Tentang Adab-Adab Masjid – PART 1

 

Barakallahu fikum, semoga Allah senantiasa memberikan barokah kepada antum sekalian, Berikut adalah pembahasan kitab Nailul Author (cetakan Dar Ibnul Jauzi yang ditahqiq oleh Syaikh Muhammad Shubhi bin Hasan Hallaaq hal.230) tentang memaksimalkan fungsi masjid "Takdhimul Masaajid".

قَوْلُهُ: (إنَّ هَذِهِ الْمَسَاجِدَ) . . . إلَخْ مَفْهُومُ الْحَصْرِ مُشْعِرٌ بِعَدَمِ جَوَازِ مَا عَدَا هَذِهِ الْمَذْكُورَةَ مِنْ الْأَقْذَارِ، وَالْقَذَى وَالْبُصَاقِ وَرَفْعِ الصَّوْتِ وَالْخُصُومَاتِ وَالْبَيْعِ وَالشِّرَاءِ وَسَائِرِ الْعُقُودِ وَإِنْشَادِ الضَّالَّةِ، وَالْكَلَامِ الَّذِي لَيْسَ بِذِكْرٍ، وَجَمِيعِ الْأُمُورِ الَّتِي لَا طَاعَةَ فِيهَا، وَأَمَّا الَّتِي فِيهَا طَاعَةٌ كَالْجُلُوسِ فِي الْمَسْجِدِ لِلِاعْتِكَافِ وَالْقِرَاءَةِ لِلْعِلْمِ وَسَمَاعِ الْمَوْعِظَةِ وَانْتِظَارِ الصَّلَاةِ وَنَحْوُ ذَلِكَ، فَهَذِهِ الْأُمُورُ وَإِنْ لَمْ تَدْخُلْ فِي الْمَحْصُورِ فِيهِ لَكِنَّهُ أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى جَوَازِهَا كَمَا حَكَاهُ النَّوَوِيُّ فَيُخَصَّصُ مَفْهُومُ الْحَصْرِ بِالْأُمُورِ الَّتِي فِيهَا طَاعَةٌ لَائِقَةٌ بِالْمَسْجِدِ لِهَذَا الْإِجْمَاعِ وَتَبْقَى الْأُمُورُ الَّتِي لَا طَاعَةَ فِيهَا دَاخِلَةٌ تَحْتَ الْمَنْعِ

Perkataan Nabi Shallallahu'alaihi wassalam Sesungguhnya masjid-masjid ini…sampai lafazh yang terakhir, mengandung maksud pemahaman yang bermakna pembatasan (yaitu masjid hanya boleh digunakan untuk beberapa hal tertentu saja tidak untuk yang lainnya) kecuali yang disebutkan baik berupa kotoran, noda, meludah sembarangan, meninggikan suara, perselisihan/pertengkaran, jual dan beli serta kontrak perjanjian, melantunkan nyanyian syair yang sesat (maksudnya bernyanyi atau bersyair dengan syair atau nyanyian yang mengandung kemaksiyatan bukan mengandung ketaatan), dan setiap pembicaraan yang bukan bagian dari dzikir (mengingat Allah), dan setiap hal yang tidak mengandung ketaatan. Sedangkan setiap hal yang mengandung ketaatan seperti duduk-duduk di dalam masjid untuk iktikaf, mempelajari ilmu membaca ilmu dan mendengarkan nasehat, menunggu waktu sholat dan yang semisalnya maka hal tersebut walaupun tidak masuk kepada batasan (kegunaan masjid yang asasi) namun telah disepakati bersama oleh kaum muslimin tentang pembolehannya sebagaimana telah disebutkan oleh Imam An-Nawawi dalam kitabnya Syarah Shohih Muslim (III/191); pengkhususan tentang pemahaman yang bermakna pembatasan dengan setiap hal yang di dalamnya mengandung ketaatan yang pantas dilakukan di dalam masjid. Oleh karena itu telah disepakati bahwa setiap hal yang tidak mengandung ketaatan itu masuk dalam area larangan (tidak boleh dilakukan didalam masjid)

وَحَكَى الْحَافِظُ فِي الْفَتْحِ الْإِجْمَاعَ عَلَى أَنَّ مَفْهُومَ الْحَصْرِ مِنْهُ غَيْرُ مَعْمُولٍ بِهِ، قَالَ: وَلَا رَيْبَ أَنَّ فِعْلَ غَيْرِ الْمَذْكُورَاتِ وَمَا فِي مَعْنَاهَا خِلَافُ الْأَوْلَى

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani menuturkan dalam Fathul Bari Syarah Shohih al-Bukhori (I/325) tentang ijma'/kesepakatan mengenai pemahaman yang bermakna pembatasan dari kandungan hadits tersebut tidaklah berlaku mutlak (sebatas itu saja). Beliau berkata: "Tidaklah diragukan lagi bahwa perbuatan yang tidak disebutkan (dalam hal konsep kegunaan masjid) dan yang semakna dengannya (semua aktivitas yang mengandung ketaatan kepada Allah) walaupun tidak sama dengan konsep asasi kegunaan masjid (contohnya tidur di masjid, masjid tidak diperuntukkan sebagai tempat tidur, namun karena tidak ada dalil larangan tentang tidak bolehnya tidur di masjid, maka tidur di masjid merupakan hal yang boleh)

قَوْلُهُ: (فَجَاءَ بِدَلْوٍ فَشَنَّهُ عَلَيْهِ) يُرْوَى بِالشِّينِ الْمُعْجَمَةِ وَالسِّينِ الْمُهْمَلَةِ. قَالَ النَّوَوِيُّ وَهُوَ فِي أَكْثَرِ الْأُصُولِ وَالرِّوَايَاتِ بِالْمُعْجَمَةِ وَمَعْنَاهُ صَبَّهُ. وَفَرَّقَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ بَيْنَهُمَا، فَقَالَ: هُوَ بِالْمُهْمَلَةِ الصَّبُّ بِسُهُولَةٍ، وَبِالْمُعْجَمَةِ التَّفْرِيقُ فِي صَبِّهِ، وَقَدْ تَقَدَّمَ الْكَلَامُ عَلَى فِقْهِ الْحَدِيثِ. قَالَ الْمُصَنِّفُ - رَحِمَهُ اللَّهُ -: وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ النَّجَاسَةَ عَلَى الْأَرْضِ إذَا اُسْتُهْلِكَتْ بِالْمَاءِ، فَالْأَرْضُ وَالْمَاءُ طَاهِرَانِ، وَلَا يَكُونُ ذَلِكَ أَمْرًا بِتَكْثِيرِ النَّجَاسَةِ فِي الْمَسْجِدِ انْتَهَى.

Perkataannya Nabi Shallallahu'alaihi wassalam: Maka ia datang dengan membawa ember berisi air kemudian menyiram diatasnya (kencing dari orang Badui yang dilakukannya di masjid). Diriwayatkan dengan huruf SHIN ش disertai titik tiga dan huruf SIN س yang tidak disertai titik. Imam an-Nawawi berkata, "Kebanyakan riwayat adalah menggunakan huruf SHIN yang disertai tiga titik dan maknanya adalah "menyiramkannya", Ada beberapa Ulama yang membedakan penggunaan antara SHIN dan SIN , selanjutnya beliau berkata: "Maknanya apabila dengan SIN adalah menyiramkannya dengan sekali siraman/tuang, sedangkan bila dengan SHIN maknanya adalah menyiramkannya dengan beberapa kali siraman/tuang.

Telah berlalu pembahasan mengenai Fiqih Hadits – Kandungan Hadits. (insya Allah akan diupload pada kesempatan mendatang). Penulis kitab (Ibnu Taimiyah Al-Jadd) berkata, "Di dalam hadits tersebut terdapat dalil yang menerangkan bahwa Najis yang terletak di atas tanah akan hilang apabila disiram air, oleh karena itu tanah dan air adalah dua materi yang suci dan itu tidak berarti bahwa apabila air yang dituangkan/disiramkan mengenai najis (yang secara logika) menyebabkan daerah yang tercemar oleh najis menjadi luas dari sebelumnya di dalam masjid. (maksudnya hukum tanah yang terkena najis yang awalnya sedikit kemudian menjadi meluas akibat terkena siraman air tidak berarti bahwa daerah najisnya menjadi meluas pula namun itu tetap dinyatakan suci karena sifat asal air dan tanah adalah suci). " Selesai

Demikian pembahasan yang pertama dari kitab Nailul Author hal 230 tentang memaksimalkan fungsi masjid, insya Allah akan disambung pada pembahasan kedua tentang adab-adab masjid sebagaimana disampaikan oleh Syaikh Sholeh Al-Masyari Al-Imaraty.

Demikian semoga bermanfaat,

Zaki Rakhmawan

Abu Kayyisa, Abu Dhabi UAE