Takhrij Buka Puasa dengan yang Tidak Terkena Api

User Rating: / 0
PoorBest 

 

Takhrij Hadits Buka Puasa dengan Sesuatu yang Tidak Terkena Api ?

Barakallahu fikum, semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan kepada antum sekalian, berikut ini adalah pembahasan takhrij hadits tentang Berbuka puasa dengan sesuatu yang tidak terkena api/tidak dimasak dengan api.

Seperti yang diketahui bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wasalam telah memberikan petunjuknya yang berkaitan dengan ifthor/berbuka puasa, dimana beliau menganjurkan untuk memulainya dengan Kurma kemudian yang terakhir adalah air. Ternyata ada sebuah hadits yang mungkin belum pernah kita dengar atau telah diterapkan banyak orang namun salah dalam mengkonfirmasi derajat haditsnya.

Haditsnya  yaitu:

حَدّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْحَجّاجِ السّامِيّ، حَدّثَنَا أَبُو ثَابِتٍ عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ ثَابِتٍ، حَدّثَنَا ثَابِتٌ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: كَانَ النّـَبِيّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «يُحِـّبُ أَنْ يُفْطِرَ عَلَى ثَلاَثِ تَمَرَاتٍ أَوْ شَيْءٍ لَمْ تُصِبْهُ النَّارُ»

(Abu Ya'la berkata) "Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin al-Hajaj as-Samiy, ( Dia -Ibrahim bin al-Hajaj as-Samiy berkata), 'Telah menceritakan kepada kami Abu Tsabit Abdul Wahid bin Tsabit, (Dia Abu Tsabit Abdul Wahid berkata) Telah menceritakan kepada kami Tsabit, dari Anas (bin Malik radhiallahu'anhu), ia (Anas bin Malik radhiallahu'anhu) berkata: "Adalah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyukai berbuka dengan 3 (tiga) butir kurma atau sesuatu yang tidak terkena api (dimasak/diolah dengan api)." Hadits Dhaif   (HR. Abu Ya'la 6/59 no. 3305 cet. Daar Makmun Litturats )

Berdasarkan hadits diatas, mari kita uraikan para perawi hadits berdasarkan sanad hadits berikut:

 

Sanad-HaditsBerbukaPuasa

 

إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْحَجّاجِ السّامِيّ

Ibrahim bin al-Hajjaj as-Saami  

Beliau mempunyai nama kunyah Abu Ishaq al-Bashri, beliau wafat tahun 231 H, Imam Penyusun Sunan yang meriwayatkan darinya adalah An-Nasa-I. Al-Hafizh Ibnu Hajar memberikan penilaian kepada Ibrahim bin al-Hajjaj sebagai seorang   ثِقَةٌ يَهِمُ قَلِيْلاً  "Tsiqah (terpercaya) dan memiliki sedikit keragu-raguan"  Berarti beliau termasuk dari perawi hadits kategori ke-3 dari 12 kategori yang disusun oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya "Taqribut Tahdzib" (insya Allah akan kita pelajari dalam pembahasan Mustholah Hadits). Sedangkan Imam adz-Dzahabi menilainya sebagai "Tsiqah (terpercaya) . (Lihat Taqribut Tahdzib no. 164, Siyar A'lam an-Nubala' cet. Maktabah ar-Risalah 11/39 no. 20)

عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ ثَابِتٍ

Abdul Wahid bin Tsabit 

Namanya adalah Abdul Wahid bin Tsabit al-Bahily. Imam al-Uqaily berkata, لاَ يُتَابَعُ عَلَيْهِ ، رَوَاهُ عَنْهُ إبِْرَاهِيْم بنْ الحَجَاج  "Semua jalur haditsnya adalah dhoif tidak bisa diikuti, yang meriwayatkan darinya (dan mengambil hadits darinya) adalah Ibrahim bin Al-Hajaj. Imam al-Bukhori memberikan penilaian kepada Abdul Wahid bin Tsabit sebagai  Mungkarul Hadits  (Haditsnya patut untuk diingkari dan ditinggalkan) (Lihat Mizanul I'tidal fi Naqdir Rijal oleh Imam adz-Dzahabi 2/584 no. 5017 cet. Ar-Risalah al-Alamiyah th.1430 H). Perlu diketahui sebagaimana penilaian oleh para Ahli Mushtholah al-Hadits, bahwa apabila Imam al-Bukhori telah memberikan penilaian seorang perawi sebagai munkarul hadits maka hal itu menjadikan perawi hadits tersebut tidak layak dipakai sebagai sebab shohihnya hadits. Imam al-Bukhori berkata: 
كُلّ مَنْ قُلْتُ فِيهِ مُنْكَرُ الـْحَدِيثِ فَلاَ تَحِلّ الرِّوَايَة عَنْهُ 
"Setiap orang yang telah aku sebutkan sebagai Munkarul Hadits maka tidak perlu diambil riwayat hadits darinya"  Hal ini sebagaimana yang tercantum di kitab Mizanul I'tidal 1/6 dalam pembahasan mengenai perawi Aban bin Jablah, juga terdapat dalam Manhajun Naqd fi Ulumil Hadits 1/112 oleh Syaikh Nuruddin Muhammad Atr al-Halaby (cet. Darul Fikr th. 1418 H)

ثَابِتُ بنُ أَسْلَمَ أَبُو مُحَمّدٍ البُنَانِيّ

Tsabit bin Aslam Abu Muhammad al-Bunaniy  

Beliau mempunyai nama Tsabit bin Aslam Abu Muhammad al-Bunaniy, wafat tahun 127 H, seorang yang sangat terpercaya, seorang Imam, lahir pada masa kekhilafahan Mu'awiyah radhiallahu'anhu, Imam An-Nasa-I berkata tentang Tsabit bin Aslam, ثِقَةٌ  "Tsiqah (terpercaya) .  Beliau menemani Anas bin Malik lebih dari 40 tahun. (Lihat Siyar A'lam an-Nubala 5/220) 

أَنَسُ بنُ مَالِكِ بنِ النّضْرِ بنِ ضَمْضَمٍ الأَنْصَارِيّ

Anas bin Malik an-Nadhr bin Dzomzom al-Anshori 

Beliau mempunyai nama Shahabat Anas bin Malik an-Nadhr bin Dzomzom al-Anshori, shahabat Nabi Shallallahu'alahi wassalam ketiga terbanyak dalam mengumpulkan hadits, beliau hidup membantu berkhidmat kepada Nabi Shallallahu'alahi wassalam selama 10 tahun lamanya, hingga meninggal sekitar tahun 93 H. (lihat Selengkapnya di Siyar A'lam an-Nubala' 3/395). Semua Shahabat ridhwanullahu 'alaihim ajmain dihukumi tsiqah terpercaya serta diterima periwayatannya.

 

Keterangan Hadits:

Hadits ini Dhaif Jiddan.   Alasan yang paling kuat adalah karena ada satu perawi yang munkar yaitu Abdul Wahid bin Tsabit dan juga periwayatannya adalah menyendiri tidak ada jalan periwayatan lain yang menguatkannya serta menyelisihi hadits yang shohih. Hal ini sebagaimana pendapat Imam al-Albani dimana beliau berkata dalam Silsilah adh-Dhaifah no. 996, Hadits ini Dhaif sekali (Dhaifu Jiddan). Al-Bukhari berkata, "Abdul Wahid, Munkarul Hadits" (at-Talkhis 3/41). Al-Haitsami dalam Majma'uz Zawaid (3/155) berkata, "Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya'la yang dalam sanadnya ada Abdul Wahid, dia Dhaif". Aku (Syeikh al-Albani) berkata, "Telah diriwayatkan oleh Abu Daud, at-Tirmidzi dan selainnya dari jalur lain dari Tsabit dari Anas, tanpa tambahan perkataan "atau sesuatu yang tidak terkena api (dimasak)", tambahan kata-kata ini adalah mungkar karena menyendiri dan dhaif karena menyelisihi hadits yang shahih.

Sebelumnya Syaikh Nashiruddin al-Albani telah menshohihkan hadits diatas dengan memuatnya di kitab Shohih at-Targhib no. 1070, namun kemudian Syaikh Al-Albani merubah penilaiannya karena mendapati kedhoifan dalam hadits tersebut dan tidak mendapati jalan periwayatan hadits yang menguatkannya dan memuatnya di kitab Silsilah Ahaadits ad-Dhoífah no. 996 dengan menjelaskan secara detail ilat atau cacat dari hadits tersebut, sebagaimana telah disebut bahwa Abdul Wahid bin Tsabit adalah mungkarul hadits.

Hadits Yang SHOHIH  yaitu:

حَدّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ، حَدّثَنَا عَبْدُ الرّزّاقِ، حَدّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ، حَدّثَنَا ثَابِتٌ الْبُنَانِيّ، أَنّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ: «كَانَ رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلّـِيَ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ، فَعَلَى تَمَرَاتٍ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ»

– (Imam Abu Dawud berkata) 'Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Hanbal, (Dia Ahmad bin Hanbal berkata) 'Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq, (Dia Abdurrazaq berkata), 'Telah menceritakan kepada kami Ja'far bin Sulaiman, (Dia Ja'far bin Sulaiman berkata), 'Telah mengabarkan kepada kami Tsabit al-Bunaniy, bahwa dia telah mendengar dari Anas bin Malik (radhiallahu'anhum) berkata, "Rasulullah Shallallahu'alahi wassalam berbuka dengan beberapa ruthob (Kurma matang namun masih basah) sebelum melakukan sholat, jika tidak ada Ruthob maka dengan beberapa Tamr (kurma matang kering), jika itu tidak ada maka beliau meminum air beberapa kali tegukan.  Hadits Shohih  (HR. Abu Dawud no. 2356, At-Tirmidzi no. 696, Ad-Daruquthni no. 2278, Al-Hakim dalam al-Mustadrak 1/597 no. 1576, Al-Baihaqy 4/239. Lafazh diatas dari Imam Abu Dawud. Dihasankan oleh Syaikh Albani di Irwaul Gholil no. 922 )

Jalur Periwayatannya  yaitu:

 

Sanad-HaditsBerbukaPuasa2

 

أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ

Ahmad bin Hanbal

Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris bin Abdullah bin Hayyan bin Abdullah bin Anas bin 'Auf bin Qasith bin Mazin bin Syaiban bin Dzuhl bin Tsa'labah adz-Dzuhli asy-Syaibaniy. Seorang Imam, Tsiqah (terpercaya) , Hafizh penulis Kitab Musnad. Beliau lahir pada tahun 164 H, Beliau memulai menuntut ilmu ketika berusia 15 tahun pada tahun dimana Imam Malik bin Anas meninggal dunia. Abu Bakar bin Abi Syaibah pernah berkata: "Janganlah ditanyakan kepada (Imam Ahmad bin Hanbal) yang kau katakan itu (dalilnya) dari mana?" (lihat Siyar A'lam an-Nubala 11/186)  

عَبْدُ الرّزّاقِِ

Abdur Rozzaaq

Nama lengkapnya adalah Abdur Rozzaq bin Hammam bin Nafi' al-Himyari Al-Yamani. Beliau Lahir tahun 126 H dan meninggal tahun 211 H. Beliau dinilai oleh Ibnu Hajar al-Asqalani sebagai seorang Tsiqah (terpercaya) , Hafizh, Penulis Kitab al-Mushonnaf Abdur Razzaq buta ketika akhir hayatnya dan terpengaruh oleh ajaran Syiah. Para Imam yang telah mengambil riwayat darinya yaitu Imam al-Bukhori, Muslim, Abu Dawud, an-Nasa-I, dan Ibnu Majah. (Lihat Siyar A'lam an-Nubala 9/564, Taqribut Tahdzib no. 4092 tahqiq Abu Ashbal Shoghir Ahmad Syaghif al-Bakistani cet. Daarul Ashimah 1423 H)

جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ

Ja'far bin Sulaiman

Nama lengkapnya adalah Ja'far bin Sulaiman Ad-Dhubaiy adalah seorang Syaikh Alim, Pemuka Ahli Hadits dan orang yang zuhud dari Kalangan Syiah. Wafat tahun 178 H. Imam Ibnul Madini mengatakan tentangnya "Kebanyakan hadits ia ambil dari Tsabit al-Bunaniy". Imam Al-Bukhori member penilaian tentang Ja'far bin Sulaiman, bahwa dia (Ja'far) sering menyelisihi beberapa hadits yang diriwayatkannya. Imam adz-Dzahabi memberikan penilainnya terhadap Ja'far bin Sulaiman, 'Dia adalah seorang yang Tsiqah (terpercaya) dan termasuk orang yang berzuhud dari kalangan Syiah.'" ( Lihat Siyar A'lam an-Nubala 8/197 no. 36)

ثَابِتٌ الْبُنَانِيّ

Tsabit al-Bunaniy

Telah disebutkan di awal pembahasan.

Maka telah jelaslah bahwa hadits yang lebih kuat dari hadits pertama adalah tanpa ada tambahan perkataan "atau sesuatu yang tidak terkena api (dimasak/diolah dengan api)."

Hadits di atas mengandung beberapa pelajaran berharga (sebagaimana telah disebutkan dalam pembahasan Adab berbuka puasa), antara lain :

(Lihat Taudhihul Ahkaam min Bulughil Maraam oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalany yang disyarah oleh Syaikh Abdullah bin Abdirrahman al-Bassaam III/477 no. 549, cet. Maktabah as-Sadi th. 1423 H.)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullaah memberikan penjelasan tentang hadits di atas, beliau berkata, "Cara Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam yang berbuka puasa dengan menyantap kurma atau air mengandung hikmah yang sangat mendalam sekali. Karena saat berpuasa lambung kosong dari makanan apa pun. Sehingga tidak ada sesuatu yang amat sesuai untuk liver (hati) yang dapat disuplay langsung ke seluruh organ tubuh serta langsung menjadi energi, selain kurma dan air. Karbohidrat yang ada dalam kurma lebih mudah sampai ke liver dan lebih cocok dengan kondisi organ tersebut. Terutama sekali kurma masak yang masih segar. Liver akan lebih mudah menerimanya sehingga amat berguna bagi organ ini sekaligus juga dapat langsung diproses menjadi energi. Kalau tidak ada kurma basah, kurma kering pun baik, karena mempunyai kandungan unsur gula yang tinggi pula. Bila tidak ada juga, cukup beberapa teguk air untuk mendinginkan panasnya lambung akibat puasa sehingga dapat siap menerima makanan sesudah itu." ( Lihat Ath-Thibb an-Nabawy oleh Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, hal. 309, cet. Maktabah Nizaar Musthafa al-Baz, th. 1418 H.)

Dokter Ahmad 'Abdurrauf Hasyim dalam kitabnya Ramadhan wath Thibb berkata, "Dalam hadits tersebut terkandung hikmah yang agung secara kesehatan, Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam telah memilih mendahulukan kurma dan air daripada yang lainnya sedangkan kemungkinan untuk mengambil jenis makanan yang lain sangat besar, namun karena ada bimbingan wahyu Ilahi maka Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam me-milih jenis makanan kurma atau pun air sebagai yang terbaik bagi orang yang berpuasa. Maka, yang sangat diperlukan bagi orang yang ingin berbuka puasa adalah jenis-jenis makanan yang mengandung zat gula, zat cair yang mudah di-cerna oleh tubuh dan langsung cepat diserap oleh darah, lambung dan usus serta air sebagai obat untuk menghilangkan dahaga. Zat-zat yang mengandung gula yaitu glukosa dan fruktosa memerlukan 5-10 menit dapat terserap dalam usus manusia ketika dalam keadaan kosong. Dan keadaan tersebut terjadi pada orang sedang berpuasa. Jenis makanan yang kaya dengan kategori tersebut yang paling baik adalah kurma khususnya ruthab (kurma basah) karena kaya akan unsur gula, yaitu glukosa dan fruktosa yang mudah dicerna dan diserap oleh tubuh (Dimuat oleh Syaikh Salim bin Ied al-Hilaly dalam Shahih at-Thibb an-Nabawy Fi Dha-il Ma'arif ath-Thabiyyah wal 'Ilmiyyah al-Haditsah hal. 400, cet. Maktabah al-Furqaan, th. 1424 H.)

Maka, urutan makanan yang terbaik bagi orang yang berbuka puasa adalah ruthab (kurma basah), tamr (kurma kering) kemudian air, kalau itu pun tidak ada, maka boleh menggunakan sirup atau air juice buah yang mengandung unsur gula yang cukup, seperti air yang dicampur sedikit madu, jeruk, lemon, dan sebagainya

Insya Allah akan berlanjut ke pembahasan yang lainnya, semoga bermanfaat. Barakallahu fikum

Abu Kayyisa,

Diterik panas Abu Dhabi, 3 Ramadhon 1432 H.

 

Maraji'

Takhrij Hadits Puasa