Tuesday, November 21, 2017
Text Size

General

Larangan Halaqah Hari Jumát sebelum Sholat Jumát

 

 

Barakallahu fikum, semoga Allah senantiasa memberikan barokah kepada antum sekalian, Berikut adalah pembahasan tentang larangan untuk mengadakan majelis ilmu sebelum sholat jumát pada hari Jum'at.

التحلّق: هو الاجتماع لمذاكرة العلم في المسجد وغيره، ولو على غير هيئة الحلقة. كما كان الصـحابة ـ رضي الله عنهم ـ يجلسون بين يدي النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ حتى لو بُسط عليهم الرداء الواحد لوسعهم من شدّة تزاحمهم وتقاربهم

Makna At-Tahalluq – yaitu berkumpul untuk mempelajari ilmu di dalam masjid atau tempat selainnya walaupun tidak dalam bentuk melingkar sebagaimana yang dilakukan oleh para shahabat Nabi Shollallahuálahi wassalam, mereka duduk di dekat dan dihadapan Nabi Shollallahuálahi wassalam, maka apabila ada salah satu diantara mereka membentangkan satu baju cukup bagi mereka dikarenakan mereka duduk saling berdekatan rapat.

قال الإمام البغوي ـ رحمه الله ـ في "شرح السنة" (3/374): "وفي الحديث كراهية التحلُّق والاجتماع يوم الجمعة قبل الصلاة لمذاكرة العلم، بل يشتغل بالذكر والصلاة والإنصات للخطبة ثم لا بأس بالاجتماع والتحلُّق بعد الصلاة في المسجد وغيره

Al-Imam Al-Baghawi berkata dalam kitabnya Syarhus Sunnah 3/374, dalam hadist mengandung larangan halaqah dan berkumpul pada hari jumát sebelum sholat jumát untuk mempelajari ilmu namun hendaknya seorang muslim harus sibuk dengan dzikir, sholat dan diam mendengarkan khutbah maka tidak mengapa apabila setelah sholat Jumát untuk mengadakan halaqah ilmu di dalam masjid atau selainnya.

Dalil Larangan:

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنِ ابْنِ عَجْلَانَ، عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ الشِّرَاءِ وَالْبَيْعِ فِي الْمَسْجِدِ، وَأَنْ تُنْشَدَ فِيهِ ضَالَّةٌ، وَأَنْ يُنْشَدَ فِيهِ شِعْرٌ، وَنَهَى عَنِ التَّحَلُّقِ قَبْلَ الصَّلَاةِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ»

Berkata Imam at-Tirmidzi: "Telah mengabarkan kepada kami Musaddad, dia telah berkata (Musaddad): 'Telah mengabarkan kepada kami Yahya.' Dia telah berkata (Yahya): 'Telah mengabarkan kepada kami 'Ajlan, dari Amr bin Syu'aib dari Bapaknya dari Kakeknya.' Bahwa Rasulullah Shollallahu'alaihi wassalam melarang dari jual beli di masjid, melantunkan di dalamnya kebatilan, melantunkan di dalamnya syair dan melarang dari berhallaqah (bermajelis/pengajian) sebelum sholat Jum'at.'" (HR. Abu Dawud no. 1079, At-Tirmidzi no. 322, an-Nasa'i no.714, Ibnu Majah no. 1133, Derajat hadits hasan. Lihat Shohih Jami'ush Shoghir no. 6885)

Di Lafazh milik At-Tirmidzi no. 322 dengan sanad hasan:

نَهَى عَنْ تَنَاشُدِ الأَشْعَارِ فِي المَسْجِدِ، وَعَنِ البَيْعِ وَالِاشْتِرَاءِ فِيهِ، وَأَنْ يَتَحَلَّقَ النَّاسُ فِيهِ يَوْمَ الجُمُعَةِ قَبْلَ الصَّلَاةِ

Dari Amr bin Syu'aib dari Bapaknya dari Kakeknya.' Dari Rasulullah shollallahu 'alahi wassalam, Bahwa Rasulullah Shollallahu'alaihi wassalam melarang dari melantunkan syair di Masjid, jual beli di dalamnya dan melarang orang untuk membuat forum kajian (hallaqah) pada hari Jum'at sebelum sholat Jum'at.

Fawaid Hadits :

Larangan untuk membuat hallaqah pada hari Jum'at sebelum sholat Jum'at dan ini telah menjadi bid'ah yang terjadi di rumah-rumah kaum muslimin dimana orang sering menyebutnya "Kajian Islam Hari Jum'at", dan ini masuk pada keumuman larangan dan karena hal itu tidak pernah dilakukan oleh Salafush Sholih (para shahabat), begitu pula hal itu dapat menyebabkan was-was pada orang-orang yang ingin mengkhusyukkan diri dan menghadiri sholat Jum'at. ((Dinukil dari beberapa maraji', Qaulul Mubin Fi Akhtoi Mushollin (oleh Syaikh Masyhur Hasan Salman), Mausu'ah Manahi Syar'iyyah (oleh Syaikh Salim Bin Ied al-Hilaly))

Fawaid yang lain dinukil dari Kitab AtsTsamr Al Mushtathob Fi Fiqhis Sunnah wal Kitab – Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah – Jilid pertama hal 679:

Larangan ini meliputi dua makna:

Pertama : Bahwa membuat halaqah (majelis) itu menyelisihi kumpulan kaum muslimin.

Kedua: Bahwa berkumpul pada hari jum'at itu hanya untuk mendengarkan Khutbah Jum'at semata bukan untuk selainnya, seperti mengumpulkan orang sebelum sholat untuk belajar atau murajah itu akan menyebabkan lalai dan kurangnya perhatian terhadap pentingnya berdzikir, dan sholat juga diam serta mendengarkan khutbah pada sholat jum'at. Adapun setelah sholat jum'at maka tidak mengapa untuk mengadakan kumpulan atau majelis ilmu.

Barakallahu fik atas semangatnya dalam mencari tahu tentang larangan kajian sebelum sholat jum'at

Berikut ini adalah beberapa point yang penting :

  • Pertama: Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Shollallahuálahi wassalam, apa yang dilakukan kebanyakan orang/ustadz/orang alim bukanlah dalil untuk membolehkan atau mensyariatkan sesuatu amalan ibadah dalam Islam.
  • Kedua: Ketika telah datang atau kita telah mengetaui ada dalil nash yang shohih lagi jelas maka selayaknya bagi kita untuk berusaha keras dalam mempraktekkannya, dan tidak perlu kita mengambil celah kesempatan meng"akali"nya.
  • Ketiga: Hadits mengenai larangan itu masuk pada hari jumát sebelum Sholat jumát, itu mengandung maksud berlaku juga jauh sebelumnya yaitu setelah sholat Shubuh karena kita dianjurkan untuk bersegera dalam mendatangi sholat Jumát. dan saat itu para shahabat rumahnya berpencar, mereka ada yang datang dari jauh dan ingin berlomba-lomba untuk bertabkir - bersegera dalam mendatangi masjid dikarenakan pahala yang sangat besar.
  • Hal ini berdasarkan dalil:

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الجُمُعَةِ غُسْلَ الجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الخَامِسَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً، فَإِذَا خَرَجَ الإِمَامُ حَضَرَتِ المَلاَئِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ

    Dari Abu Hurairah radhiallahuánhu, Bahwa Nabi Shallallahuálaihi wassalam bersabda:

    "Barangsiapa mandi pada hari Jum'at seperti mandi junub kemudian dia berangkat ke masjid, maka seakan-akan dia berkurban dengan unta. Barangsiapa berangkat pada waktu kedua, maka seakan-akan dia berkurban dengan sapi. Barangsiapa berangkat pada waktu ketiga, maka seakan-akan dia berkurban dengan kambing yang bertanduk. Barangsiapa berangkat pada waktu keempat, maka seakan-akan dia berkurban dengan ayam. Dan barangsiapa berangkat pada waktu kelima, maka seakan-akan dia berkurban dengan telur. Jika imam (khatib) telah datang, maka Malaikat akan hadir untuk mendengarkan Khutbah." (HR. al-Bukhori no. 881 dan Muslim no. 850 (10). Derajat Hadits Shohih)

    Diriwayatkan dari Aus bin Aus radliyallah 'anhu, berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

    مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا مِنْ الْإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا

    "Barangsiapa mandi pada hari Jum'at, berangkat lebih awal (ke masjid), berjalan kaki dan tidak berkendaraan, mendekat kepada imam dan mendengarkan khutbahnya, dan tidak berbuat lagha (sia-sia), maka dari setiap langkah yang ditempuhnya dia akan mendapatkan pahala puasa dan qiyamulail setahun." (HR. Abu Dawud no. 1077, al-Nasai no. 1364 Ahmad no. 15585. Derajat Hadits Shohih Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami', no. 6405)

    hal ini sebagaimana ana sarikan dari kitab Al-Lumáh fi Hukmil Ijtima' liddarsi qabla sholatil Jum'at oleh Syaikh Muhammad Musa Alu Nasr dimana beliau menukilkan dari fatwa Syaikh Albani ketika beliau ditanya tentang hukum halaqah sebelum pada hari jumát sebelum sholat jumát.

    Ada dari para ulama (termasuk Syaikh Abdullah bin Jibrin rahimahullah) yang berpendapat tentang dibolehkannya kajian/halaqah ilmu sebelum sholat jumát yang didasari dari fiíl perbuatan Abu Hurairah, yang tercantum di dalam Mustadrak Imam Al-Hakim no. 6173, Ibnu Abi Syaibah dalam al Mushonnaf no. 5411, Abu Áwanah dalam Al-Mustakhroj no. 3407, bahwa Abu Hurairah radhiallahu'anhu beliau datang sebelum sholat Jumát lalu beliau memberikan bimbingan/ceramah tentang ilmu kepada manusia...dalam riwayat yang lain (al-Mushonnaf), Abu Hurairah melakukan ceramah pada hari jumát sebelum keluarnya khotib/imam sholat jumát"

    " أن أبا هريرة رضي الله عنه كان يجيء قبل الصلاة ، فيحدث الناس ..."
    و في رواية المصنف : " كان أبو هريرة يحدثنا يوم الجمعة حتى يخرج الإمام "

    Namun ini adalah perilaku seorang shahabat dimana seorang shahabat tidak dihukumi maksum seperti Rasulullah Shollallahuálaihi wassalam namun kesepakatan mereka adalah hujah bagi kita. Nah perilaku Shahabat Abu Hurairah radhiallahu'anhu ini adalah ijtihad beliau.

  • Keempat: Dikembalikan kepada keadaan kita, "Apa sih beratnya mengadakan kajian/halaqah ilmu selepas sholat Jumát?...pertanyaan ini adalah jalan keluar bagi kita yang masih ragu dan berpendapat bahwa kajian/halaqah sebelum jumát itu boleh sekaligus mengamalkan hadits Rasulullah Shollallahuálahi wassalam

     

    دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ

    Tinggalkanlah apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu (Hadits Arbain no.11 HR. Annasai no. 5711, Ahmad 1/200, At-Tirmidzi 2/84, Derajat Hadits Shohih dishohihkan Syaikh Albani dalam Irwaul Ghalil no. 12.)

  • Kelima: Kewajiban kita adalah menyampaikan ilmu dengan ilmiah dan dengan disertai kelembutan akhlaq sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah Shollallahuálaihi wassalam ketika menasehati orang badui yang kencing di masjid, sedang para Shahabat sangat marah dan murka kepada badui tsb, selengkapnya ada di hadits berikut:

     

    عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ: أَنَّ أَعْرَابِيًّا بَالَ فِي المَسْجِدِ، فَقَامُوا إِلَيْهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لاَ تُزْرِمُوهُ» ثُمَّ دَعَا بِدَلْوٍ مِنْ مَاءٍ فَصُبَّ عَلَيْهِ

    Dari Shahabat Anas bin Malik, bahwa ada seorang badui kencing di dalam masjid, kemudian para shabahat mendatanginya, maka berkatalah Rasulullah Shollallahuálahi wassalam, janganlah engkau putus/cegah kencingnya (dalam riwayat Muslim no. 284 (99), tinggalkan dia dan jangan engkau cegah kencingnya)", kemudian beliau memerintahkan untuk mengambil ember berisi air dan disiramkan diatas kencing badui tsb.

    Derajat Hadits Shohih diriwayatkan imam al-Bukhori dalam shohihnya no. 6025 dalam bab al-Rifqu fil Amri Kullih - Bab lemah lembut disetiap perkara.

Nah disini hendaknya ketika kita telah memahami suatu konteks nash yang shohih dari al-Qur-an dan as-Sunnah dengan pemahaman para shahabat maka haruslah diaplikasikan dengan kelembutan dan akhlaq yang mulia. Hadits diatas menunjukan orang (dalam hadits - Nabi Shollallahuálaihi wassallam menyelisihi kemurkaan para shahahat dengan ilmu dan kelembutan beliau) yang mempunyai ilmu lebih banyak maka ilmunya akan dapat mengaplikasikan dan mendakwahkaannya dengan penuh kelembutan sedangkan ketika ilmu itu sedikit maka yang terjadi kadang tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki karena disampaikan ilmu kepada orang lain dengan jalan yang instan (baca= kurang lembut alias kasar lagi berapi-api).

Demikian semoga bermanfaat,

Zaki Rakhmawan

Abu Kayyisa, Abu Dhabi UAE

Page 16 of 16

<< Start < Prev 11 12 13 14 15 16 Next > End >>