Thursday, April 24, 2014
Text Size

Artikel Fiqih

 

Sunnah Seharga 5 Dirham.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه وبعد

Barakallahu fikum, semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan kepada antum sekalian,

Tulisan kali ini adalah mengenai sebuah pelajaran penting tentang sunnah yang ditinggalkan oleh kebanyakan orang - Yaitu tentang ISBAL.

Diawali dari kisah nyata yang terjadi di masjid al-Muhajirin Ar-Rahba di pinggiran Abu Dhabi, UAE, tepatnya ketika menjelang sholat Maghrib. Ketika itu ada seorang teman lokal yang akrab sebut saja namanya Hamad, tergopoh-gopoh menuju shaf, setelah melihat-lihat ternyata ada celah kecil disampingku dan aku mempersilahkan beliau berdiri disampingku. Setelah sholat selesai, beliau hendak bergegas keluar masjid namun dengan suara lirih aku menyapanya, "Kaifal Hal ya Akhi al-Aziz ?" (Apa kabar wahai Saudaraku yang mulia?) kemudian dia menjawab, "Alhamdulillah bikhoir" terus aku bertanya kepada beliau, "Barakallahu fik, hal turidu hadiyyatan bikhoms dirham faqoth?" (Semoga Allah memberikan keberkahan kepadamu, apakah engkau ingin hadiah sebesar 5 dirham saja?"). Lantas dia pun bingung, terheran-heran sambil berujar, "Madza turidu ya akhi, na'am ana uridu hadiyyatan walakin laisa bi khoms dirham, lesh khomsa dirham?" (Apa yang kamu inginkan wahai saudaraku, betul aku ingin hadiah namun bukan 5 dirham, kenapa 5 dirham?). Dengan wajah penuh harap tentang penjelasan kenapa disebutkan hadiah 5 dirham (5 dirham setara dengan 16 ribu rupiah), mungkin bisa jadi itu sangat lucu atau aneh kenapa hadiah sebesar 5 dirham saja, sedangkan 5 dirham bagi orang lokal UAE itu bisa dianggap pelecehan karena saking murahnya.

Setelah itu aku jelaskan, "Khomsah dirham lidzihab ila khoyyath liqatho' tsaubak hatta fauqa ka'baini" (5 dirham itu untuk pergi ke penjahit dalam rangka memotong bajumu agar dapat diatas mata kaki). Beliaupun tersenyum, sambil berkata, "Ya akhi, kullu malabisi qad qatho'tu fauqa ka'baini illa hadza faqath, lianni musta'jil lidzihab ila masjid wa ma nabbahtu anna tsaubi tahta ka'baini, wa jazakallahu khoiran 'ala husni nasihatik" ("Wahai saudaraku, semua bajuku sudah aku potong diatas mata kaki kecuali yang satu ini, karena aku tergesa-gesa untuk pergi ke masjid sehingga aku tidak memperhatikan bahwa bajuku dibawah mata kaki, jazakallah khoiran atas kebaikan nasehatmu."). Keumuman yang berlaku di Abu Dhabi dan daerah sekitarnya ketika hendak memotong baju oleh penjahit setempat biaya standarnya adalah seharga 5 dirham. Akhirnya kamipun bersalaman dan dia masih cengar cengir senyum, merasa aneh dengan penyebutan 5 dirham.

Subhanallah…fenomena asing lagi aneh, begitulah keindahan Islam di akhir zaman menjadi asing...begitu banyak pengikut Nabi Shallallahu'alaihi wassalam sudah jauh dari apa yang diikutinya…dan ketika diberitahukan tentang petunjuk yang benar dari Beliau shallallahu'alaihi wassalam maka terkadang hati itu tidak mudah untuk menerimanya karena memang itu sudah asing. Betul-lah apa yang diucapkan suri tauladan kita Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ، وَابْنُ أَبِي عُمَرَ، جَمِيعًا عَنْ مَرْوَانَ الْفَزَارِيِّ، قَالَ ابْنُ عَبَّادٍ: حَدَّثَنَا مَرْوَانُ، عَنْ يَزِيدَ يَعْنِي ابْنَ كَيْسَانَ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ»

"Berkata Imam Muslim: "Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin 'Abbad dan Ibnu Abi 'Umar yang keduanya (mendengar) dari Marwan al-Fazaari, berkata Ibnu 'Abbad: "Telah mengabarkan kepada kami Marwan, dari Yazid yaitu Ibnu Kaisan, dari Abi Hazim, dari Abi Hurairah, beliau (Abu Hurairah radhiallahu'anhu) berkata: Rasulullah salallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Islam awalnya asing, dan kelak akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka beruntunglah bagi al-Ghuraba' (orang-orang asing)."
  Hadits Shohih   (HR. Muslim (no. 145))

Tentang mengenakan baju, celana, sarung diatas mata kaki itu merupakan hal yang asing dan aneh, inipun terjadi bukan hanya di Indonesia, namun disemua penjuru dunia termasuk di Abu Dhabi, berapa banyak orang yang merasa aneh dengan menjulurkan kain diatas mata kaki, berapa banyak dari mereka yang tidak mengenal ataupun jauh dari penjelasan tentang sunnah al-mahjurah (sunnah yang ditinggalkan) termasuk didalamnya menjulurkan kain di atas mata kaki.

Saudaraku yang semoga Allah senantiasa menjagamu…mari kita simak penjelasan detail tentang apa itu Isbal dan dalil-dalilnya:

Pengertian Isbal:

Isbal secara bahasa adalah masdar (kata kerja yang dibendakan) dari "asbala" (telah menjulurkan), "yusbilu" (sedang menjulurkan) (masdarnya - kata kerja yang dibendakan) dari isbaalan (penjuluruan) dan orang yang melakukan pekerjaan isbal adalah disebut sebagai "Musbil" (pelaku penjuluruan)",

أَسْبَلَ يُسْبِلُ ، إِسْبَالاً ، فَهُوَ مُسْبِلٌ

Secara umum arti secara bahasa adalah menurunkan, menjulurkan atau memanjangkan. (lihat Mu'jam al-Lughoh al-Arabiyah al-Mu'ashiroh no. 2431 oleh Dr. Ahmad Mukhtar Abdul Hamid Umar cet. Alam al-Kutub 1429 H).

Sedangkan menurut istilah, diungkapkan dalam kamus Lisanul Arob sebagaimana yang dinukil dari Ibnul 'Arabi:

المُسْبِلُ الَّذِي يُطَوِّل ثَوْبَهُ ويُرْسِلُهُ إِلىَ الأَرْضِ إِذَا مَشَى وإِنَّمَا يَفْعَلُ ذَلِكَ كِبْراً واخْتِيَالًا

Musbil adalah orang yang memanjangkan dan menjulurkan pakaiannya hingga menyentuh tanah, baik karena sombong ataupun tidak. (Lihat Lisanul 'Arob, Ibnul Munzhir 11/321 cet Dar Shoodir)

Saudaraku yang semoga Allah membukakan pintu hidayah-Nya bagiku dan bagimu…serta melapangkan dada kita untuk menerima dalil-dalil yang shohih dan dimudahkan untuk mengamalkannya...simaklah dalil-dalil berikut:

Hadits Pertama:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُقَاتِلٍ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ، أَخْبَرَنَا مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ، عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ، لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ القِيَامَةِ» فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ ثَوْبِي يَسْتَرْخِي، إِلَّا أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّكَ لَسْتَ تَصْنَعُ ذَلِكَ خُيَلاَءَ» قَالَ مُوسَى: فَقُلْتُ لِسَالِمٍ أَذَكَرَ عَبْدُ اللَّهِ " مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ؟ قَالَ: لَمْ أَسْمَعْهُ ذَكَرَ إِلَّا ثَوْبَهُ "

(Imam al-Bukhori berkata) Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Muqathil, (Muhammad berkata) telah mengabarkan kepada kami Abdullah (bin Al-Mubarak), (Abdullah bin al-Mubarak) berkata, 'Telah mengabarkan kepada kami Musa bin Uqbah dari Salim bin Abdullah (bin Umar) dari Abdullah bin Umar radhiallahu'anhuma, dia berkata, 'Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam bersabda:

"Barangsiapa menjulurkan pakaiannya karena sombong, tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat. Abu Bakar lalu berkata: 'Salah satu sisi pakaianku akan melorot kecuali aku ikat dengan benar'. Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: 'Engkau tidak melakukan itu karena sombong'.
 Musa bertanya kepada Salim, apakah Abdullah bin Umar menyebutkan lafadz 'barangsiapa menjulurkan kainnya'? Salim menjawab, yang saya dengar dari beliau (Abdullah bin Umar) hanya 'barangsiapa menjulurkan pakaiannya'. "  Hadits Shohih   (HR. Al-Bukhari 3665, diriwayatkan pula oleh Muslim 2085, Abu Dawud no. 4085 dan yang lainnya.)

Hadits Kedua:

حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنِ الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: سَأَلْتُ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ عَنِ الإِزَارِ، فَقَال: عَلَى الْخَبِيرِ سَقَطْتَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِزْرَةُ الْمُسْلِمِ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ، وَلَا حَرَجَ - أَوْ لَا جُنَاحَ - فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْكَعْبَيْنِ، مَا كَانَ أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ فَهُوَ فِي النَّارِ، مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ»

Telah menceritakan kepada kami (Abu Dawud) Hafsh bin Umar berkata, telah menceritakan kepada kami (Hafsh) Syu'bah dari Al 'Ala bin 'Abdurrahman dari Bapaknya ia berkata, "Aku bertanya kepada Abu Sa'id Al Khudri tentang kain sarung, lalu ia berkata, "Engkau bertanya kepada orang yang tepat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Kain sarung seorang muslim sebatas setengah betis, dan tidak berdosa antara batas setengah betis hingga dua mata kaki. Adapun apa yang ada di bawah kedua mata kaki adalah di neraka. Dan barangsiapa menjulurkan kain sarungnya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat."
  Hadits Shohih   (HR. Abu Dawud no. 4093 (sanad diatas milik Abu Dawud), Ahmad no. 11397, Shohih – Lihat Shohih Jami'ush Shoghir no. 921)

Hadits Ketiga:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ، حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ، حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ، عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ القِيَامَةِ» قَالَ أَبُو بَكْرٍ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ إِزَارِي يَسْتَرْخِي، إِلَّا أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَسْتَ مِمَّنْ يَصْنَعُهُ خُيَلاَءَ»

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami Zuhair telah menceritakan kepada kami Musa bin 'Uqbah dari Salim bin Abdullah dari Ayahnya radliallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda:

"Siapa yang menjulurkan pakaiannya (hingga ke bawah mata kaki) dengan sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari Kiamat kelak." Lalu Abu Bakar berkata; "Wahai Rasulullah, sesungguhnya salah satu dari sarungku terkadang turun sendiri, kecuali jika aku selalu menjaganya?" lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Engkau bukan termasuk orang yang melakukan hal itu karena sombong."
  Hadits Shohih   (HR. Al-Bukhari 3665, diriwayatkan pula oleh Muslim 2085, Abu Dawud no. 4085 dan yang lainnya.)

Hadits shohih diatas banyak dipahami keliru oleh kebanyakan orang yang menganggap enteng perkara isbal dan mereka membolehkan isbal dengan dalil keadaan yang dialami oleh Abu Bakar, namun simaklah penjelasan Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari Syarah Shohih al-Bukhori 10/255, tentang alasan kenapa Shahabat Abu Bakar radhiallahu'aanhu melakukan itu bukan karena sombong, :

وَكَانَ سَبَبُ اسْتِرْخَائِهِ نَحَافَةَ جِسْمِ أَبِي بَكْرٍ

Sebab turunnya (kain Abu Bakar) adalah karena kurusnya badan Abu Bakar.

Saudaraku silahkan antum simak tanya jawab dari transkrip kaset no 33 dari Silsilah al-Huda wan Nuur diawali dari menit ke 26:51 oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah:

- قوله عليه الصلاة والسلام لأبي بكر في الإسبال (..انك لست ممن يفعل ذلك خيلاء..) هل هي واقعة عين؟ أم تحمل على جواز الإسبال لغير الخيلاء .؟ ( 00:26:51 )

"Sabda Nabi Shallallahu'alaihi wassalam kepada Abu Bakar tentang Isbal (Sesungguhnya engkau bukan termasuk orang yang melakukan isbal karena sombong) apakah sebab itu berlaku khusus karena keutamaan dari Shahabat Abu Bakar atau berlaku juga bolehnya Isbal tanpa ada sombong ?"

أبو اسحق : طيب بالنسبة لتقصير القميص ، وواقعة أبى بكر مع النبى صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّم ، لما (قال له صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّم : لست ممن يصنعه خيلاء) هل هذه واقعة عين؟ أم يجوز للرجل ان يطيل ثوبه ليس من باب الكبر أو نحو ذلك ؟ الشيخ : لا يجوز للمسلم أن يتعمد إطالة ثوبه بدعوى أنه لايفعل ذلك خيلاء ، وذلك لسببين اثنين

Abu Ishaq (Al-Huwaini), baik, berkaitan dengan memendekkan gamish, terjadi pada Abu Bakar dimana Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam ketika itu beliau bersabda : "Engkau bukan termasuk orang yang melakukannya karena sombong, apakah sebab itu berlaku khusus karena keutamaan dari Shahabat Abu Bakar atau berlaku juga bolehnya Isbal tanpa ada sombong ? atau apakah boleh seseorang untuk memanjangkan bajunya tanpa ada niat sombong atau yang semacamnya? Syaikh Al-Albani menjawab: Tidak boleh bagi seorang muslim untuk sengaja memanjangkan bajunya dengan anggapan bahwa ia melakukannya karena tidak ada maksud sombong, hal itu karena ada dua sebab:

السبب الأول- وهو الذى يتعلق بقول الرسول عَلَيْهِ الصلاة والَسَلَاّم لأبى بكر ما ذكرته أنفا (إنك لا تفعل ذلك خيلاء): ان أبا بكر لم يتخذ ثوبا طويلا فقال له عَلَيْهِ الصلاة والَسَلَاّم (إنك لا تفعل ذلك خيلاء) ، وإنما كان قوله جوابا لقوله بأنه كان يسقط الثوب عنه ، فيصبح كما لو أطال ذيله ، فأجابه الرسول بأن هذا أمر لا تؤأخذ عليه لأنك لا تفعله قصدا ، فلذلك لا يجوز أن نلحق بأبي بكر ناسا يتعمدون إطالة الذيول ثم يقولون نحن لا نفعل ذلك خيلاء ، فحادثة أبى بكر لا تشهد لهؤلاء مطلقا ،

Sebab yang pertama: Sebab ini berkaitan dengan sabda Nabi Shallallahu'alaihi wassalam kepada Abu Bakar sebagaimana yang telah aku sebutkan barusan, (Sesungguhnya engkau tidak melakukan yang demikian karena sombong) sesungguhnya Abu Bakar tidak mengenakan pakaian yang panjang oleh karena itu Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam bersabda: (Sesungguhnya engkau tidak melakukan yang demikian karena sombong) dan ucapan beliau tersebut adalah merupakan jawaban bahwa bajunya (Abu Bakar) itu mlorot ke bawah. Maka bajunya beliau menjadi melorot ke bawah lalu Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam menjawab bahwa perkara tersebut tidak menjadi kesalahannya karena engkau tidak melakukannya dengan sengaja. Oleh karena itu tidak boleh ada yang menyamakan dengan (kondisi yang dialami) Abu Bakar (dalam hal) memanjangkan kain sampai bawah mata kaki dan mereka berkilah "kami tidak melakukan demikian (isbal) karena sombong" maka kejadian yang dialami Abu Bakar tidak dapat menjadi bukti pembolehan bagi mereka (yang mengatakan kami isbal karena tidak sombong) secara mutlaq.

والسبب الآخر : هو أن النبى صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّم ، قد وضع نظاما للمسلم فى ثوبه ومقدار ما يجوز له أن يطيل منه ، فقال صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّم ، (أزره المؤمن إلى نصف الساق فإن طال فإلى الكعبين فإن طال ففى النار)، فهنا لا يوجد العلة التى جاء ذكرها فى الحديث الصحيح (من جر ازاره خيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة)

Sebab yang lainnya; Sesungguhnya Nabi Shallallahu'alaihi wassalam telah meletakkan peraturan bagi seorang muslim tentang bajunya dan panjang yang tidak diperbolehkan untuk melewatinya maka beliau Shallallahu'alaihi wassalam bersabda ('baju seorang mukmin itu panjangnya sampai setengah betis dan apabila ingin lebih panjang lagi maka sampai kedua mata kaki dan bila lebih panjang lagi maka letaknya di neraka) maka didalam keterangan tersebut tidak ada lagi alasan untuk berhujah dengan dalil (yaitu) hadits shohih (barang siapa yang menjulurkan kainnya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat).

فهذا وزر أشد من وزر من يطيل إزاره تحت ساقيه ، بمعنى أن إطالة الإزار تحت الساقين عمدا – بغض النظر هل فعل ذلك خيلاء أم لا – فهو مؤاخذ عليه صاحبه وهو فى النار ، لكن إن إقترن مع هذه المخالفة لهذا النظام النبوى إلى نصف الساقين فإن طال فإلى مافوق الكعبين فإن طال ففى النار ، فإن إقترن مع هذه المخالفة لهذا النظام أنه يفعل ذلك خيلاء فهو الذى يستحق بعيد فقده لرحمة ربه ، وتوجه ربنا عز وجل إليه بالنظر بالرحمة إليه يوم القيامة ، ذلك لا ينبغى أن نأخذ من قصة أبى بكر جواز الإطالة بدون قصد الخيلاء لأن هذا يخالف نظام الحديث السابق ، وهذا واضح إن شاء الله .

Maka itu adalah dosa yang lebih dahsyat dari dosanya orang yang menjulurkan kain dibawah betis, maksudnya bahwa memanjangkan kain dibawah kedua betis secara sengaja - Dengan penilaian – apakah dia melakukan yang demikian karena sombong atau tidak - maka akan dihukum pelakunya dan dia berada di neraka, namun apabila dibandingkan dengan pelanggaran terhadap peraturan Nabi Shallallahu'alaihi wassalam (bahwa panjang kain) sampai setengah betis jika (ingin lebih panjang lagi) maka bolehnya adalah antara setengah betis sampai diatas mata kaki, jika ingin lebih panjang lagi maka posisinya di neraka. Apabila dikaitkan dengan pelanggaran terhadap peraturan tersebut (Peraturan panjang kain) bahwasanya dia melakukan yang demikan itu karena sombong maka rahmat Allah akan terluput darinya begitu pula penglihatan Allah kepadanya dengan pandangan rahmat pada hari kiamat. Tidak selayaknya mengambil alasan dari kisahnya Abu Bakar tentang bolehnya memanjangkan kain dengan alasan tidak sombong karena hal tersebut menyelisihi peraturan hadist sebelumnya. Dan Ini jelas inSyaAllah.

أبو اسحق : طيب يا شيخنا نلاحظ كثير من الأخوة يلبس القميص قصير ويلبس تحته بنطلون طويل يعنى يصل أحيانا إلى ما تحت الكعبين هل هذا يدخل فى النهى أيضا ؟ الشيخ : كل الدروب على الطاحون ، لا يجوز أيضا أبو اسحق : طب الجملة الى ..هههههه أبو الحارث : هذا مثل عندنا فى الشام الشيخ : كل الدروب على الطاحون ، يعنى كل طريق يصل الى المحرم فهو محرم ، ولا يجوز هذا لأن الإزار ليس هو المقصود بذاته ، إنما المقصود هو الثوب سواء كان إزارا أو كان قميصا أو كان عباءة أو نحو ذلك

Abu Ishaq (Al-Huwaini) berkata, Baik wahai Syaikhona (Guru kami), banyak dari saudara-saudara kita yang memakai gamish yang pendek dan bawahannya memakai celana panjang yang panjangnya terkadang sampai dibawah mata kaki, apakah ini masuk pula dalam larangan tersebut? Syaikh berkata: Setiap lintasan yang banyak akhirnya bertemu pula di tempat penggilingan yang sama, tidak boleh pula hukumnya. Abu Ishaq, baik ya Shaikh (suara tertawa hahaha), Abu Harits (Syaikh Ali Hasan) berkata, majaz tadi sama dengan apa yang ada di Syam (syiria), Syaikh Albani berkata, maksud Kullu Dhuruub ala Thohuun adalah setiap jalan yang tujuan akhirnya adalah haram maka hukumnya sama yaitu dia itu haram maka tidak boleh yang demikian...hal ini karena sarung/kain itu bukan maksud secara dzatnya (larangan bukan hanya pada sarung/kain secara pengkhususan) namun maksudnya adalah kain baju baik itu berupa sarung/kain atau baju panjang atau abaya (rompi panjang) atau yang semisalnya

، فلا ينبغي للمسلم أن يطيل هذا الثوب الى ما تحت الكعبين . نعم الطالب : أستاذي هناك حديث (وإياك واسبال الازرار فان اسبال الإزار من المخيلة) هذا الحديث قد يدل على سواء نوى أن يكون هذا من الخيلاء أو لا يكون من الخيلاء هو بمجرد أن يسبل إزاره تحت الكعبين هذا يكون خيلاء الشيخ : هذا صحيح ، هذا هو الأصل ، لكن الواقع أننا لا نستطيع أن ننكر واقع أخر ، وهو أن بعض الناس قد يفعلون ذلك ولا يدور فى خلدهم إطلاقا قصد الخيلاء ، لكن هو إطالة الإزار المقصود منه هو الخيلاء ، فهذا الحديث الذى تذكره أنت يشير إلى الأصل ، لماذا يطيل الإزار ؟ هو خيلاء ، لكن هذا لا يعني ان نفرض على كل شخص أن نتهمه بأنه يفعل ذلك خيلاء ، وهو أدرى بنفسه إذ يقول أنا لا أفعله ، وإنما نلفت نظره والحالة هذه الى الحديث السابق الذى هو منهج لهذا القميص أو ذاك الثوب وهو من حديث أبى سعيد الخدرى رضى الله عنه .

Maka tidak selayaknya bagi seorang muslim untuk memanjangkan bajunya sampai dibawah mata kaki, seorang murid Syaikh Albani bertanya, "Wahai ustadzku, ada hadits (Hati-hatilah kalian terhadap isbal sarung/kain karena menjulurkan sarung/kain dibawah mata kaki adalah termasuk sombong) hadits ini menunjukkan bahwa adanya atau tidaknya niat sombong itu cukup dengan menjulurkan sarung/kain dibawah mata kaki maka itu termasuk perbuatan sombong? Syaikh Albani menjawab: "(pernyataan) ini shohih" dan (pernyataan) ini adalah asas pokoknya namun secara kenyataan kita tidak bisa memungkiri kenyataan yang lainnya yaitu bahwa sebagian orang terkadang melakukan perbuatan demikian dimana mereka tidak memutlakannya sebagai perbuatan sombong namun (yang benar) adalah memanjangkan sarung/kain dimaksudkan darinya adalah termasuk sombong dan hadits yang engkau sebutkan tadi itu adalah pokok asal, oleh karena itu kenapa orang memanjangkan sarung/kain? Sedangkan perbuatan memanjangkannya itu termasuk sombong dan dia mengetahui terhadap dirinya ketika dia beralasan bahwa aku tidak melakukannya (dengan niat sombong). Sesungguhnya aku menilai keadaanya dengan hadits yang telah lalu dimana hadits tersebut adalah manhaj tolok ukur untuk panjang ghamis atau baju dan itu dari hadist Abu Sa'id al-Khudry radhiallahu'anhu (baca:hadits kedua).

Begitu pula Syaikh Albani memberikan penjelasan yang sangat jelas terhadap penjelasan hadits kejadian Abu Bakar radhiallahu'anhu:

فتجد من ذلك البعض من لا يبالي مثلا أن يجر ثوبه على الأرض بدعوى أنه لا يفعل ذلك خيلاء ، مستروحا إلى قوله صلى الله عليه وسلم لأبي بكر « لست ممن يصنعه خيلاء » ، غافلين عن الفرق الظاهر بينه رضي الله عنه وبينهم ، فإنه كان لا يتعمد ذلك ، كما هو صريح قوله : « إن أحد شقي إزاري يسترخي » وهم يتعمدون إرخاءه ، جاهلين أو متجاهلين ما جاء في صفة إزاره صلى الله عليه وسلم

Maka engkau akan mendapati sebagian dari mereka orang-orang yang tidak ambil peduli terhadap (permasalahan) menurunkan pakaiannya sehingga terjulur ke tanah, serta mengiringinya dengan anggapan bahwa dia tidak melakukannya dengan sombong, sambil tanpa merasa bersalah (bahkan gembira) hatinya dengan pendalilan hadis yang berkenaan dengan kisah Abu Bakar. (Sebenarnya) mereka lalai dengan adanya perbezaan yang sangat ketara di antara Abu Bakar dengan diri mereka. Di mana Abu Bakar benar-benar tidak sengaja melakukannya (malah telah berusaha sedaya-upaya), sebagaimana telah jelas di dalam hadis tersebut menyatakan bahawa kainnya menjulur turun tanpa sengaja. Sedangkan mereka yang menggunakan hadis tersebut untuk membolehkan isbal, mereka melakukannya dengan kesengajaan. Di mana mereka tidak tahu atau sengaja bersikap bodoh terhadap hadis-hadis yang menjelaskan tentang sifat pakaian Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam...." (Mukhtashor Shamaail Muhammadiyah hal 10, cet Maktabah al-Mar'arif)

Hadits Keempat:

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عُفَيْرٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي اللَّيْثُ، قَالَ: حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ خَالِدٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، أَنَّ أَبَاهُ، حَدَّثَهُ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «بَيْنَا رَجُلٌ يَجُرُّ إِزَارَهُ، إِذْ خُسِفَ بِهِ، فَهُوَ يَتَجَلَّلُ فِي الأَرْضِ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ» تَابَعَهُ يُونُسُ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، وَلَمْ يَرْفَعْهُ شُعَيْبٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ جَرِيرٍ: أَخْبَرَنَا أَبِي، عَنْ عَمِّهِ جَرِيرِ بْنِ زَيْدٍ، قَالَ: كُنْتُ مَعَ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ - عَلَى بَابِ دَارِهِ - فَقَالَ: سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ، سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ

Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin 'Ufair dia berkata; telah menceritakan kepadaku Al Laits dia berkata; telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Khalid dari Ibnu Syihab dari Salim bin Abdullah bahwa Ayahnya (Abdullah bin Umar bin al-Khoththob) telah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Ketika ada seseorang yang menjulurkan kain sarung/kainnya maka dia akan berguncang-guncang (diadzab) di perut bumi hingga datangnya hari Kiamat."
 Hadits ini juga diperkuat oleh riwayat Yunus dari Az Zuhri namun dia tidak merafa'kannya (sanadnya tersambung sampai kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam) yaitu dari Syu'aib dari Az Zuhri, Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Wahb bin Jarir telah mengabarkan kepada kami Ayahku dari pamannya Jarir bin Zaid dia berkata; saya pernah bersama Salim bin Abdullah bin Umar berada di depan pintunya, lalu dia berkata; saya mendengar bahwa Abu Hurairah mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda seperti hadits di atas."   Hadits Shohih   (HR. Al-Bukhori no. 5790)

Dalam lafazh yang lainnya :

حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ، أَخْبَرَنَا يُونُسُ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، أَخْبَرَنِي سَالِمٌ، أَنَّ ابْنَ عُمَرَ، حَدَّثَهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «بَيْنَمَا رَجُلٌ يَجُرُّ إِزَارَهُ مِنَ الخُيَلاَءِ، خُسِفَ بِهِ، فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِي الأَرْضِ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ» تَابَعَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ خَالِدٍ، عَنِ الزُّهْرِيِّ

Telah bercerita kepada kami (Imam al-Bukhori) Bisyir bin Muhammad telah mengabarkan kepada kami 'Abdullah telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Az Zuhry telah mengabarkan kepadaku Salim (bin Abdillah bin Umar) bahwa Ibnu 'Umar radliallahu 'anhuma telah bercerita bahwa Nabi Shallallu 'alaihi wa salam besabda:

"Ada seorang laki-laki yang ketika dia menjulurkan pakaiannya karena kesombongan, ia dibenamkan ke dasar bumi, dan orang itu terus meronta-ronta hingga hari qiyamat"
. Hadits ini diikuti oleh 'Abdur Rahman bin Khalid dari Az Zuhry. Hadits Shohih   (HR. Al-Bukhori no. 3485)

Hadits Kelima:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ يَوْمَ القِيَامَةِ إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا»

"Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Abu Az Zinnad dari Al A'raj dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Pada hari kiamat kelak, Allah tidak akan melihat orang yang menjulurkan kain sarung/kainnya karena sombong."
  Hadits Shohih   (HR. Al-Bukhori no. 5788)

Hadits yang lainnya:

Hadits Keenam:

حَدَّثَنَا آدَمُ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي سَعِيدٍ المَقْبُرِيُّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَا أَسْفَلَ مِنَ الكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِي النَّارِ»

"Telah menceritakan kepada kami (Al-Bukhori) Adam telah menceritakan kepada kami Syu'bah telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Abu Sa'id Al-Maqburi dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

"Apa saja yang terletak dibawah mata kaki dari sarung (kain bawah yang dipakai seperti ketika ihram), maka tempatnya adalah di neraka."
  Hadits Shohih   (HR. Bukhari 5787)

Hadits yang lainnya:

Hadits Ketujuh:

وَحَدَّثَنِي أَبُو بَكْرِ بْنُ خَلَّادٍ الْبَاهِلِيُّ، حَدَّثَنَا يَحْيَى وَهُوَ الْقَطَّانُ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ الْأَعْمَشُ، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ مُسْهِرٍ، عَنْ خَرَشَةَ بْنِ الْحُرِّ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: الْمَنَّانُ الَّذِي لَا يُعْطِي شَيْئًا إِلَّا مَنَّهُ، وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْفَاجِرِ، وَالْمُسْبِلُ إِزَارَهُ " وَحَدَّثَنِيهِ بِشْرُ بْنُ خَالِدٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ، يَعْنِي ابْنَ جَعْفَرٍ، عَنْ شُعْبَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ سُلَيْمَانَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ، وَقَالَ: «ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ»

" Dan telah menceritakan kepada kami (Imam Muslim) Abu Bakar bin Khallad al-Bahili telah menceritakan kepada kami Yahya –dia adalah al-Qaththan- telah menceritakan kepada kami Sufyan (bin Sa'id bin Masruq atau terkenal dengan nama Sufyan Ats-Tsaury) telah menceritakan kepada kami Sulaiman al-A'masy dari Sulaiman bin Mushir dari Kharasyah bin al-Hurr dari Abu Dzar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, Beliau bersabda:

"Ada tiga jenis orang yang Allah tidak akan mengajak mereka bicara pada hari kiamat: Orang yang suka memberi, dia memberi melainkan dengan menyebut-nyebutkannya (karena riya'), orang yang membuat laku barang dagangannya dengan sumpah palsu, serta orang yang melakukan isbal (memanjangkan/menjulurkan) pakaian."
Dan telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Khalid telah menceritakan kepada kami Muhammad -yaitu Ibnu Ja'far- dari Syu'bah dia berkata, saya mendengar Sulaiman dengan sanad ini, dan dia menyebutkan, "Ada tiga jenis orang yang Allah tidak akan mengajak mereka berbicara dan tidak melihat kepada mereka serta tidak mensucikan mereka. Dan mereka mendapatkan siksa yang pedih."   Hadits Shohih   (HR. Muslim no.106 dari Shahabat Abu Dzar radhi'allahu'anhu)

Hadits Kedelapan:

حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ وَاقِدٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: مَرَرْتُ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي إِزَارِي اسْتِرْخَاءٌ، فَقَالَ: «يَا عَبْدَ اللهِ، ارْفَعْ إِزَارَكَ»، فَرَفَعْتُهُ، ثُمَّ قَالَ: «زِدْ»، فَزِدْتُ، فَمَا زِلْتُ أَتَحَرَّاهَا بَعْدُ، فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ: إِلَى أَيْنَ؟ فَقَالَ: أَنْصَافِ السَّاقَيْنِ

"Telah menceritakan kepadaku (Imam Muslim) Abu Ath-Thahir; Telah menceritakan kepada kami (Abu Ath-Thahir) Ibnu Wahb; (dia Ibnu Wahab berkata) Telah mengabarkan kepadaku 'Umar bin Muhammad dari 'Abdullah bin Waqid dari Ibnu 'Umar , ia berkata;

"Aku pernah melewati Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sementara sarung/kainku/kainku (pakaianku) terjurai sampai ke tanah." Maka beliau berkata; 'Hai Abdullah, naikkan sarung/kainmu! ' lalu akupun langsung menaikkan sarung/kainku. Setelah itu Rasulullah berkata; 'Naikkan lagi.' Maka akupun menaikan lagi. Dan setelah itu aku selalu memperhatikan sarung/kainku. Sementara itu ada beberapa orang yang bertanya; 'Sampai di mana batasnya (maksimalnya)? ' Ibnu Umar menjawab; 'Sampai pertengahan kedua betis.'"
  Hadits Shohih   (HR. Muslim no. 2086 (47))

Hadits Kesembilan:

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ أَبِي غِفَارٍ، حَدَّثَنَا أَبُو تَمِيمَةَ الْهُجَيْمِيُّ - وَأَبُو تَمِيمَةَ اسْمُهُ طَرِيفُ بْنُ مُجَالِدٍ - عَنْ أَبِي جُرَيٍّ جَابِرِ بْنِ سُلَيْمٍ، قَالَ: رَأَيْتُ رَجُلًا يَصْدُرُ النَّاسُ عَنْ رَأْيِهِ، لَا يَقُولُ شَيْئًا إِلَّا صَدَرُوا عَنْهُ، قُلْتُ: مَنْ هَذَا؟ قَالُوا: هَذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قُلْتُ: عَلَيْكَ السَّلَامُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَرَّتَيْنِ، قَالَ: " لَا تَقُلْ: عَلَيْكَ السَّلَامُ، فَإِنَّ عَلَيْكَ السَّلَامُ تَحِيَّةُ الْمَيِّتِ، قُلْ: السَّلَامُ عَلَيْكَ " قَالَ: قُلْتُ: أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ؟ قَالَ: «أَنَا رَسُولُ اللَّهِ الَّذِي إِذَا أَصَابَكَ ضُرٌّ فَدَعَوْتَهُ كَشَفَهُ عَنْكَ، وَإِنْ أَصَابَكَ عَامُ سَنَةٍ فَدَعَوْتَهُ، أَنْبَتَهَا لَكَ، وَإِذَا كُنْتَ بِأَرْضٍ قَفْرَاءَ - أَوْ فَلَاةٍ - فَضَلَّتْ رَاحِلَتُكَ فَدَعَوْتَهُ، رَدَّهَا عَلَيْكَ»، قَالَ: قُلْتُ: اعْهَدْ إِلَيَّ، قَالَ: «لَا تَسُبَّنَّ أَحَدًا» قَالَ: فَمَا سَبَبْتُ بَعْدَهُ حُرًّا، وَلَا عَبْدًا، وَلَا بَعِيرًا، وَلَا شَاةً، قَالَ: «وَلَا تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ، وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ، وَارْفَعْ إِزَارَكَ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ، فَإِنْ أَبَيْتَ فَإِلَى الْكَعْبَيْنِ، وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الْإِزَارِ، فَإِنَّهَا مِنَ المَخِيلَةِ، وَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمَخِيلَةَ، وَإِنِ امْرُؤٌ شَتَمَكَ وَعَيَّرَكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيكَ، فَلَا تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيهِ، فَإِنَّمَا وَبَالُ ذَلِكَ عَلَيْهِ»

"Telah menceritakan kepada kami (Abu Dawud) Musaddad (bin Musrihad) berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya (bin Sa'id bin Farukh) dari Abu Ghifar (Al-Mutsannaa bin Sa'ad) berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Tamimah Al Hujaimi -dan Abu Tamimah namanya adalah Tharif bin Mujalid- dari Abu Jurai Jabir bin Sulaim ia berkata, "Aku melihat seorang laki-laki yang fikirannya dijadikan sandaran oleh orang banyak, dan ia tidak mengatakan sesuatu kecuali orang-orang akan mengikutinya. Aku lalu bertanya, "Siapakah dia?" orang-orang menjawab, "Ini adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam." maka aku pun berkata, 'Wahai Rasulullah, 'Alaika As Salam (semoga keselamatan bersamamu) ' wahai Rasulullah, sebanyak dua kali. Beliau bersabda: "Jangan engkau ucapkan 'Alaika As Salam', karena 'Alaika As Salam adalah penghormatan dan salam untuk mayit. Tetapi ucapkanlah 'As Salamu 'Alaika'." Jabir bin Sulaim berkata, "Aku lalu bertanya, "Apakah engkau utusan Allah?" beliau menjawab: "Ya, aku adalah utusan Allah, Dzat yang jika engkau tertimpa musibah, lalu engkau berdoa kepada-Nya, maka Dia akan menghilangkannya darimu. Jika kamu tertimpa paceklik, lalu engkau berdoa maka Dia akan menumbuhkan (tanaman) bagi kamu. Jika engkau berada di suatu tempat yang luas hingga kendaraanmu hilang, lalu engkau berdoa kepada-Nya, maka Dia akan mengembalikannya kepadamu." Jabir bin Sulaim berkata, "Lalu aku berkata, "Berilah kami perjanjian." Beliau bersabda: "Jangan sekali-kali engkau cela orang lain." Jabir bin Sulaim berkata, "Setelah itu aku tidak pernah mencela seorang pun; orang merdeka atau budak, unta atau kambing." Beliau bersabda lagi: "Janganlah engkau remehkan perkara ma'ruf, berbicaralah kepada saudaramu dengan wajah yang penuh senyum dan berseri, sebab itu bagian dari perkara yang ma'ruf.

Angkatlah sarungmu hingga setengah betis, jika tidak maka hingga kedua mata kaki. Dan janganlah engkau julurkan sarungmu karena itu bagian dari sifat sombong,
sesungguhnya Allah tidak menyukai sifat sombong. Jika ada seseorang yang mencela dan memakimu karena cela yang ia ketahui darimu, maka janganlah engkau balas memaki karena cela yang engkau ketahui padanya, karena hal itu akan memberatkannya (pada hari kiamat)"   Hadits Shahih   (HR. Abu Dawud 4084, Lihat Silsilah Ahaadits as-Shohihah no. 1109.)

Hadits yang lainnya:

Hadits Kesepuluh:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَنْبَأَنَا شَرِيكٌ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ حُصَيْنِ بْنِ قَبِيصَةَ عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ } رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آخِذًا بِحُجْزَةِ سُفْيَانَ بْنِ أَبِي سَهْلٍ{ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا سُفْيَانَ بْنَ سَهْلٍ لَا تُسْبِلْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُسْبِلِينَ

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah memberitakan kepada kami Syarik dari Abdul Malik bin 'Umair dari Hushain bin Qabishah dari Al Mughirah bin Syu'bah dia berkata, (Saya melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memegang Hujzah (tempat mengikat kain) milik Sufyan bin Abu Sahl seraya bersabda) Rasulullah Shallallahu'alahi wassalam bersabda:

"Wahai Sufyan bin Sahl, janganlah kamu memanjangkan kain sarung/kain atau celana melebihi mata kaki, karena Allah membenci orang-orang yang memanjangkan kain sarung/kain atau celananya melebihi mata kaki."
  Hadits Shahih   (HR. Ibnu Majah no. 3574, Ibnu Hibban no. 1449, dan Ahmad dalam Musnadnya no. 18186, lafazh dalam kurung adalah milik Imam Ahmad, Hasan, lihat Silsilah Ahaadits Ash-Shohihah no. 4004)

Saudaraku...yang semoga Allah memberikan keberkahan kepadamu...

Ketahuilah tidaklah aku tulis tulisan ini untuk memaksamu mengikuti apa yang telah jelas dalam dalil-dalil di atas, bahkan bisa jadi engkau akan mendapati berbagai macam tulisan di berbagai buku atau website/internet menyajikan wacana lain (bolehnya isbal tanpa sombong) selain apa yang telah jelas dari dalil-dalil diatas. Namun hanya satu saja yang aku inginkan kepadamu ...janganlah engkau ragu terhadap kebenaran petunjuk Nabi Shallallahu'alaihi wassalam dan terimalah itu sebagai penerang kehidupan bagimu dan bagiku.
Nah sekarang mari kita simak hadits yang berkaitan dengan keharusan kita untuk bersikap wara' (menjauhkan diri dari perkara-perkara yang samar hukum dan hakikatnya):

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ عَنْ ابْنِ عَوْنٍ عَنْ الشَّعْبِيِّ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ و حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ حَدَّثَنَا أَبُو فَرْوَةَ عَنْ الشَّعْبِيِّ قَالَ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ و حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ أَبِي فَرْوَةَ سَمِعْتُ الشَّعْبِيَّ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَبِي فَرْوَةَ عَنْ الشَّعْبِيِّ عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُورٌ مُشْتَبِهَةٌ فَمَنْ تَرَكَ مَا شُبِّهَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ كَانَ لِمَا اسْتَبَانَ أَتْرَكَ وَمَنْ اجْتَرَأَ عَلَى مَا يَشُكُّ فِيهِ مِنْ الْإِثْمِ أَوْشَكَ أَنْ يُوَاقِعَ مَا اسْتَبَانَ وَالْمَعَاصِي حِمَى اللَّهِ مَنْ يَرْتَعْ حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ

Telah menceritakan kepada kami (Al-Bukhori) Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu 'Adiy dari Ibnu 'Aun dari Asy-Sa'biy aku mendengar An-Nu'man bin Basyir radliallahu 'anhuma aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Dan diriwayatkan pula, telah menceritakan kepada kami 'Ali bin 'Abdullah telah menceritakan kepada kami Ibnu 'Uyainah telah menceritakan kepada kami Abu Farwah dari Asy-Sa'biy berkata, aku mendengar An-Nu'man bin Basyir telah menceritakan kepada kami, dia berkata, aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Dan diriwayatkan pula 'Abdullah bin Muhammad dari Ibnu 'Uyainah dari Abu Farwah aku mendengar Asy-Sa'biy aku mendengar An-Nu'man bin Basyir radliallahu 'anhuma dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir telah mengabarkan kepada kami Sufyan (bin Uyainah) dari Abu Farwah dari Asy-Sa'biy dari An-Nu'man bin Basyir radliallahu 'anhu berkata, telah bersabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam:

"Yang HALAL SUDAH JELAS dan yang HARAM JUGA SUDAH JELAS. Namun diantara keduanya ada perkara yang SYUBHAT(samar). Maka barangsiapa yang meninggalkan perkara yang syubhat karena khawatir mendapat dosa, berarti dia telah meninggalkan perkara yang jelas keharamannya dan siapa yang banyak berdekatan dengan perkara yang syubhat maka bisa jadi dia akan jatuh pada perbuatan yang haram tersebut. Maksiat adalah semua larangan Allah. Maka siapa yang berada di dekat larangan Allah itu bisa jadi (dikhawatirkan) dia akan jatuh pada larangan tersebut".
  Hadits Shahih   (HR. Al-Bukhori no. 2051)

Tolok ukur dari hadits tersebut adalah semakin tinggi ilmu yang kita dapati maka konsekuensi untuk menjauhi dari berbagai syubhat akan dapat lebih tinggi daripada orang yang tidak mempunyai ilmu, dan ini termaktub dalam hadits yang agung berikut ini:

- حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، ثنا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ عَفَّانَ الْعَامِرِيُّ، ثنا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ الْقَطَوَانِيُّ، ثنا حَمْزَةُ بْنُ حَبِيبٍ الزَّيَّاتُ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنِ الْحَكَمِ، عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «فَضْلُ الْعِلْمِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ فَضْلِ الْعِبَادَةِ، وَخَيْرُ دِينِكُمُ الْوَرَعُ»

Telah mengabarkan kepada kami Abul Abbas Muhammad bin Ya'qub, telah mengabarkan kepada kami al-Hasan bin Ali bin Affan al-'Aamiri, telah mengabarkan kepada kami Khalid bin Makhlad Al-Qathawani, telah mengabarkan kepada kami Hamzah bin Habib Az-Zayyat, dari al-A'masy dari al-Hakam dari Mus'ab bin Sa'ad bin Abi Waqqaash, dari bapaknya dari Nabi Shallallahu'alaihi wassalam, beliau bersabda,

"Keutamaan dalam ilmu lebih disukai daripada keutamaan dalam ibadah. Dan keislaman kalian yang paling baik adalah sifat wara'"
  Hadits Shahih Lighairihi   (HR. Al Hakim no. 314, Al-Baihaqy dalam kitab Al-Aadab no. 830, Al Bazzar no. 2969, Ath Thabrani dalam Al-Mu'jamul Ausath no. 3960. Lihat penilaian Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhiib 68 dan 1740)

Wahai saudaraku...ada apa denganmu dan sunnah seharga 5 dirham di atas? apalagi yang engkau tunggu untuk melaksanakan sunnah tersebut? apakah engkau ingin menjawab atau membantahnya dengan omongan-omongan orang yang tidak dijamin masuk surga? ataukah kecintaanmu kepada Suri Tauladan kita Nabi Shallallahu'alaihi wassalam sebatas kepada apa saja yang cocok dengan hawa nafsumu?...sungguh aku berharap agar diriku dan dirimu senantiasa dalam keadaan bergegas dalam melaksanakan sunnahnya Nabi Shallallahu'alaihi wassalam, karena hanya Kitab Allah dan Petunjuk Nabi Shallallahu'alaihi wassalam yang bisa menyelamatkan kita dari jalan gelap kesesatan yang tak berujung nan gelap gulita.
Simaklah nasehat agung dari Nabi Shallallahu'alaihi wassalam:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا، كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

"Aku tinggalkan pada kalian dua perkara, jika kalian berpegang teguh dengan keduanya kalian tidak akan sesat selama-lamanya yaitu: Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya." "   Hadits Hasan   (Hadist Riwayat Malik secara mursal dalm Al-Muwatha 2/899 dan Al-Hakim dari Hadits Ibnu Abbas secara maushul dan sanadnya hasan, juga hadist ini mempunyai syahid dari hadits jabir, lihat Takhrij Syaikh Albani dalam Silsilah Ahadits As-Shahihah no. 1761).

Demikian yang semoga bermanfaat sebagai pengingat dan motivasi bagi penulis dan pembaca sekalian".

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Wallaahu a'lam bishshawwaab.

Ar-Rahba, pinggiran Abu Dhabi UAE, di dinginnya malam hari 16'C, Jum'at, 24 Shafar 1435 H/26 Desember 2013.


Abu Kayyisa,

Yang mendamba Ampunan dari Rabb Sang Pencipta Jagad Raya.

 

 

ARSIP ARTIKELs

Kajian Online UAE   

Artikel Pembahasan - Pembahasan

 

Kisah 2 Pekan yang Menggetarkan Hati, Perjalanan Haji Penuh Hikmah 1434 H.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه وبعد

Barakallahu fikum, berikut merupakan kisah singkat tentang perjalanan haji dari UAE tahun 1434 H.

– Kisah ini diambil dari penuturan Akh Ibnu Is (jazahullah khoiran) dan dalam kisah berikut akan digunakan beberapa nama kunyah dan kata ganti "kami" yang mewakili teman-teman UAE yang telah berhaji tahun 2013.

Dimulai dari berita yang beredar di mailist KMMI Abu Dhabi tanggal 11 Agustus 2013, bahwa terdapat hamlah – (sebut saja hamlah G) yang menawarkan harga bombastis super murah untuk haji tahun 2013 yaitu 25K DHS jauh dibawah standar harga yang umum di UAE yaitu diatas 40K DHS. Mulailah teman-teman yang sudah berniat haji sejak lama (baca: memendam keinginan yang tinggi) mendaftar ke hamlah tersebut, dan tercatat lebih dari 35 orang teman-teman Indonesia yang di UAE telah mendaftar di hamlah tersebut dengan persyaratan yang simple, passport asli, photo background putih 2 lembar, dan uang DP 5000dhs per orang namun paket murah ini diprediksikan mempunyai peluang untuk mendapatkan visa haji sebesar 60% dan yang 100 % paket jelas dari pihak hamlah adalah sebesar 43K Dhs. Akhirnya banyak teman yang memilih "PAHE – Paket Hemat" tersebut. Sedangkan "PAJE - Paket Jelas" dipilih oleh teman-teman dari Ruwais yang pernah "berpengalaman pahit" dengan hamlah di al-Ain 2010 dimana mereka dikhianati (baca: ditipu) oleh hamlah dari al-Ain. Kami pun mendapatkan info dari hamlah al-Ain namun itu masih diatas 30K Dhs, akhirnya info dari al-Ain itu kami gantung karena kami berharap untuk mendapatkan "PAHE - Paket Hemat" haji di hamlah G.

Qaddaralallah wa Masya'a fa'ala, pada tanggal 17 Agustus, hamlah G memberitahukan bahwa fasilitas akomodasi bagi yang "paket hemat" belum jelas dan kesempatan untuk mendapatkan visa haji tipis. Pada tanggal 31 Agustus, Akhirnya kami membatalkan semua proses pendaftaran di hamlah G kemudian kami mendaftar ke hamlah Bani Umar di al-Ain yang memberikan harga "PALU – Paket Lumayan" dibawah harga standar yaitu 33K Dhs itupun telah didiscount karena kami "keroyokan" ada 25 orang, harga perorang atau harga umum yang mereka tawarkan adalah 35K Dhs. Saat itu ada 25 teman Indonesia yang mendaftar di hamlah tersebut.

Persyaratan yang dibutuhkan oleh hamlah tersebut adalah:

  • Surat No Objection dari perusahaan/kantor.
  • Passport dan visa valid 6 bulan.
  • Surat sehat dan vaksin meningitis.
  • Foto background putih 4 lembar.
  • Fotokopi emirate ID bolak balik.
  • Uang DP setengah dari total biaya.
  • Harus ada mahrom bagi yang perempuan.

Syarat terakhir diatas menjadikan kami tambah yakin dengan hadits Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam :

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ وَ مَعَهاَ ذُوْ مَحْرَمٍ ، وَ لاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ إِلاَّ مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ : يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ امْرَأَتِيْ خَرَجَتْ حَاجَّةً ، وَ إِنِّيْ اكْتُتِبْتُ فِيْ غَزْوَةِ كَذَا وَ كَذَا ؟ قَالَ : انْطَلِقْ فَحُجَّ مَعَ امْرَأَتِكَ

"Dari Abdullah bin 'Abbas, ia mendengar NabiShallallahu'alaihi wassalam bersabda: "Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan wanita, kecuali disertai dengan mahramnya. Dan janganlah seorang wanita bepergian, kecuali bersama mahramnya." Lalu seorang shahabat berkata kepada beliau, "Wahai Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam, sesungguhnya isteriku pergi berhaji, sedangkan aku diperintahkan untuk turut serta dalam peperangan ini dan itu." Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam berkata, 'Kembalilah dan berhaji-lah bersama isterimu."   Hadits Shohih   (HR. Bukhari no. 1862, Muslim no. 1341)

Syarat ketujuh tersebut membawa faidah dan hikmah yang besar sekali kepada salah satu diantara kami yang tadinya menyetujui istrinya untuk berangkat bersama kami tanpa mahrom, dan akhirnya Allah memudahkan beliau untuk mendaftar bersama istrinya, bersama-sama menempuh perjuangan ibadah haji. Hikmah itu terasa sekali ketika sang istri mendapatkan haid ketika di Madinah, Alhamdulillah karena didampingi mahrom akhirnya menjadi tenang dan tidak depresi/stress karena kwatir "jangan-jangan tidak bisa melakukan haji dengan sempurna."

Yang menarik dari hamlah tersebut adalah ketika kami keroyokan mendatangi hamlah tersebut untuk mendaftar dan menyerahkan DP sebesar setengah dari total dan proses pendaftaran tersebut selesai setelah maghrib, oleh Shohibul Hamlah – pemilik Hamlah langsung menawarkan kepada kami untuk makan malam di suatu restoran di al-Ain. Hal ini membuat kami merasa tambah yakin terhadap hamlah Bani Umar karena keterbukaan dan penyambutan yang sangat hangat langsung dari pemiliknya dimana beliau menjelaskan kalau visa telah keluar dan kami tidak bisa berangkat maka uang tidak bisa dikembalikan namun apabila visa tidak keluar karena kelalain dari pihak Hamlah maka uang akan dikembalikan 100%. Saat selesai pembayaran DP tersebut seperti rasa pahit yang kami dapati dari hamlah sebelumnya sedikit terobati.

Pada tanggal 6 September 2013, Alhamdulillah teman-teman sudah merencanakan untuk mengadakan latihan manasik haji di KBRI Abu Dhabi dengan dipandu oleh Abu Nu'maa (jazahullah khoiran) dan dapat dilaksanakan sebanyak 5 kali latihan manasik haji. Pada latihan manasik yang terakhir mendapatkan tambahan informasi yang sangat bermanfaat dari Syaikh Sholih al-Masyar'I hafizhahullah wa jazahullah khoiran.

Tanggal 20 September, kami mendapat pemberitahuan dari hamlah Bani Umar bahwa kami harus menambahkan 5000 Dhs untuk membayar tiket pesawat dan itu termasuk dari total biaya yang telah disepakati 33K Dhs, jadi setiap orang 16,5K + 5K Dhs dan sisanya akan dibayarkan ketika telah mendapatkan visa. Saat itu ada teman dari Ruwais memberitahukan tentang kekwatiran bahwa bisa jadi itu akal bulus dari hamlah untuk menipu kita sebagaimana beliau kena tipu pada tahun 2010, makin gundah pula kami mendengar berita tersebut. Tapi Alhamdulillah sudah pasrah dan tinggal tawakal berharap kepada Allah saja yang bisa kami lakukan. Dan ternyata ada beberapa teman local yang memberikan informasi bahwa peraturan dari pihak Awqaf berbeda pada tahun ini, karena visa akan dikeluarkan apabila semua fasilitas termasuk tiket pesawat telah dituntaskan. Oleh karena itu kami bersyukur Alhamdulillah telah memenuhi pembayaran tersebut. Sedangkan ada beberapa teman-teman yang mengambil " PAJE - Paket Jelas" dari hamlah G, dimana hamlah tersebut sebelumnya berani menjamin 100% bahwa yang telah mengambil PAJE akan pasti mendapat visa, namun qaddarallah apa mau dikata. Akhirnya kalang kabut karena tidak mendapatkan visa, hal itu karena saat itu mereka masih hanya disyaratkan oleh hamlah membayar DP 5000 dhs dan apabila telah keluar visa baru dibayar full 43K Dhs.

Pada tanggal 22 September 2013 kami mendapatkan tambahan teman yang mendaftar di hamlah Bani Umar sehingga semuanya berjumlah 28 orang. Jumlah tersebut adalah sangat fantastic, Subhanallah, info sebelumnya adalah bahwa semua hamlah di UAE hanya menyediakan limited kursi – kurang lebih 4 kursi bagi expat pendatang sedangkan kami berjumlah 28 orang. Jujur dari awal, hal itu agak meragukan bahwa hamlah Bani Umar akan menepati janjinya dan semuanya bisa dapatkan visa. Alhamdulillah semuanya mendapatkan visa haji dan itu semua adalah kemudahan dari Allah tidak ada yang bisa memudahkan itu semua kecuali karena kehendak Allah.

Itulah saat dimana aqidah kita diuji, kepasrahan dan pengharapan hanya kepada Allah karena Allah lah yang telah mengatur itu semua. Bahkan yang menarik adalah pada tanggal 29 September 5 orang teman dari Ruwais ditolak oleh hamlah G alias tidak mendapatkan jatah visa, akhirnya pertolongan Allah datang ada 4 orang diantara mereka yang meneruskan langkah untuk tetap berangkat haji, 2 mendaftar ke hamlah yang direkomendasikan perusahaannya dan 2 lagi mendaftar ke hamlah lain via hamlah Bani Umar. Alhamdulillah mereka mendapatkan visa pada tanggal 3 Oktober 2013 setelah mendaftar pada tanggal 30 September 2013, dimana beliau dari Ruwais ke Abu Dhabi mengambil berkas dan uang dari Hamlah G kemudian langsung ke Hamlah yang ada di al-Ain pada hari yang sama (mungkin dalam sehari itu beliau menempuh perjalanan kurang lebih 1000 km) untuk bolak-balik mengurus administrasi persyaratan haji. Analisanya adalah dengan hanya kurang dari 5 hari dua teman kami dari Ruwais telah mendapatkan kemudahan mendapatkan visa haji dan itulah bukti bagi kami bahwa kemudahan Allah senantiasa beserta hamba-hamba-Nya yang terus berusaha maksimal, mengikhlaskan niat kemudian hanya bertawakal kepada-Nya.

Pada hari Jum'at 4 Oktober kami berkumpul untuk membayar pelunasan biaya haji dan pembagian visa haji, sekaligus penyerahan fasilitas dari hamlah Bani Umar berupa kain ihrom, mukena, kartu tanda pengenal haji, hp nokia (serta simcard dibagikan ketika di bandara Dubai). Hari itu adalah hari yang sungguh melegakan bagi kami, akhirnya ada berceletuk "Alhamdulillah akhirnya berangkat juga haji tahun ini", ada beberapa teman kami telah mendaftar untuk berhaji dari Indonesia via haji plus namun akhirnya dibatalkan. Allahu Akbar…Sungguh Allah adalah Satu-satunya Dzat yang berhak diibadahi dengan benar, Dzat yang telah mengatur semua kejadian dengan begitu indah dan mengagumkan. Allahu Akbar.

Berikut detail perjalanan haji kami:

Tanggal 6 October – 1 Dzulhijjah – hari yang dinanti-nanti, sebagian besar dari kami begadang tidak tidur malam karena sibuk mempersiapkan keberangkatan haji, itupun kalau difikir dan dibandingkan dengan berangkat dari Indonesia pastinya harus mengadakan banyak ceremony yang tidak ada dalilnya. Kami sepakat berangkat jam 3.30 pagi ke Bandara Dubai dengan mencarter bis, nyampe dubai jam 5.15 – Langsung sholat Shubuh di Masjid dekat Bandara Dubai. Kami berangkat pagi karena kwatir ada kabut tebal dan memang diminta oleh hamlah untuk sampai di bandara paling lambat jam 7 pagi. Kami menuju terminal D, Subhanallah di bandara Dubai kami mendapatkan banyak souvenir baik payung, alquran, botol minuman, sanitizer lotion, tas pinggang, tas kecil, buku dan buklet tentang haji itu semua disediakan oleh pemerintah UAE – kementerian kesehatan dan juga ada organisasi social keagamaan yang bernama Dar al-Bir (jazahumullah khoiran).

Kami berangkat ke Madinah memakai Saudi Airlines tepatnya jam 1.50 dan mendarat di bandara Madinah jam 3.50 dan 2.50 waktu saudi, sholat Dhuhur kami lakukan di bandara Madinah. Alhamdulillah tiba di hotel Daar el-Emaan Madinah pukul 3.30 waktu Saudi, setelah itu kami langsung makan siang dilanjutkan sholat Ashar di Masjid Nabawi.

Alhamdulillah di Madinah 4 hari 3 malam, kami dapat mengikuti kajian Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin al-Abbad, dan juga menghadiri kajian Ustadz-Ustadz yang belajar di Jamiah Islam Madinah. Selama di Madinah kami mendapatkan berbagai nasehat yang bermanfaat. Kami menentukan Titik poin pertemuan kami di masjid dekat dengan pintu masuk al-Badr agar memudahkan kami untuk senantiasa berkumpul dalam kebaikan dan kekompakan.

Kegiatan yang kami lakukan diluar adalah mengunjungi masjid Quba dan Bukit Uhud. Keutamaan masjid Quba adalah berdasarkan sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ أَتَى مَسْجِدَقُبَاء فَصَلَّى فِيْهِ رَكْعَتَيْنِ كَانَ لَهُكَأَجْرِ عُمْرَةٍ

"Barangsiapa mensucikan dirinya di rumah-nya lalu datang ke masjid Quba' dan shalat dua rakaat di dalamnya maka baginya (pahala) seperti pahala umroh."   Hadits Shohih   (HR. Ibnu Majah no. 1412. dan lain-nya, shahih. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wat Tarhib no. 1181).

Perjuangan Umrah: Tanggal 9 Oktober - 4 Dzulhijjah.

Setelah sarapan, kami berangkat ke Mekkah dengan sebelumnya kami telah mandi dan "bebersih" langsung memakai kain ihrom dari hotel karena kami mengira di miqat bisa jadi keadaannya ramai dan tidak ada kesempatan untuk mandi dan berganti kain ihram. Alhamdulillah kami sampai di miqat Dzulhulaifah jam 10.15, lalu kami melakukan sholat sunnah di masjid Dzulhulaifah/Bir Ali setelah itu kami didalam bis ketika bis akan bergerak melanjutkan perjalanan ke Mekah kami membaca niat ihram dan kemudian bertalbiyah dengan suara keras sepanjang jalan, kami berhenti di Rumah Makan Jalan menuju Mekkah untuk sholat Dzuhur dan Ashar. Akhirnya tiba di hotel Makkah jam 18.15, lalu kami mengerjakan sholat Maghrib secara berjama'ah di Hotel Apartment Syuruq al-Adl, beristirahat dan makan malam masih dalam keadaan ihram.

Jam 22.30, kami berangkat ke Masjidil Haram dengan bis dari Hamlah untuk melakukan Umrah. Alhamdulillah kami bisa thowaf di basement dengan perjuangan, setelah itu sholat dua rakaat dibelakang maqam Ibrahim kemudian minum Zam-zam di tempat yang tidak seperti biasa (benar-benar dalam masjidil Haram dirombak posisi basementnya sehingga kami menemukan air zam-zam dibawah jalan sebelum ke Shofa). Alhamdulillah kami dapat melakukan sai dengan jalur lama sebagaimana jalur yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam yaitu jalur Marwa-Shofwa. Setelah itu selesai kami lanjutkan dengan sholat Shubuh kemudian pulang ke hotel, kami langsung– KO tidur sampai menjelang dhuhur. Kami makan siang dan sholat dhuhur di Masjid dekat hotel setelah itu jam 2.30 berangkat ke Masjidil Haram untuk melakukan sholat Ashar, Maghrib, dan Isya. Setelah Isya kamipun kembali ke hotel.

Setelah selesai umrah, kami setiap harinya berangkat ke Masjidil Haram setiap setelah selesai makan siang sekitar jam 14.15 dan melakukan sholat Ashar, Maghrib dan Isya di sana. Pagi jadwal bis berangkat jam 2.30 kemudian balik jam 7 pagi. Begitu seterusnya sampai tanggal 12 Oktober atau 7 Dzulhijjah.

Sebagian dari kami ada yang sempat mengunjungi jama'ah haji dari Indonesia dimana mereka banyak berkumpul di daerah Bahotmah. Berdasarkan penuturan dari seorang teman yang sempat berkunjung ke daerah Bahotmah.

"Bersyukur banget ketika melihat saudara-saudara jama'ah haji dari Indo, mereka rata-rata seperti tidak ada bedanya antara ketika di Indonesia dan di Saudi. Yang merokok tetap merokok, yang senang belanja juga belanja, sepanjang jalan di daerah bahotmah itu banyak sekali pedagang menjajakan makanan dan barang-barang dagangan kelontong dan yang beli pun tidak lain adalah jama'ah haji dari Indo." " Mereka jama'ah haji Indo tidak lagi mendapatkan fasilitas bis antar jemput dari maktab mereka ke harom sejak tanggal 10 Oktober setelah sholat Dzuhur. Karena itu adalah peraturan yang didapat dari pemerintah Indo, entah apa alasannya, ga faham lah. Cuman rata-rata maktab jama'ah haji indo itu sekitar 4,5 sampe 6 km jaraknya dari Masjidil Harom, dan setelah tanggal 10 Oktober itu mereka yang mau ke Masjidil Harom harus jalan kaki ataupun naik taksi dengan biaya pribadi."

Dan teman yang lain menambah info dari bahotmah, "Sempet sih berkunjung ke area bahotmah, tidak ada masjid yang dekat kecuali ada di basement tiap tiap gedung, akhirnya ane sholat maghrib di basement dengan suasana yang pengap, panas dan hanya ada kipas angin tidak ada AC."

Ada dari kami yang berujar, "Allahu Akbar ….alhamdulillah kita diberikan kesempatan untuk haji, diberi kemudahan untuk mendapatkan bimbingan haji yang sesuai sunnah dan dimudahkan mengamalkan sunnah itu dalam haji tahun ini. Bayangkan seperti saudara-saudara jamaah haji dari Indonesia ONH biasa sudah harus nunggu lama, tidak ada bimbingan yang sesuai sunnah, di Saudi harus 40 hari, masya Allah betul-betul nikmat Allah kepada kita tidak terhitung banyaknya."

Sebagai informasi hotel Syuruq al-Adl tempat kami tinggal di Mekah letaknya di daerah Nuzhah – Mustaushof Mekkah Tibbi sekitar 4,5km dari Masjidil Haram.

Catatan yang penting, kami membawa baju secukupnya (Buat laki-laki hanya perlu bawa salin kain ihrom yang bersih saja.) dimasukkan ke tas kecil/punggung untuk tanggal 8 sampai 10 saja karena setelah itu ketika selesai ifadhoh kami akan diantar ke hotel dan dapat mengambil baju yang bersih lagi. Jadi tidak perlu membawa koper besar dan bawaan banyak.

Perjuangan HAJI:

Yaum mina 8 Dzulhijjah- Hari Tarwiyah – 13 Oktober 2013

Tibalah hari Ahad, hari Tarwiyah, hari pertama genderang haji ditabuhkan. Dari hotel jam 8 an, kami melakukan sarapan setelah itu berangkat menuju Mina dan sampai disana jam 9.15. Setelah itu kami beristirahat sampai menjelang dhuhur, kemudian setelah itu sholat dhuhur berjama'ah di kemah dengan di qashar. Setelah makan siang kemudian sholat Ashar, kami menghadiri kajian dari pihak Hamlah yang diisi oleh staff ahli dari Awqaf UAE, setelah itu kami mengikuti kajian dengan Abu Nu'maa antara Maghrib dan Isya. Setelah makan malam kami beristirahat sampai menjelang Shubuh. Kemudian sehabis sholat Shubuh dan sarapan pagi, kami berangkat ke Arofah jam 7.45 dengan naik kereta.

Sebagai informasi, tenda di mina untuk jama'ah haji dari UAE, sudah full AC dilengkapi kasur (berupa kursi yang bisa ditarik expandable jadi kasur), ada bantal plus selimut.

NOTE: ketika berangkat ke Arofah barang ditinggal di tenda Mina dan harap dibawa barang yang pentingnya saja (uang, dompet dll). Sedangkan barang yang tidak penting tanggal 11 Dzulhijjah akan tidur lagi di tempat yang sama.

9 Dzulhijah - Hari Arofah 14 Oktober 2013

Kami Berangkat dari mina jam 7.45 dan jalan kaki dari tenda menuju ke station kereta (Qithor Masya'ir) sekitar 15 menitan hal itu pun karena antre naik keretanya.

Sepanjang perjalanan kami melihat ratusan mungkin ribuan orang berduyun-duyun menuju Arofah dengan berjalan kaki, bahkan ketika kami melihat ada beberapa "Mbah-mbah pria dan wanita" dari India, sambil membawa bekal mereka menyusuri perbukitan dengan langkah yang pelan tapi pasti. Seolah-olah setiap langkahnya itu terselip di dalamnya "kekuatan tawakal" yang sangat tinggi, saat itulah hati kami bergelanyut perasaan "kasihan" dan juga "rasa syukur kepada Allah" atas segala nikmat yang telah kami dapati dan dimudahkannya kami dalam mendapatkan berbagai keutamaan dalam haji termasuk di dalamnya berupa fasilitas kereta.

Sebagai informasi bahwa sebelum masuk ke stasiun kereta, pihak hamlah membagikan kepada kami gelang tangan yang didalamnya ada barcode tanda resmi sebagai penumpang kereta berlaku selama 7 hari. Di awal gerbang stasiun akan dicek - scanner, apakah tangan kita telah memakai gelang khusus tersebut atau belum.

Sempat terbersit dalam pikiran dari salah satu teman kami, untuk menuju stasiun kereta setiap jama'ah haji wajib dicek dengan scanner yang otomatis mengecek barcode yang ada di tangan kita, dimana hal itu termasuk proses yang "canggih", lalu kalau kita ingin ke Surga bagaimana canggihnya proses menuju kesana, baik dari syarat-syarat dan ketentuan yang berlaku pasti tidak bisa sembarangan. Subhanallah.

Alhamdulillah tiba di tenda Arofah jam 8.20. Tenda kami berada di kawasan area UAE nomor 19 bagi yang laki-laki dan nomer 3 bagi yang wanita. Sebagian dari kami bersiap-siap berangkat ke Masjid Namirah sekitar jam 9.20. Kami berjumlah 12 orang bersama 3 orang dari Mesir dan Maroko berjalan kaki menuju masjid Namirah dengan dibantu GPS (sygic). Jalan menuju Masjid Namirah ruwet crowded, super crowded, lautan manusia. Alhamdulillah dapat masuk ke masjid Namirah kemudian mendengarkan khutbah dari Mufti Saudi. Qaddarallah ternyata ada yg balik dari kami yaitu 7 orang balik ke Kemah di Arofah karena ternyata tidak mendapatkan tempat di Masjid. – khusus daerah kawasan UAE. Ketika selesai Khutbah dan sholat Dzuhur di Namirah, baliknya seperti lautan manusia plus sampah botol plastic air dimana-mana karena banyak perusahaan air minum membagikan air cuma-cuma dan akhirnya dibuang sembarangan. Kami sempat hampir tersesat – Alhamdulillah diberikan kemudahan dengan GPS. Ketika sampai di gerbang kawasan kemah area UAE ternyata jalan masuk diblokade polisi alhasil kami tidak bisa masuk tenda. Kami betul-betul sudah berusaha membujuk tapi polisi tidak mengizinkan masuk bahkan katanya, "Silahkan kamu nunggu diluar mungkin 2 jam lagi baru dibuka pintu blokadenya." Alhamdulillah bisa menemukan jalan pintu masuk yang lainnya setelah muter ngalang dan akhirnya kami bisa masuk lewat pintu belakang dekat dengan tempat sampah, tiba di tenda jam 14.11.

Allahu Akbar..., kami mendapatkan hikmah terbesar yaitu "Barangsiapa Ingin mengamalkan sunnah maka itu pasti banyak halangan dan hambatannya namun yakinlah pasti ada kemudahan dan kemudahan itu begitu dekat bagi orang yang terus berusaha-pantang menyerah, bersabar dan bertawakal hanya kepada Allah."

Alhamdulillah, Kami diberikan kemudahan untuk berdoa – sampai menjelang terbenam matahari.

Selesai wuquf di Arafah, kami menuju ke Muzdalifah dan antre masuk kereta dengan mendahulukan ibu-ibu agar berada di depan barisan sehingga ketika naik kereta langsung bisa dapat tempat duduk. Akhirnya dapat naik kereta dan meninggalkan arofah jam 18.10 menuju station Muzdalifah 2.

Muzdalifah

Alhamdulillah kami tiba di Muzdalifah masuk jam 18.50, setelah sampai kami melakukan Sholat Maghrib dan tidak harus jamak takhir, namun kapan masuk Muzdalifah maka harus segera melakukan sholat Maghrib dan Isya di jamak qashar. Kemudian kami bermalam di Muzdalifah. Alhamdulillah di Muzdalifah, tepatnya kawasan area khusus untuk UAE, telah disediakan bantal, kasur, selimut, dan toiletnyapun banyak sekali adapula yang toilet portable. Jadi tidak perlu bawa slipping bag dan yang lainnya. Di Muzdalifah kami juga berusaha mencari kerikil untuk melempar jumrah pada hari 10 Dzulhijjah. Kami diberi pesan agar ketika hendak tidur malam sebaiknya mengamalkan wasiat Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam kepada Fathimah yaitu tasbih 33x, tahmid 33x, dan takbir 34x agar esok harinya Allah memberikan kemudahan kepada kita melalui perjuangan "Hari Terberat" :

حَدَّثَنِي أُمَيَّةُ بْنُ بِسْطَامَ الْعَيْشِيُّ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ يَعْنِي ابْنَ زُرَيْعٍ، حَدَّثَنَا رَوْحٌ وَهُوَ ابْنُ الْقَاسِمِ، عَنْ سُهَيْلٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ فَاطِمَةَ، أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْأَلُهُ خَادِمًا وَشَكَتِ الْعَمَلَ، فَقَالَ: «مَا أَلْفَيْتِيهِ عِنْدَنَا» قَالَ: «أَلَا أَدُلُّكِ عَلَى مَا هُوَ خَيْرٌ لَكِ مِنْ خَادِمٍ؟ تُسَبِّحِينَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَتَحْمَدِينَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَتُكَبِّرِينَ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ، حِينَ تَأْخُذِينَ مَضْجَعَكِ»،

"Telah menceritakan kepadaku Umayyah bin Bistham Al 'Aisysyi telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai' telah menceritakan kepada kami Rauh bin Al Qasim dari Suhail dari bapaknya dari Abu Hurairah bahwasanya Fathimah pernah datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam meminta seorang khadam (pelayan/pembantu) dan mengadukan bahwa dia terlalu capek bekerja. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Engkau tidak akan mendapatkannya dari kami. Maukah engkau (untuk) aku tunjukkan sesuatu yang lebih baik dari pada seorang pembantu? Bacalah TASBIH tiga puluh tiga kali, dan TAHMID tiga puluh tiga kali, dan TAKBIR tiga puluh empat kali ketika hendak tidur.'"   Hadits Shohih   (HR. Muslim no. 2728 (81)).

10 Dzulhijjah - Yaum Nahr - tanggal 15 Oktober 2013

Dari Muzdalifah jam 7.15 menuju Mina, mulailah kami berangkat namun antre lama karena pintu masuk kereta hanya ada satu gate yang dibuka, dan itupun harus berjuang keras berdesak-desakan dengan orang-orang dari India yang telah menunggu jauh lebih lama dari kami. Ada dari mereka yang marah dengan merangsek pagar-pagar yang telah dibuat oleh polisi keamanan stasiun, tak ayal lagi lebih dari 800 orang menyerbu stasiun kereta dan polisi tak kuasa membendung amarah orang-orang India tersebut untuk segera berangkat ke Mina. Ada dari kami yang berusaha membuat pagar tameng buat ibu-ibu, kami berdiri dan tangan kami saling berpegangan melingkar dan ibu-ibu ditempatkan di dalam lingkaran yang kami buat. Hal itu terpaksa kami lakukan karena "serangan orang-orang India" yang semakin ganas tak peduli siapa didepan mereka yang penting dorong dan hantam kromo merangsak ke depan, bahkan ada beberapa istri teman-teman kami kehimpit dan kesakitan diterjang oleh arus ganas dari rombongan saudara-saudara muslim kita dari negara berjuluk "negara puratha dan capathi." Alhamdulillah kita tidak dijadikan Allah seperti mereka.

Alhamdulillah kami dapat naik kereta jam 9.10. Setelah itu kami tiba di Stasiun mina dan langsung berusaha untuk melakukan lempar jumrah di lantai 4 paling atas. Dari turun kereta sampai jumrah Aqabah jaraknya sekitar 1.8 km. Selesai dari Jumrah Aqabah, kami menuju ke lift untuk turun. Selesai itu, kami berjalan kaki ke Aziziyah tepatnya jam 10.10. Kami berpisah dari rombongan besar dimana teman-teman yang lain pergi menuju jemputan bis langsung menuju hotel untuk istirahat. Rencana kami adalah empat orang dari rombongan akan pergi ke tempat penyembelihan hewan kemudian menyembelih hadyu kemudian menelpon teman-teman yang ada di hotel agar dapat melakukan proses kegiatan haji yang selanjutnya sesuai dengan tertib haji yang disunnahkan oleh Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam yaitu botak plontos abis dan setelah itu mereka langsung bisa menuju ke Masjidil Haram untuk thawaf Ifadhoh dan Sai.

Setelah kami berempat pisah dari rombongan, sempat kepikiran untuk naik ojek ke Masjid Bin Baz tempat pertemuan dengan Akh Abu Harits, namun ketika ditanya kagetlah kami karena tukang ojek mintanya 200 real (masya Allah aji mumpung banget), akhirnya kami meneruskan berjalan kaki menuju Masjid Bin Baz. Setelah tiba di Masjid Bin Baz, kami menghubungi akh Abu Harits untuk mengantarkan kami ke tempat penyembelihan unta dan kambing. Sekitar jam 11 kami bertemu dengan beliau, dijemput dengan mobilnya beliau – "Camry tahun 1998" masih keren lah ada AC dingin – sesudah nyaman posisinya, tiga teman langsung ngorok tidur pules karena kecapaian. Kita melewati pasar hewan Kakiya hingga akhirnya sampailah di Peternakan Unta, ternyata disana ada penggebrekan besar-besaran oleh polisi Saudi. Bagi orang yang mempunyai peternakan onta dan menyembelih ditempatnya tanpa ada tashrih (izin khusus) untuk menyembelih ditempat maka diberi sangsi berat. Namun itu semua pada akhirnya Cuma UUD ujung-ujungnya duit, padahal kami sudah merasa sepertinya hari itu tidak bisa menyembelih karena ditakutkan bisa kesrempet masalah dengan polisi. Jadi repot kalo ditangkap padahal tidak pegang paspor, semua paspor dipegang oleh hamlah.

Setelah itu kami memutuskan untuk menunda penyembelihan unta, tak disangka setelah 15 menit kemudian kami ditelpon oleh teman yang membantu penyembelihan onta (teman orang Bangladesh) bahwa saat itu sudah bisa menyembelih unta sedangkan kami sudah meninggalkan daerah peternakan lumayan jauh. Akhirnya kami menyerahkan penyembelihan unta kepada teman Bangladesh tersebut dan minta tolong ketika sudah selesai penyembelihan untuk menelpon kita dan agar dibagikan kepada fuqara dan masakin yang berhak menerima dan alhamduillah teman itu menyanggupinya.

Kami melanjutkan perjalanan ke peternakan kambing. Qaddarallahu wa masya'a Fa'ala ketika sudah dekat peternakan di jalan raya Ban belakang kiri pecah saat itu jam 13.25. Akhirnya ban dicopot untuk diganti ban cadangan, qaddarallah juga ban cadangannya gembos alias tidak ada anginnya. Maka terpaksalah akh Abu Harits pergi memompakan ban ke tempat pompa terdekat dan kami berempat menunggu di jalan raya. Kata teman yang Ahli Geodesi (beliau lebih suka disebut tukang batu) – "Eh ayo ambil air zam zam di haram, tuh Menara Clock Towernya dah Nampak juga" padahal itu sangat jauh karena terhalang bukit-bukit (mencoba menghibur diri ditengah padang pasir tandus lagi vuanaas). Sambil menunggu akh Abu Harits, kami menyibukkan diri mengambil kerikil untuk persiapan melempar jumrah di Mina (karena ada teman yang kehilangan kerikil satu botol berisi 140 buah kerikil setelah berdesak-desakan saat di stasiun Muzdalifah).

Alhamdulillah pemompaan ban selesai jam 14.00 lalu kami memasang ban dan setelah itu melanjutkan perjalanan menuju tempat sembelihan kambing. Kami tiba disana jam 14.35, ada banyak kambing yang telah disembelih dan dikuliti oleh para pekerja yang rata-rata berkulit hitam. Setelah menunggu beberapa saat maka dipersilahkan menyembelih, eh ternyata ketika sudah menyembelih satu kambing ditanya sama orang yang baru datang "Itu kambing saya, kamu menyembelih kambing saya, saya sudah pesan 25 kambing", kagetlah kami dan kamipun meminta maaf atas kekhilafan tersebut. Kami menunggu lagi sampai para pekerja yang membantu untuk menguliti kambing yang 25 tadi selesai dari pekerjaannya, namun setelah itu tidak ada seorang pun dari mereka yang mau membantu memegang kambing untuk disembelih (biasanya ketika menyembelih kambing dibutuhkan satu/dua orang untuk memegang kambingnya) karena mereka lapar dan ingin segera makan siang. Dua dari teman kami telah menyerah kecapaian dan menunggu diluar tempat penyembelihan. Sambil melihat jam yang terus bergulir, hal tersebut menjadikan kami nekat, kami beranikan diri untuk meminjam pisau dari salah satu pekerja yang bernama Umar (jazahullah khoiran) lalu Akh Abu Ahmad (jazahullah khoiran) beranjak dari tempat tunggunya untuk membantu penyembelihan kambing, Alhamdulillah kami bisa menyembelih 14 ekor kambing. Setelah selesai proses sembelihan, kami dapati kain ihram yang kami pakai telah berlumur noda darah, dan rasa plong-lega terpancar dari 8 mata yang semula kuyu lemes akhirnya senyum lega terpancar dari 4 "wajah melas" kami. Setelah itu kami menelpon teman-teman di hotel untuk segera melanjutkan kegiatan hajinya yaitu botak plontosin kepala dan thawaf ifadhoh serta sai.

Kami dijemput oleh teman akh Abu Harits untuk pergi ke Masjidil Harom jam 15.30. Karena kondisinya ramai padat, mobil yang kami tumpangi tidak bisa langsung ke dekat Masjidil Haram dan kami diturunkan di daerah belakang Hilton sekitar 1,5 km dari Haram. Kami memutuskan untuk mampir ke barber paling dekat tempat kami diturunkan, dengan membayar barber 20 real /perorang (dibayarin Abu AthoAllah – jazahullah khoiran). Akhirnya kami menelpon Abu Bilal (jazahullah khoiran) agar beliau ketika tiba di Masjidil Haram berkenan untuk membawakan kain ihram bersih untuk Thawaf Ifadhoh sebagai ganti kain ihrom kami yang kotor. Kami memprediksikan bahwa tidak mungkin menyelesaikan thawaf ifadhoh sebelum maghrib, maka kamipun tidak bisa berganti baju biasa, hal ini sesuai dengan sabda Nabi Shallallahu'alaihi wassalam:

فَإِذَا أَمْسَيْتُمْ قَبْلَ أَنْ تَطُوفُوا هَذَا الْبَيْتَ صِرْتُمْ حُرُمًا كَهَيْئَتِكُمْ قَبْلَ أَنْ تَرْمُوا الْجَمْرَةَ حَتَّى تَطُوفُوا بِهِ

"Apabila engkau telah masuk waktu sore (maghrib) sebelum selesai thawaf ifadhoh di Masjid Haram ini maka keadaanmu menjadi muhrim lagi sebagaimana keadaanmu pada saat sebelum melempar jumrah (dan ini terus berlangsung) sampai engkau selesai thawaf (ifadhoh) di dalam Masjidil Haram."   Hadits Shohih   (HR. Abu Dawud no. 1999, Lihat Shohih Abu Dawud - Al-Umm 6/240 oleh Syaikh Albani).

Qaddarallahu wa masya'a fa'ala, kami memutuskan untuk mandi di masjid dengan berbekal sabun tangan yang ada di tempat wudhu. Setelah selesai mandi, kami dapati dimana-mana dalam Masjidil Harom banyak blokade polisi/petugas keamanan. Mereka mengarahkan agar orang-orang melakukan tawaf ifadhoh dan sai di lantai satu, dua dan roof. Kami akhirnya berpencar, alhmdulillah kami diberikan kemudahan untuk tawaf dan sai di lantai dasar dan dapat melakukan Tawaf tepat pada jam 16.50, kami berusaha untuk mempercepat pelaksanaan tawaf tersebut dengan memakai perseneleng gigi 4. Adzan Maghrib menggema, dan kami memutuskan untuk berhenti dan melakukan sholat Maghrib terlebih dahulu. Tak disangka saking berebutnya orang untuk mendapatkan tempat maka sholat di depan ka'bah pun terjadi dalam keadaan orang-orang berdesak-desakkan. Setelah selesai sholat, kami melanjutkan putaran yang terakhir dan kemudian sholat di belakang Maqam Ibrahim dimana kami mengambil tempat sholat tersebut di dekat pintu Babus Salam di basement. Alhamdulillah terus melakukan Sai tepatnya pada jam 18.25 dan selesai jam 21. 45. Ternyata rombongan teman-teman telah selesai terlebih dahulu. Kami bertemu dengan rombongan di dalam Bis Hamlah, mereka telah menunggu beberapa saat dan kami melihat wajah-wajah yang capekpun bersinar lega karena telah selesai dari perjuangan hari yang betul-betul melelahkan.

Kami mengucapkan jazahumullah khoiran kepada Hamlah Bani Umar yang telah membantu perjuangan kami pada hari itu, tidak banyak hamlah yang mau mendengar jama'ah haji yang mereka bawa, kebanyakan hamlah mewajibkan jama'ahnya untuk mengikuti jadwal yang telah ditetapkan hamlah. Ironisnya jadwal kebanyakan hamlah adalah menyelisihi tertib haji sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam, walaupun didalamnya ada keringanan namun keringanan itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang ada udzur bukan langsung kita memilih mana yang mudah seperti pertama kali melakukan tawaf ifadhoh baru kemudian melempar jumrah. Hal tersebut dibolehkan namun itu menyelesihi tertib urutan tata cara haji Nabi Shallallahu'alahi wassalam.

Perjalanan kami lanjutkan menuju hotel dan tiba disana jam 22.05, kami diberikan waktu 10 menit untuk berganti baju mandi dan membawa baju untuk tanggal 11 dan 12, setelah itu kami berangkat jam 22.30 menuju Mina dan tiba disana jam 23.10. Alhamdulillah masih bisa makan malam di tenda. Akhirnya kami beristirahat, tidur malam untuk persiapan esok harinya.

Alhamdulillah hari yang panjang penuh perjuangan itu benar-benar Allah berikan kemudahan.

11 Dzulhijjah – Hari Tasriq – 16 Oktober 2013

Pagi setelah sholat Shubuh, kami mengadakan kajian ringan dan soal jawab. Kemudian panggilan sarapanpun terdengar "Ifthor, ifthor.", lalu kami beranjak untuk melakukan ifthor dan setelah itu kami istirahat sejenak kemudian sholat Dzuhur berjama'ah di tenda dan sehabis itu kami bersiap-siap menuju Jamaraat untuk melempar jumrah. Kami melempar jam 14.20 jalan kaki dari tenda, berjarak sekitar 4,2 km. Sholat ashar di jalan – ngemper, Alhamdulillah kemi mendapatkan kemudahan untuk melempar di lantai dasar. Subhanallah, setelah Ashar terlihatlah gelombang manusia datang seperti ombak besar…Allahu Akbar. Kami selesai melempar jumrah dan tiba di tenda jam 17.46, setelah itu sholat maghrib berjama'ah di tenda. Sehabis sholat Maghrib kami seperti biasa melakukan kajian ringan sebagai penyemangat dan penyubur hati. Demikian pula setelah sholat Isya, kami makan malam dan dilanjutkan dengan berbagai kegiatan seperti membaca quran, Tanya jawab masalah agama dan ditutup dengan istirahat tidur malam.

12 Dzulhijjah – Hari Tasriq – 17 Oktober 2013

Pada hari terakhir tersebut, kami Alhamdulillah diberikan kemudahan untuk mengikut sunnah yaitu melempar setelah matahari tergelincir atau sesudah dzuhur. Sedangkan banyak hamlah di area kawasan UAE sejak pagi mereka sudah nampak sibuk bersiap untuk melempar pada pagi hari. Kami mulai bergerak jalan kaki dari tenda menuju ke tempat jamarat jam 11.45, semula kami rencanakan untuk naik kereta, namun setelah melihat kerumunan yang dahsyat di stasiun Mina 1, maka kami urungkan niat untuk naik kereta menuju tempat jamarat dan jalan kaki adalah yang terbaik.

Keadaan ketika itu super crowded sepanjang jalan menuju jamarat, karena saking padatnya jama'ah maka kami melempar di lantai 1. Allahu Akbar…sungguh padat, dan banyak dari orang-orang terutama dari Pakistan, India dan orang-orang kulit hitam mereka merangsak masuk dengan paksa – full power. Kami mencoba melempar ditengah padatnya kerumunan tadi.

Di jamrah sughro, ternyata berat sekali, seperti dihajar arus manusia, disikut orang-orang bertubuh "gede" dan kena arus gelombang tsunami, ada tubuh teman yang muter-muter (ga karang karuan), ada sebagian dari kami yang akhirnya mengundurkan diri – mundur ke belakang, percobaan kedua sama juga tidak berhasil dan akhirnya pada kali ketiga ketika sudah mulai agak surut keramaiannya Allah memberi kemudahan untuk melempar jumrah di Jamrah Sughro. Alhamdulillah di jamrah Wushto dan Kubro sudah surut gelombang padatnya.

Akhirnya selesai pelemparan jumroh jam 14.10, ada dari kami yang hilang sandalnya karena kena injak "arus ombak kaki yang dahsyat" dan akhirnya mendapatkan hadiah berupa sandal "gado-gado" (yang kiri abu abu dan yang kanan hitam).

Selesai dari pelemparan jumrah kami langsung berkemas untuk berangkat ke hotel. Tiba di hotel jam 15.23, langsung beristirahat sejenak lalu makan siang serta dilanjutkan dengan sholat Ashar. Setelah sholat maghrib di masjid dekat hotel, kami diberikan waktu oleh hamlah untuk melakukan istirahat ataupun belanja oleh-oleh. Ada teman yang bertemu dengan Akh Abu Harits untuk belanja kitab ada juga yang istirahat sambil berkemas barang-barang.

Jam 2 pagi kami bersiap-siap untuk melakukan Tawaf Wada'. Qaddaralallah jam3.10 baru bisa berangkat karena direncanakan awalnya dari thowaf wada langsung ke Jeddah dan barang sudah siap di bis, ternyata ada beberapa teman yang melahirkan "Bayi berupa Tas" awalnya membawa dari Abu Dhabi dua tas ternyata beranak pinak menjadi 3 tas bahkan ada yang 4 tas karena asyik belanja (menambah koleksi hiasan dunia) akhirnya hal tersebut membuat bis overload dan menjadikan kami terlambat ke Masjidil harom dari waktu yang dijadwalkan semula. Kami sepakat untuk melakukan thowaf wada' di lantai paling atas – roof jam 3.50, dan Alhamdulillah kami selesai tawaf wada sekitar 1 jam 10 menit dan itu bertepatan dengan adzan sholat subuh.

Selesai sholat shubuh langsung menuju ke hotel lagi dan tiba di sana jam 7, Alasan balik ke hotel karena untuk menjemput orang mesir dan irak yang sudah tawaf wada' duluan dan mereka tidak ikut tawaf wada' bersama kami. Jam 8, kami berangkat ke jeddah 10.30 dan kami menunggu beberapa waktu di bandara Jeddah sambil sholat Dhuhur dan Ashar di sana. Pesawat dari Jeddah mulai berangkat pada jam 14.30 molor 1 jam dari waktu yang dijadwalkan sebelumnya. Jam 18.53, kami tiba di bandara Dubai, kemudian mengambil barang-barang tas dan air zam-zam. Kami mendapatkan catatan penting ketika di bandara Dubai yaitu Air zamzam harus diberi tanda agar mudah dikenali bukan hanya dinamai saja, karena hampir semua air zam-zam dikemas dalam kardus yang sama dan itu menjadi masalah di Bandara Dubai karena sebagian orang berebutan untuk mendapatkan air tersebut. Alhamdulillah setelah itu kami pulang masing-masing dengan taksi ada yang sampai di Abu Dhabi jam 21.30 sedangkan teman-teman Ruwais ada yang tiba disana jam 1.30 pagi.

NOTE: Air zamzam harus diberi tanda agar mudah dikenali, bukan hanya dinamai saja, karena dibandara pasti bermasalah – karena banyaknya orang yang berebut untuk segera mendapatkan air zam-zam dimana kotak dan bentuknya sama semua.

Alhamdulillah aladzi bini'matihi tatimmus sholihaat. selesai penukilan kisah yang menggetarkan hati.

Saudaraku yang semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan kepadamu…:

Pertanyaan bagiku dan bagimu, semoga Allah memberikan kemudahan bagi kita untuk menjawabnya:

  • 1. Nikmat apalagi yang engkau (termasuk penulis dan antum pembaca sekalian) butuhkan agar dapat merubah dirimu menjadi hamba yang senantiasa bersyukur dan selalu berusaha memaksimalkan ibadah kepada Dzat yang Maha Pemberi Rezki ?
  • 2. Alasan apalagi yang engkau pakai untuk menolak ajakan sholat wajib berjama'ah di masjid…ketika adzan berkumandang…"Hayya'ala sholah Hayya'alal falah" apakah hatimu terketuk untuk melangkahkan kaki menuju ke tempat wudhu dan segera ke masjid atau masihkah engkau dalam keadaanmu sebelum haji (bersantai-santai menunggu sampai detik-detik terakhir waktu sholat) ??
  • 3. Alasan apalagi yang engkau pakai untuk menjawab ajakan dan panggilan dari al-Quran, seandainya al-Quran bisa bertanya…dan dia akan bertanya kepada kita "Kapan engkau akan membacaku ?" "Apakah engkau akan membacaku setiap hari atau hanya pada bulan Ramadhan saja ?"
  • 4. Alasan apalagi yang engkau pakai untuk menjawab ajakan dan panggilan "Ayo mari kita belajar agama lebih ilmiyah dengan dasar dalil-dalil yang shohih dari al-Quran dan as-Sunnah bukan hanya sekedar 'katanya' atau 'menurut kyai, ustadz, syaikh'"?? apakah engkau masih berani untuk menjawab dengan alasan "Afwan, masih sibuk ga ada waktu ?" "Wah, afwan pekerjaan saya menumpuk?" …apalagi yang engkau tunggu agar hatimu terketuk untuk belajar agama ?
  • 5. Bagaimana menjawab pertanyaan asasi…"Untuk apa waktumu digunakan setelah haji?" Apakah engkau masih sama dengan dulu ketika engkau "gemar" menyia-nyiakan waktu dengan segala sesuatu yang percuma? Apakah engkau setiap hari telah membaca doa pagi dan sore? Sayyidul istighfar ? memperbanyak istighfar tiap harinya? Apakah engkau masih setia dengan gelar "Sufi"mu ? Suka Tifi/Suka Film….?

Mari Sudaraku …kita bersama-sama membuka lembaran baru…lembaran penuh barokah, lembaran yang penuh dengan semangat saling mengingatkan kebaikan satu sama lain untuk mengerjakan, lembaran yang penuh semangat untuk menjadi hamba-Nya yang senantiasa berusaha beribadah dengan benar sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu'alahi wassalam dan para shahabatnya radhiallahu'anhum.

Demikian yang semoga bermanfaat sebagai pengingat dan motivasi bagi penulis dan pembaca sekalian".

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Wallaahu a'lam bishshawwaab.

Ar-Rahba Abu Dhabi, pagi yang cerah, Ahad, 29 Dzulhijjah 1434 H/3 November 2013.


Abu Kayyisa,

Yang mendamba Ampunan dari Rabb Sang Pencipta Jagad Raya.

 

 

ARSIP ARTIKELs

Artikel Pembahasan - Pembahasan

 

Bersyukurlah dan jangan meminta-minta, sebuah motivasi dalam menambah syukur menggapai berkah yang halal.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه وبعد

Barakallahu fikum, semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan kepada antum sekalian, bersyukurlah adalah kata yang mudah kita ucapkan apalagi ketika kita mengungkapkan suatu larangan kepada orang lain seperti jangan meminta-minta, itupun termasuk perkara yang mudah untuk diucapkan namun hakikatnya perlu kita tanamkan dalam diri kita dengan pemahaman yang didasari dalil dari al-Quran dan as-Sunnah.

– tulisan kali ini adalah mengenai motivasi dalam menambah syukur menggapai berkah yang halal, dan juga pembahasan tentang siapakah orang miskin, serta haramnya meminta-minta.

Pada tulisan sebelumnya   PART -1  telah dibahas tentang Doa ketika melihat musibah yang menimpa orang lain dan juga siapa yang termasuk golongan orang miskin?

Pada PART 2 ini akan dibahas kelanjutannya akan dibahas Haramnya Minta-minta dan Standar Orang disebut Kaya dan tidak boleh meminta-minta, dan insya Allah akan ada PART 3.

Artikel Pembahasan - Pembahasan

 

Bersyukurlah dan jangan meminta-minta, sebuah motivasi dalam menambah syukur menggapai berkah yang halal.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه وبعد

Barakallahu fikum, semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan kepada antum sekalian, bersyukurlah adalah kata yang mudah kita ucapkan apalagi ketika kita mengungkapkan suatu larangan kepada orang lain seperti jangan meminta-minta, itupun termasuk perkara yang mudah untuk diucapkan namun hakikatnya perlu kita tanamkan dalam diri kita dengan pemahaman yang didasari dalil dari al-Quran dan as-Sunnah.

– tulisan kali ini adalah mengenai motivasi dalam menambah syukur menggapai berkah yang halal, dan juga pembahasan tentang siapakah orang miskin, serta haramnya meminta-minta.

Artikel Pembahasan - Pembahasan

 

Waktuku, Waktumu, Waktunya, Sebuah Motivasi dalam Mengoptimalkan Waktu.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه وبعد

Barakallahu fikum, semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan kepada antum sekalian, waktuku adalah motivasi untuk diri penulis, waktumu adalah untuk diri pembaca dan waktunya adalah waktu dari orang-orang yang telah berhasil mengoptimalkan waktu dalam rangka bertaqorrub kepada Allah. – tulisan kali ini adalah mengenai motivasi, tips dan trik dalam mengoptimalkan waktu -

Tiga hari yang lalu adalah hari yang sangat berkesan yaitu kejadian yang menggugah semangat untuk menghafal Al-Quran.

Artikel Pembahasan - Pembahasan

More Articles...

Page 1 of 4

<< Start < Prev 1 2 3 4 Next > End >>