguhnya engkau tidak melakukan yang demikian karena sombong) sesungguhnya Abu Bakar tidak mengenakan pakaian yang panjang oleh karena itu Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam bersabda: (Sesungguhnya engkau tidak melakukan yang demikian karena sombong) dan ucapan beliau tersebut adalah merupakan jawaban bahwa bajunya (Abu Bakar) itu mlorot ke bawah. Maka bajunya beliau menjadi melorot ke bawah lalu Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam menjawab bahwa perkara tersebut tidak menjadi kesalahannya karena engkau tidak melakukannya dengan sengaja. Oleh karena itu tidak boleh ada yang menyamakan dengan (kondisi yang dialami) Abu Bakar (dalam hal) memanjangkan kain sampai bawah mata kaki dan mereka berkilah "kami tidak melakukan demikian (isbal) karena sombong" maka kejadian yang dialami Abu Bakar tidak dapat menjadi bukti pembolehan bagi mereka (yang mengatakan kami isbal karena tidak sombong) secara mutlaq.

والسبب الآخر : هو أن النبى صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّم ، قد وضع نظاما للمسلم فى ثوبه ومقدار ما يجوز له أن يطيل منه ، فقال صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّم ، (أزره المؤمن إلى نصف الساق فإن طال فإلى الكعبين فإن طال ففى النار)، فهنا لا يوجد العلة التى جاء ذكرها فى الحديث الصحيح (من جر ازاره خيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة)

Sebab yang lainnya; Sesungguhnya Nabi Shallallahu'alaihi wassalam telah meletakkan peraturan bagi seorang muslim tentang bajunya dan panjang yang tidak diperbolehkan untuk melewatinya maka beliau Shallallahu'alaihi wassalam bersabda ('baju seorang mukmin itu panjangnya sampai setengah betis dan apabila ingin lebih panjang lagi maka sampai kedua mata kaki dan bila lebih panjang lagi maka letaknya di neraka) maka didalam keterangan tersebut tidak ada lagi alasan untuk berhujah dengan dalil (yaitu) hadits shohih (barang siapa yang menjulurkan kainnya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat).

فهذا وزر أشد من وزر من يطيل إزاره تحت ساقيه ، بمعنى أن إطالة الإزار تحت الساقين عمدا – بغض النظر هل فعل ذلك خيلاء أم لا – فهو مؤاخذ عليه صاحبه وهو فى النار ، لكن إن إقترن مع هذه المخالفة لهذا النظام النبوى إلى نصف الساقين فإن طال فإلى مافوق الكعبين فإن طال ففى النار ، فإن إقترن مع هذه المخالفة لهذا النظام أنه يفعل ذلك خيلاء فهو الذى يستحق بعيد فقده لرحمة ربه ، وتوجه ربنا عز وجل إليه بالنظر بالرحمة إليه يوم القيامة ، ذلك لا ينبغى أن نأخذ من قصة أبى بكر جواز الإطالة بدون قصد الخيلاء لأن هذا يخالف نظام الحديث السابق ، وهذا واضح إن شاء الله .

Maka itu adalah dosa yang lebih dahsyat dari dosanya orang yang menjulurkan kain dibawah betis, maksudnya bahwa memanjangkan kain dibawah kedua betis secara sengaja - Dengan penilaian – apakah dia melakukan yang demikian karena sombong atau tidak - maka akan dihukum pelakunya dan dia berada di neraka, namun apabila dibandingkan dengan pelanggaran terhadap peraturan Nabi Shallallahu'alaihi wassalam (bahwa panjang kain) sampai setengah betis jika (ingin lebih panjang lagi) maka bolehnya adalah antara setengah betis sampai diatas mata kaki, jika ingin lebih panjang lagi maka posisinya di neraka. Apabila dikaitkan dengan pelanggaran terhadap peraturan tersebut (Peraturan panjang kain) bahwasanya dia melakukan yang demikan itu karena sombong maka rahmat Allah akan terluput darinya begitu pula penglihatan Allah kepadanya dengan pandangan rahmat pada hari kiamat. Tidak selayaknya mengambil alasan dari kisahnya Abu Bakar tentang bolehnya memanjangkan kain dengan alasan tidak sombong karena hal tersebut menyelisihi peraturan hadist sebelumnya. Dan Ini jelas inSyaAllah.

أبو اسحق : طيب يا شيخنا نلاحظ كثير من الأخوة يلبس القميص قصير ويلبس تحته بنطلون طويل يعنى يصل أحيانا إلى ما تحت الكعبين هل هذا يدخل فى النهى أيضا ؟ الشيخ : كل الدروب على الطاحون ، لا يجوز أيضا أبو اسحق : طب الجملة الى ..هههههه أبو الحارث : هذا مثل عندنا فى الشام الشيخ : كل الدروب على الطاحون ، يعنى كل طريق يصل الى المحرم فهو محرم ، ولا يجوز هذا لأن الإزار ليس هو المقصود بذاته ، إنما المقصود هو الثوب سواء كان إزارا أو كان قميصا أو كان عباءة أو نحو ذلك

Abu Ishaq (Al-Huwaini) berkata, Baik wahai Syaikhona (Guru kami), banyak dari saudara-saudara kita yang memakai gamish yang pendek dan bawahannya memakai celana panjang yang panjangnya terkadang sampai dibawah mata kaki, apakah ini masuk pula dalam larangan tersebut? Syaikh berkata: Setiap lintasan yang banyak akhirnya bertemu pula di tempat penggilingan yang sama, tidak boleh pula hukumnya. Abu Ishaq, baik ya Shaikh (suara tertawa hahaha), Abu Harits (Syaikh Ali Hasan) berkata, majaz tadi sama dengan apa yang ada di Syam (syiria), Syaikh Albani berkata, maksud Kullu Dhuruub ala Thohuun adalah setiap jalan yang tujuan akhirnya adalah haram maka hukumnya sama yaitu dia itu haram maka tidak boleh yang demikian...hal ini karena sarung/kain itu bukan maksud secara dzatnya (larangan bukan hanya pada sarung/kain secara pengkhususan) namun maksudnya adalah kain baju baik itu berupa sarung/kain atau baju panjang atau abaya (rompi panjang) atau yang semisalnya

، فلا ينبغي للمسلم أن يطيل هذا الثوب الى ما تحت الكعبين . نعم الطالب : أستاذي هناك حديث (وإياك واسبال الازرار فان اسبال الإزار من المخيلة) هذا الحديث قد يدل على سواء نوى أن يكون هذا من الخيلاء أو لا يكون من الخيلاء هو بمجرد أن يسبل إزاره تحت الكعبين هذا يكون خيلاء الشيخ : هذا صحيح ، هذا هو الأصل ، لكن الواقع أننا لا نستطيع أن ننكر واقع أخر ، وهو أن بعض الناس قد يفعلون ذلك ولا يدور فى خلدهم إطلاقا قصد الخيلاء ، لكن هو إطالة الإزار المقصود منه هو الخيلاء ، فهذا الحديث الذى تذكره أنت يشير إلى الأصل ، لماذا يطيل الإزار ؟ هو خيلاء ، لكن هذا لا يعني ان نفرض على كل شخص أن نتهمه بأنه يفعل ذلك خيلاء ، وهو أدرى بنفسه إذ يقول أنا لا أفعله ، وإنما نلفت نظره والحالة هذه الى الحديث السابق الذى هو منهج لهذا القميص أو ذاك الثوب وهو من حديث أبى سعيد الخدرى رضى الله عنه .

Maka tidak selayaknya bagi seorang muslim untuk memanjangkan bajunya sampai dibawah mata kaki, seorang murid Syaikh Albani bertanya, "Wahai ustadzku, ada hadits (Hati-hatilah kalian terhadap isbal sarung/kain karena menjulurkan sarung/kain dibawah mata kaki adalah termasuk sombong) hadits ini menunjukkan bahwa adanya atau tidaknya niat sombong itu cukup dengan menjulurkan sarung/kain dibawah mata kaki maka itu termasuk perbuatan sombong? Syaikh Albani menjawab: "(pernyataan) ini shohih" dan (pernyataan) ini adalah asas pokoknya namun secara kenyataan kita tidak bisa memungkiri kenyataan yang lainnya yaitu bahwa sebagian orang terkadang melakukan perbuatan demikian dimana mereka tidak memutlakannya sebagai perbuatan sombong namun (yang benar) adalah memanjangkan sarung/kain dimaksudkan darinya adalah termasuk sombong dan hadits yang engkau sebutkan tadi itu adalah pokok asal, oleh karena itu kenapa orang memanjangkan sarung/kain? Sedangkan perbuatan memanjangkannya itu termasuk sombong dan dia mengetahui terhadap dirinya ketika dia beralasan bahwa aku tidak melakukannya (dengan niat sombong). Sesungguhnya aku menilai keadaanya dengan hadits yang telah lalu dimana hadits tersebut adalah manhaj tolok ukur untuk panjang ghamis atau baju dan itu dari hadist Abu Sa'id al-Khudry radhiallahu'anhu (baca:hadits kedua).

Begitu pula Syaikh Albani memberikan penjelasan yang sangat jelas terhadap penjelasan hadits kejadian Abu Bakar radhiallahu'anhu:

فتجد من ذلك البعض من لا يبالي مثلا أن يجر ثوبه على الأرض بدعوى أنه لا يفعل ذلك خيلاء ، مستروحا إلى قوله صلى الله عليه وسلم لأبي بكر « لست ممن يصنعه خيلاء » ، غافلين عن الفرق الظاهر بينه رضي الله عنه وبينهم ، فإنه كان لا يتعمد ذلك ، كما هو صريح قوله : « إن أحد شقي إزاري يسترخي » وهم يتعمدون إرخاءه ، جاهلين أو متجاهلين ما جاء في صفة إزاره صلى الله عليه وسلم

Maka engkau akan mendapati sebagian dari mereka orang-orang yang tidak ambil peduli terhadap (permasalahan) menurunkan pakaiannya sehingga terjulur ke tanah, serta mengiringinya dengan anggapan bahwa dia tidak melakukannya dengan sombong, sambil tanpa merasa bersalah (bahkan gembira) hatinya dengan pendalilan hadis yang berkenaan dengan kisah Abu Bakar. (Sebenarnya) mereka lalai dengan adanya perbezaan yang sangat ketara di antara Abu Bakar dengan diri mereka. Di mana Abu Bakar benar-benar tidak sengaja melakukannya (malah telah berusaha sedaya-upaya), sebagaimana telah jelas di dalam hadis tersebut menyatakan bahawa kainnya menjulur turun tanpa sengaja. Sedangkan mereka yang menggunakan hadis tersebut untuk membolehkan isbal, mereka melakukannya dengan kesengajaan. Di mana mereka tidak tahu atau sengaja bersikap bodoh terhadap hadis-hadis yang menjelaskan tentang sifat pakaian Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam...." (Mukhtashor Shamaail Muhammadiyah hal 10, cet Maktabah al-Mar'arif)

Hadits Keempat:

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عُفَيْرٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي اللَّيْثُ، قَالَ: حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ خَالِدٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، أَنَّ أَبَاهُ، حَدَّثَهُ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «بَيْنَا رَجُلٌ يَجُرُّ إِزَارَهُ، إِذْ خُسِفَ بِهِ، فَهُوَ يَتَجَلَّلُ فِي الأَرْضِ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ» تَابَعَهُ يُونُسُ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، وَلَمْ يَرْفَعْهُ شُعَيْبٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ جَرِيرٍ: أَخْبَرَنَا أَبِي، عَنْ عَمِّهِ جَرِيرِ بْنِ زَيْدٍ، قَالَ: كُنْتُ مَعَ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ - عَلَى بَابِ دَارِهِ - فَقَالَ: سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ، سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ

Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin 'Ufair dia berkata; telah menceritakan kepadaku Al Laits dia berkata; telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Khalid dari Ibnu Syihab dari Salim bin Abdullah bahwa Ayahnya (Abdullah bin Umar bin al-Khoththob) telah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Ketika ada seseorang yang menjulurkan kain sarung/kainnya maka dia akan berguncang-guncang (diadzab) di perut bumi hingga datangnya hari Kiamat."
 Hadits ini juga diperkuat oleh riwayat Yunus dari Az Zuhri namun dia tidak merafa'kannya (sanadnya tersambung sampai kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam) yaitu dari Syu'aib dari Az Zuhri, Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Wahb bin Jarir telah mengabarkan kepada kami Ayahku dari pamannya Jarir bin Zaid dia berkata; saya pernah bersama Salim bin Abdullah bin Umar berada di depan pintunya, lalu dia berkata; saya mendengar bahwa Abu Hurairah mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda seperti hadits di atas."   Hadits Shohih   (HR. Al-Bukhori no. 5790)

Dalam lafazh yang lainnya :

حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ، أَخْبَرَنَا يُونُسُ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، أَخْبَرَنِي سَالِمٌ، أَنَّ ابْنَ عُمَرَ، حَدَّثَهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «بَيْنَمَا رَجُلٌ يَجُرُّ إِزَارَهُ مِنَ الخُيَلاَءِ، خُسِفَ بِهِ، فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِي الأَرْضِ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ» تَابَعَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ خَالِدٍ، عَنِ الزُّهْرِيِّ

Telah bercerita kepada kami (Imam al-Bukhori) Bisyir bin Muhammad telah mengabarkan kepada kami 'Abdullah telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Az Zuhry telah mengabarkan kepadaku Salim (bin Abdillah bin Umar) bahwa Ibnu 'Umar radliallahu 'anhuma telah bercerita bahwa Nabi Shallallu 'alaihi wa salam besabda:

"Ada seorang laki-laki yang ketika dia menjulurkan pakaiannya karena kesombongan, ia dibenamkan ke dasar bumi, dan orang itu terus meronta-ronta hingga hari qiyamat"
. Hadits ini diikuti oleh 'Abdur Rahman bin Khalid dari Az Zuhry. Hadits Shohih   (HR. Al-Bukhori no. 3485)

Hadits Kelima:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ يَوْمَ القِيَامَةِ إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا»

"Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Abu Az Zinnad dari Al A'raj dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Pada hari kiamat kelak, Allah tidak akan melihat orang yang menjulurkan kain sarung/kainnya karena sombong."
  Hadits Shohih   (HR. Al-Bukhori no. 5788)

Hadits yang lainnya:

Hadits Keenam:

حَدَّثَنَا آدَمُ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي سَعِيدٍ المَقْبُرِيُّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَا أَسْفَلَ مِنَ الكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِي النَّارِ»

"Telah menceritakan kepada kami (Al-Bukhori) Adam telah menceritakan kepada kami Syu'bah telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Abu Sa'id Al-Maqburi dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

"Apa saja yang terletak dibawah mata kaki dari sarung (kain bawah yang dipakai seperti ketika ihram), maka tempatnya adalah di neraka."
  Hadits Shohih   (HR. Bukhari 5787)

Hadits yang lainnya:

Hadits Ketujuh:

وَحَدَّثَنِي أَبُو بَكْرِ بْنُ خَلَّادٍ الْبَاهِلِيُّ، حَدَّثَنَا يَحْيَى وَهُوَ الْقَطَّانُ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ الْأَعْمَشُ، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ مُسْهِرٍ، عَنْ خَرَشَةَ بْنِ الْحُرِّ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: الْمَنَّانُ الَّذِي لَا يُعْطِي شَيْئًا إِلَّا مَنَّهُ، وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْفَاجِرِ، وَالْمُسْبِلُ إِزَارَهُ " وَحَدَّثَنِيهِ بِشْرُ بْنُ خَالِدٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ، يَعْنِي ابْنَ جَعْفَرٍ، عَنْ شُعْبَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ سُلَيْمَانَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ، وَقَالَ: «ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ»

" Dan telah menceritakan kepada kami (Imam Muslim) Abu Bakar bin Khallad al-Bahili telah menceritakan kepada kami Yahya –dia adalah al-Qaththan- telah menceritakan kepada kami Sufyan (bin Sa'id bin Masruq atau terkenal dengan nama Sufyan Ats-Tsaury) telah menceritakan kepada kami Sulaiman al-A'masy dari Sulaiman bin Mushir dari Kharasyah bin al-Hurr dari Abu Dzar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, Beliau bersabda:

"Ada tiga jenis orang yang Allah tidak akan mengajak mereka bicara pada hari kiamat: Orang yang suka memberi, dia memberi melainkan dengan menyebut-nyebutkannya (karena riya'), orang yang membuat laku barang dagangannya dengan sumpah palsu, serta orang yang melakukan isbal (memanjangkan/menjulurkan) pakaian."
Dan telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Khalid telah menceritakan kepada kami Muhammad -yaitu Ibnu Ja'far- dari Syu'bah dia berkata, saya mendengar Sulaiman dengan sanad ini, dan dia menyebutkan, "Ada tiga jenis orang yang Allah tidak akan mengajak mereka berbicara dan tidak melihat kepada mereka serta tidak mensucikan mereka. Dan mereka mendapatkan siksa yang pedih."   Hadits Shohih   (HR. Muslim no.106 dari Shahabat Abu Dzar radhi'allahu'anhu)

Hadits Kedelapan:

حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ وَاقِدٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: مَرَرْتُ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي إِزَارِي اسْتِرْخَاءٌ، فَقَالَ: «يَا عَبْدَ اللهِ، ارْفَعْ إِزَارَكَ»، فَرَفَعْتُهُ، ثُمَّ قَالَ: «زِدْ»، فَزِدْتُ، فَمَا زِلْتُ أَتَحَرَّاهَا بَعْدُ، فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ: إِلَى أَيْنَ؟ فَقَالَ: أَنْصَافِ السَّاقَيْنِ

"Telah menceritakan kepadaku (Imam Muslim) Abu Ath-Thahir; Telah menceritakan kepada kami (Abu Ath-Thahir) Ibnu Wahb; (dia Ibnu Wahab berkata) Telah mengabarkan kepadaku 'Umar bin Muhammad dari 'Abdullah bin Waqid dari Ibnu 'Umar , ia berkata;

"Aku pernah melewati Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sementara sarung/kainku/kainku (pakaianku) terjurai sampai ke tanah." Maka beliau berkata; 'Hai Abdullah, naikkan sarung/kainmu! ' lalu akupun langsung menaikkan sarung/kainku. Setelah itu Rasulullah berkata; 'Naikkan lagi.' Maka akupun menaikan lagi. Dan setelah itu aku selalu memperhatikan sarung/kainku. Sementara itu ada beberapa orang yang bertanya; 'Sampai di mana batasnya (maksimalnya)? ' Ibnu Umar menjawab; 'Sampai pertengahan kedua betis.'"
  Hadits Shohih   (HR. Muslim no. 2086 (47))

Hadits Kesembilan:

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ أَبِي غِفَارٍ، حَدَّثَنَا أَبُو تَمِيمَةَ الْهُجَيْمِيُّ - وَأَبُو تَمِيمَةَ اسْمُهُ طَرِيفُ بْنُ مُجَالِدٍ - عَنْ أَبِي جُرَيٍّ جَابِرِ بْنِ سُلَيْمٍ، قَالَ: رَأَيْتُ رَجُلًا يَصْدُرُ النَّاسُ عَنْ رَأْيِهِ، لَا يَقُولُ شَيْئًا إِلَّا صَدَرُوا عَنْهُ، قُلْتُ: مَنْ هَذَا؟ قَالُوا: هَذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قُلْتُ: عَلَيْكَ السَّلَامُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَرَّتَيْنِ، قَالَ: " لَا تَقُلْ: عَلَيْكَ السَّلَامُ، فَإِنَّ عَلَيْكَ السَّلَامُ تَحِيَّةُ الْمَيِّتِ، قُلْ: السَّلَامُ عَلَيْكَ " قَالَ: قُلْتُ: أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ؟ قَالَ: «أَنَا رَسُولُ اللَّهِ الَّذِي إِذَا أَصَابَكَ ضُرٌّ فَدَعَوْتَهُ كَشَفَهُ عَنْكَ، وَإِنْ أَصَابَكَ عَامُ سَنَةٍ فَدَعَوْتَهُ، أَنْبَتَهَا لَكَ، وَإِذَا كُنْتَ بِأَرْضٍ قَفْرَاءَ - أَوْ فَلَاةٍ - فَضَلَّتْ رَاحِلَتُكَ فَدَعَوْتَهُ، رَدَّهَا عَلَيْكَ»، قَالَ: قُلْتُ: اعْهَدْ إِلَيَّ، قَالَ: «لَا تَسُبَّنَّ أَحَدًا» قَالَ: فَمَا سَبَبْتُ بَعْدَهُ حُرًّا، وَلَا عَبْدًا، وَلَا بَعِيرًا، وَلَا شَاةً، قَالَ: «وَلَا تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ، وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ، وَارْفَعْ إِزَارَكَ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ، فَإِنْ أَبَيْتَ فَإِلَى الْكَعْبَيْنِ، وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الْإِزَارِ، فَإِنَّهَا مِنَ المَخِيلَةِ، وَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمَخِيلَةَ، وَإِنِ امْرُؤٌ شَتَمَكَ وَعَيَّرَكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيكَ، فَلَا تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيهِ، فَإِنَّمَا وَبَالُ ذَلِكَ عَلَيْهِ»

"Telah menceritakan kepada kami (Abu Dawud) Musaddad (bin Musrihad) berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya (bin Sa'id bin Farukh) dari Abu Ghifar (Al-Mutsannaa bin Sa'ad) berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Tamimah Al Hujaimi -dan Abu Tamimah namanya adalah Tharif bin Mujalid- dari Abu Jurai Jabir bin Sulaim ia berkata, "Aku melihat seorang laki-laki yang fikirannya dijadikan sandaran oleh orang banyak, dan ia tidak mengatakan sesuatu kecuali orang-orang akan mengikutinya. Aku lalu bertanya, "Siapakah dia?" orang-orang menjawab, "Ini adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam." maka aku pun berkata, 'Wahai Rasulullah, 'Alaika As Salam (semoga keselamatan bersamamu) ' wahai Rasulullah, sebanyak dua kali. Beliau bersabda: "Jangan engkau ucapkan 'Alaika As Salam', karena 'Alaika As Salam adalah penghormatan dan salam untuk mayit. Tetapi ucapkanlah 'As Salamu 'Alaika'." Jabir bin Sulaim berkata, "Aku lalu bertanya, "Apakah engkau utusan Allah?" beliau menjawab: "Ya, aku adalah utusan Allah, Dzat yang jika engkau tertimpa musibah, lalu engkau berdoa kepada-Nya, maka Dia akan menghilangkannya darimu. Jika kamu tertimpa paceklik, lalu engkau berdoa maka Dia akan menumbuhkan (tanaman) bagi kamu. Jika engkau berada di suatu tempat yang luas hingga kendaraanmu hilang, lalu engkau berdoa kepada-Nya, maka Dia akan mengembalikannya kepadamu." Jabir bin Sulaim berkata, "Lalu aku berkata, "Berilah kami perjanjian." Beliau bersabda: "Jangan sekali-kali engkau cela orang lain." Jabir bin Sulaim berkata, "Setelah itu aku tidak pernah mencela seorang pun; orang merdeka atau budak, unta atau kambing." Beliau bersabda lagi: "Janganlah engkau remehkan perkara ma'ruf, berbicaralah kepada saudaramu dengan wajah yang penuh senyum dan berseri, sebab itu bagian dari perkara yang ma'ruf.

Angkatlah sarungmu hingga setengah betis, jika tidak maka hingga kedua mata kaki. Dan janganlah engkau julurkan sarungmu karena itu bagian dari sifat sombong,
sesungguhnya Allah tidak menyukai sifat sombong. Jika ada seseorang yang mencela dan memakimu karena cela yang ia ketahui darimu, maka janganlah engkau balas memaki karena cela yang engkau ketahui padanya, karena hal itu akan memberatkannya (pada hari kiamat)"   Hadits Shahih   (HR. Abu Dawud 4084, Lihat Silsilah Ahaadits as-Shohihah no. 1109.)

Hadits yang lainnya:

Hadits Kesepuluh:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَنْبَأَنَا شَرِيكٌ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ حُصَيْنِ بْنِ قَبِيصَةَ عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ } رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آخِذًا بِحُجْزَةِ سُفْيَانَ بْنِ أَبِي سَهْلٍ{ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا سُفْيَانَ بْنَ سَهْلٍ لَا تُسْبِلْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُسْبِلِينَ

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah memberitakan kepada kami Syarik dari Abdul Malik bin 'Umair dari Hushain bin Qabishah dari Al Mughirah bin Syu'bah dia berkata, (Saya melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memegang Hujzah (tempat mengikat kain) milik Sufyan bin Abu Sahl seraya bersabda) Rasulullah Shallallahu'alahi wassalam bersabda:

"Wahai Sufyan bin Sahl, janganlah kamu memanjangkan kain sarung/kain atau celana melebihi mata kaki, karena Allah membenci orang-orang yang memanjangkan kain sarung/kain atau celananya melebihi mata kaki."
  Hadits Shahih   (HR. Ibnu Majah no. 3574, Ibnu Hibban no. 1449, dan Ahmad dalam Musnadnya no. 18186, lafazh dalam kurung adalah milik Imam Ahmad, Hasan, lihat Silsilah Ahaadits Ash-Shohihah no. 4004)

Saudaraku...yang semoga Allah memberikan keberkahan kepadamu...

Ketahuilah tidaklah aku tulis tulisan ini untuk memaksamu mengikuti apa yang telah jelas dalam dalil-dalil di atas, bahkan bisa jadi engkau akan mendapati berbagai macam tulisan di berbagai buku atau website/internet menyajikan wacana lain (bolehnya isbal tanpa sombong) selain apa yang telah jelas dari dalil-dalil diatas. Namun hanya satu saja yang aku inginkan kepadamu ...janganlah engkau ragu terhadap kebenaran petunjuk Nabi Shallallahu'alaihi wassalam dan terimalah itu sebagai penerang kehidupan bagimu dan bagiku.
Nah sekarang mari kita simak hadits yang berkaitan dengan keharusan kita untuk bersikap wara' (menjauhkan diri dari perkara-perkara yang samar hukum dan hakikatnya):

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ عَنْ ابْنِ عَوْنٍ عَنْ الشَّعْبِيِّ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ و حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ حَدَّثَنَا أَبُو فَرْوَةَ عَنْ الشَّعْبِيِّ قَالَ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ و حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ أَبِي فَرْوَةَ سَمِعْتُ الشَّعْبِيَّ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَبِي فَرْوَةَ عَنْ الشَّعْبِيِّ عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُورٌ مُشْتَبِهَةٌ فَمَنْ تَرَكَ مَا شُبِّهَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ كَانَ لِمَا اسْتَبَانَ أَتْرَكَ وَمَنْ اجْتَرَأَ عَلَى مَا يَشُكُّ فِيهِ مِنْ الْإِثْمِ أَوْشَكَ أَنْ يُوَاقِعَ مَا اسْتَبَانَ وَالْمَعَاصِي حِمَى اللَّهِ مَنْ يَرْتَعْ حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ

Telah menceritakan kepada kami (Al-Bukhori) Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu 'Adiy dari Ibnu 'Aun dari Asy-Sa'biy aku mendengar An-Nu'man bin Basyir radliallahu 'anhuma aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Dan diriwayatkan pula, telah menceritakan kepada kami 'Ali bin 'Abdullah telah menceritakan kepada kami Ibnu 'Uyainah telah menceritakan kepada kami Abu Farwah dari Asy-Sa'biy berkata, aku mendengar An-Nu'man bin Basyir telah menceritakan kepada kami, dia berkata, aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Dan diriwayatkan pula 'Abdullah bin Muhammad dari Ibnu 'Uyainah dari Abu Farwah aku mendengar Asy-Sa'biy aku mendengar An-Nu'man bin Basyir radliallahu 'anhuma dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir telah mengabarkan kepada kami Sufyan (bin Uyainah) dari Abu Farwah dari Asy-Sa'biy dari An-Nu'man bin Basyir radliallahu 'anhu berkata, telah bersabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam:

"Yang HALAL SUDAH JELAS dan yang HARAM JUGA SUDAH JELAS. Namun diantara keduanya ada perkara yang SYUBHAT(samar). Maka barangsiapa yang meninggalkan perkara yang syubhat karena khawatir mendapat dosa, berarti dia telah meninggalkan perkara yang jelas keharamannya dan siapa yang banyak berdekatan dengan perkara yang syubhat maka bisa jadi dia akan jatuh pada perbuatan yang haram tersebut. Maksiat adalah semua larangan Allah. Maka siapa yang berada di dekat larangan Allah itu bisa jadi (dikhawatirkan) dia akan jatuh pada larangan tersebut".
  Hadits Shahih   (HR. Al-Bukhori no. 2051)

Tolok ukur dari hadits tersebut adalah semakin tinggi ilmu yang kita dapati maka konsekuensi untuk menjauhi dari berbagai syubhat akan dapat lebih tinggi daripada orang yang tidak mempunyai ilmu, dan ini termaktub dalam hadits yang agung berikut ini:

- حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، ثنا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ عَفَّانَ الْعَامِرِيُّ، ثنا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ الْقَطَوَانِيُّ، ثنا حَمْزَةُ بْنُ حَبِيبٍ الزَّيَّاتُ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنِ الْحَكَمِ، عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «فَضْلُ الْعِلْمِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ فَضْلِ الْعِبَادَةِ، وَخَيْرُ دِينِكُمُ الْوَرَعُ»

Telah mengabarkan kepada kami Abul Abbas Muhammad bin Ya'qub, telah mengabarkan kepada kami al-Hasan bin Ali bin Affan al-'Aamiri, telah mengabarkan kepada kami Khalid bin Makhlad Al-Qathawani, telah mengabarkan kepada kami Hamzah bin Habib Az-Zayyat, dari al-A'masy dari al-Hakam dari Mus'ab bin Sa'ad bin Abi Waqqaash, dari bapaknya dari Nabi Shallallahu'alaihi wassalam, beliau bersabda,

"Keutamaan dalam ilmu lebih disukai daripada keutamaan dalam ibadah. Dan keislaman kalian yang paling baik adalah sifat wara'"
  Hadits Shahih Lighairihi   (HR. Al Hakim no. 314, Al-Baihaqy dalam kitab Al-Aadab no. 830, Al Bazzar no. 2969, Ath Thabrani dalam Al-Mu'jamul Ausath no. 3960. Lihat penilaian Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhiib 68 dan 1740)

Wahai saudaraku...ada apa denganmu dan sunnah seharga 5 dirham di atas? apalagi yang engkau tunggu untuk melaksanakan sunnah tersebut? apakah engkau ingin menjawab atau membantahnya dengan omongan-omongan orang yang tidak dijamin masuk surga? ataukah kecintaanmu kepada Suri Tauladan kita Nabi Shallallahu'alaihi wassalam sebatas kepada apa saja yang cocok dengan hawa nafsumu?...sungguh aku berharap agar diriku dan dirimu senantiasa dalam keadaan bergegas dalam melaksanakan sunnahnya Nabi Shallallahu'alaihi wassalam, karena hanya Kitab Allah dan Petunjuk Nabi Shallallahu'alaihi wassalam yang bisa menyelamatkan kita dari jalan gelap kesesatan yang tak berujung nan gelap gulita.
Simaklah nasehat agung dari Nabi Shallallahu'alaihi wassalam:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا، كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

"Aku tinggalkan pada kalian dua perkara, jika kalian berpegang teguh dengan keduanya kalian tidak akan sesat selama-lamanya yaitu: Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya." "   Hadits Hasan   (Hadist Riwayat Malik secara mursal dalm Al-Muwatha 2/899 dan Al-Hakim dari Hadits Ibnu Abbas secara maushul dan sanadnya hasan, juga hadist ini mempunyai syahid dari hadits jabir, lihat Takhrij Syaikh Albani dalam Silsilah Ahadits As-Shahihah no. 1761).

Demikian yang semoga bermanfaat sebagai pengingat dan motivasi bagi penulis dan pembaca sekalian".

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Wallaahu a'lam bishshawwaab.

Ar-Rahba, pinggiran Abu Dhabi UAE, di dinginnya malam hari 16'C, Jum'at, 24 Shafar 1435 H/26 Desember 2013.


Abu Kayyisa,

Yang mendamba Ampunan dari Rabb Sang Pencipta Jagad Raya.

 

 

ARSIP ARTIKELs

Kajian Online UAE   

KAJIAN ISLAM ONLINE - UAE

 

KAJIAN ONLINE - UAE

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه وبعد

Barakallahu fikum, semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan kepada antum sekalian. Silahkan bagi yang berminat untuk mengikuti KAJIAN ONLINE setiap :

  • Selasa (Malam Rabu):   Jam 20.15-21.15 waktu UAE (atau 23.15 - 00.15 WIB) dengan pokok Kajian membahas Kitab Bulughul Maram - Kitabul Jami'.

  • Sabtu (Malam Ahad):   Jam 20.15-21.15 waktu UAE (atau 23.15 - 00.15 WIB) dengan pokok Kajian Tematik membahas murojaah - ringkasan kajian dan fawaid yang diambil dari kitab Fathul Bari, Nailul Author, Al-Mughni, dan Tafsir Ibnu Katsir.

More Articles...

Page 5 of 16

<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>